T H A N A K A

T H A N A K A
' Page : 19 '


__ADS_3

Di Rumah Sakit


' Apa.. terjadi sesuatu padanya dok? '


Khawatir Thanaka.


Sang dokter menghela nafas.


' Tidak pak, hanya saja teman bapak butuh banyak istirahat.. '


' Sebab, tubuhnya sangat lemah akibat asupan obat tidur yang berlebihan '


Thanaka mengeryit.


' Obat tidur dok?!  '


Sang dokter mengangguk.


Thanaka menoleh ke Arsylin yang masih terlelap dengan wajah pucat nya.


' Diberi obat tidur?.. '


' Apa kamu tidak melawan pada saat disuruh meminumnya Arsylin?! '


Batin Thanaka.


' Tapi tenang pak.. '


Sontak Thanaka menoleh ke Dokter.


' Teman bapak hanya tertidur saja, nanti jika obat tidur yang dikonsumsinya sudah tidak bereaksi..'


' Dia pasti akan terbangun '


Lanjut dokter.


Thanaka mengangguk paham.


' Baik terimakasih banyak dok, saya berharap teman saya segera terbangun '


Sahut Thanaka.


Sang dokter tersenyum hangat.


' Pasti pak '


' Oh iya, nanti jika teman bapak sudah bangun..'


' Kalau bisa disegerakan makan dulu ya pak, soalnya kasihan wajahnya pucat sekali '


Thanaka mengangguk paham.


' Dan.. jika sudah mau makan, jangan lupa beri obat ini agar tubuhnya tidak lemas lagi '


Lanjut sang dokter, sembari menunjukkan obat berwarna biru diatas nampan.


' Oh baik pak '


' Kalau begitu.. saya tinggal dulu ya pak '


' Baik, terimakasih dok '


Setelah dokter keluar kamar, Thanaka kembali duduk di kursi yang berada tepat disamping ranjang Arsylin terlelap.


' Ini semua pasti karena syarat ku waktu itu '


' Andai saja aku tak memberinya syarat yang tak jelas seperti itu.. '


' Kamu pasti tidak akan seperti sekarang ini Arsylin '


' Maafkan aku..'


Tampak jelas aura khawatir sekaligus menyesal, terukir diwajah Thanaka.


Ditatapnya wajah pucat Arsylin.

__ADS_1


Lalu menghela nafas pelan.


Kemudian bangkit dari duduknya.


Namun belum sempat ia melangkah, Thanaka melihat Arsylin tampak perlahan membuka matanya.


Sontak Thanaka mendekat ke Arsylin.


' Arsylin.. '


Lirih Thanaka bahagia bercampur sedih.


Arsylin dapat mendengar suara Thanaka, namun pandangan nya masih kabur.


Arsylin mengeryit mendapati dirinya berada disebuah ruangan.


' Dimana ini? '


Lirihnya masih dengan mengedarkan pandangannya.


' Kamu sedang dirawat dirumah sakit '


Sahut Thanaka lirih.


' R-umah sakit?! Ah! - - '


' Eii! pelan-pelan..'


Thanaka mentitah tubuh lemas Arsylin untuk duduk menyandar, ke bantal yang sudah ia letakkan dibelakang Arsylin.


' Apa yang kamu rasakan? '


' Apa ada yang sakit? '


Lirih Thanaka khawatir, Arsylin menggeleng pelan.


Arsylin mengedarkan pandangannya.


' Aku kira aku akan tewas '


' Kenapa aku slalu terkena imbas dari semua keburukan papa David dimasa lalu '


Arsylin kembali teringat akan kejadian mengerikan tadi.


' Apa salah ku? '


Batin Arsylin menangis.


Tak sadar air matanya kembali membasahi kedua pipinya.


' Kata dokter, jika kau sudah bangun harus - - '


' Arsylin! Hei.. kenapa?! '


Thanaka segera meletakkan kembali mangkuk bubur yang dipegangnya.


Kemudian mendekati Arsylin.


' Apa ada yang sakit ?! '


Cemas Thanaka, namun Arsylin menggeleng pelan sembari terisak.


' Arsylin.. '


' Hei.. '


Thanaka mengusap lembut pucuk kepala Arsylin.


Sontak Arsylin menoleh.


' Kata kan pada ku, mana yang sakit? '


Lirih Thanaka.


Namun Arsylin kembali menggeleng.

__ADS_1


Air matanya semakin deras.


Thanaka panik.


Apa yang harus dilakukan nya.


' Kak '


Arsylin memeluk tubuh kekar Thanaka.


Thanaka terdiam.


Sejauh ini ia tak pernah memeluk ataupun dipeluk wanita lain, selain mendiang sang Ibunda.


Tangis Arsylin pecah.


Sontak Thanaka kalang kabut dibuatnya.


' Ar-arsylin.. '


Lirih Thanaka panik dengan.


' Kenapa hm? '


Dapat Thanaka rasakan, tubuh Arsylin sesekali gemetaran.


' Arsylin benci papa David! '


' Heii sssttt.. kenapa berkata begitu? '


Karena semakin tak tega melihat Arsylin yang menangis sesegukan disana, Thanaka segera membalas pelukan Arsylin.


' Kenapa aku sangat gelisah jika ia menangis '


Batin Thanaka, sembari terus mengelus kepala Arsylin.


2 Menit Berlalu


Dirasa Arsylin sudah kembali tenang.


Thanaka perlahan melepas pelukan mereka.


Tampak kedua mata Arsylin yang semakin sembab disana.


' Kenapa hm? '


' Apa yang terjadi? '


Thanaka terus mencoba menenangkan Arsylin.


Arsylin menatap lekat mata Thanaka.


' Ada yang ingin kau sampaikan? '


Lirih Thanaka.


Arsylin hanya diam.


Thanaka menghela nafas.


Kemudian mengelus lembut pucuk kepala Arsylin.


' Kalau mau cerita.. silahkan '


' Tapi.. Arsylin harus makan dulu. Biar cepet pulih. Oke? '


Setelah mengatakan itu, Thanaka meraih mangkuk yang tadi ia letakkan ke meja.


Dengan lembut Thanaka merayu Arsylin agar mau makan.


' Aaa '


Thanaka mengangkat sendok ditangannya.


Perlahan Arsylin membuka mulutnya, menerima sesuap demi sesuap bubur dari Thanaka.

__ADS_1


* 💘 NEXT 💘 *


__ADS_2