
~ Happy Reading ~
Untuk pertama kalinya Kaya berkata kasar dan membuat Nusa terkejut. “Bukankah kau ingin membuktikan bagaimana menjadi seorang pelacur?!
Nusa langsung membalikkan tubuh Kaya berada posisi di bawah dengan menindih perut Kaya dan menekan kedua tangan Kaya berada di atas kepala Kaya.
Kaya hanya terdiam dan membuang muka ke arah samping. Nusa mendekatkan mukanya dekat sekali dengan muka Kaya. “Katakan padaku bagaimana harusnya tindakan sebagai pelacur?” tanya Nusa tersenyum menyeringai.
Kaya langsung menoleh ke arah wajah Nusa yang tepat sekali di depan wajahnya. Kaya menatapnya dengan sinis, mata mereka sangat dekat sekali. “Diam kau Nusa!” ucap Kaya dengan nada ditekankan.
“Kenapa? Ayo aku sudah siap sekarang!” Nusa menjauhkan mukanya dengan duduk tegap dan masih posisi berada di atas perut Kaya.
Kaya merasa lega sekali Nusa melepas tangannya dan menjauh dari wajahnya. Sejenak dia mengambil nafasnya terlebih dahulu, lalu memalingkan lagi wajahnya memandang Nusa yang berada di atasnya.
“Ayo lakukan sekarang!” Nusa menantang Kaya.
“Diam kau Nusa! Lepaskan aku sekarang!”
“Kenapa bukannya kau bilang ingin menunjukkannya?!”
“Minggir kau Nusa!”
Melihat kondisi Kaya yang masih lemah. Nusa tidak tega dan ingin melepasnya. Namun dia melihat kancing kemejanya masih terbuka. “Baiklah aku akan lepaskan! Tapi kancingkan dulu kemejaku akibat perbuatanmu!”
Kaya yang merasa lemah saat ini menuruti keinginan Nusa. Dia membangunkan dirinya untuk bersikap duduk. Nusa menggeser sedikit dengan duduk di atas kaki Kaya. Dengan cepat Kaya memasang kancing kemejanya yang dia buka kemarin.
Nusa tersenyum melihat gadis tersebut mengancingkan kemejanya. Dan rasanya ingin memeluk tubuh gadis itu, namun menahannya karena ego sendiri.
“Sudah. Minggir kau sekarang! Aku ingin pulang!” ucap Kaya dengan sinis.
Nusa melepaskan tindihannya dan berdiri di samping tempat tidur. “Pakailah dulu bajumu ini!” Nusa mengambil kaos Kaya yang tergeletak di lantai dan menyodorkannya kepada Kaya, pasalnya dia hanya memakai tanktop saja.
Kaya mengambil dari tangan Nusa dan memakai kaosnya. Setelah itu, Kaya beranjak dari tempat tidur dan memungut mantelnya yang berada di bawah tempat tidur, tepat di hadapan Nusa.
Setelah mengambilnya, Kaya memegang mantel tersebut ditangannya dan berbalik badan hendak ingin pergi. “Mau ke mana kamu Kaya?” tanya Nusa.
__ADS_1
Kaya langsung berbalik badan menghadap Nusa lagi. “Aku ingin pulang tuan Nusa. Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?” tanya Kaya agak nyolot.
“Kau tidak ingat hari ini kau harus mengerjakan rencana proyek kita ke Bali. Atau kau ingin mengundurkan diri menjadi CEO?!” ancam Nusa.
Dia benar. Aku harus membuat laporan untuk proyek ke Bali.
“Aku lupa tuan Nusa. Baiklah. Mana laptopmu biar aku kerjakan sekarang?”
“Ada di sana nona Kaya Dirgantara!” tunjuk Nusa menggunakan mulutnya menuju arah meja yang berada samping tempat tidur.
Kaya menoleh ke samping dan berjalan menuju meja tersebut. Dia menggeser kursi dan menaruh mantelnya di atas kursi, lalu duduk untuk memulai pekerjaannya.
Sementara itu, Nusa melangkah menuju dapur untuk membuatkan sesuatu. Dalam hatinya dia sadar betul Kaya masih lemah dan berpikir akan membuatkannya bubur. Dengan cekatan Nusa mengambil semua bahannya dan menyalakan kompor untuk mulai memasak.
Kaya membuka laptop Nusa dan munculah sebuah password di layar laptopnya. “Apa passwordnya?” tanya Kaya berteriak.
“Tanggal lahirku nona Dirgantara,” jawab Nusa sedang memotong sayuran.
“Aku tidak tahu tanggal lahirmu tuan Nusa yang terhormat,” balas Kaya.
Nusa berdiri di belakang Kaya dan membungkukkan badannya untuk mengetik angka di laptop. Wajah mereka sangat dekat sekali. Kaya hanya menoleh ke samping yang hampir dekat dengan pipi Nusa.
“Ingat ini! Tanggal 26 Mei 1994.” Ketik Nusa di laptop.
Kaya justru tidak memandang laptop. Ia malah memandang wajah Nusa yang tepat berada di samping pipinya.
“Harusnya kau tahu tanggal lahir musuhmu sendiri!” Nusa menoleh ke samping wajah Kaya, pandangan mereka saling bertemu. Kaya pun tersadar, dengan cepat langsung mengarah ke laptop lagi.
Tubuh Kaya mendesir semakin gugup. Hatinya semakin berdegup kencang, entah karena mereka tadi terlalu dekat atau hal lain. Nusa mengembalikan badannya untuk lurus tegap berdiri di belakang Kaya.
“Aku saja tahu tanggal lahirmu Kaya! Tanggal 09 Desember 1994. Masa kau tidak tahu tanggal lahirku?!”
Sepertinya Nusa merasa kesal karena Kaya tidak mencari informasi tentang tanggal lahirnya ataupun tentang dirinya. Padahal dia hafal tanggal lahir Kaya, kesukaan Kaya dan banyak lagi.
“Buat apa aku harus menghafal tanggal lahirmu. Tidak penting bagiku!” ketus Kaya.
__ADS_1
“Ya.., ya…ya…. Kau benar sekali,” Nusa seperti malas menanggapinya dan kembali melangkah menuju dapur.
Kaya kembali fokus ke laptop Nusa untuk memulai pekerjaan proyeknya di Bali. Tanpa sengaja dia mengklik galeri foto yang berada di laptop Nusa. Dengan sedikit penasaran Kaya mengklik foto tersebut. Wajahnya agak terkejut melihat foto dirinya berada di laptop Nusa.
Perasaannya sedikit senang dengan tersenyum mengganti foto yang lain. Dalam hatinya Kaya merasa senang karena Nusa masih menyimpan fotonya yang dulu pernah diambil olehnya.
Nusa kenapa kamu masih menyimpan foto aku?
Kaya terus menggeser foto tersebut hingga berubah menjadi foto kecil Nusa. Sontak Kaya tertawa kecil melihat foto Nusa saat kecil. Tampangnya agak senga dengan tubuh yang kurus.
Kaya terus menggeser foto tersebut dan menemukan foto ibu Nusa sangat cantik sekali. Tampak pendiam di dalam foto tersebut dengan tatapan mata yang sendu, seakan banyak beban yang ditanggungnya.
Kaya asyik sendiri melihat foto di laptop Nusa dan terkadang terkekeh sendiri. Nusa yang sedang di dapur menaruh rasa curiga terhadap Kaya. Dia melepaskan celemeknya dan menghampiri Kaya.
Tampak jelas dia membuka foto ibu Nusa yang sedang memegang tangan Nusa dengan hangat. Nusa yang berdiri di belakangnya langsung kaget dan mengambil laptop dari meja.
Kaya langsung kaget melihat Nusa mengambil laptop tersebut dan tidak menyadari Nusa sudah berdiri di belakangnya tadi.
“Kaya lancang sekali kau!” tatap Nusa dengan sinis.
Kaya sedikit merasa bersalah. “Maaf Nus. Aku tidak sengaja.”
“Bukannya ngerjain anggaran proyek di Bali. Malah melihat foto di laptopku.” Omel Nusa mencoba mengunci semua folder fotonya dengan password.
“Yah maaf.”
Nusa selesai mengunci semua folder foto dan mengembalikan laptop tersebut ke meja. “Kerjakan sekarang! Atau kau tidak akan pulang sampai kelar!” ancam Nusa, lalu kembali menuju dapur.
“Dasar orang gila!” umpat Kaya kesal dan kembali lagi ke laptop untuk menyusun anggaran proyek di Bali.
Nusa kembali memasak lagi dan mencoba mencicipi masakannya. Indra perasanya merasa sudah pas akan masakannya. Sesekali menatap Kaya yang tidak jauh di depannya sedang serius mengetik.
Setelah selesai memasak. Semua hidangan di tata olehnya di meja makan. Dia ingin menyuruh Kaya makan dulu, tapi melihatnya sedang serius tidak jadi. Sembari menunggu Kaya selesai Nusa menuju kamar atasnya untuk mandi.
~ Bersambung ~
__ADS_1