When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 65 - End?


__ADS_3

...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...


Vania ke luar dari kamar mandi setelah membasuh wajahnya. Dave pergi ke kantor hari ini, karena ada hal penting yang mengharuskan dia datang. Lia senantiasa menemaninya di dalam kamar jika Dave tidak bersamanya.


Vania duduk perlahan di atas ranjang, lalu menatap Lia yang terduduk di lantai sambil memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam tas.


Hari ini dokter sudah menyarankanku untuk masuk rumah sakit hingga proses persalinan. Operasi Caesar sudah dijadwalkan minggu ini. Dokter hanya menimbang mengenai kehamilan tua Vania dengan anak kembarnya. Anak kembar sangat jarang lahir tepat sembilan bulan. Pasti lebih cepat dari itu.


Lia membereskan bajunya yang akan di bawa ke rumah sakit. Dave akan datang menjemputnya nanti dan mereka akan pergi bersama.


Vania termenung sejenak, hari semakin dekat dan jantung Vania berdebar semakin kencang. Apa Dave sudah memikirkan nama anak-anaknya? Vania tak sabar melihat betapa tampan bayi kecilnya nanti.


Vania dan Dave berjanji untuk menjadi orang tua yang baik. Dibalik masa lalu Dave dan Vania yang begitu kekurangan kasih sayang orang tua, mereka tidak akan pernah mau melewatkan perkembangan bayi mereka. Mereka akan mendidik dan mengasihi anak mereka dengan seluruh kasih sayang yang mereka miliki.


"Nona, semua perlengkapan sudah selesai." ujar Lia yang berhasil membuyarkan lamunan Vania.


Vania mengangguk. "Saya akan mengantar makan siang Nona ke atas." ujar Lia sambil pamit ke luar.


"Tunggu, aku ingin makan di ruang makan hari ini." ujar Vania.


"Baiklah Nona." jawab Lia patuh.


Lia dengan senantiasa membantu Vania, menuntun majikannya itu kemanapun ia ingin pergi. Vania ke luar dari lift, melangkah menuju meja makan dan duduk di sana dengan senyum lebar.


Sudah lama ia tidak makan di sini sejak perutnya bertambah besar. Vania menatap para pelayan yang sibuk mondar-mandir, namun tak lupa melempar senyum pada Vania.


Para pelayan di tempat ini sudah sangat mencintai sosok Vania sebagai pendamping hidup tuan mereka. Tak butuh waktu lama, makanan dengan aroma super lezat tersaji dihadapannya.


Vania dengan semangat memakan makan siangnya hingga ludes. Lia senantiasa menemaninya sambil berbincang-bincang.

__ADS_1


Hingga seorang pengawal masuk dengan tergesa-gesa menghampiri Vania. "Nyonya, di depan ada wanita yang mengaku kakak anda. Namanya Reana, dia ingin bertemu dengan anda." ujar pengawal tersebut.


"Biarkan di masuk!" ujar Vania santai.


Pengawal tersebut mengangguk paham, lalu kembali ke luar. Vania meminta Lia membantunya ke ruang tamu.


Vania duduk di sana dan datanglah sosok Reana dengan wajah marah dan sedih.


Belum sempat duduk, Reana langsung melempar kemarahannya pada Vania. "Mama menggila di rumah, ini semua karena perbuatanmu. Pihak Bank datang dan akan menyita rumah. Aku dan Mama disuruh berkemas secepat mungkin dan ke luar dari sana. Harta warisan dicabut dan dinyatakan turun atas namamu. Addison Corp juga menjadi hak milikmu, ini semua perbuatan suamimu." teriak Reana dengan wajah memerah dan isakan frustasi.


Vania menatap kakaknya lekat. "Untuk rumah, aku bisa menyuruh Dave membeli kembali rumah tersebut dan menyerahkannya atas nama kalian. Untuk yang lainnya, aku tidak bisa berbuat apapun. Anggap saja ini sebagai hadiah terakhirku untuk kalian. Kau masih bisa bekerja di perusahaan Dave untuk menghidupi dirimu sendiri dan Bibi." ujar Vania panjang lebar.


"Apa kau tidak memiliki hati Vania? Mama yang mengurusmu sejak kecil. Bagaimana bisa kau membiarkan kami hidup terlantar seperti ini?" ucap Reana dengan wajah tak menyangka.


"Jika yang kau maksud adalah menghidupi gaya hidup mewah Bibi dan membiayai hidup kalian, aku tidak akan melakukan itu." jawab Vania lagi dengan ekspresi sesantai mungkin.


Tangan Reana terkepal kencang mendengarnya. "Sejak kecil aku selalu membencimu. Dulu kau hanyalah gadis kecil pendiam, suram dan gila semenjak kau diculik. Namun seluruh anak-anak para petinggi hanya ingin bermain denganmu, gadis kecil penyendiri yang hanya bisa memeluk bonekanya. Aku yang sejak kecil lebih mencolok, kenapa harus kalah dari darimu. AKU MEMBENCIMU, KENAPA KAU TIDAK MATI SAJA SAAT ITU. MATI DAN PERGI BERSAMA ORANG TUAMU!" teriak Reana sambil menangis kencang.


Kenangan terburuk di hidupnya yang ingin ia kubur dalam-dalam, seakan dikorek kembali dari memorinya dan memaksa dirinya untuk mengingat hal-hal mengerikan itu lagi.


Mata Vania tertutup dan rasa pusing tiba-tiba muncul di kepalanya. Keringat dingin bercucuran dari tubuh Vania. Lia yang menyadari Nonanya dalam kondisi tidak baik, langsung merengkuh tubuh majikannya.


"Nona." panggil Lia.


Lia memangil beberapa pelayan untuk membantunya membopong tubuh Vania kembali ke kamar.


Dengan bantuan tiga orang, Lia menuntun majikannya melangkah pergi dari ruang tamu.


Reana yang sadar akan ditinggalkan, buru-buru melangkah menghampiri Vania dan menarik rambut saudarinya itu kasar.

__ADS_1


"AKU BELUM SELESAI BICARA VANIA." teriak Reana sambil merenggut rambut Vania di tangan kanannya. Lia dengan sigap mencoba mendorong Reana, namun tingkah Reana yang seperti orang kesetanan bahkan berhasil membuat Lia mundur.


"HENTIKAN! PENGAWAL!" Lia berteriak histeris melihat Vania yang bahkan untuk berdiripun tidak kuat dan diperlakukan begitu kasar oleh Reana. Ditambah kehamilan Vania benar-benar membuat Lia ketakutan akan terjadi sesuatu pada majikannya.


Para pengawal yang mendengar teriakan Lia, langsung berhamburan masuk dari luar. Reana menatap sinis, ini kesempatannya melenyapkan Vania saat ini juga, sebelum para pengawal itu sampai pada mereka.


"MATILAH VANIA!" teriak Reana kencang, lalu mendorong tubuh Vania dengan sekuat tenaga hingga membentur guci besar dan jatuh ke lantai.


Lia memucat melihat betapa banyaknya darah di lantai. Dress yang dikenakan Vania bahkan penuh dengan darah yang mengenang dari bagian bawahnya. Darah kental beserta air yang mengucur hebat.


"SIAPKAN MOBIL! HUBUNGI TUAN!" teriak Lia sambil menangis histeris.


Lia menghampiri tubuh Vania yang tak sadarkan diri dengan darah di sekitar wajahnya. Lia benar-benar ketakutan dengan air mata mengucur hebat. Dia tidak ingin hari ini menjadi terakhir kalinya ia melihat Nyonya nya itu. Ia tidak ingin hari ini akan menjadi hari terakhir Vania makan di ruang makan.


Para pengawal yang datang langsung mengamankan Reana dan sebagian lagi menggendong Vania menuju mobil. Melarikan majikannya ke Rumah sakit secepat mungkin.


Sedangkan Reana tersenyum senang sambil tertawa kencang melihat genangan darah di lantai tersebut.


"HAHAHA." tawa Reana menggelegar di seluruh penjuru Mansion. Gadis itu tampak seperti orang gila saat ini.


Bersambung.....


Hay..Hay..


Satu kata untuk Reana??🤭


Huhhh gimana ya nnti mommy Vania???


Note : next Chapter (16/5)

__ADS_1


Bye...😘


__ADS_2