Ngutang Dapat Istri

Ngutang Dapat Istri
Episode 25


__ADS_3

...Bab 25...


...Hanya orang yang siap deg-degan yang bisa membuat orang lain deg-degan...


Sekarang hari minggu. Hari dimana Otsuki seharusnya akan datang ke rumah dan membuat coklat untuk Hari Valentine bersama Kaede. Aku mau meninggalkan rumah lebih awal karena ada latihan klub sepak bola di pagi hari tapi,


“Nah, Yuya-kun. Ini bekal makan siang buatan istrimu yang tercinta.”


“Aku tidak mau membahas mengapa kau merubah statusmu dari pacar menjadi istri karena aku tidak punya waktu untuk itu tapi, apa kau membuatkanku bekal makan siang lagi hari ini?”


Kaede menyiapkan bekal makan siang untukku. Dari lima hari aku bersekolah, selama tiga hari aku makan bekal makan siang buatan Kaede. Selain itu, meski kami bergiliran, dia juga yang masak saat malam hari, jadi dia sudah tau seleraku. Ini juga pasti enak. Meski cara dirinya mendesainnya agak berbahaya.


“Meski kubilang membuatnya, yang kubuat tidak terlalu banyak kok. Aku menaruh sisa roti dan sayur tumis kemarin. Nasi sudah dimasak pagi ini, jadi mestinya enak. Lakukanlah yang terbaik di aktivitas klubmu, oke? “


“Y-ya... aku akan melakukan yang terbaik”


“Fufufu. Tapi setidaknya untuk hari ini, aku ingin kamu pulang dengan Higure-kun daripada tinggal berlatih sendiri. Aku ingin kamu memakannya, memakan pe-ra-sa-an-ku.”


Notes: Kyaaaa.... Kaede-chan, makan perasaanku saja... Aku ikhlas kok😖🥰


Kaede menulis huruf-huruf di dekat jantungku dengan senyum menggoda. Ada apa denganmu!? Bukankah itu terlalu berlebihan untuk memberikan rangsanan di pagi hari begini? Meskipun saat ini sedang musim dingin, suhu tubuhku meningkat pesat dan jantungku berdebar kencang. Naluriku membisikkan sesuatu yang jahat, tapi aku menahannya.

__ADS_1


“Sebenarnya aku ingin melakukan ciuman sampai jumpa tapi, aku akan menahannya, kurasa hanya perlu menunggu hari ketika itu akan terjadi.”


Itu disengaja. Dia melakukannya untuk membuatku gugup dan kewalahan. Tapi aku menyadarinya. Kaede terlalu memaksakan dirinya. Lagian pipinya sedikit memerah! Itu bukti bahwa dia malu untuk melakukan ciuman meski dia sendiri yang mengatakannya. Maka disinilah saatnya untuk melawan balik. Aku bukanlah orang yang akan terus-terusan di serang.


“......Aku pergi dulu, Kaede.”


“----Eh?”


Aku memanggilnya ‘Kaede’ dan dengan cepat menggeser poninya kemudian mencium keningnya. Saat Kaede terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu, aku sekali lagi berkata ‘Aku pergi dulu’ dan kemudian meninggalkan rumah.


Notes: Ukh hatiku.... Kalian jangan melakukan adegan romantis di depanku ya tapi aku suka kyaaa.... 😖🤭


“Ci...ciuman... di kening...”


“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, Yuya-kun menciumku!!!”


Teriakan Kaede yang menggema sampai ke pintu masuk membuatku terkejut sampai-sampai bahuku bergidik. Sampai sebegitunya ya cuman ciuman kening? Ini kan bukan dari bibir ke bibir. Bukankah ini sesuatu seperti salam?


---


“Memberikan ciuman sampai jumpa di kening? Bukankah itu lebih memalukan daripada ciuman langsung?”

__ADS_1


Ternyata itu tidak normal ya. Ketika aku bertanya kepada Shinji, yang merupakan salah seorang yang dijuluki kekasih tolol, tentang apa yang dia pikirkan tentang ciuman di kening, dia menjawab seperti ini.


“Menurutku itu biasa bagi kekasih dan suami-istri untuk berciuman langsung, dan kami juga melakukannya, tapi kurasa kami tidak akan bercium kening. Bagaimanapun juga, itu terlalu memalukan.”


“Hah? Kenapa? Justru lebih memalukan untuk berciuman secara normal. Bukankah ciuman di kening itu seperti sapaan?”


“Astaga... kau ini. Dengar ya, ciuman itu hal yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih. Tapi, ciuman di kening itu lain cerita. Karena jarang ada yang melakukannya. Bagaimanapun juga, sangat memalukan untuk melakukan sesuatu yang jarang dilakukan. Meski begitu, aku tidak tahu kenapa menurutmu itu normal.”


Begitukah? Ayah brengsekku biasanya memberi Ibuku ciuman kening setiap pagi, dan itu membuat ibuku senang. Aku belum pernah melihat mereka berciuman langsung.


“…Itu jelas tentu saja. Aku juga belum pernah melihat atau ingin melihat orang tuaku berciuman langsung. Haaa… aku ingin tahu bagaimana reaksi Hitotsuba-san ketika dirinya dicium di kening...”


“Tidak terlalu buruk. Dia sedikit berteriak, tapi sesaat langsung tenang. Dia pasti akan seperti biasa saat aku pulang.”


Biasanya aku terus yang diserang.


“Hmm... Hei, Yuya. Aku mau nanya?”


“Apa?”


“Kau tidak menyangkal bahwa kau memberi Hitotsuba-san ciuman sampai jumpa di kening, kan? Seperti dugaanku, kalian memang tinggal bersama.”

__ADS_1


Aaa... aku keceplosan, sial kenapa mulut ini begitu ember sih, sial.


__ADS_2