
Setelah kembali ke kamar, aku segera membaca surat perjanjian dengan teliti, akhirnya aku menemukan apa yang sebenarnya terjadi.
Diatas surat perjanjian telah tertulis, setelah pergi ke Imperial, keluarga Chris akan mengadakan acara pertunangan, dan aku hadir sebagai tunangan Chris.
Bisa dibilang, identitasku nanti adalah tunangan Chris.
Karena perjanjian ini tertulis ditengah halaman, aku hanya membacanya sekilas, jadi tidak melihatnya dengan jelas.
Aku menatap tulisan yang bertuliskan kata tunangan, cukup lama aku kehilangan kesadaran.
Pantas saja dia mau memberikanku begitu banyak uang, karena identitasku juga telah berubah.
Kalau begitu kenapa dia mengatakan jika hubungan kami tidak berubah?
Namun, tidak peduli sepasang kekasih, ataupun tunangan, kami hanyalah berpura-pura.
Apa yang dia katakan memang benar.
Namun aku sudah tidak perduli dengan perasaan sakit, yang aku pedulikan adalah setelah pergi ke imperial, tidak akan semudah memberikan ucapan selamat pada kakeknya Chris.
Jika tidak kenapa Chris ingin mengadakan sebuah pertunangan?
Apakah untuk memperlihatkan permainan ini pada Jade?
Dia bahkan bisa meracuniku di kota Hualin, Imperial adalah area kekuasaannya, dia pasti akan bertindak lebih dari biasanya.
Aku mulai merasa khawatir.
Ditambah lagi mungkin keluarga Shen juga sedang mengawasiku, seketika aku merasa, kepergian kali ini ke imperial, seperti masuk ke dalam kandang harimau.
Dan lagi aku tidak tahu kapan akan kembali ke kota Hualin......
Pantas saja Chris ingin aku berhenti.
Aku menghela nafas perlahan.
Surat perjanjian ini, aku sendiri yang menandatanganinya, sudah terlambat untuk menyesal.
Apalagi...... Walaupun sebelumnya aku sudah tahu jika Chris hanya menginginkan kami berpura-pura tunangan, kupikir aku juga tidak bisa menolaknya......
Aku juga hanya dapat membalas kebaikannya dengan cara ini.
Aku meletakkan surat perjanjian dengan diam, termenung menatap keluar jendela melihat langit yang cerah.
Sejak ibuku meninggal, kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat, dulu hanya perlu belajar dengan giat, namun sekarang hidup dengan terpaksa dan berurusan dengan berbagai macam orang.
Aku tidak tahu setelah pergi ke Imperial, akan menghadapi situasi yang seperti apa lagi.
Tapi hidup harus terus berlanjut, aku harus bersemangat.
Sedangkan pemikiran burukku pada Chris, sepertinya berubah perlahan-lahan.
Jujur saja, pertama kali bagiku, sungguh sangat penting.
Namun dia tidak memiliki perasaan padaku, aku juga tidak mungkin tidak melepaskannya.
Hanya dapat menjaga jarak dengannya, dan menahan perasaan cinta ini.
Untuk menghindari keadaan canggung, dan juga waktu untuk melindungi diriku sendiri, di malam hari aku membuat alasan agar tetap berada dikamar, dan bibi Elena yang akan mengantarkan makan malam ke kamar.
Chris juga tidak datang mencariku.
Ditengah malam aku terbangun dari mimpiku, mungkin karena suhu pendingin ruangan yang telalu rendah, atau karena tidak ada kehangatan Chris disisiku, hatiku terasa dingin.
Kemarin malam Chris masih memelukku, membujukku.
Aku terkunci dalam pelukan hangatnya, menghirup aroma mint yang menguar dari tubuhnya, aku tertidur begitu lelap sepanjang malam.
Namun hari ini aku tidur sendirian, terbangun pun juga sendirian.
Aku memeluk selimut, menatap lampu halaman belakang yang remang, termenung cukup lama, hingga akhirnya kembali berbaring kedalam kamar, dan tertidur kembali.
……
Keesokan harinya pagi-pagi sekali aku sudah terbangun, berencana setelah sarapan pergi ke tempat tim investigasi.
Setelah turun ke bawah, ternyata Anin sedang menungguku, namun tidak terlihat bayangan Chris.
Anin menghadap ke atas, berucap: Nona Viona, Chris menyuruhku untuk mengikutimu hari ini.
Aku menganggukkan kepala, berucap: Kalau begitu mohon bantuannya.
Awalnya aku mengira akan bertemu dengan Chris, namun hasilnya Chris tidak muncul sama sekali.
Aku juga tidak mengerti harus merasa lega, atau merasa kehilangan.
__ADS_1
Anin melihatku sekilas, berucap: Chris semalam tidak pulang.
Aku tercengang.
Ternyata kemarin Chris tidak pulang?
Aku ingin bertanya dia pergi kemana, namun sepertinya aku tidak berhak untuk menanyakan hal itu.
Setelah itu aku merasa bingung, kenapa Anin mengatakan hal itu padaku?
Melihatku yang menatapnya, Anin dengan wajah tenangnya, berucap: Chris takut kamu salah paham, maka menyuruhku untuk menjelaskannya padamu.
Aku: ...... Sebenarnya lebih baik kamu tidak membicarakan hal ini denganku.
Anin yang jarang terlihat tertawa pun tertawa sejenak.
Perasaanku pun entah kenapa menjadi membaik, mungkin karena Chris mengkhawatirkanku.
Kemudian aku dan Anin makan bersama, lalu pergi ke tempat tim investigasi.
Baru saja jam masuk kerja, semua teman-teman kerja sudah berkumpul, Steven Shen bahkan lebih pagi lagi sudah masuk ke kantor bekerja.
Aku mengetuk pintu, memanggil: Kakak Steven.
Steven sedang melihat sebuah dokumen, mendengar sebuah suara, dia segera mengangkat kepalanya..
Dia menatapku dari atas hingga kebawah: Setelah menghilang dua hari, akhirnya bersedia muncul juga?
Aku tidak memperdulikan sindirannya, berucap dengan pelan: Kak, aku datang untuk mengundurkan diri.
Steven mengedipkan matanya.
Kami saling bertukar tatapan: Maaf, mengecewakan harapan Guru Tang, juga mengecewakan bimbinganmu.
Steven Shen menggerakan tangannya memotong ucapanku: Jangan terburu-buru meminta maaf, aku bahkan belum menyetujuinya.
Aku menipiskan bibirku, tidak berucap apapun.
Dia menatapku: Katakan, apa yang sebenarnya terjadi.
Tentu saja aku tidak bisa mengatakan rencana Chris, aku hanya berucap: Karena beberapa alasan dalam diriku sendiri......
Steven Shen seketika menggebrak meja, menghempaskan dokumen yang dipegangnya ke atas meja: Viona, jangan mengatakan padaku hal seperti itu, kamu pikir ini adalah kebun sayur, yang bisa datang dan pergi semaumu? Kamu lihat, dalam beberapa waktu ini sudah berapa kali kamu ijin, menunda begitu banyak pekerjaan, aku bahkan tidak menegurmu, sekarang kamu ingin melepas tanggung jawabmu? Kamu benar-benar hebat!
Aku berdiri tidak bergerak, juga tidak mengelak, membiarkannya memaki.
Dia tersenyum dengan dingin: Aku ingin mendengar yang sebenarnya!
Aku terdiam sejenak, berucap: Maaf, kak Steven, aku telah mempermalukanmu dan Guru Tang...... tapi aku benar-benar memiliki suatu alasan, aku harus mengundurkan diri.
Steven Shen mengeraskan wajahnya, menapku dengan marah.
Aku menatapnya dengan wajah penuh permintaan maaf.
Setelah beberapa waktu kemudian, dia dengan marah bersuara: Bawa dokumenmu, pergi dari sini!
Dia telah menyutujui pengunduran diriku.
Aku segera mengucapkan terima kasih.
Dia menundukkan kepalanya melihat dokumen, tidak memperdulikanku.
Tidak kusangka dia adalah orang yang akan menunjukkan ekspresi senang marahnya, aku terhenti sejenak, kemudian memanggilnya: Kak Steven.
Dia melirikku sejenak, wajahnya penuh dengan kekesalan.
Aku berucap dengan pelan: Dua hari yang lalu aku menerima teleponmu, aku langsung pergi keluar, tapi ketika diperjalanan, aku diculik oleh Wiliam.
Steven Shen segera mengangkat kepalanya, menatap kearahku.
Aku menatapnya dengan dalam.
Diculik? Dia mengerutkan alisnya, berucap, pantas saja dua hari ini aku meneleponmu, tapi tidak dapat terhubung.
Aku menganggukkan kepala, berucap: Dompet dan handphoneku hilang, hari ini aku baru dapat mengurus nomor handphoneku kembali.
Steven Shen telah kembali dengan raut wajahnya yang dingin, melihatku dengan ujung matanya, berucap: Kamu mencurigaiku.
Nada bicaranya terdengar sangat pasti.
Aku juga tidak mengelak, berucap: Beberapa hari sebelumnya aku sedang dalam pemulihan, jika kamu tidak menelepon, aku tidak akan keluar.
Steven Shen terlihat termenung: Jika begitu, aku cukup curiga.
Aku menatapnya tanpa berkedip, ingin mencari sesuatu dari raut wajahnya.
__ADS_1
Namun sayangnya wajahnya begitu datar, tidak terlihat titik lemah sedikit pun.
Aku berpikir sejenak, kemudian bertanya padanya: Apakah dulu kamu mengenal Wiliam?
Steven Shen menunjukkan tatapan mengejeknya dengan jelas: Apa kamu tidak memiliki otak? Jika aku mengenalnya, aku akan meneleponmu membohongimu untuk menyuruhmu keluar? Kalau begitu bukankah aku akan langsung ketahuan.
Jadi, ini adalah kebetulan?
Tapi firasatku mengatakan, ucapannya belum tentu benar.
Mungkin maksud dia menunjukkan kekurangan seperti ini, sengaja untuk membuatku menghilangkan kecurigaanku padanya.
Tiba-tiba aku sedikit menyesal, kenapa aku harus menanyakan hal ini.
Jika keluarga Shen benar-benar menghasut Wiliam, kalau begitu dengan pertanyaanku ini, sama dengan menggali lubang kuburku sendiri.
Aku menutupi tatapan kemarahanku, berucap: Aku hanya merasa ini sangat kebetulan.
Steven Shen mendengus.
Aku berucap: Kuharap Kak Steven dan Wiliam benar-benar tidak ada hubungannya, jika tidak......
Jika tidak memangnya kamu ingin berbuat apa padaku? Steven Shen menyeringai.
Aku: ......Aku akan mengatakannya pada Guru Tang.
Kali ini giliran Steven Shen yang terdiam.
Dia menatapku, berucap: Kamu tenang saja, jika aku ingin mencelakaimu, aku tidak akan menggunakan cara bodoh seperti ini.
Aku: ……
Akhirnya kamu saling bertukar tatap cukup lama.
Aku berucap: ......Kalau begitu aku akan pergi mengurus pengundur diriku.
Steven Shen mengibaskan tangannya dengan tidak sabaran.
Setelah keluar dari kantor, aku memikirkan maksudnya.
Awalnya aku mengira dia sangat baik, pasti tidak memiliki hubungan dengan Wiliam.
Tapi jika dipikirkan kembali, mungkin dia sedang memberitahuku, kali ini dia tidak mencelakaiku, tapi belum tentu di lain kali, dan juga dia akan menggunakan cara yang lebih berkelas.
Setelah aku mengurus pengundur diriku, bahkan aku tidak memberi tahu rekan-rekan kerjaku, yang terpenting adalah aku hanyalah seorang murid magang, yang tidak masuk kerja beberapa hari, jadi tidak begitu dekat dengan yang lainnya.
Namun ketika aku sedang keluar, aku bertemu dengan Erick.
Dia terlihat seperti sangat terkejut melihat kehadiranku, ditambah lagi melihat surat pengundur diriku, mengerutkan dahinya berucap: Apa yang telah terjadi?
Aku menggelengkan kepala.
Walaupun dia juga senior di Universitas Imperial, tapi kami selain bertemu dalam tim investigasi, sisanya kami bahkan tidak saling berinteraksi, otomatis aku tidak akan memberitahunya masalah privasiku.
Erick juga tidak banyak bertanya.
Dia berhenti sejenak, berucap: Kasus Melisa, mungkin akan membutuhkan bantuanmu.
Aku menatapnya dengan terkejut.
Dia berucap: Kita bicarakan didalam.
Akhirnya aku mengikutinya kembali ke kantor.
Dia tanpa basa-basi, langsung berucap: Dua hari kemarin aku kembali mendatangi rumah lama Melisa, dan aku menemukan beberapa hal baru.
Aku mendengarnya dengan serius.
Dia berucap: Aku pergi mencari saudara Melisa, dia memiliki seorang bibi berusia tujuh puluh tahun, biasanya berjalan sangat dekat. Bibinya kembali mengingat, tiga puluh enam tahun yang lalu ketika liburan musim panas, Melisa dipecat. Karena masalah ini sangat memalukan, Melisa tidak berani mengatakan pada siapapun, dia hanya mengatakan hal itu pada bibinya, tapi bibinya tidak tahu mengapa Melisa dipecat, dia juga tidak mengatakan alasannya. Awalnya bibinya tidak bersedia memberitahukan hal ini pada kita, tapi aku mengatakan Melisa adalah korban, dengan pernyataan yang jelas maka masalah akan dapat terselesaikan, bibinya baru membuka mulut memberitahu.
Aku tercengang.
Jadi...... Kakekku yang telah memecat Melisa?
Ini terlihat begitu jelas, kenapa kakekku dan ibuku tidak ingin membicarakkannya.
Dia pasti telah melakukan kesalahan.
Hanya saja, jika dihitung, dia telah bekerja dirumahku selama empat tahun, ibuku pernah begitu menyukainya, sebenarnya dia telah melakukan kesalahan besar apa, hingga kakekku memecatnya?
Sayangnya selain Melisa sebagai penggugat, seperti tidak ada yang mengetahui dengan jelas masalah yang sebenarnya.
Mungkin, perbuatan yang dilakukan Melisa, adalah kunci utama mengapa dia menjadi korban.
Sepertinya masalah ini berhubungan dengan ibuku, atau berhubungan dengan kakekku.
__ADS_1
Erick berucap: Kami juga telah mengunjungi orang yang dekat dengan kakekmu, tapi mereka tidak terlalu mengerti dengan permasalahan saat itu, yang terpenting itu adalah masalah keluarga kakekmu, sehingga yang lainnya tidak begitu memperdulikan...... Jika seperti ini, kasus akan kembali terpecahkan, aku berpikir, mungkin harus pergi ke rumahmu sekali lagi, kembali memeriksa masalah utamanya.
Aku tentu saja tidak menolak.