
**Hallo, baru pertama kali nih nulis disini. nggak tau gimana respon kalian. moga suka.
so,
HAPPY READING GUYS**
*****
Daila tak henti-hentinya meneguk ludah nya kasar sejak beberapa detik yang lalu. Ia merasa gugup sekaligus takut.
Ia tak tau keputusan yang ia ambil ini benar atau tidak, tapi yang jelas ia harus segera melakukan-nya, karena sungguh ini sudah kepalang tanggung.
Ia sudah terlanjur berdiri di depan Pria bermata tajam ini, Dafhin. Dan lagi ia juga sudah terlanjur menjadi pusat perhatian para teman pria ini. Tengsin kan kalau ia harus mundur.
Daila menghembuskan nafas nya beberapa kali, mencoba mencari keberanian yang tiba-tiba lenyap ketika berdiri di hadapan Dafhin. Padahal tadi, ia sendiri yang ber-semangat 45 untuk segera menyatakan cinta-nya pada Dafhin.
"Aku suka Kak Dafhin! Kak Dafhin mau nggak jadi pacar aku?" ucapnya cepat, begitu cepat sampai ia sendiri tak yakin apakah ia mengucapkan-nya dengan benar atau tidak.
Hening..
Tapi setelah nya para teman-teman Dafhin mulai berbisik-bisik.
"Woah, punya nyali juga dia nembak Dafhin."
"Salut gue."
Mungkin kira-kira, kata itulah yang mereka bicarakan.
Daila menundukan kepalanya dalam-dalam, sungguh ia sangat malu. Tapi detik berikutnya ia langsung mengangkat kepala nya lagi saat Dafhin berdehem, mulai berbicara.
"Lo tau kan, gue bisa bunuh orang?" laki-laki itu, Dafhin malah merespon-nya dengan sebuah pertanyaan bernada Dingin, yang Daila sendiri sudah sangat paham dengan pertanyaan Dafhin itu.
Sejenak Daila menghembuskan nafasnya panjang, berharap semoga keputusan yang ia ambil tidak salah.
__ADS_1
"Iya, aku tau." jawab Daila mantap.
Gugup, Daila begitu gugup saat Dafhin malah menyeringai lebar disana. Ini kali pertama ia mengetahui ekspresi lain Dafhin selain Datar dan dingin itu.
Dafhin terus menyeringai lama pada Daila, sebelum kembali Berkata, "Termasuk, bisa bunuh lo?"
Deg..
Daila memejamkan matanya sejenak, ini adalah keputusa nya sejak awal, dan ia tak bisa mundur sekarang, "Aku siap nerima kosekuensinya!"
Hening..
Daila hanya bisa menahan nafas-nya, saat Dafhin tak kunjung menjawab pernyataanya.
"Oke. Kita pacaran."
Huh, seperti orang linglung Daila hanya dapat melongo ditempat. Benarkah ini?
Tapi,
Glekk..
Kesenangan Daila langsung lenyap begitu saja, di gantikan keraguan saat Dafhin lagi-lagi menyeringai lebar di depan mata Kila.
"Jadi,," Dafhin memajukan wajahnya, mendekati wajah Daila.
Glekk..
Daila hendak memundurkan wajahnya, tapi Dafhin lebih dulu menahan kepalanya. Hingga jarak antar wajah keduanya hanya tinggal beberapa senti saja.
",Selamat datang di kehidupan gue," Dafhin tersenyum menyeringai.
"Pacar."
__ADS_1
Bolehkah Daila menyesal sekarang?
*****
**Tbc
.
.
.
.
.
Cerita ini salinan dari cerita di aplikasi sebelah ya. Dunia orange kalo kata penduduk sana mah..
isinya bakal sama persis sama yang disebelah. tapi disini bakal ada sedikit revisi yang typo2 gitu.
oh iya di sana cerita ini udah hampir tamat. kalian bisa baca juga disana.
btw, Author masih awam banget tentang ini. jadi mohon dimaklum ya..
Kalo bisa kalian klik LIKE, klik FAVORIT, dan tinggalin KOMENTAR, lalu beri RATE BINTANG 5, beri VOTE yang banyak, abgi TIP dan follow Author ini ya hehe😁
.
.
.
Kim Taeya**
__ADS_1