Menikahi Anak Pembantu

Menikahi Anak Pembantu
Bab 23 - Digrebek!


__ADS_3

"Apa?" Embun terperangah. Yang benar saja ia harus tidur di dalam kamar pria yang bukan mahramnya. "Tuan, tapi kita—" Embun yang hendak protes mengurungkan niatnya saat melihat tatapan mata David yang tidak bersahabat.


"Jika kau tidak mau tidur di sini, kau bisa melompat dari balkon!" Sembur David.


Embun mengatupkan bibir rapat-rapat. Terjun dari balkon bukanlah pilihan yang tepat untuk saat ini. Kaki atau bagian tubuhnya yang lain bisa saja patah jika ia nekat melakukan itu.


"Jangan berisik. Aku mau tidur!" Kata David kemudian melangkah ke arah ranjang. Sambil melangkah ke arah ranjang, David berpikir keras siapakah orang yang sudah berani mengunci pintu kamarnya dari luar. David sangat yakin jika saat ini ada yang berniat bermain-main dengannya. Sebenarnya David ingin mencari tahu siapa yang sudah berniat mengerjainya sekarang juga. Namun mengingat perutnya yang terasa tidak enak dan kepalanya terasa masih pusing, David memilih mengistirahatkan tubuhnya lebih dulu.


Sebelum memejamkan kedua kelopak matanya, David berkata pada Embun yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. "Tidurlah di sofa. Jika kau butuh selimut, kau bisa mengambilnya di dalam lemari."


Embun bingung apakah harus mengiyakannya atau bagaimana. Ingin sekali ia berteriak. Meminta tolong pada siapa saja yang mendengarnya untuk segera membuka pintu kamar David. Tidak berbeda dengan David, sebenarnya Embun juga merasa ada yang aneh dengan kondisi pintu kamar yang tiba-tiba saja terkunci dari luar.

__ADS_1


"Siapa sih yang mengerjaiku dan Tuan David. Perasaan tadi di rumah tidak terlihat ada siapa-siapa. Tuan Raka dan Nyonya Meisya juga belum pulang sejak tadi." Gumam Embun. Seandainya saja ia membawa ponselnya saat ini. Embun pasti sudah menghubungi ketua pelayan dan meminta tolong agar dikeluarkan dari dalam kamar David.


Cukup lama Embun berdiri di depan pintu kamar David. Hingga akhirnya, Embun yang merasa sudah lelah berdiri segera melangkah ke arah sofa sambil menatap David yang nampak sudah terlelap dalam tidurnya.


**


Semalaman Embun tidak dapat memejamkan kedua kelopak matanya karena merasa tidak nyaman dan takut tidur di dalam kamar seorang pria yang bukan mahramnya. Sambil menunggu keajaiban pintu kamar bisa terbuka, Embun merafalkan doa dalam hati berharap semuanya baik-baik saja hingga menjelang pagi.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi saat Embun baru saja bisa memejamkan kedua kelopak matanya. Baru beberapa jam tertidur dan melewatkan ibadah paginya, tidur Embun sudah terganggu mendengar sebuah teriakan dari depan pintu kamar David.


Embun seketika membuka kedua kelopak matanya dan berubah posisi dari berbaring menjadi duduk. Sambil mengumpulkan kesadarannya, samar-samar Embun melihat di dalam kamar David kini sudah ramai dengan keberadaan Mom Meisya dan Raka dan Danesh.

__ADS_1


"Apa-apaan ini, David?" Suara Mom Meisya terdengar melengking. Pun dengan tatapan matanya yang nampak tajam terhunus pada putranya yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan selembar handuk melilit pinggangnya.


"Mommy."


"Nyonya Meisya?"


***


Berikan giftnya dulu yuk sebelum lanjut. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya SHy yang lainnya❤️


Terima kasyi❣️

__ADS_1


__ADS_2