
Sore menjelang malam itu, kami telah bersiap dengan perlengkapan kami masing-masing. Berempat beriringan berjalan menuju jalur masuk utama yang dekat dengan kantin, menemui Mail yang sedang menggantikan bawahannya berjaga sejenak. Berdelapan, jika menghitung keempat serigalaku yang telah wangi nan bersih itu.
"Op, santai bos?", sahut Pras sedikit berseru pada Mail dari jarak yang tak terlalu jauh darinya, masih berjalan menghampirinya. Dia menoleh ke arah kami.
"Oi! Yoi, mumpung sempat.", jawabnya santai.
"Jadi, ngapain kita ni bang?", tanya Pras seketika saat kami sampai menghampirinya.
Dia memberi kode pada rekan jaganya, rekan tersebut mengangguk. Berjalan mengarah pada sebuah pohon, yang lalu duduk disana. Kami semua mengikutinya.
"Nunggu orang kantin selesai masak lah Pras.", jawabnya sambil mendudukkan dirinya. "Nyantai aja dulu.", ucapnya sambil menepuk rumput halus di sisinya, mengisyaratkan untuk duduk bersama. Kami menurutinya, membentuk sebuah lingkaran besar.
Aku dan Sofi bersebelahan, menghadap Mail. Di kiri Sofi, ada Velisha. Di kiri Velisha, ada Lenard yang kemudian ada Pras setelahnya. Lalu kemudian, dari kiri Pras, dimana Mail berada yang sambil bersandar pada batang pohon. Lalu Drake, Lili, Leticia dan kembali padaku.
"Tch.", Pras menyentak lidahnya. "Jadi engga ada yang lain yang bisa dikerjain gitu? Apa kek?", tanya Pras pada Mail. Mail mengangkat bahunya sambil memainkan sebatang lidi.
Pras menoleh ke arahku kemudian, akupun berlaku sama seperti Mail.
"Makan, nunggu. Mau masuk bantai-bantai setan tengkorak, mesti nunggu juga pas malem. Kalau begini, sa bisa merasa bosan kaka.", ucap Pras dengan kalimat akhir yang diucapnya menirukan seorang artis komedi yang cukup terkemuka dulu, dari papua.
"Bosanmu aja pak yang kau fikirkan.", celetukku menyindir.
"Tch!", Pras menyentak lidahnya lagi, berdiri. "Hiburan kek, pak. Mungkin kau sama Sofi dansa gitu ditengah kami nyanyi rame-rame?", ucapnya menyarankan.
"Dansa gundulmu! Bisa nari aja engga.", jawabku seketika.
"Hmm.", Mail bergumam, mendengungkan nada yang panjang sambil berfikir. Kami semua menoleh kearahnya. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari [Spatial Magic] miliknya, cukup besar saat sesuatu tersebut perlahan turun dari awan gelap tersebut. Sebuah gitar.
"BEH! Paten kali!", ucap Pras berseru sambil kemudian berdiri.
"Hahaha.", Mail sedikit tertawa sambil memeriksa ketepatan nada girar miliknya. "Main apa kita Pras?", tanya Mail kemudian sambil sedikit memainkan senar-senarnya.
"Gitar.", ucap Lili datar.
"Mmhmm.", gumam mail mengiyakan. "Hobi aja, ga jago kali oom.", ucapnya menambahkan.
"Keren, bang Mail bisa main gitar.", ucapku kagum. Pras berjalan menghampiri Mail, kemudian sedikit berjongkok.
"Main apa eh? Segan aku sama bang Mail kalau minta lagu-lagu kekinian. Apalagi-", ucap Pras berandai.
"Lagu ke-wibu-an?", celetukku. Pras menoleh kebelakang ke arahku.
"Eh? Pras wibu?", ucap Sofi bertanya dengan wajah kaget.
"Hahaha!", aku ketawa.
"Wibu?", Lili memiringkan kepalanya, kurang memahami.
"E-Eh..Tidak gitu. Bukan, bu-bukan gitu.", ucap Pras terbata sambil mengelus kepalanya. Mungkin menahan malu.
"Pras itu doyan nge-idol kak dulu.", jawabku menambahkan.
"JFT48?", tanya Sofi.
"Tch, engga lah.", Pras menggeleng. "Seniornya dong! AKF48.", ucap Pras menambahkan dengan wajah bangga.
"Sukakmu lah pak, pak.", ucapku yang kemudian sedikit tertawa sambil menggelengkan kepalaku.
__ADS_1
"Jadi, apa ni Pras? Pemain dah nunggu ni.", celetuk Mail sambil sedikit tertawa.
"Hmm. Yang lawas-lawas aja bang.", ucapnya. "P. Ramlee tau bang?", tambah Pras menjawab pertanyaan Mail.
"Bisa, bisa. Yang mana?", tanya Mail kembali.
"Yang mana eh?", ucap Pras berfikir sejenak. "Suntuk ni yeken, yang bisa asik-asik sikit mantap ni! [Bunyi Gitar] aja bang.", jawabnya lagi. Kami semua memperhatikan mereka berdua.
"Oh. Tch.", jawab Mail menyentak lidahnya, memberikan gestur mudah. "Senang je kalau tu.", tambahnya dengan aksen melayu.
Seketika, Mail mulai memainkan lagu tersebut. Bermula dari musik intro lagu permintaan Pras.
"Beh! Cadas kali!", ucap Pras sambil berdiri.
*Oh bunyi gitar
Irama "Twist"
Tidak sabar
Si gadis manis
Dengar lagu rancak gembira
Hatinya rindu tergoda
Ingin dapat teman
Menari suka ria*
Pras kemudian bernyanyi ditengah-tengah lingkaran. Berjoget ala disko era 60-an jaman dahulu yang dikenal dengan sebutan "twist". Menekukkan lututnya sedikit dengan mata terpejam. Menggerak-gerakkan badan, pinggang serta lututnya sambil bernyanyi. Kami semua tersenyum dan tertawa melihat tingkahnya.
Lagu ini
Siapa mahu
Boleh menari
Sambil menari, kemudian dia menghampiri Lili. Mengulurkan tangannya yang kemudian di sambut. Menarik Lili ketengah dengan perlahan sambil menggoyang-goyangkan badannya dan bernyanyi. Lili, dengan wajah datarnya tersebut itupun, mengikuti gerakan Pras bersamaan.
Mail melihat mereka dengan raut wajah yang seakan senang dan bahagia. Lebih tepatnya, kami semua. Bahkan ketiga serigalaku pun duduk secara tegak dan tegap memperhatikan mereka dengan seksama sembari mengibaskan ekor mereka seakan menikmati pertunjukan, lantunan lagu yang dinyanyikan Pras serta petikan-petikan gitar yang dimainkan dengan cukup ahli.
Pilih satu teman sendiri
Atau kasih hitam manis
Kalau sudi mari
Kita menari "Twist"
*Oh gitar...
Berbunyi...
Menawan hati sedang berahi
Oh rancaknya...
__ADS_1
Irama...
Dapat mikat sukma
Gadis dan teruna
Mahu cari teman gembira
Oh gitar solo
Dan melodi
Ikut tempo
Kalau menari
Sila adik sila cik abang
Marilah kita berdendang
Irama gembira
Hati jadi riang*
Mereka menari berdua. Sesekali mereka berputar yang berhadapan, bergantian posisi, ya..yang sesuai dengan jenis tariannya, "Twist Dance". Kemudian Lili menghampiri Sofi, menarik tangannya. Sofi menarikku. Mahu tak mahu, akupun ikutan.
*Oh gitar...
Berbunyi...
Menawan hati sedang berahi
Oh rancaknya...
Irama...
Dapat mikat sukma
Gadis dan teruna
Mahu cari teman gembira
Oh gitar solo
Dan melodi
Ikut tempo
Kalau menari
Sila adik sila cik abang
Marilah kita berdendang
Irama gembira
Hati jadi riang*
__ADS_1
Aku berpasang dengan Sofi. Sesekali kami berputar, bertukar pasangan, dan sebagainya. Lili tampak bahagia, namun wajah datarnya tetap saja tak berubah. Setidaknya, itu menjadi ciri khas dirinya yang membuatnya tampak imut ala versinya sendiri.
Alhasil, kami berempat berjoget "Twist" sesuka hati. Beberapa kali bagian reff lagu tersebut dengan sengaja diulang oleh Mail. Gembira? Ya, tentu saja. Hanya saja, yang mengherankan hanyalah kehangatan ini membuat aku lupa akan semua tragedi, keadaan atau apapun yang terjadi saat ini. Hanya tertawa gembira, sambil menari demi menunggu makanan pada kantin selesai dipersiapkan.