Tomboy Hanya Pilihan

Tomboy Hanya Pilihan
THP 4 ... Dia


__ADS_3

Begitulah awal pertemuan mereka,sebuah ketidak sengajaan yang akhirnya membuat mereka bersama seperti ini.


"Gimana??elu semua udah ada ide buat ntar kita ikut festival musik 2 minggu yang akan datang..!!"tanya Geri yang notabene di anggap leader oleh mereka.


"Belum Ger hehe",jawab Fian sambil cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Yeah elu mah emang bisanya cuman terima beres doang!"sindir Alka yang di balas dengan cengiran fian.


"Udah kita latihan dulu aja cepetan !!"tambah Geri


Mereka pun akhirnya latihan band seperti biasa.


Kiara dengan Setia menemani mereka,ia walau pun hanya menjadi penonton, dengan begitu pun dia senang.





Tak terasa hari semakin gelap dan mereka mengakhiri latihannya.


"Kiara pulang sama bang Fian yu.."ajak nya kepada Kiara, karena memang Fian sepertinya menyukai Kiara dari pertama dia bertemu dengannya.


"Ga mau ah!! aku pulang sama Neo aja"..


"Kenapa ga mau??bang Fian ga gigit ko udah jinak"


candanya sambil berusaha membujuk Kiara.


"ngga ah..kemaren juga di anterin abang malah minta bayarin bensin!! "tolak Kiara kembali dengan memutar mata malas.


Tiga orang lain yang mendengar perdebatan itu pun sontak tertawa..


"Gila lu masa cewek suruh bayarin bensin?"Geri akhirnya bersuara.


"Gak gitu ceritanya.!"ucap Fian membela diri


"Dompet gue kemaren ketinggalan di rumah.."


"bo'ong aja lu kerdus! udah Kiara pulang sama gue",Neo menimpali sambil mengenakan jaket kulitnya.


"Gue pulang duluan ia ".


Yang di acungi jempol oleh Geri dan Alka sebagai tanda ok.


Kiara dan Neo pun keluar dari studio itu dan pulang mengenakan motor kesayangannya untuk mengantarkan Kiara terlebih dahulu sebelum dia pulang.

__ADS_1




Suasana di dalam rumah sudah dalam keadaan gelap gulita.Neo bernapas lega yang artinya penghuni rumah itu sudah ke alam mimpi nya masing-masing.


Dia pun naik ke lantai atas untuk langsung ke kamarnya tanpa mengisi perut nya yang kosong,karena dari tadi dia terlalu sibuk untuk latihan sehingga melewati waktu makannya.Saat dia baru melangkah melewati anak tangga terakhir, tiba-tiba lampu ruangan itu menyala.Dan di lihatnya papah yang sudah berdiri dengan mata yang menunjukkan hawa kemarahan dalam dirinya.


"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang??!!


Neo menengguk saliva nya gugup dengan kepala tertunduk untuk menjawab pertanyaan papah.


"Jawab!!" Neo pun semakin menundukan kepalanya mendengar papah membentaknya.


"Neo.......habis dari"


"Latihan band lagi!!! ia kan??? "potong papah sebelum Neo menjawab.


Neo tak menjawab pertanyaan itu, karena memang yang dikatakan papah benar adanya.


"Sudah papah katakan berapa kali..Jangan kamu ikut kegiatan bodoh itu!! Kamu mau nasib kamu sama dengan orang yang tak berguna itu hah!! "


Bagai disambar petir,papah mengatakan itu..


Dengan perasaan tak suka Neo akhirnya menjawab dan di tatapnya papah dengan tatapan dingin.


"Jangan pernah katakan dia tak berguna pah!!"


"Kamu mau seperti dia?? lihat penampilan kamu Neo, kamu itu perempuan"


"Cukup pah cukup!! memang nya salah, Neo punya hobi?"


akhirnya tetesan air mata itu leleh juga tak tertahan.


"kamu bilang hobi?? dia juga dulu bilang hanya hobi.. hanya hobi itu yang di katakan.. kamu tidak ingat!! "


Ucapan papah seakan memutar kembali bayangan itu.Dan memunculkan kembali rasa sakit itu.


Neo pun lari meninggalkan papah yang masih berdiri dan memanggil namanya ke sebuah ruangan .


Dibukanya ruangan itu yang terlihat sedikit gelap yang hanya diterangi dengan lampu tidur.


Perlahan dia berjalan mendekati sebuah ranjang yang terlihat ada seseorang meringkuk disana..


Neo pun menangis kembali sambil mengusap rambut orang yang sedang tertidur itu.


"Apa salah aku seperti ini??''

__ADS_1


Dia semakin terisak mengadu sampai akhirnya dia tertidur karena lelah menangis .




Cahaya matahari masuk melewati celah-celah jendela kamar itu dan membuat Neo terbangun dari tidurnya.


Neo mengerjapkan matanya dan di lihat nya ada sosok yang sedang termenung di sisi ruangan itu.



Di dekatinya orang itu dan dia berjongkok di depannya.


"Sudah bangun ternyata ?"


Neo bertanya sambil tersenyum kepada orang itu yang hanya di balas anggukan dari orang itu.


"Aku ke kamar dulu mau siap-siap.. nanti aku bawa sarapan kesini ia kita sarapan bareng"


orang itu pun mengangguk kembali sebagai jawaban.


Neo keluar untuk menuju kamarnya, yang jaraknya lumayan aga jauh dari kamar itu.Karena memang sengaja ruangan itu di tempat kan aga pojok.


Selesai dia bersiap-siap Neo langsung menuju dapur untuk mengambil sarapan nya.


Disana sudah ada bi Sumi yang sedang mengatur meja makan untuk sarapan.


"Bi sum maaf.. sarapannya aku bawa ke atas ia"


pinta Neo sopan,walau bi Sumi hanya asisten rumah tangga tapi dia dia selalu menghargai orang yang telah merawatnya itu.


"Ia non gak apa-apa bi Sumi siapin ia, tunggu sebentar"


dengan cekatan bi Sumi menyiapkan 2 porsi sarapan dalam nampan.


"Ok bi makasih ya".Neo berlalu sambil membawa nampan itu, sebelum papahnya turun untuk sarapan juga. Karena rasanya masih malas kalau harus bertemu.


Neo pun kembali ke ruangan itu sambil membawa sarapannya.


"Aku setelah sarapan langsung berangkat sekolah ia.Jangan nakal nanti selama aku gak ada!kalau nakal gak akan aku bawain bunga Peony lagi"lawan bicaranya pun tersenyum mendengar celotehan Neo di pagi itu.


"Oh ia,nanti 2 minggu lagi aku ikut festival lagi..Do'a in ia biar menang hehe".


Neo terus saja berceloteh,walau lawan bicaranya tak merespon hanya bisa tersenyum dan mengangguk.


Neo pun berangkat sekolah meninggalkan orang itu di rumah mewah ber cat putih itu.

__ADS_1




__ADS_2