Pride and Prejudice

Pride and Prejudice
Episode 16


__ADS_3

Bab 16



Mr. Collins merasa enggan untuk meninggalkan Mr. dan Mrs. Bennet demi menghadiri undangan Mr. Philips, tapi keengganan itu ditolak. Tidak ada yang keberat- an dengan undangan Mrs. Philips Mr. Collins kepada para keponakannya. Kereta pun membawa Mr. Collins bersama kelima sepupunya pada waktu yang telah dijanjikan menuju Meryton. Ketika memasuki ruang menggambar, gadis-gadis Bennet senang mendengar bahwa Mr. Wickham telah mene- rima undangan paman mereka, dan saat ini sedang berada di



dalam rumah itu.



Setelah informasi ini diberikan, dan semua orang duduk di kursi mereka masing-masing, Mr. Collins memperhatikan dan mengagumi keadaan di sekelilingnya. Dia sangat terpesona pada ukuran ruangan dan keindahan perabot di sana, sehingga dia menyatakan bahwa dirinya nyaris merasa seperti sedang berada di ruang sarapan musim panas di Rosings. Mula-mula, tidak banyak yang menyambut hangat perbandingan ini, tapi ketika Mrs. Philips memahami apa sesungguhnya Rosings dan siapa pemiliknya"ketika dia mendengarkan penjelasan mengenai salah satu ruang menggambar Lady Catherine dan mengetahui bahwa rak perapiannya saja bernilai delapan ratus pound"dia serta-merta menolak perbandingan tersebut dan lebih senang jika ruang menggambarnya disamakan dengan kamar pelayan.



Dengan menggambarkan segala keagungan Lady Cathe- rine dan kediamannya, dan sesekali merendahkan diri dengan menyebut rumah sederhananya dan perbaikan-perbaikan yang telah dilakukannya, Mr. Collins menikmati malam itu hingga para pria bergabung dengan mereka. Dia mendapati bahwa Mrs. Philips adalah seorang pendengar yang penuh perhatian, yang pendapatnya terhadap Mr. Collins membaik seiring apa yang didengarnya, dan yang bertekad untuk sesegera mungkin menyampaikan semua perkataan Mr. Collins kepada para te- tangganya. Bagi gadis-gadis Bennet, yang tidak sanggup men- dengarkan ocehan sepupu mereka, dan yang tidak memiliki



kegiatan lain kecuali mengkhayalkan keberadaan alat musik dan mengamati bayangan mereka di hiasan-hiasan porselen yang tertata di rak, penantian itu terasa sangat lama.



Hingga akhirnya, waktu yang mereka nantikan pun tiba. Para pria datang, dan ketika Mr. Wickham memasuki ruangan, Elizabeth merasa seolah-olah dirinya belum pernah melihat atau memikirkan pria itu tanpa kekaguman yang ti- dak beralasan. Para prajurit dari "shire secara umum sangat rupawan dan berpenampilan jantan, dan orang-orang terbaik hadir dalam pesta itu. Namun, Mr. Wickham tampak jauh melampaui mereka dalam hal kepribadian, paras, perangai, dan cara berjalan ketika mereka memasuki ruangan bersama Paman Philips, yang berwajah lebar, berbadan gempal, dan menghirup segelas anggur.



Mr. Wickham adalah seorang pria yang menyenangkan, dan mata hampir semua wanita seketika tertuju kepadanya. Elizabeth pun bahagia ketika akhirnya pria itu duduk di sampingnya. Sikap hangat Mr. Wickham dalam membuka pembicaraan, meskipun hanya tentang hujan yang turun di malam hari, membuat Elizabeth merasa bahwa percakapan terumum dan terdangkal, dengan topik terbiasa sekalipun, akan menjadi menarik jika pembicaranya ahli.



Dengan saingan semencolok Mr. Wickham dan para pra- jurit, Mr. Collins seolah-olah tenggelam hingga tidak terlihat lagi. Bagi para gadis, Mr. Collins jelas tidak berarti apa-apa, tapi Mrs. Philips masih mendengarkan dan mencermati ceri- tanya dan senantiasa membanjirinya dengan kopi dan muffin .



Ketika meja kartu digelar, Mr. Collins tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menemani Mrs. Philips bermain whist.



"Saya tidak tahu banyak tentang permainan ini saat ini," katanya, "tapi, saya akan dengan senang hati mempelajarinya, karena dalam kehidupan saya"" Mrs. Philips sangat senang mendengarkan sanjungannya, tapi tidak tahan mendengarkan alasannya.



Mr. Wickham tidak ikut bermain whist, dan dengan keceriaan, dia diterima di meja lain oleh Elizabeth dan Lydia. Pada awalnya, sepertinya ada bahaya Mr. Wickham akan sepenuhnya tenggelam dalam obrolan bersama Lydia, karena gadis itu tak henti-hentinya bicara. Namun, karena Lydia juga penggemar berat lotere, tak lama kemudian dia telah asyik bermain, berapi-api dalam membuat taruhan dan memburu hadiah untuk menarik perhatian orang-orang tertentu. Mr. Wickham pun dengan senang hati berbicara kepada Elizabeth, dan Elizabeth dengan sangat senang hati mendengarkannya, meskipun dia tidak bisa mengatakan apa yang sesungguhnya ingin didengarnya, yaitu riwayat perkenalan Mr. Wickham dan Mr. Darcy. Dia bahkan tidak berani menyebut nama Darcy. Namun, secara tak terduga, rasa penasarannya terja- wab. Mr. Wickham sendirilah yang mengungkit-ungkit topik itu. Dia bertanya tentang seberapa jauh jarak antara Nether- field dan Meryton; dan, setelah mendapatkan jawaban dari Elizabeth, dia bertanya dengan ragu-ragu tentang seberapa lama Mr. Darcy telah tinggal di sana.



"Sekitar sebulan," kata Elizabeth; kemudian, agar topik



ini tidak berakhir, dia cepat-cepat menambahkan, "Setahuku Mr. Darcy memiliki kekayaan besar di Derbyshire."



"Ya," jawab Mr. Wickham, "tanah yang dimilikinya sangat luas. Penghasilan bersihnya sepuluh ribu per tahun. Kau tidak akan bertemu dengan orang yang lebih tahu tentang informasi ini daripada aku, karena aku telah mengenal dekat keluarganya sejak masih bayi."



Elizabeth tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.



"Kau pantas terkejut, Miss Bennet, mendengar perkata- anku ini, setelah melihat sendiri begitu dinginnya pertemuan kami kemarin. Apakah kau mengenal baik Mr. Darcy?"



"Sebaik yang mungkin terjadi," seru Elizabeth dengan sangat hangat. "Aku menghabiskan empat hari di bawah atap yang sama dengannya, dan menurutku dia sangat menjeng- kelkan."



"Aku tidak berhak mengutarakan pendapatku," kata Wickham, "tentang apakah dia orang yang menyenangkan



ataupun sebaliknya. Bukan aku yang berhak menentukan hal itu. Aku telah terlalu lama dan terlalu baik mengenalnya untuk memberikan penilaian akan pribadinya. Mustahil bagi- ku untuk bersikap adil. Tapi, aku memercayai pendapatmu mengenai dirinya"dan mungkin kau tidak akan mengung- kapkannya dengan seterus terang itu di tempat lain. Di sini, kau berada di lingkungan keluargamu."



"Astaga, aku akan mengatakan hal yang sama di rumah



siapa pun di lingkungan ini, kecuali di Netherfield. Tidak ada seorang pun di Hertfordshire yang menyukainya. Semua orang jijik melihat keangkuhannya. Kau tidak akan mendengar siapa pun memuji-mujinya."



"Aku tidak bisa berpura-pura menyesalkan," kata Wick- ham setelah terdiam sejenak, "bahwa dia ataupun orang lain tidak seharusnya dinilai di luar wilayah mereka; tetapi menge- nai dirinya, aku yakin hal semacam ini jarang terjadi. Dunia dibutakan oleh kekayaan dan kekuasaannya, atau ketakutan melihat sikap agung dan berwibawanya, dan memandangnya seperti yang diinginkannya."



"Aku menganggapnya sebagai seorang pria pemarah, bahkan meskipun baru mengenalnya dalam waktu singkat."



Wickham hanya menggeleng.



"Aku ingin tahu," kata Wickham saat mendapatkan gi- liran berbicara, "sampai kapan dia akan tinggal di sini."



"Aku sama sekali tidak tahu, tapi saat berada di Nether- field, aku tidak pernah mendengar kabar bahwa dia akan pergi.



Kuharap rencana-rencanamu yang berkaitan dengan "shire tidak terpengaruh oleh keberadaannya di sini."



"Oh, tidak! Aku tidak akan gentar gara-gara Mr. Darcy. Jika dia hendak menghindari-ku, silakan saja. Kami memang tidak akrab, dan bertemu dengannya selalu menyesakkanku, tapi aku tidak punya alasan untuk menghindari-nya, meskipun aku tidak ingin mengumumkan pada dunia tentang betapa buruknya sifatnya dan kekecewaanku karena perangainya.



Ayahnya, Miss Bennet, almarhum Mr. Darcy, adalah salah seorang pria terbaik yang pernah bernapas di dunia ini, dan sahabat paling sejati yang pernah kumiliki. Aku tidak akan ber- teman dengan Mr. Darcy yang ini tanpa seribu kenangan akan jiwa mulia ayahnya. Mr. Darcy memperlakukanku dengan jahat, tapi aku yakin bahwa aku lebih baik memaafkannya dalam segala hal daripada harus mengecewakan harapan dan menodai kenangan ayahnya."


__ADS_1


Ketertarikan Elizabeth pada topik ini semakin mening- kat, dan dia mendengarkan dengan sepenuh hatinya, tapi kerentanan masalah ini mencegahnya untuk bertanya lebih lanjut.



Mr. Wickham mulai membicarakan topik-topik yang le- bih umum, tentang Meryton, lingkungannya, masyarakatnya, dan tampaknya sangat menyukai semua yang telah dilihatnya. Dia menekankan hal itu dengan nada yang lembut disertai kejujuran yang tegas.



"Prospek untuk hidup di dalam masyarakat yang baik dan seimbanglah," dia menambahkan, "yang menjadi alasan



utamaku memasuki "shire. Aku tahu bahwa pasukan kami adalah yang paling terhormat dan tangguh, dan kawanku Denny berhasil membujukku dengan gambarannya tentang pangkalan kami saat ini, juga teman-teman hebat dan per- hatian besar yang diberikan oleh Meryton. Masyarakat, menu- rutku, adalah sesuatu yang sangat penting. Aku pernah men- jadi seseorang yang dikecewakan, dan jiwaku tidak sanggup berada di tengah keheningan. Aku harus memiliki pekerjaan



dan hidup di tengah masyarakat. Kehidupan militer bukanlah yang kuinginkan, tapi situasi membuatku menjalaninya. Cita- citaku adalah bekerja untuk gereja"aku dibesarkan dengan kecintaan terhadap gereja, dan saat ini seharusnya aku telah hidup sejahtera, seperti yang dikehendaki oleh pria terhormat yang baru saja kita bicarakan."



"Benarkah?"



"Ya"almarhum Mr. Darcy mewariskan sebagian ke- kayaannya kepadaku. Beliau adalah ayah baptis yang sangat menyayangiku. Aku tidak bisa mengungkapkan kebaikannya dengan kata-kata. Beliau bermaksud membekaliku dengan cukup kekayaan dan mengira telah melakukannya, tapi ketika beliau meninggal, kekayaan itu disalurkan ke tempat lain."



"Astaga!" seru Elizabeth, "tapi, bagaimana mungkin itu terjadi? Bagaimana mungkin wasiat beliau dilanggar? Mengapa kau tidak meminta bantuan hukum?"



"Wasiat itu disampaikan tanpa formalitas sehingga aku tidak memiliki harapan di jalur hukum. Seorang pria ter- hormat tidak akan meragukan kejujuranku, tapi Mr. Darcy



memilih untuk meragukanku"atau menganggap janji itu sebagai perkataan tanpa arti, dan meyakini bahwa aku telah lalai dan melakukan kesalahan besar"sehingga pada akhirnya, aku tidak mendapatkan apa-apa. Ayah Mr. Darcy meninggal dua tahun silam, tepat ketika aku cukup umur untuk menda- patkan kekayaanku, dan semuanya diberikan kepada orang lain. Padahal, aku yakin diriku tidak melakukan apa pun yang menyebabkanku layak diperlakukan seperti itu. Pembawaanku



memang hangat dan cenderung seenaknya, dan aku mungkin pernah menyampaikan pendapatku mengenai dirinya, dan baginya, aku terlalu lancang. Aku tidak bisa mengingat pe- rilakuku yang lebih buruk. Tetapi, faktanya, kami memang pria yang sangat berbeda, dan dia membenciku."



"Ini mengagetkan sekali! Dia pantas dipermalukan di depan umum."



"Kelak, itu akan terjadi"tapi bukan aku yang akan me- lakukannya. Sampai aku bisa melupakan ayahnya, aku tidak akan bisa menentang atau membeberkan kebusukan-nya."



Elizabeth menghargai perasaan Mr. Wickham, dan menganggapnya lebih tampan ketika dia menunjukkan pe- rasaannya itu.



"Tetapi," katanya setelah terdiam sejenak, "apakah yang menjadi motifnya? Apakah yang memicunya melakukan tin- dakan sekejam itu?"



"Kebencian yang dalam dan menyeluruh kepadaku" kebencian yang, mau tidak mau, kuanggap dipicu oleh kecem- buruan. Seandainya almarhum Mr. Darcy tidak sedalam itu




lihku."



"Aku tidak pernah mengira bahwa Mr. Darcy ternyata sejahat itu"meskipun aku tidak pernah menyukainya. Aku



tidak pernah menganggapnya seburuk itu. Aku mengira dia membenci manusia secara umum, tapi tidak pernah menyang- ka bahwa dia memiliki dendam yang membara seperti itu, sangat tidak adil, sangat tidak manusiawi."



Bagaimanapun, setelah beberapa menit merenung, Eli- zabeth melanjutkan, "Tapi, aku ingat ketika pada suatu hari di Netherfield, dia membanggakan tentang ketidakmampuan- nya menyembunyikan kebencian, tentang sifat pemarahnya. Perangainya pasti mengerikan."



"Aku tidak akan menyampaikan pendapatku tentang itu," jawab Wickham, "karena aku tidak akan pernah bisa memandangnya dengan adil."



Sekali lagi, Elizabeth tenggelam dalam pikirannya, dan beberapa saat kemudian, dia berseru, "Memperlakukan se- orang anak baptis dengan cara seburuk itu, temannya sendiri, anak kesayangan ayahnya!" Elizabeth bisa saja menambahkan, "Seorang pemuda sepertimu pula, dengan wajah yang men- cerminkan kebaikan hati""tapi dia memuaskan diri dengan



mengatakan, "dan seseorang yang sudah menemaninya sejak masa kanak-kanak, yang dibesarkan bersama, seperti yang kau katakan, secara setara!"



"Kami dilahirkan di daerah yang sama, bermain di tanah yang sama; kami melewatkan bagian terbesar dari masa muda kami bersama-sama; menghuni rumah yang sama, berbagi hiburan yang sama, menjadi kesayangan orangtua yang sama. Ayah-ku memiliki mata pencaharian yang sepertinya sangat



dihargai oleh pamanmu, Mr. Philips"beliau memasrahkan dirinya kepada almarhum Mr. Darcy dan mengabdikan seluruh waktunya untuk mengurus Pemberley. Beliau adalah orang yang paling dipercaya oleh almarhum Mr. Darcy, teman terakrab tempat seluruh rahasia tercurah. Mr. Darcy sering mengatakan bahwa dirinya berutang budi sangat besar kepada ayahku atas bimbingannya, dan sebelum ayahku mening- gal, Mr. Darcy dengan ikhlas berjanji untuk menanggung kehidupanku. Aku yakin bahwa dia melakukannya karena rasa sayangnya kepadaku, selain sebagai pembayaran utang budinya kepada ayahku."



"Sungguh aneh!" seru Elizabeth. "Sungguh jahat! Mung- kin keangkuhannyalah yang membuatnya memperlakukanmu dengan sekejam itu, atau untuk motif yang lebih tepat. Jika dia tidak terlalu angkuh untuk menipumu, aku akan menyebut hal ini sebagai penipuan."



"Pemikiran yang bagus," jawab Wickham, "karena nyaris semua tindakannya mungkin berakar pada keangkuhan, dan



keangkuhan sering menjadi sahabat terbaiknya. Keangkuh- anlah yang mendekatkannya pada kebaikan, lebih daripada perasaan lainnya. Namun, sikap seseorang tidak bisa ditebak, dan dalam sikapnya kepadaku, terdapat dorongan yang lebih kuat daripada keangkuhan."



"Adakah kebaikan yang mungkin timbul dari keangkuh-



an sebesar itu?"

__ADS_1



"Ya. Sifat itu sering kali memicu munculnya sifat pe-



murah dan baik hati, mendorongnya membagi-bagikan uang, memamerkan kedermawanan, menolong para penyewa tanah, dan mengasihani kaum miskin. Kesombongan akan keluarga- nya, dan kesombongan seorang anak"karena dia membang- gakan ayahnya"menjadi pemicu semua itu. Agar tidak merendahkan keluarganya, agar masyarakat menyukainya, karena dia tidak ingin Pemberley House kehilangan penga- ruh. Itu adalah motif yang kuat. Ada pula kesombongannya sebagai seorang kakak, yang menjadikannya kakak dan wali terbaik bagi adiknya, dan kau akan sering mendengar betapa dia membanggakan dirinya sebagai kakak yang paling baik dan penyayang."



"Gadis semacam apakah Miss Darcy?"



Mr. Wickham menggeleng. "Seandainya aku bisa me- nyebutnya ramah. Hatiku terasa sakit saat aku harus membi- carakan tentang keburukan keluarga Darcy. Namun, gadis itu setali tiga uang dengan kakaknya"teramat angkuh. Sebagai seorang bocah, dia penyayang dan menyenangkan, dan dia sangat menyukaiku; dan aku telah mengabdikan berjam-jam



dalam sehari untuk menghiburnya. Tetapi, dia tidak berarti apa-apa bagiku sekarang. Dia gadis yang cantik, berumur se- kitar lima belas atau enam belas tahun dan, setahuku, sangat berbakat. Sejak kematian ayahnya, dia tinggal di London bersama seorang pengasuh yang menemani dan memantau pendidikannya."



Setelah berkali-kali terdiam dan mencoba membicarakan



topik lain, Elizabeth tidak tahan lagi untuk kembali ke topik



pertama mereka dan mengatakan:



"Aku heran melihat keakrabannya dengan Mr. Bingley! Bagaimana bisa Mr. Bingley, yang sepertinya sangat baik dan, aku yakin, benar-benar ramah, berteman dengan pria sema- cam itu? Bagaimana mereka bisa saling melengkapi? Apa kau mengenal Mr. Bingley?"



"Sama sekali tidak."



"Dia pria yang baik hati, ramah, dan menawan. Seperti- nya dia tidak tahu seperti apa Mr. Darcy sesungguhnya."



"Mungkin tidak, tapi Mr. Darcy bisa menjadi seseorang yang menyenangkan jika mau. Sering kali dia tidak mengi- nginkannya. Dia bisa menjadi lawan bicara yang menarik jika pembicaraan itu berarti baginya. Di mata teman-temannya, dia adalah pria yang sangat berbeda. Keangkuhannya tetap melekat, tapi di lingkup pergaulan kelas atas, dia berpikiran bebas, adil, tulus, masuk akal, terhormat, dan mungkin me- nyenangkan"tergantung pada kekayaan dan penampilan."



Setelah permainan whist berakhir, para pemainnya ber-



kumpul mengelilingi meja lain, dan Mr. Collins menempat- kan diri di antara sepupunya Elizabeth dan Mrs. Philips. Mrs. Philips menanyakan apakah Mr. Collins menang dalam permainan itu. Itu tidak berjalan dengan baik; Mr. Collins kalah telak dalam permainan tersebut. Ketika Mrs. Philips mulai menyampaikan penyesalannya, Mr. Collins meyakin- kannya dengan ketulusan mendalam bahwa semua itu tidak penting, bahwa dia menganggap uang taruhannya sebagai



sesuatu yang sepele, dan memohon agar Mrs. Philips tidak merisaukannya.



"Saya tahu betul, Madam," katanya, "bahwa ketika sekelompok orang duduk mengelilingi meja kartu, mereka harus menyadari setiap kemungkinan yang akan terjadi, dan dengan senang hati, saya tidak akan mempermasalahkan lima shilling saya yang telah melayang. Ada banyak orang yang mungkin tidak akan sependapat dengan saya, tapi berkat Lady Catherine de Bourgh, saya tidak perlu lagi merisaukan masalah-masalah sepele."



Mr. Wickham tiba-tiba tertarik mendengarkan perca- kapan mereka, dan setelah mengamati Mr. Collins selama beberapa waktu, dengan suara lirih dia menanyakan kepada Elizabeth tentang kedekatan hubungannya dengan keluarga de Bourgh.



"Lady Catherine de Bourgh," jawab Elizabeth, "baru- baru ini memberinya pekerjaan. Aku tidak tahu bagaimana Mr. Collins berkenalan dengannya, tapi yang jelas, mereka belum lama saling mengenal."



"Tentunya kau tahu bahwa Lady Catherine de Bourgh dan Lady Anne Darcy bersaudara; yang artinya, beliau adalah bibi dari Mr. Darcy yang baru saja kita bicarakan."



"Tidak, sungguh, aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa-apa tentang keluarga Lady Catherine. Aku tidak pernah men- dengar tentang dirinya sebelum kemarin lusa."



"Putrinya, Miss de Bourgh, akan mendapatkan kekayaan yang sangat besar, dan semua orang yakin bahwa dia dan



sepupunya akan menikah untuk menyatukan kedua tanah mereka."



Elizabeth tersenyum saat mendengar informasi ini, terlebih ketika dia memikirkan nasib malang Miss Bingley. Sia-sia saja semua perhatiannya, sia-sia dan tidak berguna seluruh kasih sayangnya kepada adik Darcy dan pujiannya terhadap Darcy, jika memang pria itu sudah dijodohkan de- ngan gadis lain.



"Mr. Collins," kata Elizabeth, "sangat memuja Lady Catherine dan putrinya. Tapi, mengenai beberapa hal yang disebutkannya tentang beliau, kurasa utang budinya memper- dayainya, dan meskipun beliau menjadi patron Mr. Collins, sesungguhnya Lady Catherine adalah seorang wanita yang congkak dan arogan."



"Aku percaya dia memang seperti itu," jawab Wickham. "Aku sudah bertahun-tahun tidak melihat beliau, tapi aku ingat betul bahwa aku tidak pernah menyukainya. Dia sangat kasar dan diktator. Dia dikenal sebagai seorang wanita yang luar biasa pintar dan cerdas, tapi mau tidak mau aku percaya



bahwa dia mendapatkan sebagian kemampuannya dari status dan kekayaannya. Sebagian lagi dari sikap otoriternya. Seba- gian lainnya dari kesombongannya akan keponakannya, yang hanya mau berteman dengan orang-orang yang mempunyai pemahaman akan kehidupan kelas atas."



Elizabeth yakin bahwa Mr. Wickham telah berbicara masuk akal mengenai hal tersebut, dan mereka melanjutkan obrolan yang memuaskan itu hingga waktu pesta kudapan



mengakhiri waktu bermain kartu. Itu mendatangkan kesem- patan bagi para gadis lainnya untuk merebut perhatian Mr. Wickham. Tidak ada percakapan yang mungkin terdengar di tengah kebisingan pesta kudapan Mrs. Philips, tapi sikap hangat Mr. Wickham menyenangkan hati semua orang. Apa pun perkataannya, dia mengucapkannya dengan baik, dan apa pun perilakunya, dia melakukannya dengan anggun. Elizabeth meninggalkan pesta itu dengan kepala dipenuhi sosoknya. Dalam perjalanan pulang, Elizabeth tidak bisa memikirkan apa pun, kecuali Mr. Wickham dan semua yang telah dikatakannya. Namun, tidak sekali pun dia bisa menyebutkan nama pria itu karena baik Lydia maupun Mr. Collins sama-sama tidak bisa berhenti bicara.



Lydia berceloteh tanpa akhir tentang tiket lotere, tentang kekalahan dan kemenangannya. Mr. Collins menguraikan kebaikan Mr. dan Mrs. Philips, menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak menyesali kekalahannya dalam permainan whist. Dia menyanjung-nyanjung semua hidangan yang di- sajikan, berkali-kali mengkhawatirkan sepupu-sepupunya



yang terpaksa harus duduk berjejalan gara-gara dirinya, dan masih berbicara panjang lebar ketika kereta mereka tiba di Longbourn House.

__ADS_1




__ADS_2