
Minggu Siang.
"Apakah kamu sudah bersiap?" sahut Selly dari luar kamar Marina.
"Iya, Bu" jawab Marina yang mengenakan pakaian maxi dress dengan motif bunga agar terlihat cerah. Tidak lupa ia juga memoleskan riasan dengan tipis. Kecantikan naturalnya terpancar. Marina tidak suka bermake up tebal. Bibirnya berwarna pink terlihat berkilau dengan polesan lipgloss. Usianya yang masih muda tentu memiliki daya tarik bagi pria dewasa.
Marina tidak bisa mengubah dirinya untuk mencoba berpenampilan selayaknya wanita dewasa. Marina memakai outfit menyesuaikan usianya, hingga ia terlihat seperti seorang nona dari kalangan atas. Padu padan yang dikenakan Marina sangat cocok dan usia mudanya langsung terlihat jelas dari penampilannya yang segar.
"Bagus," Mata Selly memandang Marina dari atas sampai bawah. Sumringah memenuhi wajahnya. Selly tahu, putri bungsunya seorang anak yang penurut jadi dia percaya Marina tidak akan mengecewakannya.
"Sebelum kita berangkat, aku sudah menyiapkan ini untukmu." Kemudian Selly menyerahkan sebotol obat pada Marina sebagai alat untuk menjebak seseorang yang menjadi targetnya tanpa merasa bersalah. Dia dengan tega membuat putrinya sebagai umpan. Kekejaman melintas dari sorot matanya.
Tangan Marina bergetar menerima obat dari ibunya, betapa itu mengusik hati nuraninya. Ia menahan gejolak kesedihan di dadanya.
'Bu, inikah caramu memanfaatkan putrimu sendiri?' Marina membatin. Jiwanya telah kosong mulai detik ini juga, ia bagai robot yang harus mengikuti instruksi padahal ini menyangkut hidupnya sendiri tapi Marina telah menyerah sejak kakinya melangkah keluar rumah.
Marina merindukan sosok kehangatan seorang ibu, entah kapan Marina pernah merasakannya bahkan Marina pun tak ingat. Kenangan hidupnya sejak kecil terasa pahit. Ibunya tak seperti kebanyakan ibu lainnya yang digambarkan penuh kasih sayang. Ada apa yang dengan dirinya? Marina tak tahu.
Sosok orang yang tengah berjalan di depannya tak lebih seperti orang asing. Marina menunduk mengikuti langkah ibunya dengan rasa sesak di dada.
Kediaman keluarga Virendra...
Selly dan Marina menemui keluarga Virendra, ada pesta ulang tahun putri keluarga Virendra yang ke 17. Selly memanfaatkan momen langka ini karena semua orang penting tengah berkumpul.
Saat ini, ia harus menjebak salah satu putra keluarga Virendra dengan begitu ia akan menjadi salah satu anggota keluarga konglomerat yang dihormati. Mimpi Selly yang ingin menjadi keluarga kaya dengan cara instan kini akan terlaksana dengan memaksa Marina sebagai umpan untuk melaksanakan tugasnya.
Terbayang dalam benak Marina, pria yang akan dijebaknya pasti telah berumur dan jelek karena ibunya tidak mungkin meminta Marina jika pilihannya bagus pastilah Rika yang lebih dulu akan jadi kandidatnya.
__ADS_1
Banyak gosip yang menyebar mengenai putra sulung keluarga Virendra yang menurut kabar dia kesulitan memilih pasangan. Dari situlah asumsi muncul di benak Selly bahwa putra sulung keluarga Virendra pasti kurang menarik. Kesempatan emas ini, Selly manfaatkan untuk memetik keuntungan dengan cara licik yaitu menjebaknya.
Selly pun meminta Marina untuk melakukannya. Haus akan kekuasan dan harta meracuni pikiran Selly.
Sejak kecil, Marina diperlakukan tidak adil oleh Selly yang memang pilih kasih terhadap ketiga anaknya. Marina yang harus selalu mengalah kepada kakak-kakaknya. Marina anak bungsu tapi diperlakukan seolah dia anak sulung di keluarga.
Mereka sudah berada di sebuah pesta keluarga yang dihadiri banyak keluarga kaya dan terpandang. Gaun yang dikenakan Marina tidak terlalu mencolok tapi karena kecantikannya, penampilannya terlihat mendukung bahwa dia gadis satu-satunya yang paling memesona di pesta itu.
Selly melirik dari sudut matanya mendapati penampilan Marina memang memukau hingga para pria tak berkutik untuk terus menatapnya tanpa berkedip. Jauh di sudut hati Selly, dia iri pada Marina–putrinya sendiri karena Selly sadar usianya sudah tua dan dia tidak menarik lagi.
"Hai, jeng Selly! Apa kabar?" Seorang wanita yang diperkirakan usianya sebaya dengan Selly tengah menyapanya.
Dikejutkan oleh seseorang, Selly menoleh. "Lho, Jeng Neny diundang juga. Tidak disangka kita bertemu di pesta ini," Selly menyambut sapaan dari Neny, mereka bercipika cipiki. Marina sengaja ditinggal sendiri oleh Selly yang sibuk menyapa teman-teman sosialitanya.
Pesta ini dihadiri oleh kaum sosialita dan semuanya sudah pasti dari kalangan kelas atas. Penampilan mereka begitu mencolok dengan menyandang brand-brand terkenal yang menempel di tubuhnya.
Sambil berpura-pura minum, Marina dengan langkah anggunnya mendekati sekumpulan para wanita muda yang sedang mengobrol. Ini penting baginya, untuk mengetahui orang yang akan menjadi targetnya karena Marina sama sekali tidak tahu wajah orang itu. Hanya berbekal nama, Marina mencoba mencarinya.
Tak sengaja Marina mendengar percakapan dua orang di belakangnya.
"Apakah dia masih belum datang? Acara akan segera dimulai," Seorang Wanita paruh baya nampak cemas.
"Tuan Arshaka masih dalam perjalanan, Nyah. Dia bilang terkena macet di jalan"
"Baiklah, kita tunggu sebentar lagi sampai dia datang"
Ya, Marina ingat nama yang akan jadi targetnya adalah Arshaka Virendra–putra sulung dari keluarga Virendra. Ia pun juga sama sedang menunggu kedatangan pria itu.
__ADS_1
Kegelisahan menyelimuti hatinya, dia cemas dan takut kalau rencananya akan gagal. Sungguh Marina gugup, ini pertama baginya melakukan hal yang mengerikan karena desakan dari ibunya.
Marina bersikap seperti seorang nona muda sombong yang berasal dari kalangan atas. Dengan keangkuhan dan wajah tegasnya berhasil menyembunyikan sifatnya yang lugu dan polos. Berbekal otaknya yang cerdas Marina mampu menyesuaikan dirinya.
Selang beberapa menit kemudian...
"Nyah, Tuan Arshaka bilang acara dilanjutkan saja tidak usah menunggunya. Dia akan datang larut malam sebab ada insiden kecil tadi di jalan yang mengharuskan dia untuk mengurusnya sebentar" lapor seorang pria pada wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Arsakha.
"Baiklah, kalau begitu. Aku tidak akan menunda acara ini. Putriku terlihat tidak sabar"
Mendengar percakapan itu, entah kenapa ada sedikit kelegaan di hati Marina. Itu tandanya rencana ibunya gagal, jadi ia bisa beralasan bahwa si target tidak kunjung datang.
Acara pesta ulang tahun begitu meriah, semua tamu turut bergembira.
Malam semakin larut dan para tamu undangan telah pulang kecuali Selly dan Marina. Mereka masih menahan diri sebelum niat terlaksanakan.
"Bu, ini sudah malam. Apakah kita masih akan di sini?" bisik Marina.
"Kita tidak bisa membatalkan rencana kita, lakukan apa yang Ibu suruh. Mungkin Ibu akan pulang lebih dulu agar tak ada yang mencurigai kerjasama kita. Kamu harus tetap di sini menunggu Tuan Arshaka. Ingat janjimu"
"Iya, Bu" ucap Marina tanpa daya. Marina ditinggalkan dan diminta melakukan aksinya sendirian.
Selly memang keras kepala tetap menginginkan status instan tanpa memikirkan Marina. Kini Marina pun dengan pasrah dan terpaksa mengikuti keinginan ibunya.
-----
Bersambung....
__ADS_1