Strongest Hunter

Strongest Hunter
Episode 21


__ADS_3

Hari tournamen


Akhirnya hari tournamen pun tiba, kota Jakarta yang sudah padat semakin padat karena kehadiran perwakilan dari berbagai klan dan perguruan dari berbagai kota dari sabang sampai merauke.


Turnamen tahun ini menjadi tournamen paling meriah dari tournamen sebelum sebelumnya di sebabkan kedatangan petinggi Asosiasi Hunter pusat dunia.


Di rumah ayahnya Kevin memberikan arahan pada tiga muridnya yang akan di ikutan dalam tournamen kali ini.


"Jangan fokus pada juara, aku lebih senang jika kalian menunjukkan peningkatan kekuatan kalian. Kalau kita tersingkir masih ada tahun tahun selanjutnya, jangan bebankan kata juara pada otak kalian tapi tanamkan kata sportifitas dalam otak kalian. Jujur adalah segalanya." ucap Kevin.


"Vin, mereka bertiga tanding atas nama siapa?" tanya Dion.


"Perguruan Teratai Putih." jawab Kevin.


"Perguruan siapa tuh? baru denger aku." tanya Deni bingung.


"Perguruan ku lah, gak sudi aku wakilin perguruan lain." jawab Kevin.


"Kapan kau buatnya?" tanya Deni kaget.


"Baru tiga minggu ini keknya." jawab Kevin mengira ngira.


"Berapa murid sudah?" tanya Rizal.


"Gak tau, aku pasrahin semuanya sama bawahanku." jawab Kevin.


"Kevin ayo berangkat!" teriak Aurora dari halaman depan.


"Ayok berangkat." ajak Kevin buru buru.


Mereka pun berangkat ke tempat tournamen yang berletak di dekat Asosiasi Hunter yang masih dalam pembangunan. Di sana sudah ramai orang orang yang datang untuk daftar ulang, Kevin menemui dua bawahannya yang bernama Koi dan Bram yang menjadi penanggung jawab perguruan nya.


"Sudah beres?" tanya Kevin.


"Sudah tuan." jawab Koi.


"Kalau begitu tunjukkan tempatnya." ucap Kevin.


"Lewat sini tuan." ucap Koi.


Kevin memanggil tiga muridnya untuk mengikutinya dan dua bawahannya. Mereka menuju tempat khusus peserta yang berbentuk tribun tertutup yang dapat diisi 3000 peserta. Di tribun tersebut peserta hanya boleh di temani satu pendamping dari masing-masing perguruan atau klan.


"Kalian tunggu disini, ini nomor urut nya. Aku akan mengawasi dari sana bersama yang lainnya. Brian, jaga juniormu jangan sampai ada yang menindas." ucap Kevin menunjuk tribun VVIP yang di tempati para petinggi Asosiasi Hunter.


"Baik." jawab Brian.


"Kami akan berusaha guru!" ucap Doni dan Kenzo bersamaan.


"Aku pergi dulu, Bram tetap awasi mereka." ucap Kevin memberi perintah.


"Baik tuan." jawab Bram duduk di samping ketiga muridnya.


"Paman Bram! kenapa akhir akhir ini jarang terlihat?" tanya Doni yang sudah akrab dengan Bram.


"Aku liburan sebentar melepas penat, bagaimana perkembangan kalian?" tanya Bram balik.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin! guru juga sudah memuji kami!" jawab Doni.


Mereka berempat bersenda gurau sambil menunggu acara pembukaan dimulai. Kevin yang melihat ke empat orang itu bercanda gurau merasa senang dengan keakraban mereka berempat.


"Vin, kita gak salah ruangan kan?" tanya Rizal melihat sekeliling nya yang di penuhi aura penekanan.

__ADS_1


"Enggak, ayahku yang menyuruh kita menunggu disini, katanya dia kesini setelah acara pembukaan." jawab Kevin.


"Oh ya udah." jawab Rizal mendempetkan ke tubuh Dion yang besar untuk bersembunyi.


"Penakut banget dah si Rizal ini." ucap Riski yang membuatnya di tatap tajam para petinggi Asosiasi hunter.


Seketika Riski ikut bersembunyi bersama Rizal di belakang tubuh besar Dion. Kevin sempat kesal dengan perlakuan tidak hormat para petinggi Asosiasi yang menekan orang yang lebih lemah dari mereka.


Tak lama akhirnya upacara pembukaan pun di mulai, pidato dari Virzha menjadi pembukaan tournamen nasional ini.


'Gongggggg.....'


"Dengan ini aku nyatakan tournamen nasional telah di buka!!!" ucap Virzh di sambut tepuk tangan para penonton dan peserta.


Setelah itu Virzha pergi menemui istrinya dan pergi bersama ke tribun VVIP menemui petinggi lainnya.


"Tanya dimana Vin?" tanya Aurora tak melihat adanya Tasya di sana.


"Katanya jemput Lia sama Joseph di sekolah habis itu nyusul ke sini." jawab Kevin.


"Ya udah kalau begitu." ucap Aurora.


Kevin pun kembali fokus menonton pertandingan pembukaan di 5 arena pertarungan. Oh ya, gedung tournamen ada 5 arena utama dan 5 arena cadangan kalau ada trouble di arena utama. Tournamen di adakan 6 hari berturut-turut, hati pertama kualifikasi 16 besar dengan pertarungan kelompok 50 orang saling mengeliminasi, hari kedua kualifikasi 8 besar pertarungan satu lawan satu, lalu hari ke tiga kualifikasi 4 besar/semi-final, hari kelima final dan hari ke-enam penyerahan hadiah dan pengumuman perwakilan Indonesia untuk tournamen internasional.


Pertarungan di kelima arena utama tidak ada yang menarik perhatian karena semua peserta bertarung asal asalan yang penting bisa bertahan di atas arena.


"Kenapa mereka kayak tawuran gitu?" tanya Demian heran dengan pertarungan antar peserta yang tidak menarik.


"Entahlah, kayaknya di otak mereka isinya cuman bertahan sebisa mungkin." jawab Kevin yang terfokus pada seseorang di tribun penonton yang mengeluarkan aura iblis.


'Kalau berani buat onar jangan salahkan kalau ku kirim kau ke neraka paling bawah.' batin Kevin menatap tajam penonton tersebut.


'Ya.' jawab Kevin.


Pertarungan di kelima arena akhirnya selesai juga dan kini pertarungan selanjutnya akan segera di mulai. Brian, Doni, dan Kenzo di panggil di arena yang berbeda melawan peserta yang kini di kelima arena seimbang.


"Sepertinya akan sengit." ucap Kevin tersenyum kecil.


Di Arena 1


Doni saat ini sedang bersiap untuk melawan peserta yang bertubuh jauh lebih besar darinya.


'Aku tidak boleh mengecewakan guru!' ucap Doni dalam hati.


"Mulai!" teriak wasit memulai pertandingan.


Para peserta langsung saling menyerang dengan skill dan teknik yang mereka miliki, namun tidak dengan Doni. Dia memilih menghindari pertarungan untuk menghemat energi dan jika musuh sudah tinggal beberapa orang maka dia akan memulai serangannya.


Setelah berusaha menghindari pertarungan selama 30 menit akhirnya Doni mendapatkan momentumnya, Doni membuat pedang dari cahaya lalu menyerang peserta yang mananya sudah habis tak tersisa.


"Sampai jumpa dua tahun lagi kawan." ucap Doni menendang peserta itu keluar arena.


Setelah itu dia lanjut mengincar peserta lainnya yang sudah kehabisan mana. Pertarungan di arena Doni tak membutuhkan waktu yang lama karena reflek Doni yang langsung mengeksekusi peserta yang kehabisan mana. Doni di nobatkan lolos ke babak 16 besar menyusul peserta lainnya.


"Anak yang cerdik!" ucap penonton 1.


"Bagiku itu curang! dasar bocil!" teriak penonton 3.


"Dasar tidak paham turnamen!" ucap penonton 2.


Di Arena 3

__ADS_1


Berbeda dengan adiknya, Kenzo dari menit awal pertandingan langsung menyerang peserta lainnya dengan brutal hingga hanya butuh 30 menit pertandingan di arena 3 sudah tuntas dengan Kenzo yang melaju ke 16 besar.


"Dari mana anak itu? kenapa tidak memakai seragam perguruan atau klan?" tanya penonton 4.


"Dari yang aku dengar, peserta dengan nomor urut 70, 83, dan 93 dari perguruan Teratai Putih yang baru baru ini terbentuk." jawab penonton 5.


"Wahh ada kuda hitam di turnamen kali ini." ucap penonton 4.


Di Arena 5


Brian yang pemalu langsung mengakhiri pertandingan dengan sekali serangan yaitu hujan api yang membuat semua peserta berhamburan keluar arena yang membuat mereka di diskualifikasi.


"Cerdas sekali anak itu." ucap penonton 7.


Di tempat Kevin


Kevin bangga dengan para muridnya yang mengutamakan otak daripada kekuatan.


"Kecerdasan lebih penting di banding kekuatan." ucap Kevin tertawa kecil.


"Dari mana mereka belajar kelicikan seperti itu? licik sekali para bocil kematian itu." ucap Riski.


"Makanya kalau gelud pake otak jangan pake otot, bego ntar." ucap Rizal.


"Kekuatan nomor satu!" ucap Riski.


Pertandingan berikutnya tidak begitu menarik karena selalu berat sebelah, peserta yang lolos adalah 3 perwakilan dari klan Wiliam, 2 perwakilan dari klan Bailly, 3 perwakilan dari perguruan Teratai Putih, 5 perwakilan dari perguruan Kera Sakti, 3 perwakilan dari klan Bramantyo. Ke 16 peserta akan bertarung di hari berikutnya untuk merebutkan kursi di semi final.


"Ayo temui tiga bocil itu." ajak Kevin.


"Gass." ucap Riski berlari keluar duluan.


Mereka menemui Brian dan dua junior nya yang sedang beristirahat sembari bercerita pada orang tuanya tentang kehebatan mereka di arena tadi.


"Selamat sudah lolos ke 16 besarnya." ucap Kevin memberi selamat.


"Terimakasih guru!" ucap ketiganya serentak.


"Kalau kalian berhasil tembus ke 8 besar besok aku traktir makan di restoran mahal." ucap Kevin.


"Guru janji?" tanya Doni semangat.


"Tentu, tapi ingat, malam ini harus istirahat yang cukup dan jangan mencoba untuk latihan sendirian." ucap Kevin memperingati ketiga muridnya.


"Baik guru!" ucap ketiganya.


Setelah itu Kevin pun pergi dan menyadari kemana perginya Tasya yang katanya menjemput dua adiknya tapi kenapa sampai semalam ini.


'Kemana Tasya? kenapa semalam ini dia jemput Lia sama Joseph?' Kevin bertanya-tanya di dalam pikirannya.


[Nonya saat ini sudah ada di rumah tuan, tadi dia kelupaan mau menyusul ke sini, lagi pula dia tidak tau jalan ke gedung turnamen]


'Bodohnya perempuan itu!' ucap Kevin dalam hati.


Kevin dan temn temannya berpisah untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Saat sampai rumah Kevin melihat Tasya yang duduk di teras sambil cengar-cengir.


"Kalau nggak tau jalan ngapain usul jemput Lia?" tanya Kevin sedikit kesal karena takut kecolongan.


"Aku lupa." jawab Tasya manja sambil memeluk Kevin.


"Dah masuk, capek aku." ucap Kevin masuk ke rumahnya untuk istirahat.

__ADS_1


__ADS_2