Menantu Dewa Obat

Menantu Dewa Obat
BAB 24


__ADS_3

"Reva, beraninya kau datang kesini?" Raut wajah Xavier berubah dingin: "Pengawal, tangkap dia lebih dulu!"


"Tunggu!" Pria gemuk itu tiba - tiba berkata, "Ini suami nona Shu, kan? Karena kita datang ke sini untuk jamuan makan maka ayo masuklah bersama kami!"


"Hei, apakah kau sakit? Membiarkan suaminya masuk juga?"


"Hei, kau tidak paham sepertinya. Coba kau pikirkan, betapa menyenangkannya jika suaminya sendiri yang mengantarkannya ke pelukan kita dengan tangannya sendiri!"


"Kau benar - benar tidak tahu malu tetapi aku menyukai gayamu. Ya, ya, ya, biarkan suaminya masuk bersamanya!"


"Hahaha, suaminya harus hadir di jamuan makan ini."


"Perjamuan malam ini kelihatannya semakin menarik.."


Kaluarga Shu saling memandang dengan cemas. Kedelapan bos besar ini benar - benar tidak tahu malu.


"Kalau begitu, biarkan dia masuk bersama mereka!" Tommy melambaikan tangannya.


Xavier mencibir: "Dengar tidak, kakak iparku? Nanti kau harus membantu kak Nara untuk memeriksa dan mimilih pria yang baik untuknya!"


Semua orang tertawa dan memandang Reva dengan tatapan mengejek.


Raut wajah Reva tampak acuk tak acuh, mengabaikan kerumunan itu dan langsung pergi ke sisi Nara.


"Apakah.. apakah kau tahu apa yang kau bicarakan?" Alina berkata dengan marah, "Kau bahkan meminta Nara untuk menghadiri perjamuan makan ini. Apakah kau tahu apa maksud dari perjamuan makan ini?"


Reva mengangguk.


"Kau tahu, lalu kau masih membiarkan dia menghadirinya?" Alina terlihat sangat marah: "Aku benar - benar telah salah menilaimu. Kau bukan hanya tak berguna saja tetapi kau juga tak punya nyali. Kau.. Pria macam apa kau itu?"


Nara juga terlihat agak kecewa.


"Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa - apa!" Reva berkata dengan lembut, "Aku sudah katakan, aku tidak akan membiarkan Nara dianiaya jadi aku pasti menepatinya!"


"Kau.. Kau sudah membiarkan dia mengahdiri dalam perjamuan seperti itu lalu masih berani mengatakan tidak akan membiarkan dia dianiaya?" Axel berkata dengan marah: "Apakah kau sadar bahwa ini baru aniaya terbesar untuk Nara?"


Reva memandang Nara dan berkata dengan lembut, "Nara, percayalah padaku!"


Hana: "Percaya padamu? Kau malah sengaja menyodorkan dirinya ke lubang harimau! Atas dasar apa kita harus mempercayaimu?"


Wajah Nara memerah lalu dia merenung sejenak kemudian menggertakkan giginya dan berkata, "Oke, aku akan mempercayaimu kali ini!"


"Nara.." Alina tampak cemas.

__ADS_1


"Tak perlu dibicarakan lagi!" Wajah Nara menunjukkan tekadnya: "Malam ini, kita juga tidak bisa lari lagi. Jadi ayo masuk dan hadapi. Paling - paling nyawa ini saja yang kukorbankan!"


Semua orang memasuki ruangan tempat keluarga Shu mengadakan perjamuan malam ini.


Tommy sedang duduk di kursi utama dan keluarga Nara juga jarang - jarang ada kesempatan untuk duduk di sini.


"Halo semuanya, untuk cara dan peraturannya seharusnya kalian semua sudah mengerti." Tommy berkata sambil tersenyum: "Kalau begitu tak perlu lagi aku repot menjelaskan, mari kita mulai."


"Ketua Shu, proyek aku bernilai 30 juta dolar tahun ini.." Pria gemuk itu yang pertama bebicara. "Si Gendut, baru 30 juta dolar saja kau sudah ingin mendapatkan kesucian Nara untuk pertama kalinya? Hehe, Tuan Shu, aku punya proyek bernilai 50 juta dolar di sini!"


"Aku punya enam puluh juta dolar!"


"Tujuh puluh juta.."


"Delapan puluh juta!"


Kerumunan itu terus berteriak dan akhirnya nilai proyek ini menjadi lebih tinggi dan lebih tinggi lagi hingga mencapai 150 juta dolar.


Semua orang di keluarga Shu terlihat sangat gembira. Keluarga Shu dapat menghasilkan begitu banyak uang dengan memenangkan proyek semacam ini.


Tidak masalah Shim Group tidak bekerja sama dengan keluarga Shu lagi. Keuntungan yang didapatkan dari orang - orang ini jauh lebih banyak daripada Shim Group!


Keluarga Nara duduk di sebelah mereka. Wajah mereka semua tampak begitu pucat.


Nara juga menatap Reva. Tatapannya penuh dengan keputusasaan.


Reva: "Jangan khawatir, mereka akan mendapatkan pembalasannya!" Alina berteriak: "Pembalasan? Reva, apakah kau sedang menunggu Tuhan untuk menyelamatkanmu sekarang?"


"Hahaha, kakak ipar, aku rasa kau tak akan sempat menunggu Tuhan!" Xavier mendekat: "Nilai lelang ini sudah diputuskan, proyek senilai 150 juta dolar. Bos Steven telah difoto dengan kak Nara. Kakak ipar lebih baik kau antar sendiri kak Nara ke sana!"


Axel dan Alina menangis, apakah putrinya benar - benar akan dihina oleh mereka seperti ini?


Nara juga menggertakkan giginya. Dia telah menbambil keputusan. Jika ada yang menyentuhnya maka dia akan menubrukkan kepalanya sampai mati di sini!


"Seratus lima puluh juta dolar?" Reva tiba - tiba berdiri dan terkekeh, "Bisakah kau mengeluarkan uang sebanyak itu?"


"Lancang!" Tommy memarahi Reva: "Apakah kau punya hak untuk berbicara di sini?"


"Bos Steven adalah pria yang berpengaruh dalam bidang medis di kota Carson. 150 juta dolar hanyalah masalah sepele baginya!" Alex melanjutkan pujiannya: "Setiap proyek yang bos Steven tangani itu bernilai ratusan juta dolar. Kau masih berani meragukan bos Steven?"


"Huhh, untuk apa kau berbicara dengan orang tidak berguna seperti dia? 150 dolar saja dia tidak dapat mengeluarkannya apalagi 150 juta dolar!"


"Reva, kuberi kau kesempatan untuk mengantar Nara kepada bos Steven dengan tanganmu sendiri dan kamu akan memberimu hadiah sebanyak 300.000 dolar untuk menyelamatkan adikmu!"

__ADS_1


Raut wajah Axel dan Alina tampak pucat pasi. Sudah sampai seperti ini Reva masih saja mempermalukan dirinya sendiri!


Raut wajah Reva tampak acuh tak acuh dan dia berkata dengan lembut, "Bos Steven, jika aku tak salah ingat sepertinya kau sudah bangkrut!"


Semua orang tampak tertegun sejenak dan langsung tertawa terbahak - bahak.


"Aku bangkrut?" Bos Steven berkata sambil tertawa: "Mengapa aku tak mengetahuinya? Kapan itu terjadi?"


Reva melihat teleponnya sebentar lalu menjawab: "Delapan menit yang lalu!"


"Hahaha.." Semua orang tertawa lagi.


"Ini benar - benar lelucon paling lucu yang pernah kudengar!"


"Aduhh, aku benar - benar sudah tidak tahan lagi. Reva, bisakah kau berhenti melawak? Apakah kau orang bodoh?"


"Delapan menit yang lalu bangkrut, akurat sekali. Reva, kau pikir kau adalah dewa, mengatakan orang bangkrut lalu dia harus bangkrut begitu?"


Wajah Axel dan Alina memerah tampak malu sekali. Hana menggertakkan giginya sambil mengumpat: "Badut ini!"


Reva tidak berbicara. Dia hanya menyalakan teleponnya dan memproyeksikan berita di pontelnya ke TV di sebelahnya.


"Berita stasiun ini melaporkan bahwa krisis utang industri farmasi milik Steven telah meledak dan telah memasuki tahap kebangkrutan dan likuidasi.."


Suara di TV terdengar dengan sangat jelas sehingga semua orang dibuat tercengang.


"Ini.. ini tidak mungkin, berita hoax kah ini?"


"Tidak, ini adalah beeita finansial di kota Carson kita. Pembawa berita ini telah membawakan berita selama lima tahun."


"Ya Tuhan, apakah bos Steven benar - benar sudah bangkrut?"


Bos Steven tampak terperanjat dan buru - buru mengeluarkan ponselnya. Sebelum dia sempat menelepon ada panggilan telepon masuk.


"Steven, kau sebenarnya sudah mengganggu bangsawan mana?"


"Mengapa seseorang tiba - tiba mengganggu kita dan menungkapkan banyak hal ilegal tentang perusahaan. Mereka bergabung dengan semua kreditur untuk menagih hutang!"


"Apakah kau tahu bahwa perusahaan sudah bangkrut? Keluarga kita juga habis sudah!"


Suara sedih seorang wanita terdengar jelas oleh seluruh tamu yang hadir di ruangan itu.


"Itu.. itu adalah suara nyonya Steven.." Seorang bos wajahnya menatap dengan ngeri: "Bos Steven, Apakah.. Apakah kau benar - benar bangkrut?"

__ADS_1


__ADS_2