Suami Berondongku Ternyata CEO

Suami Berondongku Ternyata CEO
Bab 14 : Romantisme pengantin baru


__ADS_3

Devano mengulum senyum, niat hati mau pergi berkumpul dengan teman gengnya diurungkan, karena hati yang panas itu udah melumer dengan air es yang menyiraminya.


Mendengar alasan apa yang dilakukan Letta kemarin-kemarin itu membuat Devano tak lagi marah.


Wajar sih Letta berfikir seperti itu, mereka menikah dengan terpaksa, melihat suami digandeng cewek lain di mall, pikiran jernih mana yang masih bercokol di pikiran Letta.


"Kok dilepas lagi jaketnya? Nggak jadi pergi?" tegur Letta melihat Devano rebahan di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Mau berduaan di rumah aja sama kamu, nanti kalo aku tinggal kamu jadi suka ghibah ama Ibu-ibu komplek sini," jawab Devano santai dengan mata masih fokus melihat layar ponselnya.


Letta mengerucutkan bibir, gemes lihat kelakuan suami yang suka absurd itu.


"Ini kita nggak mau beli mesin cuci aja Dev, baju kotor udah numpuk begini?" tanya Letta sambil mengeluarkan baju kotor mereka dari keranjang.


"Masukin laundry aja mbak, emang kamu nggak capek? Kerja di kantor kerja di rumah juga." Devano mem-pause game nya dan memperhatikan Letta yang mondar-mandir sambil beberes rumah.


"Um.... ya udah kalo mau kamu gitu." Letta mengembalikan baju-baju itu ke tempat semula, lalu menghampiri Devano dengan membawa camilan dan dua gelas teh.


"Iya bener begini, kita cludling sambil mesra-mesraan."


"Dih maunya kamu itu." Letta mencubit pinggang Devano gemas.


"Aduh sakit mbak!" teriak Devano sok dramatis seperti suami teraniaya.


Devano merebahkan kepala ke pangkuan Letta, dengan wajah shock Letta melihat Devano yang anteng sambil memainkan game nya lagi.


Meski risih atau sebenarnya belum terbiasa diperlakukan seperti ini, tapi Letta meresapi momen seperti ini yang baru pertama kali dia terima.


"Kartu yang dari mama udah kamu simpen belum mbak?" tanya Devano.


"Be belum, nanti aku masukin dompet."


"Meski itu bukan hasil keringetku sendiri, tapi itu hak yang aku peroleh dari perusahaan opa, Brandon dan Calvin kayanya dapet juga kok dari om Gavin, Jevier, Jessica dan Jeslyn juga dapet."


"Mereka itu siapa?" tanya Letta bingung.


"Sepupu-sepupu aku, anak kakak-kakaknya mama, om Gavin ama Om Gino."


"Oh sepupu kamu dari mama, kalo yang dari papa?" tanya Letta.

__ADS_1


"Tante Sinta adiknya papa, anaknya dua Martha dan Mario."


"Kalo kamu mbak? Berapa bersaudara?" tanya Devano.


"Aku cuman berdua sama Vetsa, kalo keluarga mommy ada di Jawa sana budhe Gina anaknya tiga sama pakdhe Erwin anaknya dua, kalo dari daddy ada tante Maureen ama tante Monika, masing-masing anaknya dua laki semua, cuma aku cucu perempuan satu-satunya di keluarga Sutama Praja," jawab Letta sambil tangannya mulai mengusapi kepala Devano.


"Aku tahu mbak aku masih muda, tapi kita bikin pernikahan ini jadi pernikahan sungguhan yuk," ucap Devano menangkap tangan Letta lalu mengecupnya.


"Kamu nggak malu Dev punya istri lebih tua kayak aku?" tanya Letta menatap ke dalam mata bening Devano.


"Kenapa malu? Keren lagi bisa ngedapetin cewek dengan kualifikasi seperti kamu, belum tentu itu bocil-bocil bisa naklukin cewek sekelas kamu."


"Dih! Emang kamu bukan bocil!" Letta mencibir lalu melengos.


"Kayak papa aja kalo lagi kesel sama mama manggilnya Cil Bocil, gitu mulu."


"Oh waktu itu papa manggil mama Cil itu kepanjangan bocil?" Letta manggut-manggut mengerti.


"Mama sama papa kan selisih delapan tahun mbak, kadang suka kesel deh kalo papa manggil mama dengan nama itu, tapi lama-lama lucu juga, ya sudah aku nggak pernah komplain lagi." terang Devano.


"Sorean mau jalan nggak mbak?" tanya Devano.


"Ngumpul ke sirkuit punya temen," jawab Devano.


"Tapi.... aku malu Dev," tolak Letta pelan, dalam dada sana ia ingin di rumah saja menghabiskan waktu berdua dengan Helen untuk berghibah seperti biasa.


"Malu kenapa? Cakep gini kenapa malu?"


Dan akhirnya Letta tak bisa menolak ajakan sang suami, Letta memakai celana jeans panjang, kaos putih dan dilapisi kemeja flanel.


"Nggak dingin begini doang?" tanya Devano dijawab Letta dengan gelengan kepala


Devano menatap Letta yang terlihat begitu menarik di matanya, Letta terlihat seperti anak kuliahan berumur dua puluh tahun.


Devano naik ke motor, tak lama Letta memegang pundak Devano dan naik ke atas boncengan.


"Pegang yang erat ya mbak." Devano menarik kedua tangan Letta dan melingkarkan ke pinggangnya.


Motor sport yang dudukan boncengannya melorot ke depan itu membuat dada Letta menempel ke punggung tegap Devano.

__ADS_1


Letta berusaha memundurkan pant** tapi lagi-lagi tubuhnya melorot ke depan, begitu terus, hingga Letta lelah lalu membiarkan saja ia duduk mepet ke punggung Devano.


Motor sport itu melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai semarak karena malam minggu hingga banyak muda-mudi mulai berkeriap keluar rumah untuk sekedar nongkrong atau justru sibuk berpacaran.


Tak lama motor melambat memasuki sebuah kawasan yang terbilang tak luas tapi terlihat pas untuk sekedar mengadakan lomba balap motor atau mobil.


"Turun mbak," perintah Devano lembut.


Letta memegang pundak Devano lalu turun dari boncengan, matanya memindai tempat itu yang tampak banyak pemuda yang sedang asyik berbincang.


Letta mepet, ada rasa takut melihat orang-orang itu.


"Mereka baik kok, tenang aja." Lalu Devano menggandeng Letta menuju ke sebuah ruangan tempat sahabat-sahabat Devano nongkrong.


"Hey Dev, kirain lo nggak dateng," sambut Monty menjabat tangan Devano ala mereka.


"Ini.... bini loe?" tanya Monty pelan.


"Mbak kenalin ini temen-temen gue, ini Monty, Ali, Jason..... Brandon mana?" tanya Devano ketika tak melihat sepupunya itu.


"Dia tadi jemp.... " Belum sempat Ali menyelesaikan kalimatnya, Brandon muncul bersama Freya yang membuntuti di belakangnya.


"Hey brother!" sapa Brandon santai, ia tak sadar dengan Freya yang mendadak berhenti sambil memindai Letta yang sedang dipeluk pundaknya oleh Devano.


"Oh ini tho sister in law gue, hallo dek kenalin nama gue Brandon, sepupunya Devano." Brandon mengulurkan tangan dan berjabat dengan Letta.


Letta menoleh ke arah Devano, dengan mata bertanya siapa cowok di depannya.


"Anaknya om Gavin kakaknya mama," ucap Devano menjelaskan.


"Hei Fre, kenapa lo berdiri disitu, kenalin nih pacarnya Devano." Jason memanggil Freya meminta gadis itu mendekat, sengaja memperkenalkan Letta sebagai pacar Devano agar tak ada drama di sekolah nanti.


"Hei Fre, sini kenalin cewek gue."


Dengan langkah pelan, Freya menghampiri Devano yang duduk di kursi sofa dua dudukan dengan tangan masih setia merangkul pundak Letta.


Letta mengangsurkan tangan mengajak Freya berjabat tangan dan berkenalan.


Cowok-cowok di sana berbincang asyik tentang dunia mereka, sesekali Letta tersenyum menanggapi guyonan mereka yang absurd, Devano lebih banyak diam, tangannya sering memainkan rambut Letta yang terlepas dari cepolan, sedang Freya menatap sepasang manusia di depannya dengan mata nanar.

__ADS_1


__ADS_2