Sentuh Hatiku

Sentuh Hatiku
Chapter 24


__ADS_3

Reyhan memandangi tembok besar yang akan dilukisnya, jujur saja sebenarnya ia agak sedikit ragu saat menerima tawaran tersebut, mengingat bahwa ia bukanlah seorang yang benar-benar profesional dalam bidang tersebut.


Akan tetapi jika semua hal yang bersangkutan dengan cinta, tentunya semua dilakukan demi meraih sebuah perhatian dari sang pencuri hati. Ada yang bilang bahwa cinta harus menggunakan logika, namun kenyataannya saat seseorang dilanda cinta, hanya beberapa persen ia melakukan hal yang menggunakan akal sehat, dan sisanya semua mengenai hal konyol.


Kembali kepada Reyhan, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Apakah kau keberatan?" ujar Aurel yang muncul secara tiba-tiba disampingnya. Entah sejak kapan Aurel menyeret kakinya sampai ditempat tersebut. Ia terlalu asik dengan fikirannya yang berkecamuk tanpa menyadari sosok wanita tersebut datang dan berada didekatnya saat ini.


"Silahkan tentukan pilihanmu sekarang, sanggup atau tidaknya" ujar Aurel bersedekap. Dan inilah yang menjadi ciri khas seorang Aurel saat ia berbicara sedikit angkuh. Reyhan kembali menatap tembok tersebut lekat-lekat.


"Bagaimana? apa kau tidak sanggup?" tanya Aurel yang masih penasaran akan jawaban pria yang saat ini berada di dekatnya.


"Aku menyanggupinya, aku akan seseorang yang menatap ke arah tembok tersebut merasakan sebuah emosi" ucap Reyhan tegas.


Aurel terkejut dengan jawaban Reyhan barusan, karena yang ia tangkap sedari tadi tingkah Reyhan terlihat tampak keberatan. Namun ternyata apa yang dikira oleh Aurel tersebut salah besar. Pria itu menyanggupinya.


"Baiklah, kalau begitu kapan kau akan memulainya" ucap Aurel.


"Besok, aku akan memulainya besok. Setelah pulang dari kampus" timpal Reyhan.


Aurel pun mengangguk.


"Saya harap kamu akan memberikan hasil yang memuaskan atas kesanggupanmu" ujar Aurel yang kemudian melangkah pergi dari tempat tersebut.


Reyhan kembali memandangi tembok yang ada dihadapannya, seraya memikirkan tema dari sebuah lukisan yang akan dibuatnya kelak.


❤❤❤


Seperti biasa, malam ini baik Dito maupun David sudah duduk di depan bangku panjang yang terletak dihalaman depan kontrakan.


Reyhan datang seraya membawa kopi dengan nampan di tangannya, untuk diberikan pada teman-temannya yang menjadi pendamping dikala mereka bergadang.

__ADS_1


"Kopi hitam yang pahit, sepahit hidup gue" tutur Dito saat kopi mendarat dihadapannya.


"Sepahit dicuekin si Vanesha" cerca David yang kemudian tertawa.


"Lebih pahit itu bro" sahut Dito.


Reyhan yang memperhatikan keduanya pun hanya menggelengkan kepalanya. Ia kemudian meraih gitar yang ada disamping David. Sesekali memetik senar tersebut dan bersenandung pelan.


Harusnya ku telah melewatkanmu..


Hapuskanmu dari dalam benakku..


Namun ternyata sulit bagiku, merelakanmu..


Pergi dari hatiku..


Selalu ingin dekat tubuhmu, Namun aku tak bisa..


Karena kau t'lah bahagia..


Dito kemudian menepuk pundak Reyhan secara tiba-tiba. Mencoba untuk menenangkan sahabatnya tersebut. Reyhan selalu tertutup perihal wanita yang dicintainya, berbeda dengan kedua sahabatnya yang lebih terbuka. Namun, satu hal yang mereka ketahui, Reyhan belum pernah berkencan, Bahkan sekalipun.


❤❤❤


"Bagaimana dengan pekerjaanmu? tampaknya kekasihku sangat sibuk sekali akhir-akhit ini" ujar Rasya dari seberang telepon.


"Tepatnya sedikit sibuk" sahut Aurel singkat dan keduanya pun terkekeh.


"Apa kamu mempunyai waktu akhir pekan ini, sayang? aku berencana ingin mengajakmu keluar" tanya Rasya.


"Emmm.." gumam Aurel tampak berfikir.

__ADS_1


"Akan aku usahakan untuk meluangkan waktu nantinya" jawab Aurel.


"Jangan terlalu memaksakan, jika kamu sibuk aku bisa memakluminya sayang" ujar Rasya dengan lembut.


Kelembutan sikap Rasya menenggelamkan Aurel semakin jauh lagi. Tak dapat dipungkiri, jika Aurel tersentuh akan sikap yang ditunjukkan Rasya kepadanya. Tapi, entahlah dengan hatinya.


"Sayang.. Apakah kamu mendengarkanku?" ujar Rasya yang membuyarkan lamunan Aurel.


"Ehh.. iya aku dengar" ucap Aurel sedikit tergagap.


"Sepertinya kamu sangat kelelahan. Kalau begitu beristirahatlah, jangan lupa untuk memimpikan aku" ujar Rasya menahan tawanya.


"Memimpikan seperti apa? dikejar-kejar oleh binatang buas?" ujar Aurel terkekeh.


"Hahaha.. tentunya bukan. Mimpikan aku menjadi seseorang yang nantinya akan tersemat di kartu undangan. Bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pendamping" tutur Rasya.


Deggg..


Aurel langsung bungkam seketika. Jangankan untuk membahas masalah pernikahan, memantapkan hatinya untuk pria tersebut pun Aurel masih belum bisa.


"Hei, jangan terlalu menganggapinya dengan serius" celetuk Rasya.


"Hehehe.. Iya, aku belum siap untuk itu" sahut Aurel.


"Begitu pun juga denganku, sayang" ujar Rasya.


"Sudah waktunya istirahat, selamat tidur sayang. Semoga mimpi indah" ucap Rasya yang kemudian menutup teleponnya.


Rasya menggenggam ponselnya dengan erat.


Sakit? sudah tentu saat mendengar penuturan dari Aurel. Secara tak langsung, Aurel menolaknya. Namun, hati Rasya mengatakan bahwa perjuangannya tidak cukup sampai disini.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya ya🤗


__ADS_2