
Tuan Bangsawan Randolf atau 'J' (Jey) tiba di Cafe milik Audric saat hari sudah mulai sore. Bahkan, Zico sampai bosan karena terlalu lama menunggunya.
Begitu tiba, sama seperti Brian, Maxime dan Emma pun mengira kalau J adalah adik Aillard dan kakak dari Audric. Namun, setelah Zico memanggil J dengan sebutan 'Ayah' keduanya langsung terdiam sebelum akhirnya membungkuk untuk meminta maaf.
"Apa aku terlihat begitu muda? Padahal anakku sudah banyak, bahkan seharusnya aku menggendong cucu saat ini. Hanya saja Si Sulung sangat terobsesi dengan pekerjaannya sehingga melupakan umurnya sendiri, mungkin dia juga masih perjaka.." ujar J panjang lebar.
"Jangan dengarkan yang terakhir Zico!" ucap Audric.
"Terlambat!" balas Zico.
"Bodoh sekali.." celetuk Maxime.
Audric menatap sinis Maxime dan Emma untuk mengusirnya pergi dan kembali bekerja, kode itu dipahami dengan baik oleh keduanya.
Setelah Maxime dan Emma pergi, Audric mulai bertanya seperti halnya Aillard. Namun, sesuatu terdengar mencurigakan setelah J menjawab pertanyaannya.
"Jadi, kemana Ayah akan pergi?" tanya Audric.
"Kau dan Aillard memang sungguh mirip.." balas J.
"Itu tidak memberiku jawaban, Ayah.." ucap Audric.
"Aku sedang dalam perjalanan pulang, karena lewat Shannon ku pikir lebih baik aku mampir dan menginap semalam di rumah putraku.." jawab J.
"Memangnya Ayah darimana?" tanya Zico.
"Mengantar Zylvechia pergi ke sekolah baru.."
"Sekolah baru? Dimana?" tanya Zico.
"Pulau barat daya.." jawab J.
"Pulau misterius itu? Dementer? Kenapa harus kesana? Banyak sekolah bagus disini.." ucap Audric.
"Ini kemauan Zylvechia.." ucap J.
"Kalau begitu, aku juga akan bersekolah disana.." ujar Zico.
"Itu bukan sekolah sembarangan, tidak, seharusnya aku mengatakan tidak sembarang orang bisa masuk ke pulau itu.. " ujar tegas J.
"Apa aku adalah sembarang orang?" tanya Zico.
"Kau tidak akan mengerti, setelah hilangnya orang-orang yang pergi ke pulau itu, harusnya kau sadar, pulau itu hanya menerima orang-orang tertentu!" jawab J.
"Jadi Zylvechia adalah orang tertentu dan aku adalah orang sembarangan? Kenapa ayah berbelit-belit? Katakan saja padaku alasan sebenarnya!" ucap Zico dengan nada yang berbeda.
"Kau kesal kepadaku? Aku sudah berusaha bersikap santai dengan membiarkan kalian menatap wajahku saat berbicara denganku, aku juga berusaha bersikap sebagai seorang ayah yang menyayangi anak-anaknya.. Kau menggunakan nada tinggi itu kepadaku, kau tahu apa yang akan aku lakukan jika tempat ini adalah wastu? ELIEZER! Sudah berapa lama kau disini? Kau bahkan tidak lebih baik dari Audric! Kau semakin mirip Aillard saat itu, memuakkan!" ucap J dengan nada dingin dan penuh penekanan.
"Itu salah Ayah! Ayah selalu saja berpihak pada Ethelyne, bukankah kita sama? Kita kembar namun kasih sayang ayah lebih besar kepadanya daripada padaku! Ayah selalu memberatkan aku.." ucap Zico sedikit berteriak.
__ADS_1
'Plaakkk!'
Tamparan keras mengenai pipi Zico hingga Zico tersungkur, J bangkit dengan kepalan tangan yang kian mengeras.
"Beraninya kau, Eliezer!"
J mencoba mengendalikan diri agar tidak melukai Zico lebih jauh.
"Asal kau tahu, aku bisa menyayangimu sampai kapan pun.. Namun, tidak dengan Zylvechia. Malam itu, Zylvechia menyandarkan kepalanya di pangkuanku untuk terakhir kalinya.. Aku sudah benar-benar kehilangannya kali ini, bukan cuma aku, tapi kalian juga.." kata-kata yang diucapkan dengan lirih ini membuat Audric terkejut.
Belum sempat Audric melemparkan pertanyaan, J berbicara lagi.
"Aku tidak akan tinggal, terimakasih sudah menyambut ku.." ucap J sebelum akhirnya melenggang pergi.
Audric tidak bisa bergerak sesaat, bahkan suaranya menghilang sampai J keluar dari Cafe. Saat dia bisa bergerak kembali, segera dia berlari keluar untuk mengejar namun J sudah tidak ada di sekitar Cafe lagi.
"Max, kemana ayahku?" tanya Audric.
"Dia sudah pergi.." jawab Max.
"Kau melihat pelayan yang bersamanya?" tanya Audric.
"Seorang laki-laki tua dengan pakaian tuksedo dan berambut putih!"
"Hah? Dia bukan Jasper ataupun Michaelis.. Apa matanya berwarna coklat muda?" tanya Audric.
"Mungkin iya.." balas Max.
Sementara itu, lagi-lagi Zico terpuruk dalam rasa bersalahnya. Ini adalah kali pertamanya J sangat murka. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, yang Zico tahu saat ini adalah tiada waktu untuknya meminta maaf dan meminta pengampunan Aelfric J Faust Randolf.
Malam tiba, Maxime baru saja selesai dengan pekerjaannya, sementara Emma pulang lebih awal. Setelah berpamitan dengan Audric, Maxime pun pergi dari Cafe.
Saat dia keluar, sesuatu telah mengganggunya hingga dia mengubah arah ke arah yang berlawanan dengan rumahnya. Dia berjalan hingga ke sebuah jalan kecil yang terhimpit dua dinding bangunan tinggi.
Seseorang disana sedang berdiri dengan menyandarkan punggungnya. Seseorang berjubah hitam.
"Sudah ku duga itu kau.." ujar Maxime.
'Haa..haa..haa..' suara tawa kecil seorang perempuan.
"Barbara.." Sambung Maxime.
Barbara hanya tertawa.
"Apa yang kau lakukan disini? Dimana Partner mu?" tanya Maxime.
Pertanyaan itu membuat Barbara berhenti tertawa.
"Pertanyaan bodoh!" balas Barbara.
__ADS_1
"Haah??"
"Kau benar-benar bodoh, ya? Kalau dia waras aku tidak akan bertemu Tuan Muda Randolf itu!" ucap Barbara dengan nada kesal.
"Ku pikir kau tahu, namun ternyata kau sendiri baru sadar kalau orang-orang Shadow Assassin isinya orang-orang tidak waras!" ujar Maxime.
"Kita pergi sekarang!" ucap Barbara.
"Kenapa aku harus pergi bersamamu?" tanya Maxime yang membuat Barbara semakin geram.
"AKU INI BUTA ARAH, TAHU! KEBODOHAN MU ITU BENAR-BENAR INGIN MEMBUATKU MENGUNYAH DIRIMU HIDUP-HIDUP!"
"Kau benar, Peter, kita harus menghindari segala macam obrolan dengan Gadis Karnivora!" gumam Maxime.
"Hah?"
"Aku akan memakai jubahku!" ujar Maxime mengalihkan pembicaraan.
Saat Maxime selesai memakai jubahnya, penciumannya menangkap aroma yang membuat matanya berubah merah.
"Ada apa Max?" tanya Barbara sebelum akhirnya dia juga mencium aroma yang sama.
"Kejar!" ucap Maxime lalu bergerak cepat ke sumber aroma.
Barbara mengikuti dibelakangnya, namun saat Maxime mengira aromanya semakin mendekat, dia merasa ada sesuatu yang aneh. Semakin dekat dirinya, aromanya semakin samar dan berhenti di satu titik dengan aroma lain yang menggiurkan.
Maxime berhenti, sesosok serigala abu-abu muncul dan berdiri di sampingnya. Beberapa saat kemudian Maxime berlari ke arah wanita yang tergeletak dengan berlumuran darah.
Saat Barbara mengira Maxime telah kehilangan kendali, Maxime malah menangkap Florin yang tengah kehilangan kendali dan mencoba menerkam wanita itu. Florin hanya meraung dan mencoba terlepas dari Maxime. Amukannya membuat Maxime kewalahan, saat Maxime hampir menyerah partner Florin datang tepat waktu dan membantunya.
"Barbara ikut membantu!" teriak Xavier.
Serigala abu-abu itu berubah menjadi Barbara dan membantu Maxime dan Xavier menahan Florin. Namun, rasa haus darah Florin lebih besar sehingga mereka bertiga kewalahan.
"Aaaaaa!!!" teriak Xavier.
"Haaaa!!" Teriak Barbara dan Maxime begitu Xavier berteriak.
"Kenapa bodoh?" tanya Maxime.
"Lenganku patah!" ucap Xavier yang sudah mengeluarkan air mata namun tetap mencoba menahan Florin.
"Kau membuatku takut, sialan!" gerutu Barbara.
"Buat dia pingsan Max, aku sudah tidak tahan lagi!" ujar Xavier.
Maxime mengiyakan dia mencoba memukul titik vital di leher Florin namun ternyata hal itu tidak berhasil.
Saat ketiganya sudah mulai lelah, sebuah jarum menusuk dahi Florin yang membuatnya tak sadarkan diri. Saat itu juga Maxime, Xavier dan Barbara ikut pingsan karena kelelahan.
__ADS_1
"Sekumpulan orang-orang bodoh" gumam pemilik jarum.