
...πππ...
"Duduklah!" Perintah Arga.
Jendaya hanya bisa menurut, namun masih terlihat sangat gugup.
"Sekarang makan!" Arga menarik dan mengangkat sendok yang sebelumnya sudah dia sendoki dengan nasi dan lauk disana. Lalu menyuapi Jendaya.
Jendaya tidak mengerti, mengapa Arga tiba-tiba berubah baik. Apalagi didalam beberapa hari terakhir ini, laki-laki kejam itu tidak pernah lagi marah-marah kepadanya. Bahkan, perlakuan Arga malah menampilkan kebalikannya dan lebih perhatian.
Melihat ekspresi Jendaya yang terlihat diam dan terus memperhatikan dirinya, membuat Arga mengerti tentang apa yang ada di dalam pikiran Jendaya.
"Sekarang! Makan sendiri! Jangan seperti anak kecil yang maunya hanya disuapi saja!" Kesal Arga dan membanting sendok, lalu pergi dari sana begitu saja.
Namun, detik berikutnya dia berbalik dan kembali ke meja makan, "Jangan pernah berpikir bahwa aku akan baik kepadamu!" Tegas Arga, lalu mengambil Handphone miliknya dan pergi dari sana.
Jendaya nampak juga ikut kesal, "Kenapa aku berpikir dia itu memiliki hati yang baik? Bahkan, ketika aku berpikir dia orang yang baik, tapi detik berikutnya dia berubah menjadi harimau!" Gerutu Jendaya yang sudah sebal.
__ADS_1
Akan tetapi, jauh di lubuk hati Jendaya yang paling dalam. Dia tau, bahwa Arga sebenarnya bukanlah orang yang jahat. Dia pun hanya bisa mendengus kesal, lalu kembali melanjutkan makannya.
Sementara itu di tempat lain, Arga terlihat sangat marah kepada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia bersikap baik kepada wanita yang sudah membuatnya merasakan sakit hati. Seumur hidupnya, tidak seorang pun yang berani membuatnya sakit hati karena cinta selain Laras. Melihat wajah Jendaya, membuat Arga selalu mengingat kesakitan-nya kepada Laras, dan itu membuatnya semakin ingin menyiksa dan menyiksa Jendaya lebih menyakitkan lagi.
"Kenapa dia harus hamil? Kalau bukan karena anakku, aku tidak ingin bersikap baik kepadanya!" Geramnya kesal.
Sementara Hans hanya bisa menarik nafas panjang melihat kemarahan tuannya itu.
"Tuan! Sebaiknya tuan harus mengontrol emosi tuan. Ini hanya akan berlalu sampai sembilan bulan saja. Setelah anak itu lahir, tuan akan bebas menyakiti Nona Jendaya!" Ujar Hans.
Arga beralih menatap Sekertarisnya itu dengan sorot mata tajamnya, "Waktu sembilan bulan itu adalah waktu yang sangat lama untuk ku Hans! Cobalah untuk mengerti! Bagaimana aku harus melewati hari tanpa melihat penderitaannya?"
Arga hanya diam dan menarik nafas dalam, "Baiklah, aku harus bersabar sampai anakku lahir. Setelah itu, aku harus segera membunuh wanita itu!" Geramnya.
"Bagaimana perkembangan pencarian Laras?" Tanya Arga kemudian.
"Masih dalam pencarian tuan. Nona Laras sangat pandai bersembunyi, bahkan agen pencarian pun tidak bisa menemukan tanda-tanda keberadaannya!" Lapor Hans. Membuat Arga manggut-manggut tanda mengerti.
__ADS_1
"Ternyata dia sangat pandai bermain petak umpet dengan ku ya? Baiklah, aku akan terus mencari mu sampai ke ujung dunia sekalipun. Tunggu saja, setelah aku benar-benar akan menemukan mu, maka bersiaplah untuk menerima hukuman dariku Laras!" Gumamnya geram dengan tersenyum licik.
Sementara itu, Jendaya seperti biasa pergi ke kamarnya dan merapikan beberapa barang di kamar yang sudah beberapa hari ini tidak dia kemasi.
Setelah membersihkan kamar, dia mencuci pakaian, lalu pergi menyiram bunga-bunga di taman. Aktivitas yang biasa dia lakukan di rumah Arga terasa sangat melelahkan tubuhnya. Kepalanya berdenyut saking sakitnya. Sejak hamil, Jendaya lebih suka bermalas-malasan di dalam kamar tanpa harus melakukan pekerjaan apapun. Namun dia takut, jika dia bermalas-malasan akan membuat Arga marah dan menyiksanya dengan hal lain yang mungkin akan lebih menyakitkan dari pada hanya beres-beres di rumah.
Jendaya duduk di kursi taman Sambil mengelus perutnya yang masih rata. Dia berpikir, akankah anaknya ini diterima oleh Arga atau malah disiksa seperti dirinya saat ini. Membayangkannya saja, Jendaya merasa tidak rela jika anaknya nanti akan merasakan hal yang sama seperti dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin anakku menderita setelah dia dilahirkan!" Gumam Jendaya seorang diri yang masih duduk termenung di dalam pikirannya yang masih berkecamuk.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya βΊοΈ