TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
MENGHUBUNGIMU HENA


__ADS_3

Hari ini dengan sangat terpaksa, Lingga harus meninggalkan Maya di rumah sakit.


Melalui Roby, berulangkali Suryo Wibowo sebagai pemilik dari Berita Grup mengajukan permohonan untuk bisa di pertemukan dengan Sutan Lingga. Saham perusahaannya saat ini semakin anjlok, beberapa data perusahannya pun kebobolan sehingga merugikan keuangan perusahan hingga triliyunan.


"Abang sudah meminta Maka dan Mada untuk datang ke rumah sakit pagi ini, May.."


"Iya, Bang.." Maya tersenyum menatap suaminya yang tidak berhenti bicara sambil menggunakan jasnya. Pria itu hari ini semakin terlihat tampan dan semakin gagah menggunakan stelan jas mahalnya yang di bawakan oleh Roby.


"Kenapa melihat Abang seperti itu, May?" Lingga bertanya sambil mengikat rambutnya yang belum sempat di potong.


"Abang semakin tampan." Maya bicara sambil kakinya di turunkan dari tempat tidurnya, ia ingin membantu Lingga memasangkan dasi.


"Abang tampan karena kamu, May.." Lingga tersenyum menatap Maya. "Jangan turun dari tempat tidur, Honey.." Lingga mencegah saat melihat Maya hendak menurunkan kakinya.


"Maya ingin membantu Abang memakaikan dasi."


"Nanti, kalau kamu sudah benar-benar pulih.. Masih banyak waktu. Sekarang abang lakukan sendiri dulu." Lingga mendekat, berdiri di antara kedua kaki Maya yang duduk di pinggir ranjang dengan kaki menjuntai.


"Dengarkan Abang." Lingga meraup wajah Maya.


"Jangan nakal, jangan melanggar apa yang Dokter Hansel sampaikan saat Abang tidak ada. Paham?"


Maya mengangguk menurut.


"Sus, tolong temani istri saya sampai adik-adik saya datang." Lingga bicara kepada sang perawat dengan tatapan tetap menatap Maya. Perawat itu baru masuk, membawa nampan dan meletakkan-nya di atas meja sofa, perawat itu membawa segelas susu dan nasi tim yang di khususkan untuk Maya.


Selama bulan puasa ini, Dokter Hansel belum mengijinkan Maya untuk ikut berpuasa karena harus mengonsumsi obat yang wajib di minumnya, walaupun selang infusan sudah di lepas dari tangan.


"Baik, Pak.." perawat itu mengangguk sopan. Ia tak berani melihat kemesraan Lingga dan Maya.


"Abang berangkat dulu." Lingga mengecupi seluruh wajah Maya. Membuat sang perawat semakin tertunduk tak berani melihatnya.


"Abang, sudah.. Roby sudah menunggu." Maya mengingatkan.


"Biarkan, May… belum pergi, Abang sudah rindu."


"Haiss.." Maya mengerucutkan bibirnya, membuat Lingga tertawa pelan, pria itu seakan tak ingin berhenti menciuminya.


"Hubungi Abang kapan saja, rindukan Abang juga, May.." masih meraup wajah Maya. "Abang akan menunggu telfonmu."


"Iya Abangku, Sayang… kalau seperti ini terus sampai siang Abang tidak akan sampai ke kantor."


"Cium Abang dulu, May.. Abang sudah lama tidak dapat vitamin." Lingga bicara tak perduli ada seorang perawat yang berada di dalam ruangan.


Cup.


Maya mengecup bibir Lingga, ia sangat paham, suaminya itu tidak akan cepat berangkat kerja kalau tidak ia lakukan. Ia juga merasa kasihan, Lingga harus berpuasa sampai kondisinya benar-benar pulih dan sehat.

__ADS_1


"Cium yang benar, May.. Seperti ini."


Lingga mel*mat bibir Maya, mensesapnya sebentar.


"I love you, May.." ucap Lingga setelah ciumannya terlepas.


"Love you too, Abangku Sayang.."


"Di habiskan sarapannya.. Maaf, Abang tidak sempat menyuapimu."


"Iya, Abaaangg.. Maya bisa makan sendiri, dan Maya akan habiskan makanannya." Maya memastikan dan meyakinkan Lingga agar tidak mengkhawatirkannya.


Meninggalkan Maya bersama perawat.


Lingga pergi bersama Roby, Lingga harus kembali aktif ke kantor, dan sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sibuk, sebelum ia menemui Suryo Wibowo di salah satu restoran petang nanti.


Pemilik Berita Grup itu menyediakan tempat untuk pertemuannya dengan Lingga, sebagai jamuan buka puasa. Dan hari ini, Lexsus tidak bisa menemani Lingga, pria itu harus mengurus beberapa bisnisnya, terjadi kendala di bagian pengiriman, sehingga ikan tuna yang seharusnya sudah sampai di Negara Jepang mengalami keterlambatan.


°°°°°


"Sarapannya Bu, Maya.." perawat yang bernama Hena itu akan mengangkat nampan, yang akan ia bawa ke atas tempat tidur.


"Biarkan di situ saja Mbak, saya ingin duduk di sofa." Maya turun dari tempat tidur, melangkah pelan ke arah sofa dengan di bantu sang perawat


"Mbak sudah berkeluarga? Maya bertanya kepada perawat Hena setelah mendudukkan bokongnya.


"Kalau pacar sudah ada donk yaa?" Maya kembali bertanya, mengajak wanita berseragam putih itu bicara dengan tertawa.


"Tidak ada, Bu.." Hena tertunduk malu.


"Ah, yang bener Mbak? Wanita secantik Mbak Hena mana mungkin tidak punya pacar. Sudah cantik, memiliki karir yang bagus lagi." Maya memuji Hena sambil menyantap nasi tim sebagai menu sarapannya.


"Benar, Bu.. Tidak ada.."


"Sudah lama kerja disini?" Maya meminta Hena untuk duduk di sofa juga.


"Baru 3 bulan Bu, sebelumnya saya bekerja di puskesmas di kampung."


"Mbak Hena disini tinggal dengan orangtua?"


Perawat itu menggelengkan kepala. "Saya Kost Bu."


Sebelum Maya kembali bertanya kepada sang perawat, suara ramai terdengar saat pintu terdorong dari luar.


"Teeeh…" Maka melangkah masuk di ikuti Mada dan sesosok pria muda. Dua remaja itu langsung duduk di sofa, bergelayut manja di kanan dan kiri Maya.


"Umi tidak ikut?" Maya bertanya

__ADS_1


"Umi sedang masak makanan kesukaan Teteh, nanti siang baru menyusul kemari. Mada menjelaskan.


"Kalian puasa?" Maya bertanya kepada kedua adiknya.


"Puasa donkk.." Mada menjawab dengan bangga


Karena satu apartemen, pagi ini Lendra datang ke rumah sakit mengantar Maka dan Mada, dengan pandangannya tak lepas mengarah kepada seorang wanita yang kemarin tidak sengaja menabraknya. Wanita yang pernah singgah di hatinya saat SMA, tetapi sayang harus pupus karena kesalahpahaman.


"Bu, saya kembali dulu.. Kalau membutuhkan sesuatu, Ibu Maya bisa langsung menghubungi saya dengan menekan interkom." Hena bangkit dari duduknya saat melihat kehadiran Lendra. Sesosok pria yang tak pernah hilang dari ingatannya, tak pernah tergantikan dari dalam hatinya.


"Ya. Terimakasih Mbak Hena." Maya tersenyum mengiyakan


Hena melangkah ke arah pintu melewati Lendra yang diam tak bicara. Pria itu tidak menyangka akan bertemu kembali dengan wanita yang telah mematahkan hatinya. Tetapi di relung hatinya yang paling dalam masih ada sedikit nama Hena terselip, walau pernah tertutupi saat ia menyukai Maya.


Maya mengingatkannya akan Hena, wajah teduh dan senyum hangat yang di miliki Maya Mawanda mengingatkannya akan sosok Hena.


Lendra tersadar saat suara pintu tertutup dan wanita itu sudah hilang dari pandangannya. Balik badan, Lendra segera menyusul keluar untuk mengejar Hena.


"Hena.." Lendra memanggil wanita yang belum jauh berjalan dari kamar Maya. Ia melangkah mendekat ke arah Hena.


Wanita itu berhenti melangkah, Hena menengok kebelakang saat suara Lendra memanggilnya. Keduanya terdiam saat sudah berhadapan. Hena pun bingung harus bicara apa, rasa malu, rasa canggung, tengah di rasanya.


Ia tak berani menatap pria yang sudah banyak berubah, Lendra semakin tampan dan terlihat dewasa. Dengan menunduk, Hena meremat jemarinya dengan tangan yang terasa dingin.


"Bagaimana kabarmu?" Lendra bicara dengan menatap wajah Hena yang tertunduk.


"Ba.. Baik Lend.. Kamu sendiri?" walau sedikit gugup, Hena memberanikan diri balik bertanya kabar Lendra.


"Seperti yang kamu lihat.." Lendra bicara dengan tatapan tak lepas dari wajah Hena.


Wanita itu tidak banyak berubah, walaupun kedewasaan semakin terlihat jelas. Dan wajah yang selalu tertunduk malu itu tetap terlihat cantik walau tanpa polesan bedak tebal di wajahnya.


"Catat nomormu." Lendra menyodorkan ponsel miliknya.


Hena menerima ponsel milik Lendra… ia menekan tuts nomor di ponsel, menuliskan deretan angka-angka yang ia simpan di kontak dan menyerahkan kembali ponsel milik Lendra.


"Aku akan menghubungimu Hena."


Lendra berbalik meninggalkan Hena yang masih terbengong dengan sikap Lendra. Pria itu tidak pernah berubah, pria itu akan cuek dan terkesan dingin kepadanya.


****


Bersambung ❤


Judul makanan gratis sudah aku revisi yaa… acara makan gratisnya di lakukan pada saat menjelang magrib dengan tujuan berbuka puasa bersama. Bukan siang hari


Dan maaf, beberapa hari ini UP nya telat.. kadang UP hanya satu .. Kadang juga gak UP.. Ada kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa di tinggal di bulan puasa. Tetapi tetap aku usahakan Up tiap harinya.. InsyAllah setelah lebaran akan lancar kembali

__ADS_1


Semoga tidak akan bosan dengan Maya


__ADS_2