
Rudi tidak peduli dengan Ana, tetapi dia merasa muak semuanya, dia langsung berdiri dari tempat, pergi keluar ruangan, dan berlari ke dalam kamar mandi. Rudi ingin memastikan jika apa yang dia alami sekarang adalah cuman mimpi, dia mendekati wastafel, melihat wajahnya di cermin, menyalakan keran air, lalu membasuh wajahnya dengan air berkali-kali, sampai kerah bajunya basah.
"Bangun, bangun, banguuuun, semuanya cuman mimpi." Ucapnya.
Tetapi dia sadar, berapa kali pun dia membasahi wajahnya, mencoba untuk terbangun, hasilnya tetap sama, dia harus menerima apapun yang terjadi. Rudi kembali ke ruangan.
Beberapa saat kemudian, dosen masuk ke dalam ruangan, semua mahasiswa dan mahasiswi bergegas duduk ke tempat masing-masing, Kevin terlihat bergegas masuk dan duduk di samping Rudi.
"Hampir saja terlambat." Kata Kevin yang tersengah-engah.
"Selamat pagi, ok ujiannya kita mulai." Ujarnya.
Dosen itu lalu membagikan selebaran soal dan jawaban ke setiap mahasiswa dan mahasiswi yang ada di dalam ruangan, termasuk Rudi. Rudi tidak belajar sama sekali, bahkan dia tidak membawa buku satu pun.
"Oke, waktunya satu jam dari sekarang." Ucap dosennya sambil duduk.
Rudi hanya duduk diam termenung, dia tidak menulis apapun di lembar kertas jawaban yang terlihat kosong. Satu jam terlewati, waktu ujian habis.
Setiap orang mengumpulkan kertas jawaban mereka di atas meja dosen, setelah itu mereka keluar dari ruangan. Rudi mengambil tasnya, mengumpulkan kertas jawabannya di meja dosen lalu berjalan cepat keluar dari ruangan. Dosen yang melihat kertas Rudi merasa heran, sedangkan mengikuti Rudi dari belakang.
Bro? Rudi?!!!" Kevin memanggil Rudi.
Namun, Rudi tidak menggubris panggilan Kevin yang berdiri di depan ruangan, dan terus berjalan melewati lorong kampus, sambil menggandeng tas ranselnya Rudi merasa dia harus memastikan sesuatu. Ketika Rudi hendak melewati tempat parkir kampus untuk pulang ke rumah, Rudi tanpa sengaja bertemu dan berpapasan dengan Ana, mata Ana berkaca-kaca, terlihat dia masih sedih, wajahnya seperti biasa masih cantik bagi Rudi, rambut hitam yang terurai lurus, dan bibirnya yang merah
"Hai Rudi." Kata Ana sambil membersihkan pipinya yang lembab dengan tisu.
"Jangan sekarang Ana." Kata Rudi dengan cuek dan terus berjalan melewati Ana.
Sekali lagi Rudi membuang wajahnya, dan berjalan pergi mengabaikan Ana. Melihat Rudi, Ana hanya diam, dia merasa sakit hati. Sesampainya di rumah, Rudi mengetuk pintu, lalu membukanya perlahan.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Ucapnya dengan pelan.
"Waalaikum salam, Rudi?!!." Jawab ibu Rudi yang mendengar anaknya pulang.
Lagi-lagi dia melihat ibunya menangis, dia di dapur, sambil memegang selembar tisu, menampung semua kesedihan yang tiada hentinya. Tapi kali ini Rudi tidak peduli, dia berharap agar hari ini cepat berlalu, dia terus berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.
Rudi melempar tas di atas ranjang, mengunci kamarnya dari dalam, mengambil tali, naik ke atas kursi, membuat gantungan di langit-langit kamarnya, dia mengikatnya dengan erat, menggenggam untuk memastikan tali tersebut kuat, setelah dia cukup yakin, Rudi menarik napas dalam, jantungnya berdebar-debar, dia mengaitkan tali tersebut di bawah lehernya, dan menendang kursi yang ada di bawah kakinya.
Rudi kembali membunuh dirinya dengan gantung dari di kamar.
#########################################
Hari kembali berlalu, pagi yang cerah sekali lagi menyapa Rudi, dia terbangun dari tidurnya, mendengar suara ibunya yang sejak tadi terus memanggil namanya dari luar kamar, dan suara alarm smartphone yang terus berdering di atas meja.
Rudi merasa kesal, dia kembali mengulangi hari yang sama, walaupun dia belum melakukan apapun, dan melihat kejadian-kejadian yang terus berulang, Rudi tahu perasaan yang dia rasakan saat terbangun, sama seperti kemarin.
Seperti biasa, dia melihat ibu dan ayahnya bertengkar, hari yang terus berulang tidak membuat Rudi peduli dengan orang tuanya. Dia mengambil tas, kemudian berangkat menuju kampus dengan berjalan kaki. Setelah berjalan keluar dari gerbang kompleks perumahan, lagi-lagi pak Kasim menyapa Rudi.
"Hati-hati di jalan Rudi." Ujarnya sambil tersenyum.
Rudi tidak peduli, meskipun dia mendengarnya dengan jelas, dia terus melangkahkan kakinya. Beberapa saat kemudian, sahabatnya, Kevin menghampiri Rudi.
Pagi broww." Kata Kevin tersenyum kepada Rudi.
"Eh hari ini saya cuman mau ke kampus, ujian, dan kemudian langsung pulang." Kata Rudi menatap Kevin dengan ekspresi wajah serius.
"Eeh......ok, terserah brow." Balas Kevin.
Kevin sedikit terkejut dengan perkataan Rudi.
__ADS_1
"Serius amat." Lanjutnya.
"Oh iya, satu lagi Kevin, hati-hati kalau jalan, perhatikan jalanan." Tegur Rudi.
Kevin mengangguk. Sedangkan Rudi berjalan cepat di depannya, beberapa saat kemudian, di belakangnya Kevin terjatuh, Rudi tidak berbalik, dia hanya tahu dengan mendengar suara dentuman di tanah, Rudi menghela napas.
Rudi sampai di depan gerbang kampus, dia terus berjalan, tidak peduli apapun, tidak memperhatikan sekitar, dia hanya ingin ujiannya cepat selesai dan segera pulang ke rumah mengakhiri hidupnya yang tidak berharga. Terdengar suara perempuan berteriak.
"AAAAAAKH."
Kevin yang berada jauh di belakang Rudi langsung menolong perempuan yang tertabrak. Rudi tidak menengok, dia melihat jam di tangannya yang menandakan dia sampai lebih awal di dalam ruangan.
Akhirnya dia berada di dalam ruangan tempat ujian akan di laksanakan, dia duduk, menyimpan laptop di atas meja, menghubungkannya dengan headphone yang dia tempel di telinga, memutar musik yang di sukai, sambil menunggu dosen masuk dan menyiapkan ujian. Rudi melihat kembali melihat Ana dan pacarnya masuk, Ana terlihat menangis, sementara laki-laki itu terus mengikuti Ana sampai Ana duduk di tempatnya di belakang Rudi.
Rudi sibuk mendengarkan musik, dan tidak menggubris ataupun menengok sedikit pun melihat Ana yang di tampar dengan kera oleh pacarnya. Beberapa saat kemudian dia hanya melihat pacar Ana berlari keluar dari ruangan dengan wajah kesal.
Seketika dosen masuk ke dalam ruangan, semua mahasiswa dan mahasiswi bergegas duduk ke tempat masing-masing, Kevin terlihat bergegas masuk dan duduk di samping Rudi.
"Hampir saja terlambat." Kata Kevin yang tersengah-engah.
"Selamat pagi, ok ujiannya kita mulai." Ujarnya.
Dosen itu lalu membagikan selebaran soal dan jawaban ke setiap mahasiswa dan mahasiswi yang ada di dalam ruangan, Rudi dengan cepat menjawab pertanyaan soal ujian tanpa pikir panjang, bahkan tidak cukup 10 menit, dia mengumpulkannya di meja dosen. Seisi ruangan melihat Rudi dan mereka terkejut.
"Sudah selesai?" Tanya dosen sambil melihat kertas Rudi.
"Iya pak." Jawab Rudi.
Rudi lalu berjalan keluar ruangan seorang diri.
__ADS_1