
Happy reading zheyeng 😘😘
________________________
Amora beserta Reyhan dan Mama Riana duduk di meja makan untuk makan malam.
Berbagai macam makanan terhidang di atas meja berbentuk persegi panjang itu. Bau harum khas dari berbagai macam masakan itu masuk ke dalam indera penciumannya. Membuat perutnya meronta minta di isi.
"Kenapa mama menyiapkan banyak makan malam?" tanya Amora heran. Ia bingung dengan banyaknya makanan sedangkan mereka hanya bertiga.
"Mama mau menyambut kamu, sayang. Masak menantu datang tidak di sambut dengan baik?" ujar Mama Riana tersenyum. Senyum itu tulus dan tidak di buat-buat. Hati Amora terenyuh, ini pertama kalinya ia mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang tulus serta luar biasa dari seorang wanita yang di sebut mertua.
Teringat ketika ia masih berstatus istri Farhan beberapa waktu lalu. Tak ada sambutan hangat penuh kasih dari mantan mertuanya itu selama bertahun-tahun. Mertuanya hanya bersikap baik ketika ada maunya. Menjilatnya agar bisa memenuhi keinginannya.
"Kamu itu harus berbakti sama Ibu. Ibu ini sekarang sudah menjadi Ibu kamu juga. Sudah seharusnya kamu memberikan apa yang Ibu inginkan. Jadilah menantu yang baik, biar bisa Ibu anggap sebagai anak!" terngiang kata-kata yang di lontarkan pertama kali waktu itu. Ketika ia dan Farhan baru saja sah di mata hukum dan agama.
"Kamu itu harusnya milih kalau mau nikah! Jangan salah pilih istri! punya istri pelit minta ampun. Ibu mertuanya minta beliin mobil aja tidak di kasih." ucap wanita yang berstatus mertua itu dengan sengit. Anaknya hanya diam duduk di kursi ruang tamu. Sedangkan Amora hanya menunduk dengan perasaan campur aduk.
"Kamu itu harusnya bisa mendidik istri kamu supaya berbakti sama Ibu. Uang dia kan banyak. Gaji sekretaris itu besar! Apa susahnya sih beliin mobil. Gaji satu bulan tidak akan habis untuk menyicil mobil!" lagi, Ibu Farhan berbicara dengan nada tinggi seraya bersedekap.
"Ibu kenapa sih? kalau mau mobil itu ya nabung, Bu. Kurang apalagi kak Amora sama keluarga kita? rumah ini pemberian kak Amora. Aku kuliah juga kak Amora yang membiayai. Sekarang Ibu mau minta belikan mobil? Minta sana sama anak Ibu yang pengangguran itu. Jangan taunya minta sama kak Amora terus. Bahkan untuk makan sehari-hari saja dari kak Amora." celetuk Fitri, adiknya Farhan yang baru pulang dari kuliah.
"Eh kamu! Anak kecil tahu apa? seenaknya saja bilang kakakmu pengangguran." protes Farhan tidak terima. Wajahnya memerah menahan kesal karena perkataan adik semata wayangnya.
"Memang benar, kan? kakak itu pengangguran! pemalas dan hanya mengandalkan kak Amora!" teriak Fitri semakin kesal. Kini ia berkacak pinggang dengan wajah menantang sang kakak.
"Berani ya, kamu!" Farhan berdiri, melangkah untuk menghampiri Fitri tapi di cegah oleh Ibunya.
" Sudah-sudah! Kenapa jadi ribut begini sih? Fitri, kamu diam! jangan ikut campur. Main serobot saja kayak bajai. Kamu anak kecil tidak tahu apa-apa! sana masuk kamar! Semakin hari kami semakin tidak sopan setelah banyak bergaul dengan Kakak ipar kamu ini!" tuding Ibu Farhan seraya melirik marah pada Amora yang hanya diam di tempatnya.
__ADS_1
"Fitri sudah besar, Bu. Sudah kuliah. Seharusnya Ibu jangan seperti itu sama kak Amora. Kasihan kak Amora."
"Fitri, sudah. Kakak tidak apa-apa kok." Amora akhirnya bersuara untuk menenangkan gadis itu.
"Tapi kak ...."
"Sudah. Tidak apa-apa." Amora mengangguk dan berkedip, mengisyaratkan bahwa ia benar baik-baik saja. Fitri menatap iba pada Amora. Meski hanya ipar, Fitri sangat menyayangi Amora lebih dari kakak kandungnya sendiri. Dengan terpaksa Fitri mengikuti perkataan Amora, ia masuk kamar dengan hati yang sangat kesal.
"Fitri jadi seperti itu juga karena kamu! Sebelumnya Fitri tidak pernah membantah ataupun melawan Ibu serta kakaknya. Kamu memang pengaruh buruk untuk Fitri dan keluarga ini. Saya menyesal sudah mengijinkan Farhan menikahi wanita seperti kamu! Sudah mandul, pelit bahkan tak tahu diri! saya menyesal punya menantu seperti kamu!" teriak Ibu Farhan dengan emosi yang meledak-ledak. Perkataan wanita itu sangat terasa sakit dan pedih di hati Amora. Membuat luka besar yang menganga sulit tuk di sembuhkan. Butuh waktu untuk pulih. Meski begitu, Amora tetap menyayangi Ibu dari suaminya itu. Ia tetap membelikan mobil serta apapun yang wanita itu minta.
"Hei, kamu melamun?" tegur Reyhan seraya menyentuh pundak Amora dengan lembut.
"Hah, tidak." Amora terkejut. Ia bagai di tarik dari jurang dalam nan suram. Reyhan dan Mama Riana menatapnya dengan khawatir.
"Kamu kenapa, Amora?" tanya Mama Riana yang duduk di ujung meja.
"Kamu yakin?" kali ini Reyhan yang bertanya. Ia menatap Amora dengan perasaan tak menentu serta rasa khawatir yang tak bisa di enyahkan dari pikirannya. Amora mengangguk meyakinkan. Perhatian dari Ibu dan anak ini lagi-lagi membuat Amora terharu. Ia kembali merasakan kehangatan keluarga, kehangatan seorang Ibu yang telah lama meninggalkannya di dunia.
"Jika ada masalah atau ada hal yang menggangu pikiran kamu, cerita saja sama mama. Mama siap menjadi pendengar yang baik untuk kamu, kapanpun itu." ucap Mama Riana dengan tulus sehingga membuat Amora semakin terharu dengan kebaikan wanita yang tak lagi muda itu.
"Mama, terimakasih banyak." Mata Amora berkaca-kaca.
"Tidak usah berterimakasih, karena itu merupakan kewajiban mama."
"Anggap saja Mama itu sebagai mama kandung, ya. Mama menyayangi kamu dengan tulus." kata Reyhan. Ia mengulas senyum lembut sembari menatap lekat pada Amora. Amora mengangguk.
"Terimakasih." ucapnya pelan. Ia tak bisa lagi membendung air matanya yang hendak tumpah sedari tadi. Menganak sungai di pelupuk mata, berebutan ingin turun.
Amora mengusap ujung matanya yang basah.
__ADS_1
"Eh, kok nangis? Mama dan Reyhan ada salah ya?" Mama Riana panik. Wanita itu segera berdiri dari duduknya dan menghampiri Amora.
"Amora cuma terharu, Ma. Amora bahagia bisa menjadi bagian dari kalian." Amora semakin tergugu kala Mama Riana memeluknya. Rasa hangat menjalar sampai ke dasar hati yang paling dalam. Lama tak ia rasakan pelukan seorang wanita yang bergelar, Ibu.
"Mama sudah menganggap kamu sebagai anak Mama sendiri. Mama sangat bahagia karena kamu sudah mau menerima Reyhan menjadi suami kamu. Mama berharap kalian berdua akan bersama selamanya dan kamu akan selalu menjadi menantu mama." ucap Mama Riana tulus. Ia sangat berharap pada Amora. Wanita itu tak tahu tentang perjanjian rahasia mereka.
"Janji ya, kamu akan selalu menjadi menantu mama dan tidak akan pernah meninggalkan Reyhan." Mama Riana melonggarkan pelukannya dan menatap Amora penuh harap. Amora melirik Reyhan yang kini juga sedang menatapnya bingung.
"Amora, mau kan berjanji demi Mama?"
Amora terpaksa mengangguk karena ia tak ingin mengecewakan wanita yang sudah sangat baik padanya itu.
"Terimakasih ya, sayang. Mama bahagia banget." Mama Riana kembali menarik Amora dalam pelukannya. Sedangkan Reyhan tersenyum bahagia melihat kedua orang yang ia cintai berpelukan dan sangat akrab. Ia pun berharap semoga mamanya bisa membuat Amora benar mencintainya suatu saat nanti dan tidak akan pernah meninggalkannya. Ia tidak ingin jika hanya menjadi suami sementara, ia ingin menjadi suami bagi Amora untuk selamanya.
"Jadi, kapan kita adakan resepsi?" tanya Mama Riana setelah puas memeluk menantunya. Pertanyaan Mama Riana sontak saja membuat Amora dan Reyhan mendelik. Keduanya saling berpandangan dengan bingung.
"Apa? Resepsi?"
🌷🌷🌷
Halo zheyeng 😘
Like, komentar dan hadiah jangan lupa🙊🙊
Biar author makin semangat nulisnya. Hehe
Karena kalian adalah semangat buat author 😘😘
elepyyuuuuuu zheyeng 😘
__ADS_1