MENGEJAR CINTA MAS-MAS

MENGEJAR CINTA MAS-MAS
FIRST NIGHT


__ADS_3

Hati-hati ada adegan dewasa!!


Pembaca di bawah umur lebih baik.cari bacaan lain ya🤭


⭐⭐⭐⭐


"Kamu tahu kan kalau minuman ini berkhasiat meningkatkan stamina pria, terutama dalam hal bercinta?"


⭐⭐⭐⭐


Happy Reading ❤


Oh s**t! Kenapa gue nggak baca dulu kemasannya, rutuk hati Gladys. Mampus gue!


"Kenapa diam saja?"


"Nggak papa. Aku tadi asal ambil saja dari atas meja. Jadi nggak tahu itu minuman apa. Aku cuma baca sekilas bahan-bahannya susu campur jahe dan madu."


Banyu menatap Gladys dengan pandangan intens. Ia mendesak tubuh Gladys hingga menempel pada meja dapur. Ditariknya pinggang Gladys hingga menempel sempurna di tubuhnya. Raut wajah Gladys menunjukkan rasa terkejut.


"Kenapa?" tanya Banyu.


"Hmm.. nggak papa." Gladys menurunkan pandangannya. Maksud hati ingin menghindari tatapan Banyu, namun malah yang dia lihat adalah perut six pack sang suami yang kini rupanya hanya tinggal menggunakan boxer. Ya tuhan, seksi banget sih manusia satu ini. Dia bukan makhluk setengah dewa kan? Tubuh proporsional, lengan berotot, dada bidang, perut seperti roti sobek dan .... Gladys membuang pandangnya saat merasakan sesuatu. Ah seandainya ia bisa menguap saat itu juga. Aku malu.


Banyu menyentuh lembut dagu Gladys dan memaksa gadis itu kembali menatap wajahnya. Perlahan wajah Banyu mendekat dan semakin mendekat. Kini jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa centimeter. Gladys menutup matanya. Ia tak sanggup melawan pandangan Banyu. Tak Banyu mengecupnya dengan lembut. Kecupan yang tak pernah bisa ditolaknya. Kecupan yang memporakporandakan kehidupannya. Kecupan yang membuatnya mengejar si tukang sayur ganteng ini.


Banyu terus mencium lembut bibir Gladys. Mereka menyudahi ciuman setelah dirasakan pasokan oksigen mulai berkurang.


"Kamu tahu, sejak kita bertemu lagi aku sangat menginginkan bibirmu. Bibir yang sering membuatku memimpikan hal-hal liar. Bibir yang terasa manis dan bagaikan candu. Dan bibir ini terasa sama seperti saat pertama aku menciummu."


"Lebih tepatnya kamu mencuri ciuman pertamaku."


"Ya, dan sejak saat itu aku tergila-gila pada bibir mungilmu yang selalu terlihat menggoda, bahkan di saat kamu cemberut karena ngambek." Ujung jempol Banyu mengelus lembut bibir Gladys.


"Hmm... mas, su-sudah malam. Tidur yuk. Kamu pasti capek. Apalagi dua minggu terakhir ini kamu mengerjakan banyak hal termasuk pernikahan kita," ajak Gladys.


"Sepertinya kamu benar-benar sudah nggak sabar ya. Baiklah," tanpa banyak basa-basi Banyu menggendong tubuh mungil Gladys ala bridal. Gladys teringat pertemuan kedua mereka dulu yang berakhir dengan dirinya digendong Banyu seperti ini. Gladys melingkarkan tangannya ke leher Banyu.


"Ngapain sih digendong segala? Tubuhku pasti berat."


"Dari dulu tubuh mungilmu ini tak pernah berat, sayang. Sama seperti sekarang."


"Tapi dulu kamu bilang tubuhku berat.

__ADS_1


"Itu alasanku saja untuk menggoda dan berdebat denganmu. Adrenalinku terpacu saat berdebat denganmu. Disaat bersamaan level dopaminku meningkat saat melihatmu cemberut atau mengomel. Dan kamu tahu sayang, itu salah satu daya tarikmu. Gadis manja temperamental kesayanganku." Banyu membawa Gladys ke sofa dan mendudukannya disana. Diletakkannya kaki Gladys di atas pahanya.


"Iih.. mas Banyu kayak lagi napak tilas nih." Gladys teringat kejadian saat itu


"Dengan ending yang berbeda tentunya sayang." Banyu mengedipkan sebelah matanya. Tangannya mulai memijat lembut telapak kaki sang istri. "Kakimu pasti lelah dari tadi mengenakan heels dan harus berjalan mondar mandir menemui para tamu. Biarkan aku melepaskan penatmu."


"Mas, aku malu," bisik Gladys saat Banyu mulai memijat kakinya.


"Malu kenapa? Aku kan suamimu. Dulu saja kamu nggak malu. Padahal saat itu kita bukan siapa-siapa."


"Iih mas Banyu jangan gitu dong. Dulu aku juga malu, tapi gengsiku mengalahkannya. Dulu kamu itu menyebalkan. Tukang kritik."


"Kalau sekarang?" Tangan Banyu kini bukan hanya memijat telapak kaki namun sudah mulai menjalar ke arah lutut. Bahkan tanpa Gladys sadari posisi Banyu semakin mendekat. "Masih menyebalkan?"


Gladys menggeleng. Jantungnya mulai berdebar cepat. Pijatan Banyu telah berubah menjadi sentuhan lembut. Sekuat tenaga Gladys menahan diri agar tak mendesah saat pijatan itu berubah menjadi belaian yang mampu membuat seluruh persendian di tubuhnya bergetar.


Banyu menghentikan aksi tangannya. Ia sendiri sebenarnya gemetar saat melihat tubuh mulus Gladys. Tubuhnya sudah memberontak sejak tadi karena melihat Gladys memakai lingeri setelah mandi. Banyu tahu lingeri itu sengaja disiapkan oleh Khansa.


"Dys, sini duduknya pindah membelakangiku. Aku akan pijat bahu dan punggungmu."


"Tapi mas...."


"Tenang sayang. Ada saatnya kamu harus melayaniku. Kini biarkan aku memanjakan istriku." Banyu memaksa Gladys untuk merubah posisi duduknya dan mulai memijat lembut bahu Gladys.


"Karena pijatan ini hanya untuk istriku tercinta dan kulakukan dengan cinta," bisik Banyu mesra. Kini tangan Banyu mulai mengelus lengan Gladys. Dengan tangan gemetar ia merasakan kulit halus mulus Gladys. Kini tak ada satupun yang berbicara selain ******* pelan yang lolos dari bibir Gladys saat tangan itu menelusuri lengannya.


Melihat reaksi Gladys, Banyu semakin berani. Kini bibirnya mulai mengecup bahu sang istri sementara tangannya masih membelai mesra lengan Gladys. Dari bahu berpindah ke leher jenjang. Tubuh Gladys terasa panas akibat sentuhan dan kecupan Banyu. Bahkan Banyu mulai berani meninggalkan jejak di leher istrinya.


"Eehmm.... maash.... " ******* Gladys membuat Banyu semakin berani. Apalagi tak ada penolakan dari Gladys. Gladys merasa gugup dan disaat bersamaan excited. Seolah seluruh naluri primitifnya bangkit akibat sentuhan dan kecupan yang Banyu berikan.


"Sayang....," panggil Banyu lembut. Tangannya berhenti beraktivitas seolah memberi kesempatan pada Gladys untuk menarik nafas.


"Eehmm...." Banyu membalik tubuh Gladys hingga berhadapan dengannya. Dilihatnya mata Gladys yang mulai berkabut dan wajahnya yang memerah karena gairah yang mulai membakar tubuhnya. Hal itu membuat Banyu gemas sekaligus tergugah gairahnya. Wajah Gladys terlihat seksi saat ini. Ditatapnya bibir mungil Gladys yang berwarna merah muda. Bibir yang kini menjadi candunya. Perlahan Banyu kembali mencium lembut Gladys.


Saat tubuhnya kembali bersentuhan dengan tubuh Gladys, Banyu tak sanggup lagi menahan gairah yang sudah ditahannya sejak kemarin. Ciumannya mulai terasa panas. Gladys membuka mulutnya dan memberi akses pada lidahnya untuk mengabsen satu-satu gigi Gladys. Gladys membalas ciuman Banyu. Mereka saling mencecap satu dengan lainnya.


Kini gairah keduanya sudah semakin memuncak. Namun Banyu masih tak yakin Gladys telah siap memberikan haknya. Ia menatap dalam mata Gladys. Betapa ia sangat bersyukur menemukan binar cinta di mata itu. Dulu ia tak menyadari hal itu, atau lebih tepatnya mencoba menyangkal hal tersebut. Kini ia sangat bersyukur dapat melihat kembali binar tersebut.


"Kamu yakin?" Gladys memandang Banyu heran. "Karena bila diteruskan aku nggak yakin mampu menahan diri lebih lama."


Gladys tertawa renyah mendengar ucapan Banyu. "Memangnya kalau aku nggak yakin atau menolak, mas Banyu nggak marah? Mas Banyu bisa menahan?"


"Hmm.. kamu meledekku ya? Aku sih nggak akan marah, tapi aku pasti akan menyergapmu dengan ataupun tanpa persetujuanmu. Memangnya kamu tega melihat suamimu menderita?" Lagi- lagi Gladys tertawa. Pemandangan yang menarik untuk dilihat, batin Banyu saat memandang istrinya dengan mesra.

__ADS_1


"Mas, ngapain sih pakai lihat-lihat segala? Aku malu tau!" Pipi Gladys merona. Menggemaskan sekaligus menggairahkan, bisik Banyu dalam hati.


"Jadi?"


"Sekarang aku adalah istrimu. Kamu sudah halal untuk meminta hakmu, mas." ucap Gladys perlahan sambil menundukkan pandangan karena malu.


Tanpa menunggu lebih lama, Banyu mengangkat tubuh istrinya. Dengan lembut Banyu membaringkan tubuh Gladys di ranjang yang ditutupi sprei satin berwarna silver.


Setelah membaringkan Gladys, Banyu menatap seluruh tubuh istrinya. Melihat sikap Banyu, wajah Gladys memerah karena malu. Sebenarnya Banyupun masih malu. Bahkan bergetar seluruh tubuhnya hanya karena melihat pemandangan indah di hadapannya. Sementara itu tubuh Gladys semakin memanas akibat permainan tangan Banyu.


"Kamu siap sayang?" Gladys mengangguk dengan nafas terengah karena gairah yang semakin memuncak. Kepalanya terasa pusing akibat ledakan gairah yang tak henti menerpanya. Tanpa menunggu lebih lama lagi dengan lembut Banyu menyatukan tubuh mereka. Ia tak mau terburu-buru karena takut menyakiti istrinya.


"Maaf ya sayang," bisik Banyu. Dilihatnya air mata mengalir dari sudut mata Gladys. Banyu mencium sudut mata Gladys.


"Apakah aku harus berhenti?" tanyanya. Gladys menggeleng sambil tersenyum menenangkan.


"Teruskan mas, aku yakin rasa sakit ini pasti takkan lama."


Akhirnya setelah beberapa lama mereka berdua mencapai kepuasan bersama setelah Banyu membiarkan Gladys mencapai kepuasan pertamanya lebih dulu. Banyu mengecup lembut seluruh wajah Gladys dan berakhir di bibir mungil yang selalu menjadi candunya sejak dulu. Sejak ia mencuri ciuman pertama Gladys.


"Terima kasih princess." Banyu menjatuhkan tubuhnya ke samping Gladys. Ia menyelimuti tubuh mereka berdua. Meski udara dingin Bandung saat ini tak terasa karena panasnya percintaan mereka. Namun saat mereka tertidur hawa dingin itu pasti akan terasa. Ditariknya tubuh Gladys agar tidur beralaskan lengannya. Lalu ia memeluk tubuh istrinya.


"Tidurlah. Besok pagi kita akan berangkat bulan madu. Aku nggak mau kamu kelelahan."


"Eehmm... mas, sebelum tidur aku punya satu pertanyaan." Gladys bergelung dalam pelukan Banyu yang selalu mampu menenangkannya.


"Apa?"


"Dulu, apakah kamu benar-benar cemburu kepada Lukas?"


"Tentu saja. Dulu awalnya kukira rasa cemburu itu akan hilang bila aku fokus pada Senja. Ternyata tidak. Saat aku berusaha agar Senja mau kembali padaku, ternyata di saat bersamaan aku merasa kehilangan dirimu. Aku tak mengira kamu akan berhenti memperjuangkan cintaku. Hatiku hancur saat kamu mengambil keputusan itu."


"Mas tahu, disaat aku bersama Lukas pun pikiranku selalu kembali padamu. Setengah mati aku berusaha tidak mempedulikanmu."


"Siapa sangka ya seorang putri manja mau mengejar cinta mas-mas penjual sayur," goda Banyu.


"Mengejar cinta mas-mas... hmm ternyata aku agresif ya mas," ucap Gladys sambil tertawa. "Kamu pasti takut saat itu."


"Takut, kaget, tak percaya, minder, bangga. Semuanya campur aduk saat kamu pertama melamarku di hadapan ibu. Masih ingat bagaimana dulu ibu mengira kamu hamil?" Gladys mengangguk sambil terkekeh.


"Kini kita benar-benar akan memberikan cucu pada ibu. Kuharap, aku bisa hamil dalam waktu dekat," bisik Gladys.


Malam itu mereka tidur sambil berpelukan dengan nyaman. Udara Bandung yang semakin menggigit tak mereka rasakan karena tubuh mereka saling menghangatkan.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2