Pamanku Yang Gatal

Pamanku Yang Gatal
Bab 21. Kemarahan Darrel


__ADS_3

"Karin tidak masuk kemarin."


Pernyataan itu yang Alexa dapat dari teman sekelasnya. Sekarang jam belajar mengajar sudah di mulai sejak 1 jam lalu. Tapi ia tidak mendapati kedatangan Karin. Ia semakin dibuat khawatir saat mendapati kabar kalau Karin sempat tidak masuk sebelum datangnya hari libur. Artinya ia dan Karin sama-sama tidak mengikuti pelajaran pada hari Jum'at kemarin. Apa itu alasan Karin tidak datang ke rumah menemui Alexa, apa sesuatu juga terjadi pada temannya itu?


Alexa mendengarkan penjelasan seorang guru pria dengan tidak fokus. Ia mengabaikan pelajaran yang sedang berlangsung. Pikirannya sekarang tertuju pada Karin. Padahal ia sudah senang saat Darrel mengizinkannya kembali ke sekolah. Ia tidak sabar bertemu Karin. Tapi semua tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Alexa sudah membayangkan kembali bertemu Karin, pasti ia akan sedikit tenang.


Ia menghela napas. Alexa menatap layar ponselnya yang menampilkan nomor Karin yang baru ia minta dari teman kelasnya. Bahkan ia juga sempat meminta untuk kembali dimasukkan ke dalam grup kelas. Alexa mengesampingkan dulu tentang Darrel yang mungkin akan marah karena ia menyimpan nomor lain di ponselnya. Tapi rasa cemasnya tidak bisa ditutupi dan itu jauh lebih besar dari rasa takutnya. Alexa akan menghubungi Karin nanti.


"Karin Stepaya tidak masuk sejak Jum'at kemarin tanpa keterangan."


"Benar-benar tidak ada kabar, pak?" gelengan kepala dari guru absensi yang Alexa temui di ruang guru membuatnya bernapas gusar. Niatnya hanya ingin memastikan perkataan teman sekelasnya. Namun ternyata benar, Karin memang tidak masuk.


"Tidak ada pihak keluarga yang menghubungi guru-guru kelas kalian. Jadi memang merah absensinya. Berbeda dengan kamu yang izin untuk waktu dua hari--,"


"Maaf pak, izin?"


"Iya. Paman kamu bilang ada urusan keluarga di luar kota."


Benar pikirannya. Tidak mungkin kalau Darrel tidak mengatur semuanya. Pasti unclenya itu sudah merencanakan untuk membuatnya tidak masuk sekolah. Masuk akal jika Karin tidak khawatir, karena ketidak hadirannya memang jelas. Ia juga tidak tahu kan apa Karin sebelumnya menanyai kabarnya lewat pesan atau tidak. Karena ponselnya sempat disita oleh Darrel. Sekarang yang justru dibuat cemas adalah dirinya.


"Kalau sampai besok Karin tidak masuk lagi tanpa keterangan maka akan dapat surat teguran." Alexa keluar dari ruang guru. Tidak biasanya Karin bolos seperti ini. Pesan dan panggilannya juga belum mendapatkan balasan. Kalau seperti ini lebih baik ia mendatangi rumah Karin setelah pulang sekolah.


...

__ADS_1


Sudah hampir 10 menit lamanya Alexa berdiri di depan gerbang rumah Karin. Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Biasanya selalu ada satpam rumah yang berjaga hampir 24 jam. Namun saat ini ia tidak melihat keberadaan satpam rumah Karin yang selalu stay di pos satpam.


Alexa juga gusar ketika ponselnya terus berdering di mana Darrel lah penyebabnya. Unclenya itu terus menelepon dan mengirim pesan bertanya tentang keberadaannya. Ia memang langsung pergi setelah jam pulang sekolah untuk ke rumah Karin tanpa menunggu kedatangan Darrel yang menjemputnya. Karena Alexa tahu kalau Darrel pasti akan mempersulitnya untuk bertemu Karin.


Panggilan itu berhenti. Pikirannya sekarang memaksa untuk mencari cara agar Darrel tidak marah. Ia terlalu fokus dan mencemaskan Karin sampai ia nekat membuat dirinya berada di dalam masalah. Harusnya ia ingat kalau tindakan Darrel semakin berada di luar batas dan bisa saja keselamatan hal berharganya terancam.


Ia mencoba kembali memencet bel rumah temannya berharap kali ini seseorang keluar lalu menjawab rasa khawatirnya. Namun tidak ada yang berubah, pintu itu tertutup rapat.


"Perkataan uncle yang mana Alexa yang tidak bisa kamu mengerti?" Darrel melempar tubuh Alexa ke atas tempat tidur. Bisa ia lihat tatapan tajam itu terus menghunus kedua bola matanya."Cara seperti apa yang kamu inginkan agar membuatmu menurut pada uncle?"


Alexa bergetar mendapati bentakan yang Darrel lontarkan. Sepanjang perjalanan ia sudah menangis ketika Darrel marah besar padanya, membentak, memberinya ancaman. Alexa salah kalau menganggap ia bisa kembali meluluhkan Darrel kali ini. Karena unclenya benar-benar terlihat menyeramkan dan ia tidak bisa untuk sekedar berbicara memohon pada Darrel.


"Tidak boleh pulang sebelum uncle tiba di sekolahmu, apa itu perintah yang kurang jelas?"


"Uncle juga sudah katakan jangan mencoba untuk mencari perlindungan dengan temanmu itu--,"


"Untuk apa khawatir, temanmu itu ada di rumah sakit, sudah banyak suster yang menjaganya."


Melepaskan cengkramannya. Darrel kembali menegakkan tubuhnya dan merubah raut wajahnya menjadi datar. Ia menatap Alexa tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kamu tahu Alexa, uncle selalu bisa menyingkirkan orang-orang yang mengganggu kita. Dan temanmu itu hanya urusan kecil yang sangat mudah uncle jauhkan dari kamu," kata Darrel tenang. Berbeda dengan Alexa yang kini otaknya mencoba menangkap maksud perkataan Darrel. Perasaannya sudah tidak enak, dengan air mata yang terus mengalir ia bangkit dari tempat tidur lalu menghampiri Darrel yang masih terus menatapnya.


"Apa maksud uncle?"

__ADS_1


"Uncle melakukan apa sama Karin?" tanyanya lagi ketika Darrel hanya diam. Alexa terus mengguncang tubuh unclenya. Meski hal itu sama sekali tidak membuat Darrel terusik karena tenaga Alexa tidak ada apa-apanya."Jawab uncle!"


"Uncle sengaja mencederai kakinya dan kamu tahu itu semua karena sikapmu sendiri!"


Tangisnya semakin kencang. Alexa melangkah mundur dengan tubuh yang masih gemetar. Lagi dan lagi bentakan Darrel memenuhi ruang kamar Alexa.


"Uncle jahat!"


"Alexa selalu menurut pada uncle, kenapa uncle tega celakain teman Lexa." pengelihatannya memburam karena air mata terus mengalir. Alexa menatap kecewa sosok unclenya. Ia pikir Darrel tidak mungkin sejauh ini melakukan segala cara hanya untuk membuat dirinya tetap dengan pria itu. Alexa juga masih sempat berpikir kalau Darrel masih memiliki hati. Tapi Alexa salah, sikap Darrel yang kadang masih bisa Lexa luluhkan ternyata di belakangnya mampu sejahat itu.


"Selalu menurut?" tanya Darrel tersenyum miring."Kamu selalu ingin kabur dan temanmu itu yang selalu jadi tujuanmu untuk berlindung."


"Dengar ya Alexa, ini tidak ada apa-apanya, uncle bisa melakukan hal lebih bahkan pada mommymu--,"


"Jangan gila uncle!"


"Kamu yang membuat uncle gila!" teriakan itu saling sahut bergantian. Alexa terus melangkah mundur ketika Darrel terus mencoba mendekatinya.


"Mana perkataanmu yang akan menurut pada uncle?" tepat kalimat itu terdengar, Alexa sudah tidak bisa kemana-mana. Jendela balkon menghalangi pergerakkannya. Sekarang Darrel dengan leluasa mengurung dirinya. Kedua tangan Darrel berada di kedua sisi kepala Alexa.


"Apa sekarang waktunya uncle mengambil hal berharga itu darimu?" bisik Darrel di telinganya."Tidak lupa bukan kesepakatannya, jika ucapan kamu yang akan menurut pada uncle tidak kamu lakukan maka uncle akan memperkosamu."


Alexa tersentak saat kaki kanannya di angkat lalu Darrel rapatkan pada tubuh pria itu. Keseimbangannya hampir hilang tetapi dengan cepat Darrel melingkarkan satu tangannya di pinggang Alexa. Kepala unclenya mendekat pada lehernya, bisa Alexa rasakan Darrel menjilat sensual di sana.

__ADS_1


"Ready for the punishment?"


...


__ADS_2