
"Bolehkah aku duduk disini?"
Gadis berkacamata itu tersenyum padaku, dengan membawa nampan yang berisi hamburger dan susu dingin.
"Tentu saja,"
"Kau pasti murid baru? aku tidak pernah melihat mu sebelumnya." tanyanya padaku.
"Iya, hari ini adalah hari pertama ku. Stella Johnson," ucap ku sembari mengulurkan tangan padanya.
"Sarah Alexandra, panggil saja Sarah. Senang bertemu dengamu Stella" Ia memperkenalkan namanya, sepertinya Sarah tipikal orang yang menyenangkan dan kurasa ia murid pandai karena kacamata tebal, rambut terikat, dan ia terlihat tidak terlalu memperhatikan penampilannya terlihat dari gayanya lumayan yang berantakan tanpa makeup sedikit pun.
"Kau tinggal di asrama A?" dengan mulut penuh hamburger, ia menanyakan hal itu susah payah.
"Ya...kau?"
"Uhm.. nomor 15 di lantai 4"
"Aku di lantai 7 nomor 27"
"Uhhuukk..." Tiba-tiba ia tersedak makanannya, segera aku memberikannya minum untuk meredahkan batuk nya. Ditegak habis susu sebotol itu, kemudian ia mengusap kedua sudut matanya yang mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Apakah ada yang salah," tanyaku ragu.
"KAU TINGGAL BERSAMA SI POPULER JAKE?!?!!!"
Suaranya sangat kencang, reflek aku menutup mulutnya dengan tangan ku. Beberapa pasang mata menatap ku dalam berbagai ekpresi, entah itu kaget atau tatapan tidak peduli yang hanya menyuruhku untuk diam.
"Memangnya kenapa dengan pria menyebalkan itu?,"
"Dia..."
Baru saja Sarah akan mengatakan sesuatu, tangan ku di tarik oleh seseorang cukup kencang membuat ku terbangun dari duduk ku. Dia... si pria menyebalkan, Ia menarik pergelangan tangan ku menjauhi kafetaria aku berusaha meronta-ronta untuk melepaskan genggamannya tapi usaha ku gagal karena tentu saja tenaganya lebih banyak dibandingkan aku.
"Lepaskan aku!" entah sejak kapan mereka yang berada di kafetaria serta di dekat kolam renang memperhatikan kami. Namun Jake tidak bergeming sedikitpun atau berubah pikiran untuk melepaskan genggamannya. Oh Tuhan, aku seperti seorang pasien gila yang kabur dari rumah sakit jiwa.
Aku mengangkat lengan kirinya yang memakai jam tangan lalu berkata, "Sebelas lebih lima belas menit,".
Tangan ku ditepis olehnya, selain sombong dan menyebalkan rupanya dia memiliki sifat yang lain, yaitu kasar. Aku sangat membenci lelaki kasar, bahkan Ayah ku tidak pernah sekali pun berkata kasar padaku.
"Aku bukan anak lima tahun lagi! mengapa kau mencariku?!"
"Kau ingin tau mengapa aku mencarimu?" ucapnya, seketika ia membungkukkan badan memposisikan wajahnya agar sejajar dengan wajahku. Reflek aku memundurkan badan hingga punggung ku tertahan dinding-dinding lift. Nafas ku tercekat, serta tenggorokan terasa kering membuat ku menelan ludah.
__ADS_1
"Karena aku tidak mau kau mengganggu jam tidur ku," ucapnya seraya menunjukkan Id Card miliknya.
Tingg.... pintu lift terbuka.
'apakah dia tidak sadar telah membuat seorang gadis hampir kehilangan jantungnya. Kelakukannya sangat kekanak-kanakan' ucapku dalam hati.
***
Ia menempelkan Id Card nya kemudian membuka pintu flat, terduduk di sofa dengan posisi kepala menghadap langit-langit ruangan namun matanya terpejam.
"Berikan nomor ponsel mu," ujarnya yang masih memejamkan mata.
"Tidak akan!" jawabku kilat. Ternyata ucapan ku membuatnya terbangun hingga berdiri, ia merebut ponsel dari genggaman ku.
"Hei! apa yang kau lakukan!" Aku berusaha merebut kembali ponsel ku tapi tidak ada gunanya karena tubuhku yang kecil ini tidak sebanding dengan tubuhnya yang tinggi.
"Simpan lah nomor ku, aku tidak ingin menjemput mu lagi jika kau pergi ke planet mars" Jake mencubit pipi kanan ku sebelum ia masuk kedalam kamar tidurnya.
Ku usap-usap pipi ku yang terasa panas sambil berjalan ke bilik ku sendiri. Akhirnya malam ini aku tidak jadi merapikan barang-barang ku karena suasana hati ku dikacaukan oleh pria menyebalkan itu. Sebenarnya itu alasan kedua, yang pertama tentu saja karena aku malas.
Aku menjatuhkan seluruh badan ku di atas ranjang memainkan ponsel ku, setiap malam aku selalu memeriksa seluruh notifikasi di ponsel, hati ku tergerak untuk membuka daftar kontak. Ku cari-cari bagian huruf H....I..... J..
__ADS_1
JAKE WALTER.
Bersambung..