Prince Of Curse (Pangeran Kutukan)

Prince Of Curse (Pangeran Kutukan)
Episode 21 : Ada Apa?


__ADS_3

#Guys... Episode ini menceritakan masih di hari yang sama dengan episode sebelumnya ya😘 Kalau kalian lupa alurnya, boleh di baca sedikit bagian akhir episode sebelumnya ❤️ Happy reading...😍


...---------------------------------...


"Apa yang anda lakukan? Kenapa anda melakukan hal biadap ini pada kami?!" Hana memekik sambil menghindarkan wajahnya dari jemari kotor Pak Danur.


Pak Danur tersenyum miring, sorot matanya yang amat sangat menjijikan itu membuat Hana semakin jengah. "Biadab? Ini bukan biadab, melainkan seni. Seni yang menghasilkan uang dan menyenangkan."


"Seni..? Apa yang anda lakukan bahkan lebih menjijikan dari hewan!"


Pak Danur tak menanggapi umpatan Hana, ia malah merasa semakin tertantang untuk bisa segera mencicipi keiindahan gadis itu. Hal yang paling menyenangkan dari gadis polos, adalah ketika mereka berubah menjadi pemberontak. Sangat manis dan mengagumkan.


Tanpa berlama-lama Pak Danur membuka borgol besi yang mengurung kedua pergelangan tangan Hana. Jejak merah melingkar disana, desis halus pun terdengar saat Hana merasakan perih yang amat hebat di bekas borgol itu.


"Mari bermain sebentar, gadis manis... Setelah itu aku akan membawamu ke suatu tempat yang sangat indah." Pria berwatak setan itu mulai membuka kerah bajunya.


Namun siapa sangka, dengan sisa tenaga yang ada Hana malah menghantam wajah pria itu dengan ujung borgol. Akibatnya tulang pipi Pak Danur berdarah, dan ia merintih kesakitan. Rasa sakit yang menjalar sampai ke mata.


Selagi Pak Danur meringkih kesakitan, Hana cepat-cepat membuka tali yang mengikat kakinya. Lalu ia berlari tanpa arah, yang pasti meninggalkan ruangan gelap dan kotor itu.


Sangat sulit menemukan jalan keluar, seluruh lorong yang ada sangat gelap. Dalam kondisi itu Hana hampir putus asa, ia bahkan berhenti sejenak untuk mencari cara. Kemudian pandangannya tertuju pada sebuah saluran udara yang cukup besar. Di lihat dari desainnya, kemungkinan ruangan itu adalah ruang bawah tanah.


Hana menoleh ke sekitar mencari peratalan. Ia menemukan kunci inggris di salah satu sudut yang cukup berantakan.


"HANA....!!" pekik pak Danur dari kejauhan, berlari sembari menahan rasa sakit di wajahnya.


Ia pun bergegas mencungkil penutup saluran udara itu. Rongga sempit yang pas-pasan di tubuhnya, Hana tak punya pilihan lain selain melewati jalan itu. Pak Danur memang membangun ruangan itu sedemikian rupa, agar tidak mudah bagi para korban untuk melarikan diri.


.


.


"Dan apabila...tak bersamamu...kupastikan.. ASTAGA...!"


Bara yang sedang karaokean solo di mobilnya terpaksa ngerem mendadak saat melihat sosok wanita, muncul dari salah satu saluran yang ada di aspal.


Tak lain dan tak bukan wanita itu adalah Hana yang berusaha melarikan diri.


Bara sempat terpejam karena mengira itu kuntilanak, di lihat dari pakaian dan rambut yang acak-acakan. Namun setelah di perhatikan lagi, sepertinya ia mengenal wanita itu.

__ADS_1


Sedikit ragu, Bara pun turun dari mobil untuk memastikan. "Hana...?"


Gadis itu tak menjawab, ia terduduk lemas dengan pandangan kabur. Tubuhnya kelelahan dan dehidrasi. Setelah merangkak dari saluran udara, ia sempat berjalan selama satu jam melewati saluran air bawah tanah. Kini tenaganya benar-benar tak tersisa. Ia sangat kelelahan.


"Hana... Kau baik-baik saja? Hana..?" Bara menepuk-nepuk pipi gadis itu, namun tak ada respon. Kelopak mata Hana perlahan terjepam, ia benar-benar hilang kesadaran.


"Apa yang terjadi dengannya?" gumam Bara bermonolog. Ia mengangkat tubuh Hana untuk membawanya ke rumah sakit.


Saat berdiri menuju mobil, dengan posisi menggendong Hana. Lampu mobil menyorot ke arah mereka. Mobil tersebut berhenti di jarak 5 meter. Kemudian Dea, Pangeran, serta Vaness turun dengan wajah ternganga.


Dea yang masih berada di tubuh pangeran mendekat dengan wajah syok tak percaya.


"Bara.., bukankah itu Hana?"


"Benar, ini Hana." sahut Bara tanpa sadar, bahwa dirinya sedang di curigai. Ia malah terheran kenapa Pangeran bersikap seperti itu.


"Apa...yang kau lakukan?" Dea semakin membidik Bara dengan tatapan penuh curiga.


"Apa..??" Bara tersadar, alih-alih menanyakan keadaan Hana, Pangeran malah mempertanyakan perlakuannya. Fiks ia menjadi tersangka utama disana.


"Apa kau yang menculik Hana? Apa yang kau lakukan di sini?" imbuh Vaness tak kalah syok. Terlebih melihat kondisi Hana yang sangat kacau. Bekas luka di pergelangan tangan serta kaki Hana yang di penuhi luka, membuat Dea dan Vaness berpikir yang bukan-bukan.


"Dengar, aku menemukan Hana keluar dari lubang ini." Bara menunjuk lubang saluran air dengan kakinya. "Kemudian dia pingsan."


"Dia keluar dari sana, dan kebetulan kau lewat?" imbuh Dea yang semakin menatap penuh tanya.


"Kebetulan katamu?" sambar Vaness membelalak.


"Memang kebetulan, seperti kalian yang kebetulan melihatku disini, lalu mencurigaiku. Dea, sebaiknya kau katakan pada supirmu ini untuk tidak berpikiran kotor!"


Pangeran yang berada di tubuh Dea hanya bisa menatap datar, menelaah apa yang sedang terjadi.


"Sebaiknya kita membawa Hana ke rumah sakit dulu, kita bisa menanyakan kebenarannya nanti." ucap pangeran menengahi, ia bisa merasakan bahwa Bara berkata yang sesungguhnya.


Hanya saja situasi saat ini memang memojokkan Bara. Bagaimana tidak, Hana menghilang setelah ia antar pulang. Dan kini Hana di temukan dalam keadaan tidak sadar, bersama Bara pula.


.


.

__ADS_1


Di tempatnya, Pak Danur mengerahkan semua antek-antek untuk mencari Hana. Mereka bahkan menelusuri saluran air bawah tanah, untuk mencari jejak Hana. Beruntung Hana berlari sangat cepat tadi, jika terlambat sedikit saja, ia bisa tertangkap lagi.


"Temukan dia dalam keadaan mati sekalipun..!" amuk Pak Danur dengan wajah memerah.


Jika Hana sampai membuka mulut pada orang lain, maka riwayat mereka bisa tamat.


.


.


Di Rumah Sakit....


Hana masih berada di ruang gawat darurat. Bara dan yang lainnya duduk menunggu dengan wajah cemas. Melihat dari durasi Hana di dalam ruang UGD, tampaknya kondisi Hana lumayan parah.


"Sebaiknya kita rahasiakan ini sampai kondisi Hana membaik." usul Bara sambil memangku wajah pada ujung kepalan tangan.


"Kau takut perbuatanmu terbongkar?" celetuk Dea masih menaruh curiga.


Bara membuka matanya, menatap pangeran dengan wajah kesal. "Dea, kau tidak mengajarkan sopan santun pada supirmu?"


"Diamlah.." rutuk pangeran kepada Dea, yang sedang bersemayam di tubuhnya.


"Mungkin saja seseorang sedang memburu Hana saat ini, dan merahasiakan keberadaannya adalah hal penting. Jika Hana sudah sadar, kita bisa bertanya apa yang sebenarnya terjadi."


"Aku setuju, mengingat dia keluar dari saluran bawah tanah, pasti ia tengah di kejar-kejar. Dia tidak menggunakan alas kaki, dan pingsan setelah naik ke jalan. Pastilah ia sedang melarikan diri. Beruntung kau melihatnya." timpal pangeran membuat Bara mengangguk kecil.


"Kau memang pintar." Bara tersenyum kecil, ia bangga karena menganggap Dea memahami isi kepalanya. Ia bahkan mengusap kecil bahu Dea.


Pangeran yang merasa risih lantas menepis kasar tangan Bara. "Menjauhlah..." sungutnya sinis.


"Jangan-jangan benar rumor yang beredar, bahwa kasus penculikan beberapa tahun kebelakang, biang nya satu komplotan?" Di saat yang lain tengah sibuk menerka-nerka, Vaness malah ketakutan dengan imajenasi di otaknya.


"Apa jangan-jangan Hana hendak di mutilasi, atau di ambil organnya..?" timpal Dea semakin memperkeruh suasana.


"iii.... takut..." ucap Dea dan Vaness bersamaan.


"Diamlah..!" tepis Bara dan pangeran bersamaan pula.


...*************...

__ADS_1


Bagaimana episode kali ini? Jangan lupa like, komen dan vote ya❤️ Satu jejak dari kalian itu sangat berarti buat otor.❤️


__ADS_2