
Seperti kesepakatan semalam, sekitar pukul 10 pagi, Ibra dan Zodi pergi ke sebuah Dealer sepeda motor. Dan seperti biasa, mereka lebih banyak diam ketika berada di dalam mobil.
Dan seperti biasa juga, Ibra hanya terdiam saja. Matanya fokus ke jalan raya. Di mobil itu, hanya terdengar lantunan musik sendu yang di putar oleh Ibra tadi. Sungguh, Zodi merasa sangat bosan sekali. Mulutnya gatal ingin bersuara tapi tidak berani mengajak Ibra bicara lebih dulu.
Hal seperti inilah yang membuat Zodi merasa kurang di terima oleh Ibra untuk tinggal bersama dengan mereka. Perasaan Zodi mengatakan kalau Ibra tidak menyukainya. Sikap dingin Ibra padanya membuat hati Zodi terganjal dan tidak nyaman. Merasa tidak enak hati karna merasa menjadi pengganggu di keluarga Mia karna ia tinggal di sana.
Ada satu hal yang bisa di rasakan oleh Zodi tentang Ibra. Pria itu memang cuek dan pendiam. Atau bahkan mungkin tidak menyukainya. Tapi, ada sesuatu yang menarik dari pria itu. Walaupun Zodi tidak tau apa hal yang menarik itu.
Di sela kebosanan yang melanda Zodi, terdengar Ibra menghela nafas sedikit sebelum akhirnya membuka suara. “Kamu mau beli motor apa?”
Sontak Zodi yang sejak tadi sibuk memperhatikan jalanan di sampingnya jadi menoleh kepada Ibra. Seperti tidak percaya kalau Ibra sedang mengajaknya bicara.
“Belum tau, Kak. Belum kefikiran. Nanti di lihat disana aja.”
Memang, Zodi sama sekali belum memikirkan motor apa yang ingin dia beli. Soalnya selama ini dia memang tidak memliki sepeda motor. Jadi wajar saja kalau ia tidak punya gambaran.
Dan lagi, keheningan yang kemudian mengambil alih situasi. Padahal tadinya Zodi sudah senang karna Ibra mengajaknya mengobrol. Tidak, lebih tepatnya, bertanya padanya. Satu kalimat tanya itu saja sudah berhasil membuat Zodi senang bukan main. Ia merasa sudah mulai di terima oleh Ibra.
Mobil yang dikemudikan oleh Ibra sudah masuk ke dalam salah satu dealer sepeda motor. Keduanya langsung turun dan segera di sambut oleh sales disana.
Ibra setia mengikuti Zodi melihat-lihat sepeda motor walau dengan mulut yang masih tertutup rapat. Namun tidak lama. Karna setelah itu ia memilih untuk duduk saja di kursi panjang. Tadinya ia fikir Zodi tidak butuh waktu lama untuk berfikir karna hanya membeli satu buah benda saja. Berbeda dengan saat ia menemani ibunya atau kakaknya belanja, bisa sampai berjam-jam lamanya.
Tapi ternyata tidak, Zodi begitu lama memutuskan pilihannya hingga membuat Ibra merasa gemas sendiri. padahal sudah di bantu oleh sales yang menjelaskan. Semakin di jelaskan, semakin Zodi merasa bingung harus membeli yang mana.
Padahal tinggal pilih, bayar, selesai. Semudah itu dan Zodi masih berkutat pada keraguannya.
Dan satu jam pun berlalu, akhirnya Zodi menjatuhkan pilihan kepada motor keong keluaran terbaru itu.
“Mas, tolong diantar ke alamat ini ya.” Pinta Ibra kepada sales.
“Siap, Mas. Nanti sore kami antar kalau udah beres semuanya. Soalnya mobilnya lagi di pakai juga buat nganter.”
__ADS_1
“Makasih banyak, Mas.” Ujar Zodi kembali.
Barulah setelah itu Ibra benar-benar bisa bernafas dengan lega. Selesai juga akhirnya. Desisnya dalam hati. Mereka kemudian pergi dari dealer motor itu dan berencana untuk kembali pulang.
“Kak Ibra minta tolong turunin aku di depan kampus ya? aku ada janji sama Dea sama Mala. Kami mau cari perlengkapan buat makrab nanti.”
Tanpa menjawab. Bahkan menganggukpun tidak. Ibra hanya menoleh sekilas kepada Zodi dan kembali fokus ke jalan raya.
Ibra menghentikan mobil tepat di depan kampus. Dimana sudah nampak kedua teman Zodi yang sudah menunggunya. Setelah mobil berhenti, Zodi langsung melepaskan sabuk pengamannya.
“Makasih banyak, Kak.”
Ibra hanya mengangguk sedikit sebagai balasan atas ucapan terimakasih dari Zodi. Setelah gadis itu turun, tanpa basa basi Ibra langusng tancap gas begitu saja.
“Hei, Zo!” sapa Dea.
“Dianterin siapa, tuh?” tanya Mala.
“Wuiih. Kemarin di jemput Kak Igo. Sekarang di anterin Kak Ibra. Zo, kamu masih punya hutang cerita sama kami,” Mala mengingatkan. Di sambut anggukan kepala dari Dea tanda ia setuju dengan Mala.
Melihat tatapan penuh tuntutan dari kedua temannya, akhirnya Zodipun mulai bercerita. Dari ayahnya yang merupakan teman Mia, dan sampai akhirnya ia tinggal di rumah itu bersama dengan Mia dan keluarganya. Tentu saja bersama dengan Igo dan Ibra juga.
“Wahhh. Jadi gitu. Beruntung banget kamu, Zo. Bisa tinggal sama dua cowok ganteng yang jadi inceran banyak cewek di kampus,” ujar Mala.
Beruntung apanya? Ia bahkan tidak diterima oleh Ibra.
“Iya, biking ngiri,” Dea ikut menimpali.
“Jadi, apa kamu gak naksir sama mereka?” tiba-tiba Mala bertanya pertanyaan yang menurut Zodi sangatlah aneh.
“Ya enggak, lah. Ngapain juga aku naksir sama mereka? Yang bener aja,” Zodi sedang berkilah.
__ADS_1
“Kalaupun naksir, sama Kak Igo aja, Zo. Soalnya kan Kak Ibra udah ada yang punya,” celetukan Dea itu membuat Zodi dan Mala sekaligus menatap padanya.
“Yang punya? Kak Ibra udah punya pacar?” Mala nampak antusias untuk memulai gosip.
“Kalian gak tau? Pacarnya kan Mbak Nilam. Anak kedokteran juga. Satu leting sama Kak Ibra. Kalian kemana aja? masak kabar begini aja gak tau?” ujar Dea.
Bukan hanya Mala, Zodi juga tidak tau kalau ternyata Ibra sudah punya kekasih. Padahal mereka tinggal di rumah yang sama.
“Kamu ini gimana sih, Zo? Tinggal satu rumah tapi gak tau kalau Kak Ibra udah punya pacar. Hiks, gagal deh halu-ku,” Mala nampak kecewa.
“Emangnya tinggal serumah harus tau gitu masalah pribadi mereka? Aku ini cuma numpang tinggal di sana. Ada batasan yang harus aku jaga. Gak bisa sesuka hati ngorek informasi yang bukan ranah aku,” Zodi sedang membela diri.
“Iya juga, sih.” Dea termakan umpan.
“Ya udah yuk, kita pergi,” Zodi mengalihkan pembicaraan. Entah kenapa rasanya semakin tidak nyaman setelah mengetahui Ibra sudah punya kekasih. Apa karna itu Ibra sangat menjaga jarak dengannya?
“Kamu mau beli apa, Zo?” tanya Mala ketika mereka sudah sampai di sebuah supermarket yang tidak jauh dari kampus.
“Aku gak beli apa-apa,” jawab Zodi. Dan ia hanya mengikuti kedua temannya itu memilih barang-barang.
Bukan tidak ingin membeli sesuatu, tapi uang Zodi sudah tidak cukup. Hanya tersisa sedikit setelah ia membeli sepeda motor tadi. Dan itu harus ia gunakan beberapa hari kedepan sampai ayahnya mengirimnya lagi.
Entahlah, masih ada rasa segan di hati Zodi ketika harus meminta kiriman uang dari ayahnya. Ia takut, sikapnya itu justru akan mengganggu kehidupan baru Jatmiko dengan keluarganya. Jadi, Zodi hanya akan meminta saat ayahnya bertanya nanti.
*
TBC...
__ADS_1