The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 14


__ADS_3

Asta Devany prov.


Aku berjalan menuju halte berhubung pulang sekolah aku tak di jemput oleh pak mar supir pribadi keluarga Devany karena kakek melarang pak mar untuk menjemput ku.


" Masih aja ninggalin gue mulu " Seru Liz saat mendekati ku dengan terengah - engah " Balik bareng gue yuk kebetulan gue juga gak di jemput sama supir bokap gue "


" Oy , Ta ! " Teriak Liz saat aku tak mendengar kan ocehan nya .


Mata ku tertuju pada sosok yang tidak asing dan mengamati nya , Sosok itu tengah mengemudi moge dengan kecepatan full sementara di belakang nya sebuah mobil polisi yang terlihat sedang mengejar nya.


" Liz... itu dia ! "


" Apaan sih ? " Liz menatap ku dengan jengkel namun mata nya membulat saat melihat sosok yang ku maksud.


" Willy broun ?! , Mata - mata dari negara Amerika serikat ?! " Seru Liz keras membuat ku langsung memelototin nya.


" Ma-maaf abis gue kaget banget sih "


" Kita kejar dia pasti ada yang ingin dia sampai kan dan btw kenapa dia jadi kejar - kejaran sama polisi ?" Gumam ku .


" Kayak nya dia gak di kejar - kejar polisi deh , Mereka kayak buru - buru datang ke suatu tempat " Balas Liz.


Sebuah motor ninja berhenti di depan kami , Orang yang mengendarai nya tampak cukup familiar meski wajah nya tertutupi oleh helm hitam.


" Hai My Big Bos " Cowok itu melambai kan tangannya lalu melepas kan helm nya dengan gaya sok keren " Lama gak ketemu makin cakep aja loe "


Orang yang mengendarai motor ninja kawasaki itu adalah Rifki teman masa kecil ku .


" Gue gak di sapa nih? " Tanya Liz cemberut.


" Eits hampir lupa , Hai Liz gimana kabar loe? "


" Kabar gue baik , Loe sendiri gimana? "


" Seperti yang kalian lihat sekarang gue baik - baik aja " Ucap nya seraya tersenyum manis yang membuat cewek mana pun langsung lumer hati nya namun bagi ku aku tak akan terpengaruh aku sudah kebal.


" Tepe - tepe mulu liat tuh banyak yang liatin elo " Tegur ku " Kami gak mau jadi bahan pembicaraan orang - orang syirik "


"Tepe - Tepe ? " Rifki menaut kan Alis tanda tak mengerti.


" Maksud nya tebar - tebar pesona " Jawab Liz gemas.

__ADS_1


" Jangan bilang loe cemburu kalo ada yang suka ama gue ? " Cowok itu tersenyum jail membuat ku ingin sekali menghajar nya.


" Nggak lah ya " Aku mengibas kan tangan ku lalu mendekati nya " Ketemuan di Cafe cantik - cantik ada hal yang pingin gue bahas "


" Jam berapa ? " Tanya nya.


" Jam delapan malam "


"Gak salah tuh loe ngajak gue kencan? " Rifki terkekeh kecil.


Aku menatap nya bete " Ini bukan kecan oke ? lagian gue dateng bareng Liz "


" Ada yang ingin kami tanyain ke elo dan ada yang ingin kami bahas juga " Sambung Liz.


Cowok itu menautkan alis dengan bingung lalu mengangguk mengerti .


" Ya udah kalo gitu sampe ketemu lagi " Aku melambai kan tangan saat bus berwarna merah datang dan segera masuk bersama Liz.


Sepanjang perjalanan kami hanya di penuhi dengan keheningan dan sibuk dengan pikiran masing - masing .


" Sta gue penasaran ama kedua cowok preman tadi , Mereka berasal dari keluarga Konglomerat ternama tapi lebih kerenan keluarga loe dari pada mereka "


Aku menoleh dan menatap Liz " Keluarga konglomerat ? Gak salah tuh ? Ada apa gerangan sampe keluarga ternama malah jadi preman sekolah "


Aku menatap nya tanpa ekspresi " Candaan loe terlalu garing "


" Iya deh gue gak pinter bercanda " Ucap Liz dengan gaya pura - pura sendu.


" Nah tuh loe sadar diri kenapa masih aja ngajak gue bercanda ? " Kata ku iseng.


" Sia*l*n Loe ! " Liz terkekeh dan meninju pelan bahu ku .


Aku hanya manyun kemudian berubah ekspresi dengan cepat " Btw gue penasaran kenapa Wlly broun ada di sini ? "


"Mana gue tahu ?..."


" Gak usah promosiiin slogan gk menarik itu "


Liz hanya tersenyum lebar saat mendengar nya dan berbisik " Gue kan mantan agent mata - mata di bidang tecnologi , Informasi dan pengkodean jadi pasti tau apa penyebab nya Wlly Broun ada di sini "


Aku menatap nya dengan girang "Serius ?"

__ADS_1


" Dua rius neng ! " Seru nya semangat .


" Kalo gitu kita langsung nyusul dia ?" Tanya ku bersemangat.


" Kalo loe nya mau " Ucap Liz " Dia lagi ke gedung mahkamah agung buat ngurus persoalan bawahan nya yang gak sengaja bikin kekacauan di sini "


Aku langsung cemberut mendengar nya " Gak perlu deh gue gak mau ganggu dia "


" Jangan bilang loe suka ama om - om ganteng itu yang mirip Bill gates ? "


" Enak aja ! Gue kan anggap dia udah kayak paman gue sendiri semenjak kami ketemu di london tiga tahun yang lalu " Bantah ku kesal.


Liz tertawa keras lalu terdiam " So kita langsung pulang ke rumah ? "


" Ya " Angguk ku " Tapi gue mau langsung ke rumah sakit mau jenguk adek gue "


" Murry? Dia kenapa ? " Tanga Liz dengan ekspresi kaget.


" Gue gak mau cerita loe bisa liat di berita" Jawab ku Lirih.


Liz menghembus kan nafas nya dengan pelan lalu mengangguk dan mengotak - atik ponsel nya.


" Gue duga loe di jebak sama seseorang lagian mana mungkin loe berani lukain adek loe? sementara loe sendiri sayang banet ke Murry " Kata Liz dengan serius.


" Kalo misal nya itu beneran gue gimana ? " Tanya ku pelan.


" Gue gak akan percaya itu meski orang yang lukain adik loe mirip banget ama loe" Cetus Liz serius lalu menatap ku dengan lembut " Dan aku yakin ada yang mau jebak elo "


Aku tersenyum getir" gue kira loe bakalan percaya ama tuduhan gaje itu dan gue gak nyangka loe bakalan bilang ada yang ngejebak gue "


" Gue bilang kayak gitu karena kemungkinan kebenaran nya 77% atau 95%? " gumam nya " Inti nya semua ini pasti pelaku nya bukan elo "


" Kalo gitu loe pasti udah tau dong siapa pelaku nya karena di liat dari sikap loe yang santai banget " Liz menatap ku dengan tajam membuat ku lagi - lagi tersenyum getir .


" Ya , Gue emang tau pelaku nya tapi ya udahlah pelaku nya cuman main belakang aja dan pelaku nya juga ada di salah satu anggota keluarga gue "


" Udah gue duga " Ucap Liz tanpa berkedip.


" Lebih baik loe nyewa apartemen dan misahin diri dari kediaman Keluarga Devany itu yang aman buat loe ketimbang di sana terus " Saran Liz seraya menepuk pundak ku.


" Ya tar gue pindah " Kata ku menyetujui nya kemudian berdiri dan berjalan keluar dari bus saat bus yang kami tumpangi berhenti di depan halte Rumah sakit .

__ADS_1


Meninggal kan Liz sendirian membuat ku merasa tak nyaman berjalan sedirian mana aku kan baru beberapa hari di indonesia .


__ADS_2