
Paginya Nala bersiap-siap untuk berangkat sekolah, dia menuju ke rumah Galih, seperti biasa Galih yang akan mengantarnya ke sekolah.
"Mau ke mana?" tanya papa Indra melihat Nala turun dari tangga.
"Ya mau sekolah lah Pah, Papa nggak lihat Nala udah pakai seragam putih abu, yakali Nala mau ke pantai," jawab Nala sambil menenteng tas ransel di bahu sebelah kirinya.
"Tunggu Papa di luar, Papa mau ambil kunci mobil dulu."
"Lah, nanti Nala sama Om Galih aja Pah, Papa nggak usah repot-repot antar Nala," tolak Nala.
"Kamu lupa kejadian kemarin? Kalian nggak boleh ketemu sebelum menjadi suami-istri, jadi biar Papa yang antar ke sekolah."
"Tapi..."
"Nggak ada tapi-tapian, kamu tunggu di depan, biar Papa yang antar," perintah papa Indra seraya mengambil kunci mobil.
Nala hanya membuang nafas kasar karena hari ini dia tidak bisa diantar oleh Galih, bahkan dia belum melihat tanda-tanda belahan hatinya keluar dari rumahnya, rumah Galih terlihat sepi.
"Kok Om Galih nggak keluar rumah ya? Padahal jam segini dia sudah memanaskan mobilnya buat antar aku sekolah, apa jangan-jangan dia kesal ya dengan kejadian kemarin?" gumam Nala dalam hatinya, sampai tak sadar papa Indra sudah mengklakson mobil di depan Nala, membuat Nala tersadar dari lamunannya.
"Ayok masuk, nanti kamu terlambat sekolah," seru papa Indra dari dalam mobil.
Dengan langkah kaki yang berat Nala masuk ke dalam mobil, padahal dia ingin Galih yang mengantar nya ke sekolah, tapi seperkian detik Nala langsung tersenyum kala mengingat sebentar lagi dia akan sah menjadi istri pria yang ia sukai selama ini.
"Tadi sebelum masuk mobil manyun mulu, sekarang dah senyum-senyum aja," ejek papa Indra sambil tetap fokus mengendarai mobil.
"Nggak papa, Nala pengen senyum aja, kan Ibu hamil hatinya harus selalu bahagia," lagi-lagi Nala berbohong pada papanya, sekali berbohong akan kembali berbohong untuk menutupi kebohongan yang pertama.
Sedangkan papa Indra hanya memijat pelipisnya, dia sangat bingung melihat putrinya seperti ini, begitu cintanya dengan Galih hingga dia rela mengorbankan keperawanan dan mau hamil di usia muda seperti ini.
"Nak, besok kamu izin nggak masuk aja, kamu harus mempersiapkan pernikahan mu secepatnya, ini sangat mendadak hingga Papa nggak tau harus berbuat apa-apa."
"Siap Pah!" ucap Nala dengan begitu semangat membuat papa Indra menggeleng-gelengkan kepala. Sedangkan Naka juga sudah muak dengan sekolah, bahkan kalau bisa dia berhenti sekolah setelah menikah dengan Galih.
__ADS_1
Sesampai di sekolah Nala sudah di sambut dengan Ririn yang baru memasuki gerbang sekolah.
"Lho tumben di antar sama Papa lo, biasanya Om lo yang nganter," tanya Ririn.
"Ceritanya panjang, nanti gue ceritain di kelas aja."
Mereka pun berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ke kelasnya. Sampai di kelas Ririn langsung menagih janji Nala yang ingin menceritakan alasannya tak diantar oleh om kesayangannya itu.
Setelah menceritakan dari awal sampai akhir, Ririn hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil mata sedikit melotot mendengar cerita Nala. Dia tak habis pikir dengan tindakan besar yang sudah di ambil Nala.
"Kok lo berani banget ngambil tindakan kek gitu? Nanti kalau ketahuan gimana?" tanya Ririn yang lebih pusing memikirkan kisah hidup Nala dibandingkan Nala sendiri.
"Kalau itu mah belakangan, yang penting sekarang sebentar lagi aku akan jadi istrinya Om Galih, yang otomatis aku akan menjadi miliknya selamanya."
"Dasar gila lo Nala, sebegitu cinta matinya lo sama Om lo itu sampai rela ngelakuin kayak gini, kayaknya kalo Om lo minta keperawatan lo sebelum nikah, lo kayaknya bakal kasih deh," tebak Ririn.
"Bahkan gue udah tantang Om Galih buat ngelakuin itu, tapi dia malah nolak," ucap Nala dengan entengnya.
"Anjritt, lo ternyata agresif juga," Ririn mengernyit kan dahinya yang begitu heran melihat sahabatnya yang begitu cinta mati dengan omnya itu.
"Kalau lo mau datang ayok aja, tapi acaranya pas waktu sekolah."
"Nggak bisa lah kalo gitu, yang ada gue digebukin Mama kalau tau gue nggak sekolah."
Di tengah-tengah serunya mereka cerita, tak sadar bahwa guru sudah masuk ke dalam kelas membuat Nala dan Ririn menghentikan obrolannya.
Mulai masuk dalam materi pembelajaran Nala tiba-tiba saja mengantuk, padahal tadi dia begitu segar ketika ngobrol dengan Ririn. Belajar adalah obat tidur yang ampuh buat Nala.
"Nala!" panggil buk Mogi yang melihat Nala tidur saat jam pelajarannya.
Sontak Nala bangun dari tidurnya, dan melihat semua murid memandang kehadapan nya.
"Kamu sekolah buat belajar atau buat tidur hah?" omel buk Mogi, dia sudah tidak tau harus menghadapi tingkah laku Nala selama ini dengan apa.
__ADS_1
"Tidur Buk, eh belajar," ujar Nala keceplosan karena matanya begitu masih mengantuk tak bisa meladeni pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya tidak penting.
"Sekarang kamu keluar dari kelas saya, saya tidak mau mengajar murid yang tak mau belajar," titah buk Mogi.
Tanpa mengatakan apapun, Nala langsung keluar dari kelas. Lagian dia juga malas diajar oleh guru modelan buk Mogi yang selalu marah-marah.
Karena tidak tau mau ke mana, akhirnya Nala menuju ke kantin, kebetulan tadi pagi dia belum sarapan.
"Bik, baksonya satu ya, yang pedes," pesan Nala yang sudah sampai di kantin.
"Siap!" ucap bibik kantin.
"Ngomong-ngomong Nala lagi di suruh keluar kelas ya sama buk Mogi?" tanya bibik kantin yang sudah terbiasa melihat Nala seperti ini dari dulu.
"Begitu lah Bik, udah jadi nggak bakso Nala?" tanya lagi Nala yang sudah merasa begitu lapar.
Bibik kantin pun membawakan semangkok bakso yang pedas sesuai pesanan Nala, ketika lagi enak-enak menikmati baksonya terlihat seseorang pria menghampiri Nala dan duduk tepat di depan Nala.
Sontak membuat Nala keselek kepedasan melihat orang tersebut duduk di hadapannya. Dengan cepat pria itu memberikan air mineral untuk Nala.
"Makasih," ucap Nala setelah meminum air pemberian pria tersebut.
"Lo ngapain di sini?" tanya Nala melihat Alex juga ada di sana.
"Harusnya gue yang nanya, lo ngapain di sini makan bakso, bukannya ini jam pelajaran ya?" tanya Alex balik nanya.
"Gue lagi di hukum, makannya gue di sini, lo juga di hukum kan?" ucap Nala dengan santainya sambil melanjutkan makan bakso.
"Nggak! Gue tadi habis ke ruang kepala sekolah."
Nala hanya mengangguk sambil menghirup air bakso yang begitu enak, dia tak menghiraukan Alex yang masih di sana.
Sedangkan Alex hanya diam saja sambil memandangi Nala yang masih memakan bakso, membuat Nala menjadi risih di lihatin terus menerus oleh Alex.
__ADS_1
"Lo nggak balik ke kalas Lex?" tanya Nala.