Selamat Datang, Halal!

Selamat Datang, Halal!
Mengalah


__ADS_3

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain"


[Al-Hujurat : 12]


---


Orang bilang mengalah bukan berarti kita kalah, karena kadang kita harus mengalah saat kita merasa waras. Dinan sejak tadi hanya diam di dalam kamar. Dia menatap wajah sang istri dengan sendu.


Dini hari tadi Amira masih berbincang dengannya kemudian istrinya pingsan dan mengalami demam. Dia tidak tahu pasti penyebabnya, akan tetapi dia merasa bersalah saat istrinya membutuhkan kehadirannya dia tidak ada.


Dinan membelai lembut wajah sang istri, dia ingat. Tadi, saat Dinan membangunkan sang istri untuk sholat Subuh Amira hanya menatapnya kemudian menangis. Dinan menjadi semakin merasa bersalah, terlebih lagi Amira yang tak mau buka suara sama sekali.


Dinan menoleh ke arah pintu saat dia mendengar pintu dibuka. Dia melihat sang ibu dan adik berdiri tak tenang di depan pintu.


"Kenapa Bun? Masuklah!" Ifa menuntun sang ibu untuk masuk ke dalam kamar. Dinan menatap lekat wajah sang ibu yang juga merasa bersalah.


"Bagaimana keadaannya?" Dinan tersenyum kecil.


"Amira masih betah tidur, dia masih belum mau dibangunkan." Dinan kembali menatap lekat wajah sang istri, rasanya dia ikut sakit saat melihat tubuh lemah tak berdaya itu. Ingin rasanya Dinan menggantikan segala rasa sakit itu dari Amira, karena dia yakin benar wanitanya itu sangat keras menghadapi kehidupan.


"Maafkan Bunda, semalam sebenarnya Bunda melihat hal yang tidak wajar dari Amira tapi Bunda mencoba acuh." Dinan tersenyum.


"Tidak ada yang salah, Bun. Ini memang takdirnya. Bukankah, sakit cara Allah untuk meringankan dosa. Doakan saja Amira sabar menghadapi semua ini." Dinan berkata dengan tenang.


Bunda Dinan kemudian mendekati Amira dan mengelus lembut kepala Amira. "Labaksa thohurun InsyaAllah. Syafakillah." Kemudian beliau mengecup kening sang menantu dengan lembut. .


"Demamnya bagaimana, Mas?" tanya Ifa setelah mengamini doa sang ibu dan dia juga mengucapkan doa yang sama.


"Sudah menurun. Tidak perlu khawatir."


"Perlu kita panggil dokter?" Dinan menoleh kemudian menggelengkan kepalanya. Dia masih memiliki trauma dengan hal yang berhubungan dengan medis. Jangan lagi, cukup yang dulu jangan yang saat ini dia alami.


"Paling tidak kalau dokter kita bisa tahu sakitnya." Dinan menoleh ke arah sang ibu dengan sorot mata sendu.


"Tidak Bun, tidak akan lagi." Dinan mengatakan hal itu dengan tegas.


"Aku tidak akan membiarkan tubuh Amira dimasuki berbagai macam obat yang tidak jelas. Tidak." Dinan kukuh pada pendiriannya. Dia amat mencintai Amira, tapi bukan berarti dia tak rela mengambil risiko. Hanya saja dia tak ingin yang dulu dia alami terulang kembali.


"Mas, ayah dulu memang sudah takdirnya. Jangan pukul rata semua dokter sama." Dinan masih menggelengkan kepalanya.


"Aku akan membuat Amira sembuh dengan caraku, tidak ada obat atau apapun yang masuk ke dalam tubuh Amira kecuali hal yang pasti dibutuhkan." Ifa berdecak kesal, dia tahu benar seperti apa keras kepala Dinan tentang dunia medis.


Ifa menyadari, ini bukan salah Dinan. Dulu, memang dia belum dewasa sehingga bisa dengan mudah menyalahkan keteledoran dan tidak menerima takdir. Akan tetapi saat ini dia sudah dewasa, sungguh disayangkan sikap Dinan tak ada yang berubah.

__ADS_1


"Ya sudah, Bunda harus ke bawah. Kasian Maura mengurus Hasna." Dinan menoleh ke arah sang bunda. Dia mengangguk pelan, kemudian dia meringis saat menyadari sebuah kenyataan.


"Kamu juga, sebaiknya turun. Kasian Maura merasa asing di rumah ini." Ifa mencebik mendengar nada pengusiran dari sang kakak.


"Bilang saja mau berduaan sama Mbak Mira." Ifa mencibir perilaku kekanakan Dinan.


"Itu kamu tahu," komentar Dinan dengan santai.


"Sudah, kamu Dinan jangan kekanakan." Dinan cemberut saat sang ibu justru membela sang adik, sedang Ifa sudah menatap Dinan dengan wajah sombongnya.


"Dan kamu Ifa, jangan suka menggoda Masmu." Dinan tertawa kecil melihat wajah terkejut Ifa.


"Kok jadi Ifa ikutan salah." Ifa tidak terima dengan ucapan sang bunda.


"Kamu memang salah. Sudah, sana ke bawah dan ambilkan Mbakmu bubur, nanti saat bangun dia bisa langsung makan." Ifa menghentakkan kakinya dan meninggalkan kamar lebih dulu.


"Jaga baik-baik istrimu, di sini dia ikut kamu." Dinan mengangguk dengan mantap. Setelah mengantar sang ibu hingga pintu Dinan kembali duduk di sisi tempat tidur kemudian dia meraih Al-Qur'an dan membacanya dengan pelan.


---


Amira merasakan berat di pelupuk matanya, dia telah memerintahkan otaknya untuk membuka mata namun dia tak mampu. Amira masih terus berusaha sampai indra pendengaran yang dia miliki mendengar sayup-sayup lantunan ayat Allah dengan begitu indah dan tartil.


Amira terenyuh, dia yakin benar pemiliki suara indah itu. Ya, itu adalah suara seorang Ardinan Nawwaf, suaminya. Amira mulai membuka matanya dan menyesuaikan dengan cahaya yang cukup cerah dia terima. Amira mencari keberadaan Dinan dan dia bisa melihat Dinan duduk bersandar di atas tempat tidur, tepat di sebelahnya.


"Kamu sudah bangun?" Dinan menutup mushaf yang dia baca dan meletakkan di atas meja.


"Ada apa?" Dinan bertanya sambil beranjak dari duduknya dan mengambil air minum di atas nakas. Dinan dengan telaten membantu Amira bangun dari tidurnya dan menyuap air dari gelas.


"Sudah lebih baik?" tanya Dinan sambil menaruh kembali gelas.


"Sudah," jawab Amira pelan. Dinan dengan cekatan menata bantal untuk bersandar Amira.


Dinan mengambil tangan Amira kemudian menggenggam di tangannya lembut, bisa dirasakan oleh Amira kehangatan yang menjalar hingga tubuh, saat tangan besar Dinan seolah melindungi tangannya.


"Apa yang kamu pikirkan, Miray?" tanya Dinan membawa satu tangannya menata rambut Amira.


"Tidak ada, hanya sedikit mual tidak nyaman." Dinan terkejut dengan ucapan Amira.


"Sebentar, Mas hangatkan bubur. Kamu belum makan sejak pagi padahal ini sudah pukul sebelas." Dinan beranjak namun tangannya dipegang oleh Amira.


"Kenapa?" tanya Dinan heran.


"Mengapa Mas Dinan melakukan ini padaku?" Dinan sempat heran dengan pertanyaan Amira.

__ADS_1


"Kita bicara nanti, Mas ambil bubur dulu." Dinan melepas tangan Amira kemudian mengangkat mangkok yang ada di meja.


"Aku tidak suka bubur." Dinan menoleh ke arah Amira yang menurutnya sedikit berbeda. Amira sengaja melakukan semua ini untuk menarik perhatian Dinan, dia ingin tahu sebesar apa perasaan suaminya yang dengan tega melakukan semua itu kepadanya.


"Mas masakan sup kalau begitu." Dinan berjalan keluar kamar sedangkan Amira menghela napas panjang. Dia tidak tahu alasan pasti Dinan tapi yang saat ini dia tidak mengerti, mengapa Dinan berubah menjadi hangat kembali? Sangat berbeda dengan kejadian semalam. Apa yang semalam adalah mimpi?


Amira membulatkan matanya, dia menyadari bahwa bisa jadi apa yang telah dia ketahui semalam adalah sebuah mimpi. Karena Dinan nampak penuh cinta merasawat dirinya. Amira segera menoleh ke segala arah, dia ingin meyakinkan bahwa apa yang dia lihat semalam bukan sekedar mimpi. Amira bangun dari tempat tidur dia berjalan menuju kamar mandi dan mencuci muka. Dia tidak lupa mandi dan mengganti bajunya.


Amira terdiam sejenak di depan pintu kamar mandi saat dia melihat dua koper tertata di sudut ruangan, dia meneteskan air mata saat menyadari bahwa semua yang dia rasakan semalam bukanlah sebuah mimpi. Akan tetapi kenyataan adanya.


"Kamu kenapa?" Dinan segera menaruh nampan berisi makanan kemudian menghampiri Amira yang menangis tersedu-sedu di depan kamar mandi.


"Sayang, ada yang sakit?" Dinan bertanya dengan nada khawatir, sungguh dia merasa tak nyaman dengan sikap Amira selain itu dia juga merasa lelah dengan segala hal baik tubuh juga jiwanya.


Dinan segera mengangkat tubuh Amira dan mendudukkan Amira di sofa. Dia hanya mengamati wajah merah Amira karena tangis yang tak berhenti.


Dinan membelai lembut pipi Amira, dia menghapus air mata yang membasahi pipinya. Dinan menghela napas, dia berpikir harusnya yang marah itu adalah dirinya karena Amira tidak menghubungi dirinya dan memberitahu bahwa dia jatuh pingsan di sekolah kemarin.


"Kamu kenapa?" tanya Dinan dengan lembut. Amira hanya diam sambil tersedu-sedu. Dinan menarik tubuh Amira kemudian memeluk sang istri menyalurkan segala rasa yang dia miliki.


"Menangislah bila itu memang baik untukmu. Dan berbicaralah jika kamu sudah menganggap aku ada." Dinan mengatakan itu dengan pelan, bahkan sangat pelan karena tubuhnya saat ini jauh dari kata sehat tapi dia berusaha tetap kuat karena dia menyadari bahwa dia adalah seorang suami.


Amira melepas pelukan Dinan kemudian menatap Dinan, Amira bisa mendengar ucapan Dinan. Dia tahu pasti nada lelah yang diutarakan oleh sang suami.


"Maaf," kata Amira membuat senyum masam tercetak di bibir Dinan.


"Tapi Mas Dinan juga salah." Dinan menatap Amira kemudian dia mengangguk.


"Ya, Mas salah. Harusnya kemarin Mas menghubungi kami setelah diberitahu Ifa bahwa Doni menelpon. Atau paling tidak aku kembali menelpon Doni tidak mengabaikannya. Mas menyesal." Dinan mengatakan itu hingga satu kristal terjatuh dari telaga dunianya.


Dia menata rambut Amira kemudian dia mengecup kening Amira. "Maafkan Mas, InsyaAllah Mas berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


"Jangan berjanji, jika Mas tidak bisa menepati." Dinan menatap Amira kemudian dia tersenyum.


"Mas akan selalu berusaha menepati janji yang sudah Mas berikan. Kamu jelas tahu siapa Mas?" Dinan kembali memeluk Amira dia merasa sangat bersalah. Wajar saja jika Amira mendiaminya sejak tadi karena istrinya sedang merajuk.


"Kamu juga harus berjanji untuk menceritakan semuanya kepada Mas, dan satu hal yang perlu kamu tahu. Allah cemburu jika kamu menangis bukan karena kesalahan atau ketakutan kepada-Nya, melainkan kepada dunia secara berlebihan. Jadi jangan menangis kalau kamu tidak bersalah." Dinan mengatakan itu kepada sang istri dengan lembut. Kemudian Dinan mengurai pelukan dan menghapus sisa air mata Amira, tidak lupa dia mengecup kedua mata yang sudah menjadi sumber air sejak semalam. Dia merasa bersalah karena tak mampu membahagiakan istrinya, justru membuat sang istri menangis.


"Sekarang makan, Mas mau membawa dua koper itu ke bawah." Amira menoleh cepat ke arah Dinan.


"Aku tidak mau!" seru Amira dengan cepat. Dinan menoleh terkejut dengan ucapan Amira yang cukup kencang.


"Tapi ini harus, Sayang. Mau tidak mau tetapi kita harus." Dinan mengatakan itu dengan penuh tekanan. Dinan sangat terkejut dengan ekspresi yang diperlihatkan oleh Amira, dia tidak menduga jika hal semacam ini yang akan dia dapatkan dengan segala keputusan yang menurutnya sudah dia pikiran dengan matang.

__ADS_1


"Apa kata Bunda itu tidak benar?" kata Dinan lirih sambil membawa dua koper keluar kamar. Sedangkan Amira hanya bisa diam, mau tidak mau dia harus mengikhlaskan semuanya.


---


__ADS_2