MISTERI VILLA LIBURAN

MISTERI VILLA LIBURAN
Chapter 1 : Pewaris Tunggal


__ADS_3

Prolog : Aku Karen Anastasya Wijaya. Aku anak konglomerat keluarga Wijaya. Keluargaku memiliki banyak properti di seluruh wilayah Negara X ini. Properti yang keluargaku miliki ini salah satu pusatnya bernama Karamel Arts Enterteinment. Perusahaan Karamel Arts Enterteinment ini bergerak di Industri Seni. Presdir perusahaan Karamel ini adalah ayahku Kevin Karamel Wijaya dan wakil presdirnya adalah pamanku Kelvin Putra Wijaya. Aku adalah putri tunggal yang akan mewarisi seluruh properti keluarga Wijaya dan Kencana beserta properti yang berada di bawah naungannya. Aku memiliki saham 60% di properti Wijaya dan 60% saham di properti Kencana.


Karen putriku sayang, lihatlah gedung ini dan seisinya luaskan ? Suatu hari kamulah yang akan menjalankan dan mengelola properti keluarga Wijaya ini saat usiamu genap 21 tahun. Ayah akan rapat. Karen bermainlah dan berkelilinglah di areal gedung Karamel Arts Enterteinment ini. "Kevin ayah Karen pun menyuruh putrinya untuk berkeliling dan bermain saat dirinya melakukan rapat".


Wah, benarkah apa yang ayah katakan ? Ayah, apakah rapatmu lama ? jika tidak aku akan menunggu ayah, jika lama aku bersama pak Carlo saja pergi ke kantor ibu. "Karen yang masih terkejut dengan perkataan ayahnya pun bertanya apa rapat ayahnya memakan waktu lama".


Rapatnya akan berlangsung selama satu jam. Jika Karen sudah selesai berkeliling, tunggulah ayah di lobby bawah. "Kevin pun memberi pesan pada Karen lalu pergi menuju ruang rapat".


Prolog : Di Perusahaan Karamel Arts Enterteinment tidak ada yang mengetahui sosok istri dan anak dari presdir, wakil presdir, maupun CEO di setiap bidangnya. Yang mengetahui identitas mereka adalah orang - orang kepercayaan mereka saja seperti Pelayan di rumah mereka, pengawal di rumah mereka, supir mereka, asisten pribadi mereka, satpam, dan sekertaris pribadi mereka. Karen pun berkeliling mengelilingi seluruh gedung Karamel Arts Enterteinment hingga kelelahan. Saat Karen ingin kembali menuju lobby, Karen mendengar suara musik piano yang sangat indah. Karen yang penasaran siapa yang memainkan musik tersebut pun akhirnya mengikuti sumber suara dan menemukan asal suara itu. Ada sebuah ruangan yang jendelanya terbuat dari kaca transparan dan terlihat seorang anak perempuan sedang memainkan piano di dalamnya.


Wah musik yang indah, dapatkah kamu mengajariku bermain piano ? "Karen yang melihat anak perempuan itu bermain piano sendirian, Karen pun menghampirinya dan memberikan tepuk tangan untuk permainan piano yang indah dari anak itu, tepukan tangan Karen membuat anak itu terkejut".


Terima kasih pujiannya. Tapi kamu siapa ? Kenapa kamu bisa berada di gedung ini dan bahkan sampai di ruangan khusus ini. Apa kamu siswi di Karamel ini ? Dan siapa namamu ? Aku Anavera Putri Dirgantara. Kalau kamu ? "Anavera yang masih terkejut pun berterima kasih atas pujian yang diberikan Karen".


Prolog : Aku seorang penyanyi bernama Karen. Aku tinggal di sebuah desa kecil bernama Asahan. Aku satu - satunya anak orang kaya di desa itu. Suatu hari aku membolos dari sekolah musik Kirin karena ayah dan ibuku sedang berada du rumah sakit. Ada yang berusaha mencelakai orang tuaku. Aku pun menangis dan pergi ke laut di desaku. Saat di laut aku melihat seorang anak laki - laki yang di kejar oleh ayahnya yang sedang mabuk. Aku pun menolong anak laki - laki itu untuk bersembunyi dari ayahnya.


Kenapa kamu menolongku ? Siapa kamu ? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. "Anak laki - laki itu bertanya kenapa gadis itu menyelamatkannya".


Aku Karen. Maukah kamu berteman denganku ? Oh iya nama kamu siapa ? Dan siapa orang yang mengejarmu itu ? "Karen pun memperkenalkan dirinya dan mengajak anak laki - laki itu untuk berteman".


Namaku Karan. Yang mengejarku adalah ayahku. Benarkah kamu ingin berteman denganku ? "Karan pun memperkenalkan dirinya dan bertanya apakah Karen memang ingin berteman dengannya".


Tentu saja benar. Mulai hari ini kita akan berteman. Oh iya apa kamu pernah melihat pelangi ? "Karen pun memulai perbincangan".


Tidak, aku tidak pernah melihat yang namanya pelangi seumur hidupku. "Karan pun mulai berbincang dengan Karen".

__ADS_1


Kemari dan duduklah di batu ini. Aku akan memainkan biola ini agar pelangi itu keluar. Agar kamu dapat melihat pelangi itu. "Karen menyuruh Karan duduk di batu pinggir laut dan Karen memainkan biola miliknya".


Prolog : Seperti sihir, musik yang dikeluarkan dari biola milik Karen sangat indah. Setiap alunan nada yang keluar menggetarkan jiwa setiap mendengar musiknya. Hingga di akhir lagu muncullah pelangi yang sangat indah. Karan pun terpana dan terkesima melihat Karen, musik biolanya, dan pelanginya dan tak bisa berkata - kata. Hanya senyuman dan tepukan tangan saja yang dapat diberikannya kepada Karen.


Wah indahnya. "Karan merasa takjub dan hanya tersenyum pada Karen".


Apanya yang indah ? "Karen yang bingung pun berani bertanya pada Karan".


Yang indah itu pelangi, kamu, dan musik biolamu. "Karan pun menyebutkan hal yang menurutnya indah dan membuat Karen tersipu hingga wajahnya menjadi merah merona bak kepiting rebus".


Baiklah ayo pulang hujannya turun semakin deras. "Karen pun mengajak Karan untuk pulang".


Prolog : Karan pun pulang ke rumahnya. Karen pun pulang ke rumah sakit. Akhirnya orang tua Karen pun sudah boleh pulang. Orang tua Karen pun pergi menyaksikan kontes musik di sekolah musik kirin untuk melihat putri tunggal mereka tampil. Kontes pun di mulai. Semua penonton hening mendengar semua alunan - alunan musik yang indah. Karen pun mendapat juara pertama dan mendapat hadiah untuk sekolah musik di Jerman.


Ayah, ibu aku berhasil. Akhirnya aku bisa masuk sekolah musik di Jerman. "Karen yang memegangi piala dan hadiah yang di dapatnya lalu berlari memeluk ayah dan ibunya".


Ayah siapa dia ? kenapa dia juga harus ikut berfoto dengan kita ? "Karen yang bingung pun bertanya pada ayahnya".


Dengarlah putriku, pak Carlo adalah sahabat ayah. Jika suatu hari ayah tiada, anggaplah Pak Carlo sebagai ayahmu. "Kevin yang mengetahui hidupnya sudah tidak lama lagi pun menitipkan pesan yang membuat semua yang mendengarnya terkejut".


Ayah, kenapa ayah bicara seperti ini ? Apakah ayah akan meninggalkan putri ayah ini ? ayah jangan bercanda seperti ini, bercanda seperti ini sangat menakutkan. "Karen yang tidak mengerti jika apa yang dikatakan ayahnya adalah sebuah pertanda, Karen pun menganggap perkataan ayahnya itu adalah sebuah gurauan".


Prolog : Karen, Kevin, Kesya dan Carlo pun berfoto bersama - sama. Kevin meminta kepada Carlo agar Karen menaiki mobil Carlo. Sedangkan Kevin dan Kesya menaiki mobil Kevin. Karen pun telah sampai di rumah. Karen bingung kenapa nuansa di rumahnya seperti nuansa pemakaman. Karen pun sangat terkejut dan tak percaya jika orangtuanya meninggal. Karen pun seketika berlari menuju laut dan menangis di pinggir laut. Kemudian datanglah Karan yang melihat Karen menangis di pinggir laut.


Karen, kenapa kamu menangis di pinggir tebing laut ini ? Apa kamu ingin melompat kebawah sana ? Ayo ikutlah denganku. "Karan yang melihat Karen berada di pinggir tebing laut pun menghampirinya dan mengajaknya pergi ke suatu tempat".

__ADS_1


Tidak, aku tidak bermaksud untuk melompat. Aku hanya ingin menghirup udara segar. Tetapi kamu mau mengajakku kemana Karan ? "Karen hanya mengikuti kemana Karan mengajaknya tanpa melepas tangan Karan yang menariknya. Karen justru lebih erat menggenggam tangan Karan yang menurutnya sangat hangat".


Lihat tumpukan bunga ini, indah bukan ? Berhentilah menangis. Dan ayo kita ke rumahmu. Orang tuamu sudah menunggumu untuk mengkremasi mereka. Jangan sia - siakan pengorbanan mereka dan jagalah peninggalan mereka. "Karan mengajak ke taman bunga bertumpuk yang tidak jauh dari laut, kemudian menghapus air mata Karen lalu berjalan mengajaknya ke rumah Karen".


Prolog : Karan pun membawa Karen ke rumah Karen. Karena Karen belum berusia 20 tahun, hartanya akan di ambil alih sementara oleh walinya hingga Karen berusia 20 tahun. Wali Karen adalah Pamannya Kelvin adik dari Kevin ayahnya. Kelvin dan istrinya Karin pun mengelola bisnis musik terbesar milik keluarga Karen. Bisnis itu bernama Karamel. Karin yang mendengar jika Kelvin akan menjadi wali Karen, Karin pun membujuk Kelvin pindah ke desa Asahan. Akhirnya Kelvin, Karin dan kedua putrinya Kania dan Kyara pindah ke Asahan.


Ibu, aku menyukai rumah ini. Walaupun ini bukan rumah utama milik Karen, tetapi rumah ini sudah seperti istana. Dan juga bu Karen akan sekolah musik di Jerman bukan ? Dapatkah aku di daftarkan ke Sekolah yang sama dengannya ? Aku akan menjaga Karen bu. "Kyara yang baik hati pun meminta ibunya untuk menyekolahkannya di tempat yang sama dengan Karen".


Baiklah ibu akan mendaftarkan kalian ke Sekolah Musik di Jerman. Kalian akan berangkat dalam waktu tiga hari lagi. "Karin pun menyetujui permintaan putri bungsunya itu".


Prolog : Setibanya Karen pulang dari pemakaman ayah dan ibunya, Karin pun berbicara mengenai keberangkatan Karen dan Kyara ke Jerman. Karen yang dalam keadaan berduka pun terkejut dengan keputusan bibinya itu. Karen pun berlari menuju laut. Di tebing laut dia melihat Karan yang berdiri di ujung tebing hendak melompat ke laut. Karen yang melihat berlari menghampirinya dan memeluknya agar Karan tidak melompat. Karan yang berniat ingin matipun menjadi ingin tetap hidup untuk melindungi Karen.


Kenapa kamu ingin melompat ? Apakah kamu ingin mati ? Apa kamu telah bosan hidup ? Berjanjilah padaku untuk hidup dengan baik setelah kepergianku. "Karen memeluk Karan dan mengomelinya serta memberitaunya tentang keberangkatannya ke Jerman dan meminta Karan untuk berjanji pada Karen".


Aku ingin melompat karena bosan dengan hidupku. Tapi aku berjanji akan hidup hingga dewasa untuk melindungimu. Berangkatlah mengejar impianmu. Terima kasih karena kamu telah menyelamatkanku. "Karan yang terkejut saat Karen menyelamatkannya, Karan pun berterima kasih dan berjanji kepada Karen dan memberi Karen semangat untuk mengejar impiannya".


Baiklah sebelum aku pergi, aku telah menyiapkan ini untukmu. Simpanlah dengan baik dan aku berjanji akan cepat menyelesaikan sekolahku dan kembali. "Karen pun memberi sebuah kotak kepada Karan yang berisi seluruh foto mereka berdua, barang - barang yang semuanya berisikan kenangan tentang mereka".


Baik aku akan menyimpannya. Aku akan sering menulis surat untukmu. Kamu di Jerman hiduplah dengan bahagia, makan teratur, jaga kesehatan, dan teruslah bermusik dengan indah. "Karan pun menerima kotak dari Karen dan memberikan Karen semangat".


Prolog : Tibalah hari kepergian Karen dan Kyara ke Jerman. Pak Carlo dan Bu Carla mengurus rumah Karen dan ikut mengawasi properti yang sedang beralih kepada wali Karen. Karin bibi Karen menjadi wakil presdir di Perusahan Karamel milik Karen, Kevin pamannya Karen menjadi Presdir di Karamel, dan Kesya menjadi Direktur di Karamel. Sementara itu Karan sedang di kejar ayahnya Ken yang sedang mabuk hingga jatuh ke tebing laut hingga meninggal. Saat itulah Karan menjadi Malaikat dan seluruh ingatan kehidupannya sebagai manusia terhapus. Sementara itu Karen dan Kyara pun sampai di Jerman.


Wah akhirnya kita sampai juga kak Karen. Sekolah Musik Alcatel ini sungguh mewah. Apa kita akan tinggal di asrama ini kak ? "Kyara pun takjub dan bertanya pada Karen".


Tentu saja kita akan tinggal di Asrama ini. Ayo kita ke ruang pendaftaran terlebih dahulu. "Karen pun mengajak Kyara untuk melakukan pendaftaran".

__ADS_1


Salam Cinta Dari Author Untuk Kalian Semua. Terima Kasih Gaes telah setia dengan karya author. Love you all.


__ADS_2