Pelajaran Dan Dongeng

Pelajaran Dan Dongeng
Asal Mula Nama Irian


__ADS_3

Mananamakrdi, begitulah ia biasa dipanggil, adalah anak bungsu sebuah keluarga di Kampung Sopen, Biak Barat. Mananamakrdi bernasib sangat tidak beruntung, tubuhnya penuh kudis dan berbau tak sedap.


Kondisi itu membuat saudara-saudara Mananamakrdi sangat membencinya. Mereka menyuruhnya tidur di luar. Meski sedih, Mananamakrdi tak berdaya. Orangtuanya pun tak mampu membelanya.


Hingga suatu hari, Mananamakrdi diusir oleh saudara-saudaranya karena bau kudisnya sudah tak tertahankan lagi. Ia melangkah ke arah timur. Tanpa sadar ia telah berada di pantai. Di sana ia bertemu dengan seorang nelayan yang memberinya tumpangan ke Pulau Miokbudi di Biak Timur. Di pulau itu, Mananamakrdi mendirikan gubuk kecil sebagai tempat tinggalnya.


Mananamakrdi menanam sagu dan membuat tuak sebagai bahan makannya sehari-hari. Tuak ia peroleh dari pohon kelapa yang tumbuh subur di sekeliling tempat tinggalnya. Setiap hari Mananamakrdi menyadap air niranya untuk dijadikan tuak.


Hidupnya berjalan dengan lancar. Tapi suatu ketika ia menemui masalah. Air nira yang disadapnya selalu habis tak berbekas. “Pasti ada pencuri,” pikirnya.


Ia pun memutuskan untuk mengintai dan menangkap pencuri itu. Namun hingga malam tiba, pencuri itu tak kunjung menampakkan diri. Ia tak putus asa dan melanjutkan pengintaiannya hingga subuh. Ternyata benar, makhluk yang menghabiskan air nira miliknya akhirnya muncul juga. Mananamakrdi sangat geram. Dengan cepat ia keluar dari persembunyiannya dan menangkap makhluk itu.


“Siapa kau? Kenapa kau mencuri air niraku?” teriaknya.

__ADS_1


Makhluk itu meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. “Lepaskan aku. Aku adalah si Bintang Pagi. Aku biasa dipanggil Sampan. Lepaskan aku,” jerit makhluk itu.


“Enak saja. Kalau kautak mau kutangkap, kau harus membantuku. Sembuhkan kudisku dan berikan aku istri yang cantik,” pinta Mananamakrdi.


“Pergilah ke pantai. Di sana ada pohon bitanggur. Jika kau melihat seorang gadis sedang mandi, lemparlah ia dengan sebiji bitanggur. Gadis itu pasti akan menjadi istrimu,” kata Sampan.


Sejak itu setiap sore, Mananamakrdi memanjat pohon bitanggur dan memandang ke pantai. Suatu sore, ia melihat seorang gadis yang cantik sedang mandi seorang diri.


Kemudian, tersiar kabar kalau Insoraki sedang mengandung. Kampung Meokbundi pun gempar. Meski didesak untuk mengatakan siapa ayah bayinya, Insoraki tak juga mengaku. Ia memang tak tahu. Beberapa bulan berikutnya ia melahirkan seorang anak yang dinamai Konori. Saat upacara peresmian nama, Mananamakrdi hadir. Tiba-tiba, Konori menunjuk ke arah Mananamakrdi dan memanggilnya, “Ayah… Ayah….” Sekarang terungkaplah siapa ayah bayi itu. Mananamakrdi dan Insoraki pun dinikahkan.


Meski telah menikahi Insoraki, penduduk kampung Meokbundi tetap jijik pada Mananamakrdi. Mereka meninggalkan tempat itu, jadi tinggallah mereka bertiga saja. Mananamakrdi merasa kasihan dengan istri dan anaknya yang sering dihina karena kondisi tubuhnya. Suatu saat Mananamakrdi pergi mengumpulkan kayu bakar. Ia menyulutnya dan membakar dirinya sendiri.


“Suamiku, apa yang kau lakukan?” teriak Insoraki sambil menangis. Namun keajaiban terjadi. Dari balik api yang menjilat-jilat, muncullah seorang pria tampan berbadan mulus. Ia adalah Mananamakrdi!

__ADS_1


Insoraki senang sekali melihat perubahan wujud suaminya. Mananamakrdi menamai dirinya Masren Koreri yang berarti “pria yang suci”. Setelah itu, ia mengajak anak dan istrinya berlayar meninggalkan kampung Meokbundi menuju Mandori, dekat Manokwari.


Di satu pagi yang berkabut, Konori dan ibunya pergi ke pantai. Ketika Matahari semakin tinggi, kabut itu pun lenyap. Nampak oleh Konori dan ibunya pemandangan yang sangat indah. Tanah berbukit-bukit nan hijau dengan latar langit yang biru.


Konori berteriakdengan lantang, “Irian… Irian….” Irian berarti panas.


Mananamakrdi yang mendengar teriakan itu bingung lalu bertanya, “Apa maksudmu anakku? Ini adalah tanah nenek moyangmu.”


Insoraki menjawab, “Maksud Konori adalah panas Matahari pagi telah membuka mata kita pada tanah yang indah.” Mananamakrdi tersenyum dan mengusap-usap rambut anaknya.


Sejak itu, wilayah tersebut dinamai Irian. Pemandangan di Irian memang indah. Pantai berpasir dan bukit-bukit nan hijau membentang sejauh mata memandang. Hal ini merupakan kelebihan dan ri kepualauan Irian yang harus kita jaga


Pesan moral dari Contoh Cerita Legenda : Asal Mula Nama Irian untukmu adalah Janganlah melupakan asal-usulmu. Meskipun suatu saat engkau sukses di negeri orang, ingatlah, Indonesia adalah tanah kelahiranmu. Selain dari itu jangan karena kekurangan orang lain kita menyakiti orang tersebut, bayangkan jika kondisi itu terjadi pada diri kita.

__ADS_1


__ADS_2