MY LOVE For MAFIA

MY LOVE For MAFIA
KAMU PANTAS TIADA


__ADS_3

"Kamu jahat dan pantas untuk tiada!" Dingin Thalita tiba-tiba membawa pisau lipat.


Shabita terkejut kemudian menendang tangan Thalita hingga pisau yang dibawa kembarannya terjatuh. Thalita menatap tajam adik kembar nya yang berani menghalangi aksinya untuk membunuh orang. Anak-anak angkat Lisa ini, dari kecil sudah belajar beladiri walau belum maksimal. Dan hanya Thalita yang bisa bermain pisau lipat tanpa tergores. Mungkin sifat Liah menurun kepada Thalita.


"Thalita gak boleh gitu, kata Mama gak boleh bunuh orang sembarangan!" Peringat Shabita memeluk kakak kembarnya.


Aldrick lagi-lagi dibuat tertegun, secara tidak langsung Sabitha menyindir dirinya yang membunuh orang tua Lisa tanpa mencari tau kebenarannya. Dia benar-benar menyesal. Thalita menghela nafas sebelum menatap Mamanya yang berbaring di brankar rumah sakit dengan bantuan alat pernafasan.


"Mama cepat sadar, Thalita janji bakal bawa Galaksi dan Selatan balik sama kita." Gumam Thalita meneteskan air mata.


"Thata, udah. Biarin Mama istirahat dulu." Kata Sabitha mengelus punggung Thalita.


Siapa lagi Galaksi dan Selatan? ~Batin Aldrick.


*


Dilain kamar, Aulia menghela nafas sebelum membuka pintu kamar Zefann. Dia membuka pintu tanpa mengetuk, Zefann tidur membelakangi pintu jadi tidak tau siapa yang datang. Ia kira itu adalah Aldrick yang baru kembali.


"Sudah selesai Kak?" Kata Zefann tak mendapat sahutan.


"Kak?" Panggil Zefann membalikan badannya.


Glek!

__ADS_1


Zefann meneguk susah payah salivanya, dia berbalik dan mendapati ada pistol yang menghadap kearahnya dan gadis yang ia cari selama ini. Aulia tersenyum sinis sebelum membuang muka dengan tangan yang tetap mencondongkan pistol.


"Aa.. Aulia?" Panggil Zefann terbata sambil tersenyum.


Greb! Pranggg!


Aulia tersentak saat Zefann memeluk nya erat, bahkan pistol yang ia bawa sampai terjatuh. Selang infus tercabut akibat Zefann langsung berlari memeluk Aulia. Darah menetes kemana-mana. Aulia menghela nafas panjang.


"Lepaskan!" Dingin Aulia.


"Tidak, aku minta maaf. Semua adalah salahku dan kakakku, aku bodoh!" Kata Zefann menangis terisak tak melepaskan pelukannya.


"Hikss.. kamu jahat, kenapa kamu bunuh orang tua ku." Pertahanan Aulia akhirnya luntur juga, ia menangis di pelukan Zefann.


"....."


Aulia diam tak bergeming, dia kecewa berat dengan Zefann. Ia kira, Zefann adalah penyelamat di masa depan, nyatanya? Zefann dan Aldrick yang membuat masa depan mereka berubah. Aulia melepas paksa pelukan Zefann dengan magicnya membuat Zefann tak bisa bergerak.


Sedangkan di kamar Lisa, Aldrick tetap menggenggam tangan wanita tersebut. Tak henti hentinya dia mengucap maaf dan mencium lembut pipi Lisa.


"Kamu tau hemm, sejak kamu pergi dulu, pikiranku kacau. Aku hampir saja terbunuh, aku mohon bangunlah Lisa." Pinta Aldrick.


"Aku tau aku salah, kamu boleh membunuhku asal itu membuat mu bahagia." Kata Aldrick meneteskan sebulir air mata.

__ADS_1


Tanpa disadari, mata Lisa yang terpejam meneteskan air mata. Genggaman tangan yang ada ditangan Aldrick bergerak membuat Aldrick mengangkat kepala menatap Lisa yang mulai menunjukan reaksi tubuhnya. Aldrick mengusap air mata sebelum memencet tombol darurat agar dokter segera datang.


Krieeettt.


Dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Lisa, Aldrick dan si kembar digiring keluar dari ruangan agar dokter bisa memeriksanya dengan maksimal.


"Tuhan.. lindungi Lisa!" Lirih Aldrick.


Thalita tersenyum sinis, "Jika terjadi apa-apa dengan Mama. Aku tidak akan memaafkanmu!" Dingin Thalita.


"Thalita, apa kamu tidak mengenali Papa? Apa Mama tidak menceritakan hal ini kepadamu?" Tanya Aldrick frustasi.


Thalita bersendekap dada, "Aku sudah tau, Papaku adalah Papa Elang dan Mama Liah. Aku adalah anak angkat dari Mama Lisa!" Jawab Thalita dingin makin membuat Aldrick terkejut.


"Apa Lisa yang menceritakan hal inj kepadamu?" Tanya Aldrick sedikit emosi.


"Bukan urusanmu! Mama tidak pernah menceritakan hal ini kepadaku.. Dan aku tau kenyataannya sendiri, lagi pula Mama tidak membedakan kasih sayangku, Shabita, Galaksi dan Selatan." Kata Thalita dingin memalingkan wajah.


"Galaksi, Selatan? Siapa mereka?" Tanya Aldrick bingung.


"Heh, bahkan anak kandungmu sendiri kau lupakan." Sinis Thalita menggandeng Shabita menuju taman.


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2