
Di Rumah Sakit
' Apa.. terjadi sesuatu padanya dok? '
Khawatir Thanaka.
Sang dokter menghela nafas.
' Tidak pak, hanya saja teman bapak butuh banyak istirahat.. '
' Sebab, tubuhnya sangat lemah akibat asupan obat tidur yang berlebihan '
Thanaka mengeryit.
' Obat tidur dok?! '
Sang dokter mengangguk.
Thanaka menoleh ke Arsylin yang masih terlelap dengan wajah pucat nya.
' Diberi obat tidur?.. '
' Apa kamu tidak melawan pada saat disuruh meminumnya Arsylin?! '
Batin Thanaka.
' Tapi tenang pak.. '
Sontak Thanaka menoleh ke Dokter.
' Teman bapak hanya tertidur saja, nanti jika obat tidur yang dikonsumsinya sudah tidak bereaksi..'
' Dia pasti akan terbangun '
Lanjut dokter.
Thanaka mengangguk paham.
' Baik terimakasih banyak dok, saya berharap teman saya segera terbangun '
Sahut Thanaka.
Sang dokter tersenyum hangat.
' Pasti pak '
' Oh iya, nanti jika teman bapak sudah bangun..'
' Kalau bisa disegerakan makan dulu ya pak, soalnya kasihan wajahnya pucat sekali '
Thanaka mengangguk paham.
' Dan.. jika sudah mau makan, jangan lupa beri obat ini agar tubuhnya tidak lemas lagi '
Lanjut sang dokter, sembari menunjukkan obat berwarna biru diatas nampan.
' Oh baik pak '
' Kalau begitu.. saya tinggal dulu ya pak '
' Baik, terimakasih dok '
Setelah dokter keluar kamar, Thanaka kembali duduk di kursi yang berada tepat disamping ranjang Arsylin terlelap.
' Ini semua pasti karena syarat ku waktu itu '
' Andai saja aku tak memberinya syarat yang tak jelas seperti itu.. '
' Kamu pasti tidak akan seperti sekarang ini Arsylin '
' Maafkan aku..'
Tampak jelas aura khawatir sekaligus menyesal, terukir diwajah Thanaka.
Ditatapnya wajah pucat Arsylin.
__ADS_1
Lalu menghela nafas pelan.
Kemudian bangkit dari duduknya.
Namun belum sempat ia melangkah, Thanaka melihat Arsylin tampak perlahan membuka matanya.
Sontak Thanaka mendekat ke Arsylin.
' Arsylin.. '
Lirih Thanaka bahagia bercampur sedih.
Arsylin dapat mendengar suara Thanaka, namun pandangan nya masih kabur.
Arsylin mengeryit mendapati dirinya berada disebuah ruangan.
' Dimana ini? '
Lirihnya masih dengan mengedarkan pandangannya.
' Kamu sedang dirawat dirumah sakit '
Sahut Thanaka lirih.
' R-umah sakit?! Ah! - - '
' Eii! pelan-pelan..'
Thanaka mentitah tubuh lemas Arsylin untuk duduk menyandar, ke bantal yang sudah ia letakkan dibelakang Arsylin.
' Apa yang kamu rasakan? '
' Apa ada yang sakit? '
Lirih Thanaka khawatir, Arsylin menggeleng pelan.
Arsylin mengedarkan pandangannya.
' Aku kira aku akan tewas '
' Kenapa aku slalu terkena imbas dari semua keburukan papa David dimasa lalu '
Arsylin kembali teringat akan kejadian mengerikan tadi.
' Apa salah ku? '
Batin Arsylin menangis.
Tak sadar air matanya kembali membasahi kedua pipinya.
' Kata dokter, jika kau sudah bangun harus - - '
' Arsylin! Hei.. kenapa?! '
Thanaka segera meletakkan kembali mangkuk bubur yang dipegangnya.
Kemudian mendekati Arsylin.
' Apa ada yang sakit ?! '
Cemas Thanaka, namun Arsylin menggeleng pelan sembari terisak.
' Arsylin.. '
' Hei.. '
Thanaka mengusap lembut pucuk kepala Arsylin.
Sontak Arsylin menoleh.
' Kata kan pada ku, mana yang sakit? '
Lirih Thanaka.
Namun Arsylin kembali menggeleng.
__ADS_1
Air matanya semakin deras.
Thanaka panik.
Apa yang harus dilakukan nya.
' Kak '
Arsylin memeluk tubuh kekar Thanaka.
Thanaka terdiam.
Sejauh ini ia tak pernah memeluk ataupun dipeluk wanita lain, selain mendiang sang Ibunda.
Tangis Arsylin pecah.
Sontak Thanaka kalang kabut dibuatnya.
' Ar-arsylin.. '
Lirih Thanaka panik dengan.
' Kenapa hm? '
Dapat Thanaka rasakan, tubuh Arsylin sesekali gemetaran.
' Arsylin benci papa David! '
' Heii sssttt.. kenapa berkata begitu? '
Karena semakin tak tega melihat Arsylin yang menangis sesegukan disana, Thanaka segera membalas pelukan Arsylin.
' Kenapa aku sangat gelisah jika ia menangis '
Batin Thanaka, sembari terus mengelus kepala Arsylin.
2 Menit Berlalu
Dirasa Arsylin sudah kembali tenang.
Thanaka perlahan melepas pelukan mereka.
Tampak kedua mata Arsylin yang semakin sembab disana.
' Kenapa hm? '
' Apa yang terjadi? '
Thanaka terus mencoba menenangkan Arsylin.
Arsylin menatap lekat mata Thanaka.
' Ada yang ingin kau sampaikan? '
Lirih Thanaka.
Arsylin hanya diam.
Thanaka menghela nafas.
Kemudian mengelus lembut pucuk kepala Arsylin.
' Kalau mau cerita.. silahkan '
' Tapi.. Arsylin harus makan dulu. Biar cepet pulih. Oke? '
Setelah mengatakan itu, Thanaka meraih mangkuk yang tadi ia letakkan ke meja.
Dengan lembut Thanaka merayu Arsylin agar mau makan.
' Aaa '
Thanaka mengangkat sendok ditangannya.
Perlahan Arsylin membuka mulutnya, menerima sesuap demi sesuap bubur dari Thanaka.
__ADS_1
* 💘 NEXT 💘 *