
"*Selamat datang di duniaku*"
Memiliki keluarga yang harmonis tentunya sangat banyak orang yang ingin miliki. Aku? sudah jelas ingin. Itulah cita-citaku, tapi apa bisa aku memiliki keluarga yang harmonis bak keluarga Cemara? sedangkan aku sendiri masih trauma kepada yang namanya "Cinta".
Ayahku memang baik, ia selalu menuruti semua yang ku mau, tapi ibu tiriku? ia juga sama baiknya. ia memperlakukan ku seperti anak kandungnya sendiri. Tapi, ketika didepan ayah saja ia memperlakukan ku seperti itu.
"Afifah makan dulu yuk ini mamah sudah buatkan ayam goreng kremes kesukaan mu"
ibu tiriku menghampiri ku kekamar untuk makan siang bersama, tapi aku tidak pernah menyebut nya dengan sebutan mamah ataupun ibu.
"Apa sih Tante ganggu orang lagi main game aja, kalau mau makan yah makan aja sendiri Sono!" ucap ku membentaknya.
Yaa, seperti yang kalian tau aku menyebutnya dengan sebutan "Tante".
"mamah tau kamu ga suka sama mamah tapi makan yah... Jangan sampai nanti kamu mati terus dirumah ini tidak adalagi yang membenci mamah selain kamu" ucapnya seraya mengelus kepala ku.
"oh iya kah Tante??... Tante ingin aku mati dan ingin mengambil semua harta warisan ayah iya kan Tante?... dasar J****G!" jawabku tidak terima.
__ADS_1
Dan disaat bersamaan ketika aku menyebutnya dengan sebutan J****G ayahku Dateng dan mendengarkan perdebatan kami.
"Jaga mulut mu Afifah! kamu berpakaian syar'i tapi mulutmu layaknya seorang binatang" Ayah membentak ku.
aku tidak tinggal diam saat ayah menghina pakaian syar'i ku.
"Pakaian ku? Lihat lah pakaian ISTRIMU wahai Malik!.... pakaian dia layaknya seorang Wanita malam, apa kau tidak malu memiliki istri yang memamerkan tubuhnya diluaran sana?" balas ku dengan senyuman.
Plaakkk
"jaga mulut mu Afifah, seharusnya kamu bersyukur memiliki ibu yang baik yang merawat mu penuh dengan kasih sayang!" Ucapnya.
"APA? DIA WANITA YANG BAIK? WANITA YANG MEMBUNUH IBUKU DAN KAU JUGA SAMA!..... KALIAN BERDUA SAMA-SAMA PEMBUNUH IBUKU!!" Jawab ku tidak terima, jauh dari lubuk hati aku sedikit menyesal karena telah membentak ayah.
kami memang sering berdebat seperti ini, hingga tak jarang ayah memukuli ku. Hingga pada akhirnya aku tidak kuat menahan ini semua.
PLAAKKK
__ADS_1
Sekali lagi ayah menamparku.
"DASAR ANAK GA GUNA TIDAK TAHU DIUNTUNG TIDAK TAHU MALU!" Ucapnya membentak ku
"Sudah mas sudah aku tahu Afifah belum bisa menerimaku.... lebih baik kita makan saja" ucap Tante Sonya sok perhatian.
Merekapun pergi dari kamarku, aku pun membantingkan pintu dengan sangat keras dan menangis sejadi-jadinya didalam.
"Ibu... Afifah kangen ibu..hiks...hiks..hiks" aku menangis sejadi-jadinya didalam hingga aku mencari cara untuk kabur dari rumah.
"Ga, aku ga boleh lemah! aku harus membalaskan dendam ku! atas semua perbuatan apa yang mereka lakukan terhadapku terutama ibu... aku tidak kuat lagi yaallah berada didalam rumah ini....hiks.... hiks"
Akupun meraih tas dan koper di lemari, mengemasi semua baju" ku dan berinisiatif merantau ke keluar kota.
aku tahu pintu kamar dikunci oleh ayah, dan untung saja jendela terbuka aku memiliki ide bagaimana caranya agar bisa kabur.
Setelah selesai mengemasi semua baju-baju ku, kini aku mengendap-endap keluar dari jendela.
__ADS_1
"huh akhirnya selesai juga.... tunggu aku Sonya akan ku pastikan setelah ini hidupmu akan sengsara!!" ucap ku sebelum pergi meninggalkan rumah itu.