
Ferisha mengirim Brian keluar, dan berkata kepada ibunya setelah menutup pintu, "Bu, Aku tahu apa yang ingin ibu katakan. Semua hal terjadi dengan cepat, tetapi dia dan saya ... saling mencintai. Kami bahkan sudah mendapatkan akta nikah."
"Apakah menurutmu aku akan tidak setuju?" Ucap Rosalind menatap Anaknya dan bertanya dengan geli.
Ferisha pun menundukkan kepalanya.
Roaalind menghela nafas beratnya, dan kemudian berkata, "Aku tidak akan menolak pernikahanmu. Aku sudah tidak sadarkan diri selama bertahun-tahun dan belum memenuhi kewajibanku sebagai seorang ibu. Bagaimana aku bisa menolaknya setelah kamu memberitahuku tentang pernikahanmu.? Ibu hanya khawatir..."
"Bu, jangan khawatir! Dia sangat baik dan sangat baik padaku, dan dia juga sangat baik padamu. Dialah yang menemukan sanatorium ini untukmu. Tanpa dia, kamu tidak akan pulih secepat sekarang ini.” Emily dengan cepat menceritakan semua kebaikan Brian pada ibunya.
Rosalind pun tersenyum, dia menyentuh wajah Ferisha, dan berkata, "Karena kamu sangat menyukainya, aku tidak punya apa-apa untuk dikatakan. Ada satu hal yang aku ingin kamu atur untukku. Aku ingin bertemu ayahmu."
Ferisha membeku dan mengerutkan keningnya, "Bu, mengapa kamu tiba-tiba ingin bertemu dengannya.?"
Rosalind berkata, "Sudah lama sejak ibu bangun, tetapi saya belum pernah bertemu dengannya sekali pun. Saya harus berterima kasih kepadanya secara pribadi atas semua yang telah dia lakukan untukmu nak, setidaknya yang sudah bersedia mau membesarkan kamu tanpa ibu."
"Bu, tidak perlu melakukan itu. Aku tumbuh sendirian, dan dia tidak melakukan apa-apa," Ucap Ferisha bernada dingin.
Rosalind tersenyum dan berkata, "Bagaimana kamu bisa mengatakan hal seperti itu.? Bagaimanapun, dia adalah ayahmu."
Ferisha pun terdiam saat mendengarkan ucapan ibunya. Dia benar-benar ingin memberi tahu ibunya semua yang telah dilakukan Aryo padanya, tetapi dia takut ibunya akan sedih, yang akan berdampak buruk bagi kesembuhannya.
"Ferisha, Ibu tahu kamu pasti sangat menderita selama bertahun-tahun ini. Tapi ibu benar-benar harus bertemu dengannya, jadi tolong, atur saja untukku," Ucap Rosalind memohon pada anak perempuannya..
"Baiklah, aku berjanji." ucap Ferisha tidak bisa menolak permohonan ibunya dan harus setuju.
Ketika dia keluar dari bangsal, Brian yang sejak tadi menunggunya diluar dengan cepat dia berdiri dan menatapnya.
Ferisha tidak bisa menahan senyum ketika melihat kegugupannya, kemudian Ferisha berkata, "Apakah kamu takut ibuku tidak akan puas denganmu dan memintaku untuk putus denganmu?"
“Mustahil.” ucap Brian mendengus dengan percaya diri.
Mendengar jawabannya ferisha pun menghela nafasnya. Dirinya hanya bercanda padanya.Lagi pula Brian tidak akan pernah takut untuk putus dengannya.
"Apa saja yang ibumu katakan?"tanya Brian menatap Ferisha yang baginya wanita dihadapnnya itu terlihat semakin cantik.
"Tidak banyak. ibuku hanya bertanya tentangmu dan khawatir tentang latar belakang keluargamu. Tapi bukan itu yang terpenting. Yang terpenting dia ingin bertemu Aryo dan memintaku untuk membuat perjanjian."
“Siapa Aryo.?” tanya Brian dengan heran saat melihat ekspresi Ferisha yang jijik saat mengatakan namanya.
__ADS_1
"Ayahku.!" jawan Ferisha.
Jika dia bisa, dia benar-benar tidak ingin bajingan itu menjadi ayahnya.
"Apakah Dia tidak baik padamu?"
"Apakah menurutmu dia akan baik padaku.?" tanya Ferisha sedikit mendengus.
"Jika memang begitu, aku tidak perlu memohon padamu untuk membayar tagihan medis ibuku." sambungnya.
"Jika kamu tidak ingin melihatnya, maka jangan membuat janji padanya. Dia hanya kerabatmu yang tidak berhubungan denganmu," Ujar Brian.
Ferisha seketika memandangnya dengan heran.Ini adalah pertama kalinya dia mendengar ide baru seperti itu. Namun, dia sudah berjanji pada ibunya, jadi bagaimana mungkin dia tidak mengatur untuk mempertemukan padanya?
"Ibuku mengizinkanmu masuk dan ibu bilang dia ingin berbicara denganmu," ucap Ferisha dengan cepat.
Brian sedikit ketakutan, dan bertanya "Ibumu masih ingin berbicara denganku?"
"Ngomong-ngomong, tolong katakan sesuatu yang baik-baik padanya. Saat nanti aku bertemu dengan ibumu , aku juga akan melakukannya," pintanya dengan cemberut.
Brian melengkungkan bibirnya dan mencubit mulutnya yang cemberut, "Ibuku tidak membutuhkan kata-kata manismu. Jika kamu tidak ingin bertemu dwngannya, kamu tidak perlu melakukannya."
Setelah itu, Brian mendorong pintu ruang perawatan ibunya Ferisha dan berjalan masuk.
Setelah Keluar dari rumah sakit, Ferisha memandang Brian dengan cara yang berbeda.
Dia benar-benar tidak menyangka Brian, yang begitu pemarah padanya, akan bersikap begitu lembut. Brian sudah membuat ibunya meledak dengan suka cita dan tawa.
Jika bukan karena waktunya ibunya harus beristirahat, ibunya tidak akan membiarkan mereka pergi.
"Terima kasih," bisik Ferisha saat dia turun dari mobil.
Brian yang medengar ucapan Ferisha pun mengangkat alisnya, kemudian bertanya dwngan sedikit menggodanya, "Apa yang kamu katakan? Aku tidak mendengarmu."
Ferisha pun mengerutkan bibirnya dan memelototinya, dia berkata "Kau melakukannya dengan baik. Jadi jangan berpura-pura tidak mendengarku."
“Tapi mengungkapkan rasa terima kasih tidak hanya dengan mengatakannya. Dan lagi pula Aku tidak suka sesuatu yang praktis.” ucap Brian melengkungkan bibirnya.
"Lalu apa yang kamu ingin aku lakukan.?" Tanya Ferisha.
__ADS_1
Brian meraih bagian belakang kepalanya dan tiba-tiba dia menciumnya.
Ferisha menatapnya dengan kaget. Setelah mereka melepaskan pagutan bibir mereka masing-masing, Brian berkata, "Saya harap kamu dapat mengambil inisiatif untuk berterima kasih kepada saya lain kali."
"Kamu ... aku ..." Wajah Ferisha memerah dan dia tidak bisa berkata apa-apa karena terkejut.
"Cepatlah.! Aku harus pergi bekerja," ucap Brian menyuruhnya untuk naik kedalam mobil.
Setelah perjalanan dari rumah sakit ibunya dan kini Ferisha keluar dari mobil Brian dengan linglung dan menunggu mobil pria itu pergi sebelum fikirannya kembali sadar.
"Aku lebih suka meminta maaf padamu daripada menciummu," gumam Ferisha pada dirinya sendiri.
“Mencium siapa?” Veira tiba-tiba melompat ke belakang dan bertanya sambil memeluk bahunya.
Ferisha yang kaget dan dengan cepat mendorong Veira menjauh, dia bertanya, "Kenapa kamu tiba-tiba keluar? Kamu benar-benar membuatku takut. Jangan lakukan ini lagi. Ini sangat menakutkan.”
"Apa yang kamu takutkan? Apakah kamu melakukan sesuatu yang salah?" tanya Vaira dan menunjuk padanya .
Ferisha pun seketika tersipu dan berbisik kepada Veira, dia berkata, "Veira, kamu adalah sahabatku. Bagaimana menurutmu jika aku bilang bahwa aku sudah menikah.?"
"Sialan kau Ferisha, jangan membuatku terkejut," teriak Veira.
Veira segera menutup mulutnya untuk menyembunyikan suaranya, dan berkata dengan gugup, "Pelankan suaramu. Jangan biarkan orang lain mengetahuinya."
Veira mengangguk dengan matanya yang melebar. Begitu Verira melepaskannya, dia melanjutkan, "Ada apa sebenarnya.? Kita sudah saling kenal selama lebih dari sepuluh tahun. Kamu tidak bisa menyembunyikan apa pun dariku.”
Ferisha mengangguk dan menariknya ke ruang rapat untuk menceritakan apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Apa yang dia katakan mengejutkan Veira. Dia tidak bisa mencerna berita itu dan menatap Ferisha dalam diam. Setelah beberapa saat kemudian, dia berkata, "Ya Tuhan, Ferisha, kamu legendaris. Kamu menikah dengan Brian, orang terkaya di Jayakarta."
"Sssttt.!! Kecilkan suaramu. Hanya kamu yang mengetahui hal ini. Jangan beri tahu siapa pun," ucap Ferisha menekankan kalimatnya.
Veira tidak mengerti mengapa dia memintanya untuk merahasiakannya, dan bertanya, "Kamu menikah dengan orang terkaya dan menjadi istri seorang miliarder. Kamu adalah Fire (kemandirian finansial, pensiun dini). Mengapa kamu masih bekerja disini?"
"Kamu tidak tahu apa-apa." ucap Ferisha memelototinya dan menghela nafas beratnya,
"Aku hanya seorang pengganti. Ketika kekasih masa kecilnya kembali, aku akan tetap menjadi Ferisha yang lama dari pada istri Brian. Aku tidak bisa mengalahkan. diriku sendiri dan menghalangi jalanku kembali.”
“Kamu luar biasa.” Ucap Veira mengacungkan jempolnya dengan tulus.
__ADS_1
"Oke, oke, jangan bicara lagi. Ayo pergi bekerja.! Aku belum menemukan cara yang cocok untuk meminta ayahku menemui ibuku,"
...****************...