
Hingga malam resepsi, acara berlangsung semakin meriah. Para tamu undangan yang sebagian besar adalah para pebisnis silih berganti berdatangan.
Beberapa jam acara berlangsung, para tamu undangan satu persatu meninggalkan aula pernikahan. Dan kini waktunya bagi Ara dan Rey untuk beristirahat di kamar pengantin mereka.
"Kalian pasti lelah, sekarang masuklah ke kamar dan beristirahat." Ucap mama Winda yang ikut mengantarkan anak menantunya sampai ke depan kamar. Wanita baya itu tersenyum penuh makna.
"Iya, Mama juga istirahatlah." Ucap Rey sambil memutar handel pintu. Setelah pintu terbuka ia meraih pinggang Ara dan memeluknya. "Ma, kami istirahat dulu, selamat malam Ma." Ujarnya tersenyum lebar.
"Selamat malam Rey, Ara." Balas mama Winda kemudian bergegas pergi agar anak menantunya itu segera masuk ke dalam kamar. Wanita baya itu tersenyum senang sepanjang langkah membayangkan Ara dan Rey akan segera memberikannya seorang cucu.
Setelah mama Winda tak terlihat lagi, Rey dengan cepat menarik Ara masuk ke dalam kamar. Pria itu langsung mendorong Ara menjauh darinya, kemudian mengibaskan pakaiannya seakan banyak debu yang menempel.
"Kau tahu tidak, badanku rasanya gatal-gatal bila berdekatan denganmu. Tapi aku harus terpaksa melakukan itu di depan keluargaku. Oh sungguh ini benar-benar menyebalkan." Pria itu berjalan menuju kamar mandi, tanpa mempedulikan Ara yang tersungkur ke lantai akibat dorongannya. Bahkan tak merasa kasihan sedikitpun melihat Ara meringis karena perbuatannya itu.
"Dasar aneh! Dia yang membawaku ke dalam pernikahan kontrak ini tapi dia juga yang seolah tersiksa dengan keadaan ini. Kalau aku tidak butuh uang untuk biaya operasi ibuku, aku juga tidak sudi menikah dan berdekatan dengan pria yang tak punya hati sepertimu." Umpat Ara begitu tubuh Rey telah masuk kedalam kamar mandi.
Wanita yang masih mengenakan gaun pengantinnya itu berusaha bangkit dari atas lantai dengan sedikit kesusahan karena ujung gaunnya yang begitu panjang. Ia lalu berjalan kearah lemari dengan mengangkat ujung gaun pengantinnya.
Ara terperangah ketika membuka lemari, tatapannya langsung tertuju pada tiga helai pakaian tembus pandang dengan warna berbeda. Ia pun menutup kembali lemari sembari menghela nafas berat, di dalam lemari tidak ada pakaian lain selain pakaian tembus pandang itu dan juga sepasang piyama laki-laki.
"Ya ampun, bagaimana aku bisa lupa. Tadi kan aku membawa tas," Ara terkekeh pelan sembari menepuk keningnya sendiri. Kemudian berbalik lalu melangkah kearah ranjang, ia menyimpan tasnya di bawah ranjang.
"Eh kemana tasku, kok gak ada?" Ara terkejut saat menunduk kebawah ranjang untuk mengambil tasnya, namun sudah tidak ada lagi di bawah ranjang.
"Ngapain Kamu nunduk nunduk di situ? Mau pasang jimat biar aku tertarik padamu? Heh, gak akan mempan!"
Suara bariton Rey yang baru saja keluar dari kamar mandi mengagetkan Ara, wanita itu lekas berdiri lalu berbalik menatap Rey.
"Aku mencari tasku, kamu lihat tidak?" Tanya Ara dengan tatapan malas melihat suaminya itu.
"Ngapain cari tasmu yang isinya pakaian lusuh itu. Tuh, pakai yang sudah disiapkan sama Mama." Ucap Rey sembari menunjuk kearah lemari.
Ara mengikuti arah tunjuk suaminya, sesaat kemudian ia bergidik melihat kearah lemari. "Aku gak mau pakai itu. Aku mau pakai pakaianku." Ujarnya agak ketus. "Kembalikan tasku, pasti kamu kan yang sudah menyembunyikannya!" Ucapnya lagi terlihat kesal, ia sudah sangat merasa gerah dengan pakaian pengantin yang dipakainya.
"Cihhh, gak ada kerjaan banget aku menyembunyikan tas kamu!" Rey menatap sinis istrinya itu. "Lagian tinggal pakai yang sudah disiapkan Mama apa susahnya sih!" Gerutunya sambil berjalan kearah lemari. "Nih, pakai yang ini..."Ucapannya terhenti ketika membuka pintu lemari dan isinya hanya tiga helai lingerie dan satu pasang piyama untuknya. "Ini pasti kerjaan Mama." Geramnya seraya menutup pintu lemari.
.
.
.
Di kamar lain...
"Mama iseng banget sih ngambil tas Kak Ara," Dea cekikikan sambil mengeluarkan isi tas Ara, isinya hanya beberapa helai pakaian yang terlihat sederhana bagi orang-orang kaya sepertinya.
"Mama sengaja, biar malam ini Ara pakai yang sudah Mama siapkan di dalam lemari." Ujar mama Winda sambil tersenyum senyum sendiri membayangkan apa yang sebentar lagi akan terjadi di kamar pengantin.
Tok... Tok... Tok...
"Ma, Mama buka pintunya!" Rey mengetuk pintu kamar dengan tak sabar.
Mama Winda yang sedang tersenyum-senyum dibuat terkejut, pun dengan Dea, gadis itu dengan cepat memasukkan kembali pakaian Ara kedalam tas.
"Ma, itu suara Kak Rey." Dea dan mama Winda saling tatap, lalu keduanya serentak melangkah kearah pintu dan membukanya.
"Mama kan yang sembunyikan tasnya Ara?" Rey balik bertanya.
Mama Winda menggaruk pelipisnya yang tidak gatal sembari melirik Dea di sampingnya, "Gak disembunyikan Rey, cuma Mama simpan aja kok." Ujarnya sambil cengengesan.
"Sekarang mana tasnya? Ara mau ganti baju."
"Kan, udah Mama siapkan pakaian ganti di dalam lemari." Mama Winda nampak mesem mesem, berharap putranya itu mengerti dengan keinginannya. Yaitu Rey dan Ara segera membuatkan cucu untuknya.
__ADS_1
Rey memijat batang hidungnya sambil menghela nafas panjang, entah bagaimana ia mengatasi mamanya sekarang. "Ma, malam ini Ara gak bisa pakai yang sudah Mama siapkan." Jawabnya setelah beberapa saat berpikir.
"Loh kenapa?"
"Ara lagi datang bulan." Bohong Rey.
"Yahhh, gak ada malam pertama dong." Ucap mama Winda dan Dea serentak.
"Iya, aduh Ma cepetan mana tasnya Ara." Pinta Rey tak sabar, dia sudah merasa jengah dengan tingkah mama dan adiknya.
"Iya sebentar," ujar mama Winda lalu menoleh menatap Dea." Ambilkan tas kakak iparmu." Titahnya.
Dea pun masuk dan tak lama kemudian ia kembali dengan membawa tas Ara.
Dengan tak sabar Rey merampas tas itu dari tangan adiknya lalu dengan cepat berlalu dari sana sebelum mamanya mengajukan pertanyaan lagi yang akan membuatnya pusing sendiri.
Sesampainya di kamar pengantinnya, Rey langsung melemparkan tas Ara tepat dihadapan istrinya itu yang duduk di pinggiran ranjang.
"Tuh, cepat ganti pakaianmu!"
Ara menatap suaminya sekilas lalu beranjak mengambil tasnya, dia mengeluarkan sepasang piyama panjang lalu menghampiri suaminya.
"Kenapa?" Tanya Rey melotot tajam ketika Ara malah menghampirinya.
"Aku tadi lupa sekalian minta tolong buat panggilkan Dea," jawab Ara.
"Mau ngapain memangnya memanggil Dea?" Tanya Rey lagi dengan ketus.
"Mau minta tolong buat bantuin aku melepas gaun pengantin ini."
Rey seketika berdecak pelan, "Gak perlu panggil Dea, biar aku yang bantu." Rey berjalan menuju belakang Ara dengan ekspresi nampak kesal.
"Gak usah," cegah Ara ketika Rey menyentuh resleting gaun pengantinnya, dan membuat pria itu semakin kesal. Dia dengan cepat berbalik menghadap suaminya itu.
"Gak usah buat drama ya!" Ujar Rey dengan sedikit membentak, dia pun memutar tubuh Ara dan langsung menurunkan resleting gaun pengantin Ara, otomatis punggung polos Ara seketika terekspos didepan matanya. Memang putih dan mulus, tapi sekalipun Ara tidak memakai pakaian dihadapannya, ia tidak akan tergoda.
Sedang Ara langsung memejamkan mata sembari menahan nafas ketika merasakan tangan Rey bergerak menurunkan resleting gaun pengantinnya, Rey pasti melihat punggungnya dan itu adalah pertama kali seorang laki-laki melihatnya.
"Sudah."
Ara terkesiap, dia langsung membuka mata dan cepat berbalik kembali seraya menghela nafasnya.
"Cepat ganti pakaianmu!" Tukas Rey lalu menyambar ponselnya yang berada diatas nakas, pria itu melangkah menuju balkon untuk menghubungi Sherly. Meski pernikahannya ini hanyalah kontrak tapi ia yakin jika kekasihnya sekarang pasti sedang bersedih membayangkan dirinya bersanding dengan perempuan lain.
"Sayang," panggil Rey dengan lirih ketika sambungan teleponnya terhubung dengan sang kekasih. Di seberang telepon terdengar sunyi beberapa saat hingga akhirnya terdengar helaan nafas yang membuat Rey sedikit merasa lega. Sebelumnya Sherly tidak menjawab teleponnya hingga berkali-kali ia mencobanya baru terhubung.
"Kenapa baru menjawab teleponku?" Tanya Rey dengan perasaan yang berkecamuk.
[Maaf,] Hanya itu yang diucapkan oleh Sherly lalu kembali terdiam. Membuat Rey semakin merasa tak karuan, kekasihnya pasti benar-benar merasa sedih saat ini dan ia tidak ada untuk menghiburnya.
"Aku kesana sekarang ya." Ucap Rey akhirnya. Perasaannya benar-benar merasa tak tenang memikirkan kekasihnya.
[Jangan Rey, aku lelah aku ingin istirahat. Aku baru saja pulang pemotretan. Lagipula ini malam pernikahamu, nanti keluargamu bisa curiga jika kau menemuiku malam ini.] Cegah Sherly sembari mengusap kasar wajahnya, dan sesekali dia melirik seseorang yang terus memperhatikannya.
Alasan yang diberikan Sherly cukup bisa diterima oleh Rey, kekasihnya itu benar, keluarganya bisa curiga jika ia tiba-tiba menghilang di malam pernikahannya. "Baiklah Sayang, selamat beristirahat."
[Rey,] panggil Sherly dengan sedikit berbisik, matanya terus melirik pada seseorang yang tak melepas tatapan darinya.
"Ya Sayang?"
[Ini adalah malam pernikahanmu, tapi kau janji kan tidak akan menyentuhnya?]
Rey terkekeh pelan, "Jangankan untuk menyentuhnya, memeluknya saja dihadapan Mama aku merasa gatal-gatal." Tutur Rey berlebihan, tapi itu membuat Sherly merasa senang.
__ADS_1
[Terimakasih Rey, semoga kau selalu bisa menepati janjimu.]
"Kau tidak perlu khawatir, Sayang. Ini tidak akan lama, setelah perusahaan dialihkan padaku, aku akan langsung menceraikan Ara." Tukas Rey meyakinkan kekasihnya.
[Aku percaya padamu, Rey. Aku tutup teleponnya dulu sekarang.] Ujar Sherly, dia sudah benar-benar merasa tak nyaman terus diperhatikan oleh laki-laki yang duduk dengan santai ditepi tempat tidurnya. Dia adalah owner agensi model tempatnya mengembangkan karirnya.
"Baiklah Sayang, aku juga mau tidur sekarang."
Sambungan telepon pun terputus, tawa laki-laki yang sejak tadi duduk diam memperhatikan Sherly, seketika meledak sembari beranjak menghampiri Sherly.
"Percaya diri sekali kau, bahwa Rey tidak akan menyentuh istrinya. Kucing, apabila disuguhi ikan segar pasti akan langsung dilahapnya."
"Rey, tidak akan melakukan itu, aku percaya padanya!" Tegas Sherly.
"Oke baiklah, aku juga percaya pada Rey. Buktinya selama kalian berpacaran, tidak pernah kan dia mencicipimu, hum? Tapi Rey sekarang akan mendapatkan itu dari istrinya. Tapi kau tidak perlu bersedih bukan? Karena kita juga sering..."
"Diam!" Bentak Sherly, dia menatap tajam laki-laki didepannya.
"Jangan coba-coba membentakku!" Laki-laki itupun marah, dia langsung mencengkeram wajah Sherly dengan kuat.
"Kalau aku mau, sekarang juga aku akan menghancurkan karirmu karena sudah berani mempermainkan aku. Tapi itu tidak akan aku lakukan karena aku masih membutuhkanmu." Ujarnya sembari menghempaskan wajah Sherly.
"Setelah aku menekanmu untuk menolak menikahi Rey, bisa-bisanya kau memberikan saran pada Rey agar dia mencari wanita untuk dinikahi secara kontrak agar tetap bisa memenuhi syarat menjadi pewaris perusahaan."
"Tidak, Rey atau siapapun tidak boleh mendapatkan perusahaan itu!" Tekan laki-laki itu dengan menatap tajam Sherly.
"Ingat, karena kau yang sudah memberi saran itu pada Rey, maka kau juga yang harus menyelesaikannya. Aku tidak mau tau, Rey dan istrinya itu harus berpisah sebelum perusahaan dialihkan padanya!" Ujarnya menunjuk tepat didepan wajah Sherly kemudian pergi meninggalkan wanita itu. Sekarang ia harus mempersiapkan diri untuk kembali ke rumah utama setelah berbulan-bulan hanya sibuk mengurus para wanita-wanita yang mempopulerkan agensinya, dan salah satunya adalah Sherly.
'Tidak, aku tidak akan membiarkan itu sebelum perusahaan dialihkan pada. Rey.' Ucap Sherly dalam hati sembari menatap langkah laki-laki itu hingga hilang dibalik pintu kamarnya.
Sementara itu Rey yang puas menikmati angin malam di balkon yang ia harapkan membawa pergi kegundahannya, akhirnya memutuskan masuk kedalam kamar karena ia memang juga merasa ngantuk.
Setelah berada di dalam kamar, ia tersenyum miring mendapati Ara telah tertidur di sofa. "Baguslah, dia tahu diri juga rupanya." Ujarnya lalu menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuk nan luas itu, tanpa memperdulikan Ara yang terdidur di sofa dan mungkin saja merasa tidak nyaman, apalagi tidak memakai selimut. Karena baginya Ara bukanlah orang yang pantas untuk ia pedulikan.
*
*
*
Beberapa hari berlalu, Ara menjalankan perannya dengan baik sebagai istri Rey. Mama Winda dan Dea tak hentinya memuji Ara yang sangat pandai membuat hidangan yang lezat. Dan terkadang itu membuat Rey merasa muak mendengar pujian untuk Ara yang tiada habisnya.
Art yang bertugas di dapur pun merasa senang karena semenjak kehadiran Ara tugasnya sedikit berkurang, karena Ara yang menguasai dapur saat ini.
Dan siang ini, seluruh keluarga lagi-lagi menikmati makanan yang sudah dimasak oleh Ara. Seperti biasa mama Winda dan Dea akan selalu memuji masakan istri Rey.
Tante Melda yang tidak menyukai Ara pun turut menikmati masakan Ara dengan lahap karena rasanya memang benar-benar lezat.
Semuanya pun menikmati makanan mereka dalam diam, dan tanpa yang lainnya sadari sejak tadi om Gio terus memperhatikan Ara dan itu selalu ia lakukan bila sedang berkumpul seperti ini. Bukan karena ada maksud tertentu, tapi dia hanya merasa tidak asing saja melihat Ara.
'Mungkin hanya perasaanku saja, tidak mungkin aku mengenal gadis itu, melihatnya saja sebelumnya tidak pernah.' Batin om Gio, kemudian kembali melanjutkan makannya. Ia mencoba menepis perasaannya yang merasa mengenal Ara.
"Wah, kedatanganku tepat sekali rupanya." Kedatangan seorang laki-laki yang seumuran Rey, menyita perhatian semua orang.
"Sayang, akhirnya kau pulang juga. Mama kangen banget." Tante Melda dengan girang beranjak dari tempat duduknya menghampiri putranya yang akhirnya kembali setelah berbulan-bulan lamanya. Putra yang ia harapkan bisa membantu rencananya merebut perusahaan peninggalan mendiang ayahnya Rey, malah sibuk mengurus agensi modelnya.
Hanya tante Melda yang antusias menyambut kedatangan putranya yang bernama Arsen, sedang yang lainnya nampak biasa saja, terutama om Gio dan Rey. Kedua laki-laki berbeda generasi itu nampak acuh dengan kedatangan Arsen.
"Sayang, ayo kita makan." Ajak tante Melda pada putranya. Arsen pun mengayun langkah menuju meja makan mengikuti mamanya, tapi ketika sampai Arsen malah berbelok ke arah Rey dan Ara kemudian menarik kursi yang tetap berada di samping Ara.
"Hai kakak ipar." Sapanya pada Ara seraya duduk.
Ara hanya menanggapinya dengan tersenyum, dan hal itu membuat Rey nampak tak suka. Meskipun Ara hanya istri kontraknya, tapi tetap saja ia tidak menyukai bila istrinya itu tersenyum pada laki-laki lain, terlebih itu adalah laki-laki yang memang tidak ia sukai. Jengah sekali ia melihat Arsen terus menatap Ara sambil tersenyum, apalagi Ara juga membalas senyuman Arsen. Dengannya saja istrinya itu tidak pernah tersenyum kecuali didepan keluarga, bila berdua wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi bahkan seperti enggan untuk menatapnya. Tapi dengan Arsen, istrinya tersenyum manis sekali seperti sudah mengenal dekat. Dasar wanita malam, melihat laki-laki pasti langsung ingin menggodanya, umpatnya dalam hati. Mendadak selera makannya jadi hilang melihat pemandangan itu.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang," Rey beranjak dari tempat duduknya kemudian melangkah cepat menuju kamarnya.