
By: Tiara Sajanaka
🌼Tubuh pak Rasyid menjadi semakin tinggi dan besar. Kulitnya juga memerah seperti kulit Arkana.
Untungnya, wajahnya tidak berubah.
Dia juga tidak mengeluarkan tanduk ataupun ekor panah Seperti milik pasukan Arkana.
Melihat perubahan pak Rasyid, aku merasa takut dan gemetar. Tubuhnya yang menjulang menutup seluruh bagian pintu kamar.
Benar seperti dalam pemikiranku, sewaktu melihat seluruh bagian bangunan miliknya yang besar dan tinggi-tinggi.
Dia pasti sering menjadi tidak terkendali di waktu-waktu tertentu.
Seperti sekarang ini, dia tidak dapat mengendalikan diri hanya karena aku akan mengembalikan pakaian pemberiannya.
Dia lemah soal perasaan dan cinta.
Bagaimana aku bisa bertahan didekatnya kalau sampai menjadi kekasihnya.
Mereka posesif dan protektif. Akan sulit buatku bergaul di dunia manusia, jika aku menjadi kekasihnya.
Pak Rasyid berjalan kearahku dengan sorot mata penuh amarah.
Aku segera turun dari tempat tidur.Mencari tempat berlindung.
Tetapi, tubuhku terlalu lemah untuk merangkak ke kolong ranjang.
Pak Rasyid semakin mendekat kearahku.
Aku bergeser pelan-pelan menuju sudut dibawah tempat tidur.
Tapi dia mengangkat tempat tidur besar itu dan melemparkan kearah jendela.
Seketika tempat tidur itu hancur berkeping-keping.
Sewaktu melihatnya sedang sibuk mengangkat tempat tidur, aku berusaha mencari tempat paling aman di ruangan ini.
Aku menemukan sebuah cerukan diantara dinding dan vas bunga besar.
Segera ku geser badan kearah cerukan itu. Dia tidak melihat saat aku bersembunyi di belakang vas bunga.
__ADS_1
Aku duduk didalam cerukan sambil melipat lutut. Berusaha menenangkan diri dan menurunkan getaran dari gelombang pikiran.
Hal ini, biasanya sangat efektif setiap kali aku bertemu astral asing.
Semoga saja, yang kulakukan ini berhasil. Aku melakukan hal itu agar makhluk astral tidak bisa merasakan kehadiranku.
Mungkin karena hal itulah yang membuat mereka memberiku julukan si hati beku.
Kulihat pak Rasyid mencariku ke seluruh sudut kamarnya. Dia melempar kursi, meja makan serta semua benda yang dapat menghalangi pandangannya.
Sampai dia menatap vas bunga besar dengan pandangan curiga.
Cepat kutarik kepalaku kedalam cerukan.
Memanjatkan kalimat-kalimat doa didalam hati.
Bayangan tubuhnya terlihat berjalan bolak-balik di sekitar vas bunga.
Hanya dalam hitungan detik, dia telah meraih vas bunga besar didekatku. Melempar vas bunga itu kearah pintu.
Tepat sewaktu pintu itu dibuka dengan paksa dari luar.
Dia sempat melirik kearah cerukan tempatku bersembunyi.
Pak Rasyid terlihat marah, sewaktu Arkana berdiri menutupi vas bunga besar dari pandangannya.
Mereka berdua berbicara menggunakan bahasa yang tidak ku mengerti. Cara mereka berbicara seperti sedang berbisik-bisik tetapi diucapkan dengan sangat cepat.
Setelah terjadi perdebatan diantara mereka berdua, pak Rasyid keluar dari kamar dengan badan yang mulai kembali ke ukuran semula.
Setelah pak Rasyid tidak terlihat lagi, Arkana memintaku keluar dari tempat persembunyian.
Suasana didalam kamar sudah sangat kacau balau.
Arkana memanggil para pekerja. Dia meminta mereka membersihkan kamar pak Rasyid.
"Sebaiknya, kita bicara di tempat lain." ajaknya sambil berjalan mendahuluiku.
Aku segera menyusul langkahnya agak tidak tertinggal. Walaupun kondisiku sangat lemah. Tapi rasa takut membuatku menjadi memiliki sedikit tenaga.
Kami berjalan menyusuri lorong menuju kearah taman depan. Disini tempatnya lebih terbuka dan juga lebih dekat dari pintu gerbang besar di rumah ini.
__ADS_1
"Apa yang membuat dia marah seperti itu?" tanya Arkana.
"Saya ingin mengembalikan pakaian ini padanya." jawabku gugup.
Arkana memperhatikan pakaian yang ku kenakan. Setelah terdiam beberapa saat, dia menghela napas berat.
"Kalau kamu tahu, apa arti pakaian ini. Kamu tidak akan berani mengembalikan padanya."
"Saya benar-benar tidak tahu soal itu pak."
"Pakaian ini, dibuat dari sebagian kemampuannya. Kamu lihat batu permata serta hiasan di seluruh bagiannya. Itu dibuat dengan menggunakan tanduk miliknya yang diubah bentuknya sedemikian rupa."
"Untuk apa dia melakukan hal itu, pak?"
"Karena dia sangat mencintaimu. Bahkan dia bersabar untuk itu selama bertahun-tahun."
"Kalau bapak sudah tahu pak Rasyid mencintai saya, kenapa bapak tetap melamar saya?"
"Sebab, aku tidak ingin kamu mengalami nasib seperti kekasihnya dulu."
"Madsudnya bagaimana pak?"
"Rasyid sama seperti ibunya. Cerdas, bijaksana, penyayang dan perhatian pada semua makhluk. Tetapi mereka memiliki kelemahan dalam mengendalikan perasaan yang berhubungan dengan orang yang mereka cintai."
"Lalu, apa hubungannya dengan kekasihnya dulu?"
"Kekasihnya mengalami kejadian yang sama seperti yang kamu alami tadi. Sayangnya aku terlambat datang. Akhirnya, gadis itu harus kehilangan kehidupannya di tangan Rasyid."
Aku terkejut mendengar cerita Arkana.
Ternyata, pak Rasyid adalah pembunuh kekasihnya.
Kalau saja, Arkana tidak datang. Aku pasti tidak akan pernah kembali ke dalam tubuh material.
Dibalik sikapnya yang begitu perhatian, romantis dan menawan, ternyata ada sosok monster pembunuh disana.
Seketika hatiku menjadi lebih hancur lagi, dibandingkan saat tadi pagi.
Pria yang membuatku jatuh cinta, saat ini benar-benar telah meremukkan seluruh jiwa ragaku.
🍃🍃
__ADS_1