
Mavra tiba di kampus bertepatan dengan kedatangan Ramona. Gadis itu tersenyum tipis melihat Ramona berdandan cukup terbuka. Bahkan dadanya yang seukuran 36 B itu tampak menonjol hampir meletus. Mavra yakin itu bukan asli alias sudah dirombak oleh si empunya.
"Perasaan 2 tahun yang lalu tidak sebesar ini," gumam Mavra. Dia cukup merasa geli dan jijik melihat perempuan berbadan kurus tapi ukuran payu*daranya tidak normal.
Mavra sengaja berjalan di depan Ramona. Dia ingin lihat seberapa berani wanita itu menegurnya. Dan benar saja, baru beberapa langkah Mavra berjalan di depan Ramona, wanita itu berjalan setengah berlari ke arahnya.
"Tunggu! Hei, aku sepertinya mengenalmu."
Mavra menghentikan langkahnya saat bahunya terasa disentuh dari belakang. Mavra menoleh dan memasang wajah pura-pura.
"Apa aku mengenalmu?"
"Ya, kita pernah bertemu. Kau pernah di kampus UCLA 'kan?"
"Hmm ya, aku hampir menjadi mahasiswi di sana, tapi aku tidak ingat pernah melihatmu," ujar Mavra tak acuh.
"Tapi aku mengingatmu. Kau ada di depan kelasku waktu itu. Ehm, apa kau kenal Enrique."
"Entahlah. Di kelasku ada lebih dari 2 orang yang bernama Enrique. Mungkin orang yang kau maksud salah satu diantaranya."
__ADS_1
Mavra benar-benar memerankan aktingnya dengan baik. Ramona mendengus menghadapi sikap bodoh Mavra.
"Maksudku Enrique Al Fares. Kau pasti kenal kan?"
"Oh, kau mencari kekasihku? Ada perlu apa kau mencarinya?"
"Aku ada urusan dengannya. Bisakah kau mempertemukan aku dengannya?"
Mavra tertawa mendengar kalimat tanya yang baru saja dilontarkan oleh Ramona. Entah wanita ini benar-benar bodoh atau hanya pura-pura saja.
"Apa ada yang lucu?" Ramona mulai terlihat kesal karena sikap Mavra.
"Ya, kau sangat lucu menurutku."
"Tidak sopan dari sisi mananya? Sebelum kau mengataiku, bukankah sebaiknya kau berkaca? Kau mencari pria yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih. Apa kau tidak tahu malu?"
"Aku memiliki urusan dengan Enrique dan tidak ada hubungannya denganmu. Jadi apa urusannya denganmu?"
"Oh, jika begitu cari sendiri dimana kekasihku berada. Aku akan katakan padanya, ada wanita gila yang mencarinya."
__ADS_1
"K_kau!" tangan Ramona terangkat dan hampir menampar wajah Mavra. Namun, ada tangan besar yang menghalanginya. Mavra melirik siapa yang membantunya, dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat melihat kehadiran orang ini.
"Siapa kau? Jangan kasar pada temanku."
Cih, dasar sampah. Sok jadi pahlawan, padahal jelas-jelas kalian adalah sekutu. Menyebalkan sekali.
Mavra melipat kedua tangannya di dada. Dia menatap remeh ke arah Rocco si pahlawan kemalaman.
"Seharusnya aku yang bertanya. Siapa kau? Jangan ikut campur urusanku dengannya," ujar Ramona kesal. Meski ucapannya terdengar kesal, tapi sayangnya matanya tidak bisa membohongi Mavra.
Ramona ini tipe wanita yang ceroboh dan bod*h menurut Mavra. Dia tidak mengukur dulu siapa lawannya dan asal saja. Tanpa menyadari jika dirinya sudah salah lawan.
Merasa muak dengan drama antara Rocco dan Ramona, Mavra melenggang pergi meninggalkan keduanya tanpa berkata apa-apa.
Ramona seketika merasa marah. Dia menggeram dan memukul lengan Rocco.
"Siapa yang menyuruhmu menjadi pahlawan kesiangan?" Ramona berbicara sembari mengatupkan bibirnya. Dia khawatir Mavra akan mendengar pembicaraan nya dengan Rocco.
"Kau hampir melukainya tadi. Kau harus ingat batasanmu dan perjanjian kita. Aku sudah katakan jangan sampai kau melukai gadisku."
__ADS_1
"Cih, belum tentu dia mau denganmu."
...----------------...