Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
64


__ADS_3

BRAAKKKK ....


Sean menghantam kap mobil bagian depan dengan sangat keras hingga para penjaga yang masih menunggunya diarea depan apartemen saling memandang diam diam dengan wajah yang tertunduk . Mereka tahu jika kali ini atasannya sedang berada di puncak emosinya .


Ada rasa kecewa ketika mengetahui jika orang orang terdekatnya sanggup mengkhianatinya . Tapi ada sakit dihatinya ketika menyadari jika ia sudah menyakiti wanita yang sudah menjadi miliknya . Dan nyatanya semakin ia membenci Lana maka semakin ia tidak bisa melupakan wanita itu .


" Brengsek !!!.HAAAHHHHHHHH ... !! " teriak Sean ingin menumpahkan ledakan emosi di kepalanya . Sekali lagi ia hantam kap mobil hingga tangan kanannya memerah .


BRAAKKKKK .....


Dihirupnya kuat kuat semua oksigen yang ada disekitarnya seakan ingin membuang semua rasa sakit di hatinya . Sudah bukan hal asing jika ia dikhianati karena Tiffany pernah melakukan itu padanya . Istri pertamanya itu bahkan sudah berhubungan dengan pria lain sebelum pernikahan mereka .


Tapi rasa sakit ketika melihat Lana berada dalam pelukan pria lain sungguh bisa menghancurkan dunianya . Baru kali ini hatinya terluka begitu dalam .


" Kita ke rumah sakit sekarang .... " kata Sean yang kemudian masuk ke dalam mobil , sebelumnya ia sempat melihat sekilas ke arah lantai dua apartemen . Tempat dimana ia menyaksikan sesuatu yang mampu mengubah hidupnya .


" Baik Tuan !! "

__ADS_1


Sean memutuskan untuk pergi melihat putranya di rumah sakit . Besok adalah hari operasi Darrell dan anak itu pasti butuh banyak dukungan agar lebih kuat menghadapinya .


Lana ...


Darrell pasti akan menanyakan tentang pengasuhnya itu karena hubungan mereka akhir akhir ini terlihat sangat dekat . Dia harus menemukan alasan yang tepat agar putranya tidak mengkhawatirkan Lana yang pasti tidak akan muncul lagi di depannya .


CEKLEKKKK ....


Perlahan pria itu melangkah masuk di kamar rawat putranya , suasana sangat hening hingga ia bisa mendengar nafas teratur Darrell yang sedang tertidur pulas . Dilihatnya ada dua piring tergeletak di meja . Satu piring masih berisi daging steak ukuran besar dengan berbagai sayuran pelengkapnya . Dan satu lagi piring kosong yang menyisakan sedikit saus , mungkin isinya sudah habis dimakan seseorang .


" Daddy ... "


Suara Darrell membuat Sean mengurungkan niatnya yang sebenarnya ingin pergi ke area bebas merokok yang berada di taman samping rumah sakit . Sean bukanlah pecandu rokok tapi entah saat ini ia ingin menghisap setidaknya satu batang untuk menenangkan hatinya .


" Hei ... Kenapa bangun malam malam begini ? Beristirahatlah karena besok pagi kau akan di operasi . Apa kau lapar ? " tanya Sean yang tahu biasanya Darrell tidak nyenyak tidur jika perutnya merasa lapar .


" Aku sedang puasa Dad , delapan jam sebelum operasi aku tidak boleh makan dan minum . Tadi Lana membuatkan aku steak itu , enak sekali ! Uncle Damian yang membantu menyiapkan sayurannya ... " Darrell menjeda perkataannya , matanya tertuju pada piring berisi steak yang tergeletak dimeja .

__ADS_1


" Mana Lana ? Kenapa ia belum juga kembali ? Tadi dia hanya pamit sebentar keluar , tapi steaknya masih utuh ... Ini sudah malam sekali " ujar Darrell yang juga melihat ke arah jam dinding yang tepat berada selurusan dengannya .


" Lana tadi ijin kembali ke mansion karena ada hal yang harus ia selesaikan ! Tapi dia berjanji akan kembali sebelum besok pagi kau berangkat ke kamar operasi . Jangan berpikir macam macam , sekarang beristirahatlah karena Daddy akan menemanimu "


Darrell mengangguk , dan tak lama kemudian bocah berumur tujuh tahun itu kembali ke alam mimpinya . Sean yang belum sepenuhnya tenang kemudian keluar kamar berniat untuk pergi ke kantin untuk minum secangkir kopi panas .


Suasana cukup sepi di kantin rumah sakit , hanya terlihat beberapa perawat jaga yang mungkin sedang tugas malam dan beberapa pengunjung pria yang juga minum kopi sama sepertinya . Dan tiba tiba otaknya teringat dengan salah satu foto yang membuatnya murka , sebuah foto yang menunjukkan Lana dan Damian yang sedang berpelukan mesra . Jika dilihat tempatnya tidak jauh berbeda dengan tempat yang sedang dilihatnya .


" Selamat malam Tuan Sean Jayde ! "


Sontak Sean menoleh ke arah suara , dia melihat sosok seorang pria yang tidak dikenalnya . Seorang pria dengan tubuh tinggi berperawakan sedang , dengan mata sipit dan berkulit putih khas orang timur sedang berdiri dan tersenyum ke arahnya .


" Selamat malam Tuan ... Apa aku mengenalmu ?! " sahut Sean yang kemudian berdiri tanpa berniat menyambut uluran tangan pria yang seperti akan menjabat tangannya . Dia tidak tahu apakah pria di depannya ini kawan atau lawan untuknya .


" Saya hanya pria yang sangat mengagumi anda , Kendrick Lee ... Anda bisa memanggil saya Ken ! " ujar pria itu ramah , tampaknya ia sudah sangat paham dengan watak Sean yang sangat keras dan berhati hati .


" Ken ... saya pernah mendengar nama anda "

__ADS_1


__ADS_2