
Armand dan Devita baru saja pulang. Ibu dan anak itu langsung masuk ke kamar masing-masing. Padahal Zahira sudah bersiap seandainya ibu tiri dari suaminya itu marah-marah karena aduan Inge yang sudah dipastikan jauh dari fakta yang sebenarnya. Namun yang terjadi, ibu dan anak itu tak lagi keluar kamar hingga pagi.
Pukul tujuh pagi, semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan termasuk Abian. Pria itu datang paling akhir setelah ibu dan adik tirinya. Dia menatap Zahira yang sedang sibuk membawa makanan ke meja makan bersama dengan Bik Darsih.
Iya. Hari ini Zahira mulai bekerja sehari penuh sebagai pembantu. Dia tidak lagi bekerja di kantor Abian, meski dengan status magang sekalipun.
"Bi, semalam Inge pulang jam berapa dari sini? Mama lupa bertanya semalam," tanya Devita membuka pembicaraan dengan tangan yang mulai sibuk menyendok nasi dan beberapa lauk yang sudah tersaji di atas meja.
Abian melirik Zahira yang kebetulan sedang meletakkan jus jeruk di atas meja.
"Aku tidak ingat, Ma. Tapi, dia disini nggak begitu lama," jawab Abian.
"Kalian nggak sedang bertengkar kan?" selidik Devita.
"Kenapa Mama bertanya seperti itu? Apa Inge mengatakan sesuatu?" Abian balik bertanya tidak mungkin dia bilang kalau semalam dia bertengkar dengan Inge karena Zahira. Bisa-bisa Zahiralah yang akan terkena imbasnya.
"Tidak sih. Hanya agak aneh saja, waktu mama menyuruhnya datang untuk sarapan, dia bilang sudah sarapan." Devita mulai menyuap makanan ke dalam mulut.
"Mungkin dia sedang ingin sarapan di rumahnya sendiri," sahut Abian.
"Aku ambilkan ya, Mas?" tanya Zahira.
"Ah, iya," jawab Abian. "Nasinya jangan banyak-banyak," tambahnya.
"Aku juga sekalian, Mbak!" pinta Armand sambil menyodorkan piring di depannya kepada Zahira.
"Iya, Mas Armand. Sebentar ya," jawab Zahira.
"Mas, ini mau pakai lauk apa?" tanya Zahira kepada Abian.
"E... oseng tempe saja."
"Ayamnya?"
"Nggak usah. Itu saja, nanti biar sama kerupuk," jawab Abian.
"Mbak aku pakai ayamnya dua ya." Armand ikutan request.
__ADS_1
Zahira hanya tersenyum. Dia memberikan piring berisi nasi dan lauk oseng tempe kepada Abian.
"Makasih," ucap Abian.
Zahira kemudian mengambil piring dari tangan Armand. Dia menyendok nasi dan melerakkan dua potong ayam ke atas piring tersebut dan mengembalikannya kepada Armand.
"Makasih ya, Mbak. Suka deh kalau dilayani sama, Mbak Hira."
Uhuk... Uhuk... Uhuk!
Abian terbatuk, sementara Devita memberikan tatapan tajamnya kepada Armand.
"Aku bercanda, Ma," seloroh Armand disertai cengiran kuda. "Tapi, kenapa Mas Abian terbatuk gitu?"
Devita beralih menatap Abian.
Sementara Abian yang menjadi pusat perhatian memilih meneguk air putih yang ada di hadapannya.
"Bian, kamu nggak ingin mengtakan sesuatu sama Mama?" tanya Devita masih dengan sorot mata yang sama.
"Sebenarnya ada. Tapi, nggak sekarang," jawab Abian.
Armand kemudian mengedikkan bahu. Dia mulai menyantap makanan di hadapannya. Hal yang sama pun dilakukan oleh Abian dan Devita. Keduanya kembali melanjutkan sarapan mereka.
"Hari ini kamu ke kantor?" tanya Devita.
"Iya, Ma. Ernando sedang berada di Surabaya, jadi aku harus menghandle pekerjaan yang ada di Jakarta," jawab Abian.
"Ouh... Gudang yang terbakar itu ya?"
Abian mengangguk.
"Kenapa kamu nggak minta Armand untuk membantumu?" tanya Devita. Ini waktu yang tepat untuk Armand bisa masuk ke perusahaan induk tersebut. Apalagi tidak ada Ernando.
Asisten pribadi dari Abian itu menjadi selalu menjadi penghalang utama untuk Devita memasukkan Armand ke sana.
"Armand sudah punya perusahaan sendiri yang harus diurus. Jadi, biarkan Armand fokus mengurus perusahaannya sendiri. Lebih baik Mama mulai ajari Armand agar lebih serius menangani perusahaannya. Jangan hanya dilepas dan diserahkan kepada pegawainya saja," jawab Abian.
__ADS_1
Bukannya di menolak tawaran ibu tirinya soal Armand. Namun, dia ingat pesan Ernando untuk tidak terlalu mempercayai adik dan ibu tirinya tersebut.
Devita selalu kesal tiap mengingat perusahaan yang diwariskan kepada putranya Armand. Anak kesayangannya tersebut hanya diberi perusahaan cabang oleh Sang Suami. Meski, perusahaan itu sama-sama besar, tetap saja Devita tidak terima.
"Apa kamu takut kalau Armand mengambil alih perusahaan induk peninggalan papamu itu?" sinis Devita.
"Astaghfirullah haladzim. Bukan itu, Ma. Menurutku daripada Armand membantu di perusahaanku bukankah lebih baik kalau dia lebih fokus menjalankan perusahaannya sendiri. Aku dengar dari beberapa pemegang saham, Armand katanya sering menelantarkan pekerjaannya. Jangan sampai gara-gara keteledoran Armand para pemegang saham itu menjual sahamnya bersamaan. Jika itu terjadi, harga saham perusahaan itu pasti akan anjlok," jawab Abian sambil menjabarkan alasan kenapa adiknya itu harus lebih fokus pada perusahaannya.
"Dasar papamu saja yang tidak adil. Dia sengaja memberikan perusahaan yang baru berkembang kepada Armand dan malah memberikan perusahaan yang sudah maju itu kepadamu. Benar-benar tidak adil." Devita meletakkan sendok dan garpu di tangannya dengan sedikit membanting.
Ibu tiri Abian itu langsung meninggalkan meja makan.
"Ma, sarapan Mama belum habis. Habiskan dulu, Ma!" seru Abian.
Devita mengabaikan. Dia masuk ke kamarnya hanya mengambil tas kemudian keluar lagi. Wanita itu kemudian keluar dari rumah.
Abian menatap adik tirinya, Armand.
"Ada apa?" tanya Armand yang melihat tatapan kakaknya tersebut.
Abian menyuruh Armand untuk mengikuti ibunya. Dia khawatir, Devita akan berbuat yang tidak-tidak.
Armand menghela napasnya. "Baru juga mau makan, sudah banyak drama saja," gumamnya. "Makanya, Kak. Serahkan saja perusahaan induk yang Kakak pegang kepadaku biar Mama nggak sering ngambek begini. Apa karena Mama hanya ibu tiri dan aku adik tiri Kakak, jadi Kakak nggak percaya pada kami?"
"Mand, kita bicarakan itu lain kali. Sekarang susul Mama saja dulu. Aku nggak bisa ikut bujuk Mama karena ada meeting penting!" pinta Abian.
"Iya-iya."
Meski dengan sedikit terpaksa, Armand tetap mengejar ibunya. Dia tahu kalau ibunya hanya sedang bersandiwara ngambek. Dan benar, wanita yang melahirkan Armand itu sedang duduk anteng di dalam mobil.
"Kok bukan Abian yang ngejar mama?" tanya Devita ketika hanya Armand yang datang.
"Kak Abian ada meeting penting katanya. Makanya dia nyuruh ku yang ngejar Mama. Lagian buat apa sih Mama pakai acara pura-pura ngambek segala? Toh perusahaan induk tetap nggak akan berpindah tangan darinya," jawab Armand. "Gara-gara Mama aku harus meninggalkan sarapanku," keluhnya.
"Sarapan kayak gitu aja disesalin. Nanti kita mampir ke restoran buat makan sekalian ketemu sama Inge. Mama ingin tahu bagaimana perkembangan dia dalam mendekati Abian," ujar Devita. Dan kebetulan Inge menelponnya.
Devita langsung menjawabnya. "Kebetulan kamu nelpon, Nge. Ada yang ingin Tante tanyakan sama kamu."
__ADS_1
Belum sempat Devita menanyakan sesuatu kepada Inge, sekutu Devita itu lebih dulu mengatakan sesuatu kepadanya.
"Lho kok bisa?!" pekik Devita.