Selimut Hangat

Selimut Hangat
Bab 9


__ADS_3

"Tunggu! apa jangan-jangan?? ah, nggak mungkin deh, tu orang nggak dimari, kan? secara dia ada disonoh." gumamnya yang mulai merasakan perasaan tak menentu


"Astaga! mana mungkin, secara yang bayar Arunika itu dua milyar, lho. ya ampun--pikiranku jauh sekali." Rama tergelak, bersamaan dengan itu ia mendesis kesakitan pada area kepalanya yang nyut-nyutan akibat tawanya yang tidak disinkron.


"Uuuch!" desisnya merintih, memegang kepalanya untuk meredakan rasa perih ini


Arunika yang baru saja membuka pintu dengan sekantung kresek ditangannya, sontak saja menghampiri sang suami yang terlihat tidak baik-baik saja diatas brankarnya.


"Sayang, kamu kenapa?" Arunika panik, ia menaruh barang belanjaannya diatas nakas, kemudian berniat ingin menekan tombol darurat disisi ranjang. namun--belum sempat menekannya, tangan Rama langsung menahan lengan sang istri.


"Tidak perlu." lirih Rama, Arunika mengernyit heran, raut cemas masih terpatri digaris wajahnya


"Kepala kamu sakit dan kamu bilang tidak perlu? gila apa!"


"Aku refleks tertawa karna nonton kartun, sudahlah .... lagi pula udah mereda kok sakitnya." tukas Rama, ia berusaha terlihat baik-baik saja dihadapan istrinya, walau masih terasa berdenyut didalam sana


"Benar? hati-hati lain kali, luka kamu masih basah soalnya. nanti di operasi lagi malah nambah biayanya," nasihat Arunika, Rama mengangguk sembari mengulum senyum


Setelah melewati drama yang cukup dramatis selang beberapa menit yang lalu, sepasang suami istri yang saling mencintai ini pun menikmati sarapan pagi berupa bubur ayam yang tersedia di Kantin. Arunika memerhatikan wajah suaminya yang begitu lahap menikmati sarapannya, sepasang mata menatap fokus pada layar televisi yang menayangkan film barat dengan genre romantis.


Tok tok tok


Ketukan pintu terdengar dari luar oleh seseorang, Arunika bergegas mendekati pintu setelah membuang sisa makanannya ke dalam tong sampah yang terletak disisi nakas. Arunika mengulum senyum manis yang disambut setara pula oleh seorang Dokter beserta perawatnya, ingin memeriksa keadaan Rama yang tampaknya sudah sangat bugar.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan anda, Tuan? ada keluhan setelah operasi?"


"Hmm--


"Ada, Dok. tadi pas lagi tertawa, kepalanya sakit, apa nggak apa-apa?" tanya Arunika khawatir, ia memotong kalimat yang ingin diutarakan oleh suaminya


"Itu hanya refleks otot pada bagian luka di kepalanya, sebaiknya jangan terlalu terbahak ketawanya, Nona. sama halnya seperti jahitan diperut sehabis caesar, bila terlalu banyak bergerak bisa menyebabkan jahitan akan terbuka," jelas Bu Dokter


"Oh, baiklah, Dok."


"Agar jahitan dan luka cepat mengering, ada baiknya konsumsi makanan berprotein seperti ikan, telur, daging lainnya, jangan lupakan sayur dan buah-buahan."


Arunika mengangguk paham,


"Sekitar dua hari lagi, itu pun saya harus cek lagi kesehatannya." ujarnya, Arunika mengangguk paham seiring helaan napas yang terasa berat


Arunika tatap dalam-dalam wajah suaminya yang berusaha menahan rasa perih pada kakinya, seketika relung hatinya bergejolak merasa kasihan padanya. Arunika sedih bila setiap waktu harus meninggalkan sang suami dari pagi sampai sore, dari malam sampai pagi, hanya beberapa jam saja ia diberi waktu untuk menemani lelaki yang sangat ia cintai ini.


Tiada yang menemani, orang tua pun tak diberitahu, Arunika hanya berharap Rama bisa bersabar menantinya untuk melunasi utang mereka dengan cara melayani seorang Presdir mesum itu. Tak ada pilihan lain, hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk mendapatkan pundi-pundi uang secara kilat demi pembiayaan pengobatan suaminya.


***


Virendra merenggangkan otot-ototnya yang kaku sisa percintaan semalam yang begitu hebat untuk kedua kalinya didalam hidup. Menikmati tubuh wanita bersuami ternyata sangat menyenangkan bagi pria berusia dua puluh lima tahun ini. Entah apa motifnya, hanya saja Virendra sedang menerima tantangan dari hasrat nalurinya sendiri yang harus dituruti saat itu juga.

__ADS_1


Virendra mengulas senyum kepada matahari yang telah terbit di ufuk timur, kecerahan dan sinarnya sama seperti yang dirasakan oleh Virendra, hari-harinya akan cerah dan bersinar dimulai pada waktu ini sampai ia bisa menikmati tubuh indah milik istri orang itu


Ah, persetan dengan status pebinor yang disandangnya, tanpa diketahui oleh publik dan hanya Bibi lah yang mengetahui hal ini itu tidak jadi masalah buat seorang Virendra.


"Selamat pagi, Sayang." Virendra menoleh ke sebelah sisinya, meyambut pagi wanita itu dengan suaranya yang terdengar merdu. namun--sayang sekali kegembiraan yang baru saja ia raih seketika pupus kala tidak melihat keberadaannya


Ia mendelik sekaligus mendengus pelan. "Ke mana istri orang itu?" gumamnya


Virendra menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya, menunduk mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai lalu mengenakannya dengan ligat. Virendra bangkit berdiri, memeriksa kamar mandi yang pintunya tertutup rapat. ia mendorongnya, pandangannya ia edarkan mencari keberadaan sosok wanita yang telah memuaskannya di malam yang indah saat lalu


"Arunika? kau pulang kah? ck! sialan!" umpatnya kesal diakhir kalimat, menutup pintu kamar mandi dengan kasar


Virendra bergegas ke lantai bawah, siapa tahu wanita tersebut tengah berada di Dapur untuk mencari air mineral. namun, lagi-lagi wanita itu tidak ia temui, tidak seperti ekspektasinya.


"Bi, perempuan itu mana?" tanya Virendra kala yang ia temui malah Bibi yang sedang sibuk dengan kegiatan masaknya


"Nyonya itu sudah pulang, Tuan, sekitar jam setengah lima tadi." jawab Bibi, tanpa sengaja ia melihat Arunika melenggang pergi keluar menuju pintu utama ketika Bibi ingin ke Dapur untuk menambahkan air minum ke dalam teko kaca miliknya


Virendra tidak bertanya lebih lanjut lagi, ia mengusap wajahnya dengan kasar sembari berdecih. kemudian pria tampan itu melenggang pergi meninggalkan Bibi yang masih menatap kepergiannya.


"Bisa-bisanya dia pergi tanpa seijinku ataupun Bibi, dasar! suaminya lagi, suaminya lagi yang dia pikirkan, dasar bini orang!"


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2