
Kehidupan manusia bermulai di titik nol. Dari seorang bayi yang tidak tahu apa-apa, lalu merangkak, dan terus berusaha sehingga membuatnya mampu berdiri sendiri.
Pencapaian hanya akan didapat jika kita terus berusaha.
Tapi, apa itu pencapaian?
Apa itu akhir dari perjuangan?
Ya. Pencapaian adalah akhir dari sebuah perjuangan. Tapi, apa kehidupan juga akan berakhir sampai di sana?
Tidak. Karena kehidupan tidak hanya diisi satu perjuangan saja.
Setelah berhasil menggenggam sebuah pencapaian, perjuangan akan dibutuhkan lagi. Sebuah perjuangan untuk bertahan. Sayangnya, aku telah gagal dalam perjuangan ini.
Kemarin, aku bertemu Raga di sebuah bar. Dia yang mengundangku agar kami bisa berbincang-bincang dan selangkah lebih dekat. Aku menyetujuinya karena kupikir, dengan kami menjadi dekat, bisa memudahkan proses syuting sebuah film, yang akan kami bintangi sebagai sepasang kekasih. Namun, aku salah. Keputusanku kemari justru menggagalkan penayangan film itu.
Keesokan harinya, aku terbangun karena keramaian di sekitarku. Saat mataku terbuka, aku terkejut mendapati banyak orang mengelilingiku dan menghujani kilat kamera kepadaku.
Aku pun membangunkan punggungku, membuat kemeja yang kukenakan jatuh dan memamerkan bra hitamku. Aku tidak ingat pernah membuka kancingnya dan membaringkan diriku di tempat asing ini.
Ya. Setelah pandanganku berkeliling, aku sama sekali tidak mengenal tempat ini. Dan aku tidak menemukan satu pun dari ingatanku yang membawaku kemari.
Aku di sini tanpa tahu apa pun.
Tak lama, manajerku datang. Dia langsung menyelimutiku dengan jaket kulitnya. Kami pun berjalan cepat menerobos para wartawan.
Di kantor agensiku, Pak Rudi, CEO agensi yang menaungiku selama tiga tahun langsung menembakiku dengan pertanyaan. Dia memaksaku menjawab pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Aku bahkan kesulitan mencerna topik apa yang tengah dibicarakannya. Aku baru tahu segalanya, saat manajerku memberiku sebuah tablet. Mataku melebar membaca judul berita di layar sana.
SKANDAL PERSELINGKUHAN DI BALIK LAYAR.
Namaku dan Raga tertera, mengawali awal paragraf berita ini. Kemudian diikuti ribuan komentar hujatan di bawahnya.
Manajerku mengambil tablet itu sebelum bacaanku selesai. Aku langsung menoleh. Mencengkeram lengannya erat-erat. Berusaha mencari dinding yang bisa menopangku berdiri.
“A-apa yang terjadi padaku?”
“Itu juga yang ditanyakan Pak Rudi padamu.”
Pihakku dan pihak Arga saling melempar tuduhan selama beberapa hari. Aku mengungkapkan segala kebenaran yang kutahu. Arga justru membalikkan keadaan. Di mana dialah yang mengundangku, di depan publik dia malah menuduhku mengundangnya. Kami bahkan melibatkan hukum. Sayangnya, tidak ditemukan bukti apa pun. Bukti pesan yang dikirimkan Arga kepadaku juga menghilang.
Masalah ini tidak berhenti pada keputusan hakim. Arga dan istrinya tidak berhenti menuduhku. Menarik kemarahan publik dan menghancurkan nama baikku. Tidak ada lagi sebutan Malaikat Bintang untukku. Hanya perusak rumah tangga orang.
Masalah ini berakhir dengan pemecatanku atas kelalaianku menjaga nama baikku yang tertera pada kontrak. Satu per satu nota utang dikirimkan padaku. Membuatku disibukkan pikiran selain skandal itu.
Tidak ada lagi tawaran film, iklan, atau sinetron untukku. Aku juga ditolak saat menawarkan diriku. Tidak ada pintu yang terbuka. Bahkan sekadar warung bakso, mereka tidak sudi memperkerjakan tukang cuci jika itu diriku.
Apartemenku dijual dan seluruh barang-barang mewahku habis. Hanya tersisa rumah kecil peninggalan orang tuaku di Malang. Aku pun pulang ke kampung halaman.
Benar kata ayahku semasa kecilku, “Tidak ada yang lebih baik daripada memiliki rumah sendiri. Kalau pun kamu tidak memiliki makanan apa pun, kamu masih memiliki tanah untuk mengubur mayatmu.”
Kini, aku kembali. Kembali lagi pada fase lebih rendah dari seorang bayi yang belum bisa merangkak. Ah, lebih dari itu. Aku bahkan tidak berdiri di titik nol. Tapi titik negatif.
-oOo-“Kalau gitu, menikahlah denganku. Maka, utangmu akan beralih menjadi tanggung jawabku sebagai suamimu.”
Telingaku semakin terasa panas. Seolah bara api menyentuh gelindang telingaku. Kepalaku menoleh dalam gerakan kaku. Sedangkan mulutku masih terbuka, terperangah. Bagaimana laki-laki ini bisa terus mencandaiku?
“Aku serius,” imbuh laki-laki itu, seolah mendengar keraguan dalam hatiku.
“Utangku banyak.”
“Berapa? Sepuluh juta? Lima puluh juta? Dua ratus juta?” Laki-laki itu mengatakan seluruh nominal itu dengan begitu entengnya.
“Lima ratus juta,” aku memperjelas.
Kupikir, laki-laki itu akan terdiam karena pilihannya menjadi berat. Atau setidaknya, laki-laki itu akan terkejut dan memekik, “Apa yang kamu lakukan dengan uang sebanyak itu? Apa kamu makan micin satu kardus per hari?”—seperti yang kukatakan kepada ayahku sebelum beliau meninggal. Namun, ketenangan laki-laki itu tetap tak bergoyang. Sekali lagi, dia mengangkat senyumnya. “Baiklah. Aku akan melunasinya nanti malam,” katanya, seolah ibu yang mendengar anaknya baru saja jajan di toko sebelah.
Dahiku berkerut. “Kamu bukan orang waras, kan? Atau kamu seorang penipu?” Siapapun akan memberikan tuduhan yang sama sepertiku.
Laki-laki itu menarik sesuatu dari saku jasnya. Kemudian menyodorkan sebuah kartu padaku. “Itu kartu namaku. Kamu bisa menelusuri tentang diriku hari ini, tapi pernikahan kita akan dilaksanakan esok hari.”
Aku tidak tertarik pada kata-katanya yang mengungkit soal pernikahan, melainkan pada restoran Sejuta Bintang yang tertulis dalam kartu nama tersebut. Aku tahu itu adalah salah satu restoran terbaik se-Indonesia. Dan kini, aku malah berada di hadapan pemiliknya—
Apa aku sedang bermimpi?
“Kalau emang benar, untuk apa kamu menikahiku? Sampai repot-repot melunasi utangku?” Aku mengungkit hal terkonyol dalam obrolan ini.
“Kamu terlalu banyak tanya, ya?” Laki-laki itu tertawa pelan. “Sekarang, biarkan aku yang bertanya. Kamu setuju menikahiku atau setuju aku berteriak kalau ada pencopet di sini?”
“Apa-apaan ini? Kamu mengancamku?” aku memekik. Bagaimana dia bisa memojokkanku setelah memasang wajah malaikatnya?
“Aku kan, udah bilang, kalau aku menanyaimu.”
Aku berdengus kesal. Apa pun penjelasannya, intinya dia memojokkanku. Aku tidak punya pilihan selain menerima lamaran kilat itu. Sedangkan yang kedua, sebenarnya bukan pilihan. Laki-lak itu pasti tahu kalau aku tidak akan memilihnya.
“Tapi, seperti yang kamu bilang, aku bisa menelusuri kebenaran tentang dirimu hari ini. Jadi, aku mau kamu mengantarku ke restoran Sejuta Bintang, dan ikut aku masuk ke sana.” Aku memberikannya syarat.
Laki-laki itu tertawa pelan sekali lagi. Kemudian mengangguk. “Baiklah.”
Setelah berdiam lama dan menaungi perdebatan ini, mobil hitam nan mewah yang kunaiki pun bergerak. Laki-laki itu mulai melajukan mobilnya. Alunan musik mellow berputar, menguasai ruang di antara kami berdua.
Suara perempuan melantunkan nyanyiannya dalam bahasa Cina. Aku tidak mengerti artinya. Namun, lagu itu berhasil membuatku terbawa suasana. Apalagi, laki-laki itu menyetelnya berulang-ulang. Dia tidak terlihat bosan sedikit pun. Menikmatinya dengan pandangan berbinar-binar. Setelah kulihat baik-baik, laki-laki ini berwajah putih dengan mata agak kecil. Pantas saja dia menikmati lagu berbahasa asing ini. Kuduga, darah orang Cina mengalir dalam tubuhnya.
Laki-laki itu benar-benar membawaku menuju restoran bertingkat tiga yang sempat kulihat sebatas dalam gambar. Dia membuktikan kedudukan dirinya yang sesungguhnya. Membuatku menyesal telah terjebak dalam kehidupannya. Kini, aku harus mempersiapkan diriku untuk pernikahan kami berdua esok hari.
Setelah dari restoran, laki-laki itu membawaku menuju rumahnya. Sebenarnya, ini bukan kawasan perumahan. Namun, keadaan di sekitar sini begitu sepi. Tenang dan nyaman untuk ditinggali orang yang selalu pulang bekerja dalam kondisi kelelahan.
__ADS_1
Aku berdiri terperangah melihat rumah yang berdiri di depanku. Rumah bercat biru, sederhana, dan tidak begitu besar. Ukurannya seperti rumah-rumah biasa. Tidak mencerminkan kedudukan tinggi laki-laki ini. Dia tidak sedang mempermainkanku, kan?
“Apa yang kamu lakukan? Ayo masuk!” seruan laki-laki itu membuyarkan lamunanku. Namun, aku belum mau mengangkat langkahku lagi.
“Untuk apa kamu mengajakku ke rumahmu? Kita bisa bertemu besok. Lagi pula, apa jaminannya kalau kamu enggak akan melakukan apa-apa sama aku?”
Laki-laki itu mengangkat senyumnya. Aku sampai heran, apa dia memang selalu seperti itu?
“Melakukan apa-apa seperti apa? Apa seperti yang tiba-tiba kupikirkan?”
Laki-laki itu mulai menggodaku, bahkan sebelum pernikahan kami berlangsung. Ini menyebalkan. Aku pun membalikkan tubuhku untuk pergi. Namun, laki-laki itu berhasil mencekal tanganku.
“Aku cuma enggak mau kalau kamu sampai lari gitu aja.”
Aku menoleh. Laki-laki itu tidak mengeluarkan suaranya seperti orang yang marah. Dia menatapku lekat-lekat dengan bola mata yang memantulkan kepedulian. Sejujurnya, tatapannya telah sampai menyentuh hatiku. Namun, aku segera menepisnya. Kemudian memasuki rumah itu mengikuti langkahnya.
Sekali lagi, aku dibuat terperangah. Isi rumah ini bahkan lebih sederhana dibanding rumah-rumah biasanya. Di ruang tamu hanya tersedia bangku kayu dan meja kecil berlapis kaca. Tidak ada apa-apa di dinding meski hanya sebuah foto. Laki-laki itu menyuruhku memasuki sebuah kamar. Kemudian dia memasuki kamar di sebelahku.
Aku memperhatikan seluruh bagian kamar ini. Juga tidak besar. Hanya ada ranjang dan lemari seperti kamar kos.
Sebelum aku mendudukkan diriku di atas ranjang, laki-laki itu sudah berdiri di tengah pintu.
“Setelah ini mandilah. Maaf. Untuk sekarang, aku hanya bisa meminjamkan pakaianku. Barang-barangmu akan diantar esok pagi.”
Aku mengangguk. Sebelum aku melangkahkan kakiku, laki-laki itu sudah melewati garis pintu. Dia meletakkan setumpuk pakaian dalam pelukannya ke atas ranjang.
“Duduklah.”
Aku pun duduk. Hanya menurutinya begitu saja.
Laki-laki itu berjongkok di depanku setelah meletakkan sebuah kotak P3K berukuran besar. Dia mengeluarkan gunting dari sana.
“Apa yang mau kamu lakukan?” tanyaku ketakutan. Tiba-tiba, bayang-bayang film pembunuhan muncul di kepalaku.
Laki-laki itu masih tersenyum. Berusaha menenangkan kecemasanku. “Aku hanya berniat membersihkan lukamu. Kakimu akan perih saat terguyur air, sebelum lukamu dibalut. Kuharap kamu enggak akan salah memahamiku.”
“Ba-baiklah.” Aku memberikannya lampu hijau.
Laki-laki itu menggerakkan guntingnya untuk menyobek celana olahragaku. Cukup banyak. Dia menyobeknya sampai di atas lutut. Aku sedikit malu. Namun, mau bagaimana lagi? Apa yang laki-laki itu katakan memang benar. Lagi pula, aku tidak akan bisa mengurus lukaku sendirian.
Laki-laki itu mulai membersihkan lukaku dengan kapas yang sudah dicelupkan antiseptik. Dia mengurus lukaku dengan baik, selayaknya seorang dokter.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Menghabiskan waktu penuh kecanggungan ini dengan kediaman.
“Udah.”
Kini, kakiku telah terbalut perban.
“Apa kita benar-benar akan menikah besok?” tanyaku saat laki-laki itu sibuk membenahi kotak P3K-nya.
Laki-laki itu mengangkat wajahnya. Lalu mengerjapkan mata. “Lagi pula, aku udah melunasi seluruh utangmu.”
Laki-laki itu menarik ponsel dari sakunya dan menyodorkannya padaku. Layar ponselnya menampilkan ruang pesan berisi pernyataan pelunasan utang. Sedangkan nomor pengirimnya sama dengan nomor yang selalu mengusikku selama ini.
“Utangku banyak, lho. Gimana kamu bisa melunasi semuanya?” Alisku tertarik erat. Ingin sekali aku meneriakkan kegilaan laki-laki ini.
“Karena aku punya uang dan aku mau menikahimu.”
“Apa yang sebenarnya membuatmu tertarik padaku? Aku orang miskin dan bisa aja bikin kamu malu. Aku bukan orang baik. Aku pencuri. Aku bisa merugikanmu kapan aja. Dan, aku enggak bisa bertindak sebagai istri. Aku bahkan enggak bisa memasak makanan selain mi instan.” Di sini aku yang diuntungkan. Namun, justru aku yang keberatan.
“Kemiskinan tidak membuat seseorang menjadi bodoh. Aku enggak takut kalau kamu berusaha merugikanku suatu hari nanti. Apa yang kamu lakukan adalah keputusanmu, sedangkan menjaga apa yang menjadi milikku adalah tanggung jawabku. Untuk masakan, kamu tenang aja, kamu enggak akan kelaparan selama tinggal di sini. Aku melalui masa mudaku dengan bergelut dalam bisnis makanan. Jadi, aku cukup pandai untuk memasak sekadar nasi goreng.” Laki-laki itu menanggapi seluruh keberatanku dengan ketenangannya. Dia bangun sembari mengangkat kotak P3K-nya. “Lagian, aku enggak pernah tertarik sama kamu.”
Apa itu penjelasan? Bahkan, aku belum mengerti makna kalimatnya.
“Mas Rendy ….”
Laki-laki itu menghentikan kakinya yang baru melangkah sekali, setelah mendengarku menyebut namanya.
“Apa kamu menyukaiku sejak pertama kali pandanganmu jatuh kepadaku?”
Ini gila! Namun, aku benar-benar menanyakannya.
-oOo-
“Kalau gitu, menikahlah denganku. Maka, utangmu akan beralih menjadi tanggung jawabku sebagai suamimu.”
Telingaku semakin terasa panas. Seolah bara api menyentuh gelindang telingaku. Kepalaku menoleh dalam gerakan kaku. Sedangkan mulutku masih terbuka, terperangah. Bagaimana laki-laki ini bisa terus mencandaiku?
“Aku serius,” imbuh laki-laki itu, seolah mendengar keraguan dalam hatiku.
“Utangku banyak.”
“Berapa? Sepuluh juta? Lima puluh juta? Dua ratus juta?” Laki-laki itu mengatakan seluruh nominal itu dengan begitu entengnya.
“Lima ratus juta,” aku memperjelas.
Kupikir, laki-laki itu akan terdiam karena pilihannya menjadi berat. Atau setidaknya, laki-laki itu akan terkejut dan memekik, “Apa yang kamu lakukan dengan uang sebanyak itu? Apa kamu makan micin satu kardus per hari?”—seperti yang kukatakan kepada ayahku sebelum beliau meninggal. Namun, ketenangan laki-laki itu tetap tak bergoyang. Sekali lagi, dia mengangkat senyumnya. “Baiklah. Aku akan melunasinya nanti malam,” katanya, seolah ibu yang mendengar anaknya baru saja jajan di toko sebelah.
Dahiku berkerut. “Kamu bukan orang waras, kan? Atau kamu seorang penipu?” Siapapun akan memberikan tuduhan yang sama sepertiku.
Laki-laki itu menarik sesuatu dari saku jasnya. Kemudian menyodorkan sebuah kartu padaku. “Itu kartu namaku. Kamu bisa menelusuri tentang diriku hari ini, tapi pernikahan kita akan dilaksanakan esok hari.”
Aku tidak tertarik pada kata-katanya yang mengungkit soal pernikahan, melainkan pada restoran Sejuta Bintang yang tertulis dalam kartu nama tersebut. Aku tahu itu adalah salah satu restoran terbaik se-Indonesia. Dan kini, aku malah berada di hadapan pemiliknya—
Apa aku sedang bermimpi?
__ADS_1
“Kalau emang benar, untuk apa kamu menikahiku? Sampai repot-repot melunasi utangku?” Aku mengungkit hal terkonyol dalam obrolan ini.
“Kamu terlalu banyak tanya, ya?” Laki-laki itu tertawa pelan. “Sekarang, biarkan aku yang bertanya. Kamu setuju menikahiku atau setuju aku berteriak kalau ada pencopet di sini?”
“Apa-apaan ini? Kamu mengancamku?” aku memekik. Bagaimana dia bisa memojokkanku setelah memasang wajah malaikatnya?
“Aku kan, udah bilang, kalau aku menanyaimu.”
Aku berdengus kesal. Apa pun penjelasannya, intinya dia memojokkanku. Aku tidak punya pilihan selain menerima lamaran kilat itu. Sedangkan yang kedua, sebenarnya bukan pilihan. Laki-lak itu pasti tahu kalau aku tidak akan memilihnya.
“Tapi, seperti yang kamu bilang, aku bisa menelusuri kebenaran tentang dirimu hari ini. Jadi, aku mau kamu mengantarku ke restoran Sejuta Bintang, dan ikut aku masuk ke sana.” Aku memberikannya syarat.
Laki-laki itu tertawa pelan sekali lagi. Kemudian mengangguk. “Baiklah.”
Setelah berdiam lama dan menaungi perdebatan ini, mobil hitam nan mewah yang kunaiki pun bergerak. Laki-laki itu mulai melajukan mobilnya. Alunan musik mellow berputar, menguasai ruang di antara kami berdua.
Suara perempuan melantunkan nyanyiannya dalam bahasa Cina. Aku tidak mengerti artinya. Namun, lagu itu berhasil membuatku terbawa suasana. Apalagi, laki-laki itu menyetelnya berulang-ulang. Dia tidak terlihat bosan sedikit pun. Menikmatinya dengan pandangan berbinar-binar. Setelah kulihat baik-baik, laki-laki ini berwajah putih dengan mata agak kecil. Pantas saja dia menikmati lagu berbahasa asing ini. Kuduga, darah orang Cina mengalir dalam tubuhnya.
Laki-laki itu benar-benar membawaku menuju restoran bertingkat tiga yang sempat kulihat sebatas dalam gambar. Dia membuktikan kedudukan dirinya yang sesungguhnya. Membuatku menyesal telah terjebak dalam kehidupannya. Kini, aku harus mempersiapkan diriku untuk pernikahan kami berdua esok hari.
Setelah dari restoran, laki-laki itu membawaku menuju rumahnya. Sebenarnya, ini bukan kawasan perumahan. Namun, keadaan di sekitar sini begitu sepi. Tenang dan nyaman untuk ditinggali orang yang selalu pulang bekerja dalam kondisi kelelahan.
Aku berdiri terperangah melihat rumah yang berdiri di depanku. Rumah bercat biru, sederhana, dan tidak begitu besar. Ukurannya seperti rumah-rumah biasa. Tidak mencerminkan kedudukan tinggi laki-laki ini. Dia tidak sedang mempermainkanku, kan?
“Apa yang kamu lakukan? Ayo masuk!” seruan laki-laki itu membuyarkan lamunanku. Namun, aku belum mau mengangkat langkahku lagi.
“Untuk apa kamu mengajakku ke rumahmu? Kita bisa bertemu besok. Lagi pula, apa jaminannya kalau kamu enggak akan melakukan apa-apa sama aku?”
Laki-laki itu mengangkat senyumnya. Aku sampai heran, apa dia memang selalu seperti itu?
“Melakukan apa-apa seperti apa? Apa seperti yang tiba-tiba kupikirkan?”
Laki-laki itu mulai menggodaku, bahkan sebelum pernikahan kami berlangsung. Ini menyebalkan. Aku pun membalikkan tubuhku untuk pergi. Namun, laki-laki itu berhasil mencekal tanganku.
“Aku cuma enggak mau kalau kamu sampai lari gitu aja.”
Aku menoleh. Laki-laki itu tidak mengeluarkan suaranya seperti orang yang marah. Dia menatapku lekat-lekat dengan bola mata yang memantulkan kepedulian. Sejujurnya, tatapannya telah sampai menyentuh hatiku. Namun, aku segera menepisnya. Kemudian memasuki rumah itu mengikuti langkahnya.
Sekali lagi, aku dibuat terperangah. Isi rumah ini bahkan lebih sederhana dibanding rumah-rumah biasanya. Di ruang tamu hanya tersedia bangku kayu dan meja kecil berlapis kaca. Tidak ada apa-apa di dinding meski hanya sebuah foto. Laki-laki itu menyuruhku memasuki sebuah kamar. Kemudian dia memasuki kamar di sebelahku.
Aku memperhatikan seluruh bagian kamar ini. Juga tidak besar. Hanya ada ranjang dan lemari seperti kamar kos.
Sebelum aku mendudukkan diriku di atas ranjang, laki-laki itu sudah berdiri di tengah pintu.
“Setelah ini mandilah. Maaf. Untuk sekarang, aku hanya bisa meminjamkan pakaianku. Barang-barangmu akan diantar esok pagi.”
Aku mengangguk. Sebelum aku melangkahkan kakiku, laki-laki itu sudah melewati garis pintu. Dia meletakkan setumpuk pakaian dalam pelukannya ke atas ranjang.
“Duduklah.”
Aku pun duduk. Hanya menurutinya begitu saja.
Laki-laki itu berjongkok di depanku setelah meletakkan sebuah kotak P3K berukuran besar. Dia mengeluarkan gunting dari sana.
“Apa yang mau kamu lakukan?” tanyaku ketakutan. Tiba-tiba, bayang-bayang film pembunuhan muncul di kepalaku.
Laki-laki itu masih tersenyum. Berusaha menenangkan kecemasanku. “Aku hanya berniat membersihkan lukamu. Kakimu akan perih saat terguyur air, sebelum lukamu dibalut. Kuharap kamu enggak akan salah memahamiku.”
“Ba-baiklah.” Aku memberikannya lampu hijau.
Laki-laki itu menggerakkan guntingnya untuk menyobek celana olahragaku. Cukup banyak. Dia menyobeknya sampai di atas lutut. Aku sedikit malu. Namun, mau bagaimana lagi? Apa yang laki-laki itu katakan memang benar. Lagi pula, aku tidak akan bisa mengurus lukaku sendirian.
Laki-laki itu mulai membersihkan lukaku dengan kapas yang sudah dicelupkan antiseptik. Dia mengurus lukaku dengan baik, selayaknya seorang dokter.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Menghabiskan waktu penuh kecanggungan ini dengan kediaman.
“Udah.”
Kini, kakiku telah terbalut perban.
“Apa kita benar-benar akan menikah besok?” tanyaku saat laki-laki itu sibuk membenahi kotak P3K-nya.
Laki-laki itu mengangkat wajahnya. Lalu mengerjapkan mata. “Lagi pula, aku udah melunasi seluruh utangmu.”
Laki-laki itu menarik ponsel dari sakunya dan menyodorkannya padaku. Layar ponselnya menampilkan ruang pesan berisi pernyataan pelunasan utang. Sedangkan nomor pengirimnya sama dengan nomor yang selalu mengusikku selama ini.
“Utangku banyak, lho. Gimana kamu bisa melunasi semuanya?” Alisku tertarik erat. Ingin sekali aku meneriakkan kegilaan laki-laki ini.
“Karena aku punya uang dan aku mau menikahimu.”
“Apa yang sebenarnya membuatmu tertarik padaku? Aku orang miskin dan bisa aja bikin kamu malu. Aku bukan orang baik. Aku pencuri. Aku bisa merugikanmu kapan aja. Dan, aku enggak bisa bertindak sebagai istri. Aku bahkan enggak bisa memasak makanan selain mi instan.” Di sini aku yang diuntungkan. Namun, justru aku yang keberatan.
“Kemiskinan tidak membuat seseorang menjadi bodoh. Aku enggak takut kalau kamu berusaha merugikanku suatu hari nanti. Apa yang kamu lakukan adalah keputusanmu, sedangkan menjaga apa yang menjadi milikku adalah tanggung jawabku. Untuk masakan, kamu tenang aja, kamu enggak akan kelaparan selama tinggal di sini. Aku melalui masa mudaku dengan bergelut dalam bisnis makanan. Jadi, aku cukup pandai untuk memasak sekadar nasi goreng.” Laki-laki itu menanggapi seluruh keberatanku dengan ketenangannya. Dia bangun sembari mengangkat kotak P3K-nya. “Lagian, aku enggak pernah tertarik sama kamu.”
Apa itu penjelasan? Bahkan, aku belum mengerti makna kalimatnya.
“Mas Rendy ….”
Laki-laki itu menghentikan kakinya yang baru melangkah sekali, setelah mendengarku menyebut namanya.
“Apa kamu menyukaiku sejak pertama kali pandanganmu jatuh kepadaku?”
Ini gila! Namun, aku benar-benar menanyakannya.
-oOo-
__ADS_1