
Selesai sarapan, Vincent berangkat ke klinik untuk kerja.
Sudah sekitar setahun sejak Klinik Tongfang dipindahkan ke pusat kota. Pasiennya tidak banyak, sebagian besar adalah lansia. Pemuda jarang mau mengonsultasikan penyakit kecil kepada dokter pengobatan.
Namun, Vincent cukup sibuk di pagi hari.
Ketika Vincent tiba di klinik, Janur dan Via pada sedang menerima pasien yang berkonsultasi.
Ruang tunggu hampir penuh.
Vincent mengambil sapu dan menyapu lantai yang tidak begitu kotor.
Dia datang ke sini hanya untuk mencari uang.
Tapi Via tidak akan membiarkan dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
" Vincent, kamu bisa pengobatan, benar?"
"Bisa sedikit."
"Aku terlalu sibuk, kamu bantu ambil obat!"
Via berkata sambil menulis resep.
Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, sebuah resep telah selesai ditulis. Setelah menyerahkannya kepada Vincent, Via mulai memeriksa denyut nadi pasien lagi.
" Vincent, bantu aku juga."
Janur melirik Vincent sekilas, lalu menyodorkan resep yang telah dia tulis.
Tulisan dokter memang agak kacau. Namun, Janur malah sengaja membuatnya lebih kacau. Agaknya tidak ada yang bisa mengerti tulisan itu selain Janur sendiri.
Vincent melirik wajah pasien di tempat Janur, segera tahu obat apa yang dibutuhkan. Dia pun berjalan ke rak obat, mengambil obat-obat dengan gerakan terampil.
Meskipun Janur dan Via memberinya resep hampir pada saat bersamaan, tapi dia mengambil obat dengan sangat cepat. Dia tidak panik sama sekali. Gerakannya tampak mahir. Orang-orang yang melihatnya agak kaget.
Banyak pasien terpikat oleh postur Vincent.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
Tiba-tiba, Janur yang sedang memeriksa pasien berteriak keras.
Orang-orang tua di klinik pada terkejut.
Via juga tercengang. Dia menoleh untuk melihat Janur : "Ada apa denganmu?"
Janur tidak jawab. Sebaliknya, dia berlari ke rak obat dengan marah, menunjuk Vincent dan berteriak, "Ada apa denganmu? Tahukah kamu bahwa ini akan membunuh orang?"
"Apa yang salah dengan aku?"
Vincent bertanya dengan tenang.
"Kamu tanya apa yang salah denganmu? Dasar bodoh! Apakah kamu tidak perlu menimbang obat-obat yang kamu ambil? Tahukah kamu berapa banyak yang kamu ambil? Tahukah kamu bahwa dosis obat akan berdampak besar pada pasien? Kalau dosisnya terlalu sedikit, penyakitnya tidak akan bisa sembuh. Kalau kebanyakan, itu akan membahayakan nyawa pasien! Tahukah kamu bahwa kelakuanmu ini sedang mencelakai nyawa orang lain? Dasar otak babi!” Tegur Janur dengan lantang.
Begitu kata-kata itu terucap, pria dan wanita tua di klinik mulai mengomel.
"Benar. Aku melihat Dokter Melken dan Dokter Nur selalu menimbang obat-obat yang diambil."
"Bagaimanapun, sulit untuk mengetahui berapa banyak obat yang diambil tanpa menimbangnya."
"Tapi dulu aku melihat Dokter Dewa Luo mengambil obat tanpa menimbangnya. Dia dapat mengambil sesuai dosis yang dibutuhkan, tidak terlalu banyak maupun terlalu sedikit!"
"Dokter Dewa Melken jelas berbeda. Dokter Pengobatan memang memiliki kualifikasi yang baik dan keterampilan medis yang hebat. Bagaimana mungkin pemuda ini bisa dibandingkan dengan Dokter Dewa Melken ?"
"Pemuda ini terlalu ceroboh. Untung saja Dokter Nur telah menegurnya. Kalau terjadi apa-apa pada kita setelah makan obat yang diambilnya, kita bakal rugi besar."
"Benar sekali. Dokter Nur sangat teliti!"
__ADS_1
Suara-suara di sekitar membuat kebisigan. Beberapa dari mereka mengatakan Vincent ceroboh, ada pula yang memuji Janur teliti dan bertanggung jawab.
Sudut mulut Janur terangkat. Sentuhan kesombongan melintas di antara alisnya.
Ekspresi Via sedikit dingin.
Tidak timbang obat memang salah. Apakah Vincent mengira dirinya adalah kakek?
Via diam-diam mendengus, tidak mengatakan apa-apa. Teguran Janur sudah cukup.
Namun, Janur jelas tidak berencana membebaskan Vincent begitu saja.
"Dasar. Kemarin kamu cuma kebetulan berhasil menyelamatkan seorang gadis kecil, kamu malah sombong? Untung saja aku mengetahuinya tepat waktu. Kalau terjadi korban nyawa, bagaimana kamu bisa bertanggung jawab! Keluar! Pergi dari sini! Jangan merusak reputasi Klinik Tongfang !" Teriak Janur.
Banyak orang tercengang.
Via juga terkejut: "Dokter Nur, tidakkah kamu agak kelewatan?"
“Dokter Melken , kita ini dokter. Kita harus bertanggung jawab terhadap pasien. Bagi pasien, ini bukan hal sepele. Kita harus 100% teliti. Kalau ada kesalahan, kita harus memperbaikinya secepat mungkin, mengintrospeksi diri sesegera mungkin! Kita tidak boleh melewatkannya begitu saja! Ini adalah etika seorang dokter!” Kata Janur dengan sungguh-sungguh.
"Bagus sekali!"
"Berhati nurani!"
"Dokter Nur adalah dokter yang baik!"
Para pasien sangat tersentuh. Mereka pada memuji Dokter Nur.
Janur sangat bangga.
Pada saat ini pula, Vincent tiba-tiba bersuara.
"Karena kamu perhatian terhadap pasien, kenapa kamu menambahkan begitu banyak obat yang tidak diperlukan ke dalam resep pasien?"
Janur tersenyum: "Omong kosong apaan kamu? Obat yang tidak perlu? Aku tidak mengerti!"
Begitu kata-kata itu terucap, suasana langsung meledak.
"Ada kejadian seperti itu?"
"Dia bilang Dokter Nur meresepkan obat secara sembarangan?"
"Dokter Nur seharusnya bukan orang seperti itu, benar?
Klinik Tongfang menjadi kacau.
Janur meledak langsung di tempat.
" Vincent ! Kamu! Kamu! Kamu..... Kamu beromong kosong! Kamu dokter atau aku dokter? Sebagai orang yang tidak pernah bersekolah, apakah kamu memenuhi syarat untuk menuduh aku? Kamu tahu tentang peresepan? Kamu fitnah aku! Dasar bajingan! " Janur sangat marah. Jika bukan karena ada banyak orang di sekitar, dia pasti telah mengambil cangkir di atas meja dan membantingnya ke kepala Vincent.
Namun, Vincent menambahkan kalimat lain.
"Kamu bukan orang seperti itu? Lalu bagaimana pendapatmu tentang masalah Sarita ?"
Mendengar itu, wajah Janur berubah drastis. Dia menunjuk Vincent, bergemetaran hingga tidak bisa berkata-kata.
"Cukup!"
Via akhirnya tidak tahan lagi. Dia berseru dengan keras.
Suasana menjadi senyap.
Terdengar Via berkata dengan dingin: " Vincent datang untuk membantu kita. Dia bukan dokter profesional. Dia juga tidak mengerti peresepan. Kalau dia salah, kamu cukup mengingatkannya. Untuk apa kamu mengusirnya? Kamu juga, Vincent. Kamu cukup melakukan pekerjaanmu sendiri. Mengenai persoalan pengobatan, Dokter Nur pastinya lebih profesional dari kamu!"
Apakah ini termasuk memberi hukuman setara kepada mereka berdua?
Untuk saat ini, Via hanya bisa berbuat demikian.
__ADS_1
"Dokter Nur, kamu lanjut periksa pasien. Aku akan menimbang obat yang diambil Vincent. Semuanya tidak perlu khawatir."
Sambil berkata, Via bangkit dan berjalan ke rak obat, lalu membongkar bingkisan obat yang dibungkus Vincent.
Karena Via berkata demikian, Janur pun tidak enak untuk mengatakan apa-apa lagi.
Para pasien juga tidak berkomentar.
Via menempatkan obat-obat ke timbangan, menimbangnya satu per satu.
Setelah menimbang beberapa bungkus obat, ekspresi Via tiba-tiba berubah.
Dia menatap timbangan dengan bingung, lalu melihat resep di tangan.
“15 gram Taizishen, 15 gram Astragalus, 12 gram Rehmannia... semuanya pas?” Via tertegun. Dia melihat Vincent, kemudian buru-buru membuka bingkisan obat lainnya, meletakkannya di atas timbangan dan menimbangnya satu per satu. Sesaat kemudian, dia terdiam.
Dia tidak bisa mempercayai fakta di hadapannya.
Tapi..... faktanya memang demikian.
Jumlah obat yang diambil Vincent pas sesuai resep, sedemikian akurat hingga angka miligram pun persis sama dengan resep tertulis.
Tidak perlu timbangan untuk mengambil jumlah obat yang dibutuhkan secara akurat...
Kakek bilang bahwa dia baru mencapai tingkat ini sepuluh tahun yang lalu.
Namun, kakek telah mempelajari pengobatan seumur hidup...
“Dokter Melken , apakah ada masalah?” Tanya Vincent ketika dia melihat Via menatapnya terus-menerus.
"Tidak... tidak ada masalah."
Via agak panik. Dia meletakkan obat di tangannya.
"Kamu lanjut bertanggung jawab untuk mengambil obat."
"Baik."
"Itu..." Via ragu-ragu sejenak, lalu mencondongkan tubuh ke depan, berbisik: "Taruh di timbangan, pura-pura timbang..."
“Oke.” Vincent tampak tersenyum.
Via menatapnya penuh arti, lalu menoleh dan kembali memeriksa pasien lagi.
Janur tampak terkejut.
"Kenapa kamu tidak lanjut menimbang obat-obat itu? Kamu tidak menyesuaikan dosis yang diambil bocah itu?" Tanya Janur dengan heran.
"Tidak perlu disesuaikan!"
"Kenapa?"
"Karena dia telah mencapai tingkat di mana dia bisa mengambil obat tanpa timbangan." Via berkata dengan ringan.
“Bagaimana mungkin?” Mata Janur membelalak. Dia tidak berani mempercayainya sama sekali.
Pada saat ini pula, suara berat Vincent tiba-tiba terdengar.
"Dokter Melken , kapan ginseng ini masuk?"
Via tercengang sejenak, kemudian melihat ke samping dan berkata, "Tiga hari yang lalu, ada apa?."
"Berapa banyak pasien yang telah diresepkan dengan ginseng ini?"
“Aku tidak menggunakan obat itu akhir-akhir ini. Apakah Dokter Nur menggunakannya?” Via bertanya pada Janur yang ada di sebelahnya.
“Aku menggunakannya untuk beberapa pasien. Ada apa?” Jawab Janur dengan santai, mata tampak berkedip-kedip.
__ADS_1
Vincent diam sejenak sambil menatap ginseng di tangan, lalu berbalik dan berkata, "Obat ini palsu!"