Misteri Pemutus Cinta Raven

Misteri Pemutus Cinta Raven
Tracy Korban Kedua


__ADS_3

Bab 10.


Keesokan paginya...


“Nona Claire, Anda tidak apa-apa?” Kyle menyongsong kedatangan Claire di ruang kerjanya. Mukanya menunjukkan rasa kuatir dan juga prihatin.


Claire menggeleng kecil. “Aku baik-baik saja, Kyle,” katanya. “Semalam aku dicegat dalam perjalanan ke rumah sakit. Tiga orang ingin menyakitiku, tapi untunglah Raven datang menolongku tepat pada waktunya. Ia berkelahi dengan mereka,” Claire berkata sambil berjalan ke meja kerjanya, sementara Kyle mengikuti langkahnya.


Sesampai di meja, Claire duduk di kursi, dan Kyle mengambil tempat di depannya.


“Syukurlah,” kata Kyle merasa lega.


“Lalu bagaimana keadaan Tuan Raven, apakah ia baik-baik saja?”


“Raven baik-baik saja,” jawab Claire.


“Bahkan tadi pagi-pagi sekali ia bilang padaku mau keluar sebentar sebelum masuk kantor. Tampaknya sekarang ia belum datang,” Claire melirik jam tangannya. “Oh iya, apakah tadi kau melihat Tracy?” tanya Claire.


“Tidak,” jawab Kyle. “Katamu semalam, Tracy mengatakan padamu aku kecelakaan? Untuk itukah kau ke rumah sakit? Ingin melihatku?” Kyle merasa terharu.


Claire mengangguk. “Ternyata aku dijebak, Kyle,” katanya memberitahu. “Tracy sengaja mengaku sebagai suster jaga di Rumah Sakit Y, mengabarkan kalau kau kecelakaan dan sedang dirawat di rumah sakit itu. Ia menyuruhku untuk datang segera, tetapi sebenarnya ia sudah menyuruh beberapa orang untuk mencelakaiku di tengah jalan. Aku jadi heran, kenapa Tracy berbuat demikian ? Apakah ia membenciku? Padahal aku tidak pernah menyakitinya.”


Kyle mengepalkan tangannya di atas meja, tampaknya ia merasa geram. “Tak kusangka Tracy benar-benar ingin mencelakaimu. Aku akan membuat perhitungan dengannya begitu ia datang nanti.”


Claire menggeleng. “Kurasa Tracy tak akan berani datang lagi,” katanya. “Soalnya orang suruhannya sudah gagal melaksanakan tugas. Ia pasti sudah mendengar dari mereka kalau Raven datang menolongku. Salahku sendiri, kenapa tak melihat dengan jelas nomor telepon yang masuk itu, dan tak terpikir untuk menghubungimu guna menanyakan kebenarannya, karena kupikir kondisimu pasti sangat parah sampai-sampai tidak sadarkan diri.”


Kyle memberanikan diri menggenggam tangan Claire yang tergeletak di meja. Dengan wajah penuh penyesalan ia berkata, “Maafkan aku, Nona Claire. Gara-gara aku, kau hampir saja dicelakai.”


Claire tersenyum kecil. “Tak apa-apa, Kyle. Aku ingat, kau selalu berbuat apa saja untukku dan selalu membelaku setiap saat. Jadi aku pikir aku harus tahu kondisimu, betul tidak? Saat itu, aku sama sekali tidak terpikir diriku sendiri,” Claire menarik tangannya dari genggaman Kyle. Lalu ia mengangkat gagang telepon di mejanya dan memijit sebuah nomor. “Halo,” katanya. “Apa Nona Tracy sudah datang?” tanyanya pada salah satu resepsionis di lobby.


Hening sesaat. Lalu terdengar resepsionis itu menjawab, “Belum, Nona,” beritahunya setelah memeriksa kartu absensi para pegawai.


Claire menutup teleponnya. Sekali lagi ia melirik jam tangannya. “Betul kan, Tracy tak berani datang sampai sekarang. Ini sudah lewat satu jam dari jam masuk kantor.”


Pintu ruangan Claire terbuka. Kyle dan Claire melihat ke sana secara bersamaan.


Rupanya Raven yang datang. Ia melangkah masuk lalu berjalan mendekati mereka. Raut wajahnya lain dari biasanya, seperti menyembunyikan sesuatu hal.


“Akhirnya kau datang juga, Raven,” kata Claire lega. “Aku dan Kyle baru membicarakan kejadian semalam. Kau sudah menyelesaikan urusanmu tadi? Oh iya, sampai sekarang Tracy belum datang juga. Tampaknya sudah pasti ia adalah biang dari kejadian semalam,” cetus Claire.


Kyle bangkit dari duduknya dan memberi kesempatan kepada Raven untuk duduk di depan Claire.


“Ada apa, Raven?” tanya Claire curiga, karena ia melihat Raven hanya diam saja, tidak langsung bersuara.


Setelah beberapa saat, Raven baru angkat bicara. Nada suaranya terdengar berat, “Sesuatu telah terjadi, Claire,” katanya, “Sesuatu yang tidak disangka oleh siapapun. Ini mengenai Tracy, dia…,” Raven menggeleng-geleng, seolah menanggung beban.

__ADS_1


Melihat Raven menggeleng-geleng, Claire mendesak tak sabar, “Tracy kenapa? Ada apa dengan Tracy, Raven? Kau baru dari rumahnya? Rupanya kau pergi mencarinya tadi. Kau berjumpa dengannya? Ia bilang apa padamu? Apakah ia mengakui perbuatannya?”


Raven menggeleng lagi, lesu. Pikirannya seolah melayang entah ke mana. Ia terpekur sejenak sebelum menjawab, “Tracy sudah meninggal, Claire. Tampaknya ia dibunuh. Aku melihatnya tergeletak di ruang tamu,” Raven menunduk.


“Apaaa?!” Claire tersentak. Ia menggeleng-geleng tak percaya. “Tak mungkin, tak mungkin Tracy dibunuh. Semalam kan ia yang hendak mencelakai aku? Lalu, kenapa bisa ia yang dibunuh? Siapa pelakunya? Kau melihatnya dengan jelas? Apa memang benar itu adalah Tracy?” tanya Claire bagai meragukan perkataan Raven.


“Aku tidak berbohong, Claire,” jelas Raven. “Memang tadi pagi-pagi sekali aku keluar. Aku tidak bisa lagi menahan rasa geram dan marah di hati ini. Aku bermaksud ke rumah Tracy, meminta penjelasan darinya tentang kejadian semalam. Tetapi begitu aku sampai di depan rumahnya, aku melihat pintu rumahnya tidak terkunci. Ketika aku masuk dengan perasaan curiga, aku menemukannya sudah tergeletak tak bernyawa di ruang tamu. Seseorang telah mendahuluiku,” katanya pahit.


“Apa maksudmu, Raven?” tanya Claire curiga. “Seseorang mendahuluimu? Apakah kau memang bermaksud menghabisi Tracy gara-gara kejadian semalam? Atau, mungkin gara-gara fotomu yang ditemukannya dan diberikannya pada Kyle? Benarkah perkiraanku ini, Raven?” Claire menatap tajam.


“Aku tidak pernah membunuh, Claire,” jawab Raven tertahan. “Tidak pernah sekalipun! Kenapa kau tidak berpikir kalau ketiga orang suruhannya itu yang menghabisi dia karena mereka gagal melaksanakan tugas dan tidak dibayar. Bisa jadi kan mereka merasa kesal dan malah berbalik menyerang Tracy?” alasan Raven.


Claire terdiam mendengar kata-kata Raven. Malah Kyle yang memberikan pendapatnya, “Bisa juga begitu, Nona Claire,” katanya sambil mengangguk.


Telepon di meja Claire berbunyi. Claire mengangkatnya dan menjawab, “Halo?”


Terdengar suara operator di seberang sana. “Nona Claire, apakah Tuan Raven ada di ruangan Nona? Ini ada telepon untuknya, dari Kepolisian. Apakah diterima?”


Claire menyodorkan gagang telepon itu pada Raven yang duduk di depannya. “Dari Kepolisian,” beritahunya sambil mengangkat bahu.


Raven menerima telepon itu. “Di sini Raven,” jawabnya setelah menekan salah satu tombol angka yang berkedap-kedip.


“Tuan Raven, senang bertemu lagi dengan Anda,” terdengar suara di seberang sana. “Saya adalah Inspektur Jason dari Kepolisian. Bisakah Anda datang ke kantor polisi sekarang? Ini berkaitan dengan kematian Nona Tracy tadi pagi. Ada yang melihat Anda keluar dari rumah Nona Tracy barusan. Okey, saya tunggu kedatangan Anda.” Inspektur Jason menutup teleponnya.


“Sial!” Raven membanting teleponnya. Wajahnya tampak kesal sehabis menerima telepon dari Inspektur Jason itu.


“Aku tidak usah menjawab pertanyaanmu, Claire,” kata Raven bernada kecewa. “Toh kau tidak percaya padaku, apapun yang kukatakan nanti. Ya sudahlah, aku mau ke kantor polisi dulu,” Raven bangkit dari duduknya dan dengan langkah-langkah kaki yang panjang, ia pun keluar dari ruangan Claire, meninggalkan mereka berdua, Kyle dan Claire yang menatapnya dengan perasaan ingin tahu.


 * * *


"Tuan Raven, tahukah Anda kalau Nona Tracy, sekretaris Anda yang menggantikan Nona Rachel itu mati terbunuh tadi pagi?” Inspektur Jason bertanya sambil memperhatikan mimik wajah Raven yang duduk di depannya. Kedua matanya menatap tajam.


“Ya, aku tahu,” jawab Raven pendek.


“Dari mana Anda tahu?” tanyanya.


Raven terdiam, hatinya merasa sangsi untuk menjawab. Tetapi akhirnya ia berkata juga, “Aku tahu sendiri, karena tadi pagi aku ke rumahnya dan melihat ia sudah mati.”


“Tahukah Anda bagaimana caranya ia dibunuh?” pancing Inspektur Jason.


Raven menggeleng, “Tidak tahu!”


Inspektur Jason menjawab sendiri, “Nona Tracy dibunuh dengan cara yang sangat halus. Pelakunya mematahkan urat nadi korban di bagian yang sangat vital. Ia pasti menguasai ilmu bela diri.yang cukup tinggi. Karena itu, ia tidak memerlukan senjata apapun untuk melaksanakan niatnya.”


Raven terdiam.

__ADS_1


Inspektur Jason bertanya lebih lanjut, “Tadi Anda bilang ke rumah Nona Tracy tadi pagi. Untuk apa Anda ke sana?”


“Aku ke sana untuk meminta penjelasan darinya, apa maksudnya menyuruh orang untuk mencelakai Nona Claire tadi malam.”


“Ohya? Betulkah kata Anda itu?” Inspektur Jason memastikan.


“Anda boleh menelepon Nona Claire. Sekarang ia sedang ada di kantor,” jawab Raven.


Inspektur Jason mengangguk. “Aku percaya kata Anda,” katanya sambil menepuk tangan dua kali sebagai isyarat.


Mendengar isyarat yang diberikan oleh Inspektur Jason itu, beberapa orang petugas membawa masuk tiga orang bertampang sangar ke dalam ruangan Inspektur itu.


“Apakah ketiga orang ini yang ingin mencelakai Nona Claire?” tanya Inspektur begitu mereka masuk dan berdiri di dekat Raven.


Raven memperhatikan mereka dan spontan mengangguk. “Iya betul, bagaimana Anda bisa menangkap mereka?”


“Anda yakin, mereka orangnya?” Inspektur Jason memastikan.


Raven menatap sekali lagi dan berucap pasti, “Tak salah lagi, memang mereka orangnya! Aku ingat betul karena aku sempat berkelahi dengan mereka untuk menyelamatkan Nona Claire.”


Inspektur Jason memberi isyarat pada bawahannya untuk membawa ketiga orang itu pergi. Setelah mereka dibawa pergi, Inspektur Jason berkata lagi, “Mereka tertangkap tadi pagi karena laporan pencurian mobil.”


“Oh, jadi mobil jeep itu adalah mobil curian?” reaksi Raven.


“Betul,” jawab Inspektur. “Mulanya mereka bertiga kami tahan karena telah mencuri mobil. Tetapi setelah ada kejadian terbunuhnya Nona Tracy tadi pagi, kami menghubungkannya dengan pencurian mobil. Jelas mereka mencuri mobil untuk melakukan suatu kejahatan. Kukira mereka hendak menghabisi Nona Tracy. Tetapi dari pengakuan mereka tadi, malah Nona Tracy yang menyuruh mereka mencelakai Nona Claire.”


Seketika Raven tersenyum, untunglah ketiga orang itu adalah tersangka lainnya, pikirnya lega.


“Sekarang Anda tahu bukan, kalau Nona Tracy mungkin saja dihabisi oleh mereka, karena mereka gagal melaksanakan tugas dan tidak dibayar?”


“Tidak demikian, Tuan Raven,” Inspektur Jason menampik. “Setelah dipaksa bicara, mereka mengaku memang mendatangi rumah Nona Tracy sesaat setelah mereka gagal melaksanakan tugas. Mereka meminta bayaran, tetapi Nona Tracy bersikeras tidak mau membayar. Karena mereka sadar telah gagal, maka mereka pun pergi. Saat mereka pergi itu, Nona Tracy masih hidup. Jadi Nona Tracy pasti dibunuh oleh orang yang datang setelah kepergian mereka. Bisa tadi malam, bisa juga dini hari tadi.”


“Nah, betul kan. Aku berangkat ke rumahnya saja ketika matahari sudah terbit, hampir pukul tujuh pagi. Jadi seharusnya Anda mencari tahu siapa orangnya yang datang setelah kepergian mereka bertiga dan sebelum kedatanganku. Cuma itu yang bisa aku sarankan kepada Anda, Inspektur,” Raven berkata dengan mimik dingin.


Inspektur Jason merenung. Ia memang tidak punya bukti yang kuat untuk menahan Raven. Karena saksi mata berkata Raven keluar dari dalam rumah Tracy sekitar pukul delapan pagi. Tapi tidak ada saksi mata yang melihat kapan Raven datang. Mereka bilang kalau Raven tampak tergesa-gesa keluar dari dalam rumah Tracy, dan wajahnya seperti kebingungan menyembunyikan sesuatu.


“Baiklah, Inspektur, kalau tidak ada yang ingin Anda tanyakan lagi, aku permisi untuk pulang, karena pekerjaanku di kantor masih menumpuk,” kata Raven.


Dengan berat hati, Inspektur Jason menyilakan tangannya, mengijinkan Raven untuk pergi. Tetapi sebelum langkah Raven sampai ke pintu, Inspektur itu bertanya lagi, “Tuan Raven, ini pertanyaan yang terakhir, kenapa Anda tidak langsung menelepon polisi begitu melihat Nona Tracy mati terbunuh? Sebaliknya Anda malah pergi dengan tergesa-gesa? Tidakkah itu menimbulkan kecurigaan orang bila sampai ada yang melihat Anda?”


“Rasanya aku tidak perlu menelepon polisi, Tuan Inspektur,” jawab Raven cepat. “Karena penduduk setempat akan tahu dengan sendirinya tidak lama lagi. Kalau aku menelepon polisi, nanti malah aku yang dicurigai dan dikiranya aku berpura-pura . Aku tak mau berurusan dengan polisi. Lebih baik aku pergi saja, bukan?”


Inspektur Jason tampak termangu memikirkan jawaban dari Raven. Melihat Inspektur Jason hanya diam saja, Raven pun melanjutkan langkahnya untuk keluar dari ruangan itu.


Sekarang Raven boleh bernapas dengan lega, karena sekali lagi ia terbebas dari segala sangkaan Inspektur itu, atas terbunuhnya dua orang wanita yang sama-sama adalah sekretarisnya, yaitu Rachel dan Tracy dalam jarak waktu yang tidak begitu jauh.

__ADS_1


 


* * *


__ADS_2