Pendekar Pedang Terkuat

Pendekar Pedang Terkuat
Bab 4 - Mbah Ali


__ADS_3

"Apakah Mbah bisa menceritakannya untukku?" tanya Seno Ajidarma.


"Pasti Den. Mbah akan menceritakan apa yang Mbah ketahui,"


Si Mbah Ali itu menarik nafas dalam-dalam sebelum bercerita. Beberapa kali dia menghembuskan nafasnya. Seolah sedang mengeluarkan beban berat yang ada dalam benaknya. Seperti tidak tega untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Apalagi dia sendiri masih membayangkan betapa mengerikannya peristiwa berdarah tersebut.


"Saat itu tengah malam, kebetulan Mbah sedang meronda bersama para warga sekitar. Mbah bersama tiga warga lainnya berkeliling kampung. Kebetulan lewat rumah Aden ini. Saat itu Mbah melihat ada tiga puluhan orang berpakaian berbeda-beda sedang berusaha masuk ke dalam rumah. Mbah mengikuti mereka dari belakang. Keadaan di rumah Aden sudah sepi. Sepertinya Tuan dan yang lain sudah tidur,"


"Mbah tidak menahan mereka?" tanya Seno Ajidarma memotong cerita si Mbah Ali.


"Niatnya Mbah juga ingin masuk ke sana. Tetapi Mbah malah dihadang oleh sepuluhan orang berpakaian serba hitam. Kemampuan mereka juga cukup lumayan, sehingga sedikit merepotkan. Singkat cerita setelah bertarung beberapa saat, Mbah sudah berhasil membereskan orang-orang itu. Tapi ketika Mbah menuju ke rumah Aden, semuanya sudah berubah,"


"Tiga puluhan orang tadi sudah tidak ada. Mereka hilang entah ke mana. Tidak ada yang tahu bagaimana perginya. Atau mungkin lewat pintu belakang, Mbah juga tidak tahu. Karena penasaran, Mbah memutuskan untuk masuk ke dalam,"


"Begitu masuk, keadaan di sana tak lebih dari tempat pembantaian. Mayat di sana sini. Darah menggenang, bau anyir menusuk hidung hingga membuat Mbah terasa mual. Namun Mbah berusaha untuk tetap menguatkan diri, Mbah masuk semakin dalam mencari Tuan dan Nyai (Nyonya). Tapi semuanya sudah terlambat. Mereka berdua tewas. Ke sananya Mbah yakin Aden juga tahu sendiri," ujar Mbah Ali menceritakan peristiwa berdarah yang dia ketahui.


Seno Ajidarma memang tahu kelanjutan ceritanya. Dia melihat betapa semua keluarganya tewas dengan mata melotot. Mereka tewas seperti tidak percaya. Sepertinya dari sekian banyak orang-orang itu, ada salah satu orang yang dikenal keluarganya.


Namun siapa orang itu, sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti.


"Apakah di antara orang-orang itu ada yang Mbah kenal?" tanya Seno Ajidarma terus mendesak Mbah Ali.


Kakek tua itu tampak berpikir sebentar. Dia sedang mengingat-ingat kembali.


"Sepertinya ada Den,"


"Siapa Mba?"


"Ragedenta,"

__ADS_1


"Hahh? Pa-paman Ragedenta ada di antara orang-orang yang membunuh Ayahku?" tanya Seno Ajidarma sangat tidak percaya.


Dia sangat tahu siapa itu Ragedenta. Ragedenta adalah pamannya sendiri. Adik kandung ayahnya. Memang dia merupakan orang-orang persilatan, bahkan cukup mempunyai nama juga di sungai telaga.


Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah benar dia termasuk pelakunya? Tega kah seorang adik kandung membunuh kakak kandung?


Atas alasan apa pula pamannya melakukan semua ini?


Seno Ajidarma melamun. Otaknya sedang berputar. Hatinya seperti jatuh ke jurang yang paling dasar. Dia sangat ingin tidak mempercayai ucapan Mbah Ali itu.


Sayangnya Seno tidak bisa. Sebab siapapun tahu bahwa seumur hidupnya Mbah Ali tidak pernah bohong. Sedikit pun tidak. Kalau kejadiannya A, maka tidak mungkin dia menceritakan B.


"Apakah Mbah yakin?"


"Sangat yakin Den. Walaupun sudah tua, tapi mata Mbah masih bisa dipakai dengan baik. Selain itu, Tuan Agung Dharma juga memanggil nama Ragedenta, sesaat sebelum Aki benar-benar sampai di sampingnya," kata Mbah Ali.


Agung Dharma adalah nama ayahnya Seno Ajidarma. Kalau ayahnya sampai berteriak, berarti ucapan Mbah Ali memang benar.


Hanya saja sampai sekarang Seno Ajidarma tidak habis pikir. Apa tujuan pamannya melakukan perbuatan sekeji ini?


"Benggala Sota, Nyai Genit, orang-orang Perguruan Golok Hitam, dan beberapa tokoh lainnya lagi," jawab Mbah Ali.


Seno Ajidarma semakin tertegun. Pantas ayahnya bisa tewas secara mengenaskan. Ternyata dia di keroyok oleh beberapa tokoh. Kedua adik dan ibunya mungkin di tangani oleh yang lainnya.


Seno Ajidarma menggeram sangat marah. Dendamnya kembali mencuat keluar. Hampir saja dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Wajahnya sudah memerah. Begitu juga dengan matanya.


Jelas, sekarang pemuda itu sedang menahan amarah yang sangat besar.


"Mbah, aku ingin meminta bantuan kepada Mbah. Kalau Mbah bisa menyanggupi permintaanku, aku sangat berterimakasih sekali. Tapi kalau tidak, tidak menjadi soal,"


"Permintaan apa dulu Den?" tanya Mbah Ali belum mengerti.

__ADS_1


"Aku minta tolong supaya Mbah jaga dan rawat rumah serta semua bisnis Ayahku," kata Seno Ajidarma langsung ke permintaan intinya.


"Tapi Den, bisnis keluarga Dharma itu sangat banyak. Mbah takut Aden tidak percaya," jawab Mbah Ali ragu-ragu.


"Mbah jangan khawatir, aku percaya," tukas Seno sambil menepuk pundak kakek tua itu.


Mbah Ali sebenarnya ingin menolak permintaan Seno Ajidarma. Apalagi di usianya yang sudah setua sekarang. Tentu dia tidak akan sanggup untuk mengurus rumah dan semua bisnis yang ditinggalkan oleh Tuan Agung Dharma.


Namun setelah mengingat semua kebaikan itu kepadanya, maka mau tidak mau Mbah Ali harus menerima permintaan Seno Ajidarma.


"Baiklah Den. Mbah akan berusaha sebisa mungkin,"


"Terimakasih mba. Kebaikan ini takkan aku lupakan,"


Mbah Ali mengangguk sambil tersenyum. Keduanya meminum kopi yang sudah mulai dingin.


Suasana mendadak hening. Seno Ajidarma tidak tahu harus dari mana dia memulainya. Namun hatinya sudah bertekad untuk membalas dendam atas kematian keluarga dan gurunya.


Sebab kalau tidak begitu, mungkin arwah mereka belum merasa tenang di alam baka.


"Apa yang akan Aden lakukan sekarang?" tanya Mbah Ali memecah kesunyian.


"Aku sudah bertekad untuk membalas dendam Mba. Hanya saja, aku bingung dari mana memulainya,"


Mbah Ali tersenyum. Dia sempat berada di posisi Seno Ajidarma waktu pertama kali berniat untuk terjun ke dunia persilatan. Sehingga saat pemuda itu berkata demikian, dia sudah tahu apa yang harus dikatakan.


"Aden harus mencari orang-orang yang bersangkutan dengan peristiwa ini. Cari juga sahabat Aden yang mungkin seorang pendekar, kalau memang ada. Minta bantuan kepada mereka untuk menyelidiki semuanya agar jelas. Supaya Aden mendapatkan informasi, baik tentang dunia persilatan ataupun sebagainya, Aden tinggal cari saja kedai yang ramai. Niscaya Aden akan mendapat apa yang diinginkan," kata Mbah Ali memberikan saran.


Seno Ajidarma tersenyum gembira. Akhirnya sekarang dia tahu apa yang harus dilakukan. Setelah mendapat saran dari Mbah Ali, sedikit banyak pemuda itu sudah mendapatkan gambaran apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


"Baik Mba. Terimakasih, malam nanti aku akan memulai pengembaraan,"

__ADS_1


"Baik, Mbah akan selalu mendoakanmu Den. Pesan Mbah, Aden harus selalu waspada. Sebab orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan itu kebanyakan mereka yang licik. Selalu mementingkan diri sendiri, tidak memikirkan orang lain. Aden harus bisa membedakan jenis-jenis orang seperti ini. Mana yang harus dijadikan sahabat, mana yang tidak. Tindak tandukmu akan mendapatkan balasan yang setimpal. Karena itu, berbuat baiklah walau di manapun Aden berada. Kalau Aden ingin dianggap manusia, maka Aden harus memanusiakan manusia,"


"Terimakasih Mba.. Aku pasti akan mengingat semua wejangan Mbah," ujar Seno Ajidarma penuh rasa terimakasih.


__ADS_2