![[1] Serangan Balik Istri Yang Dimanjakan](https://asset.asean.biz.id/-1--serangan-balik-istri-yang-dimanjakan.webp)
Nafsu Makan Fang Xinxin
•
•
•
Di masa lalu, bukankah wanita ini memandang rendah bahkan untuk menyentuh lengan bajunya?
"Apa kau menjadi bodoh karena tersedak?" Fang Xinxin menatap ekspresi kaget pria itu dengan kebingungan.
Bai Qinghao mengulurkan tangan dan memegang tangan wanita itu. Suaranya terdengar sedikit terharu. "Fang Xinxin..."
Ini adalah pertama kalinya Fang Xinxin mengambil inisiatif untuk mengungkapkan kepedulian terhadapnya.
Dengan suara lembut, Fang Xinxin membalas. "En?"
Nada suaranya yang lembut membuat pria itu merasa sedih. Dia berpikir bahwa Fang Xinxin tidak akan pernah bisa berbicara secara lembut dengannya dalam hidup ini.
Bai Qinghao diam. Betapa indahnya jika Fang Xinxin bisa selembut ini terhadapnya selama sisa hidup mereka?
"Aku haus. Aku akan minum teh." Fang Xinxin mengambil cangkir Bai Qinghao dan menenggak teh dalam dua tegukan.
Sejak kawin lari dengan Bai Chenxi tadi malam, dan aktivitas yang melelahkan dengan Bai Qinghao setelah itu, Fang Xinxin bahkan tidak minum seteguk air pun.
Bagaimana mungkin satu cangkir cukup? Fang Xinxin mengambil teko dan mengisi kembali cangkirnya. Dia menghabiskannya dalam satu tegukan.
__ADS_1
Cangkir demi cangkir...
Pada isi ulang keenamnya, teko sudah kosong.
Fang Xinxin melirik pelayan di samping dan memesan. "Bawalah tiga teko air lagi ke sini. Gunakan teko yang lebih besar!"
"Dimengerti." Pelayan itu segera menuju dapur. Dia dengan cepat kembali dengan tiga teko besar.
Fang Xinxin terlalu malas untuk menuangkan air dari teko ke cangkir. Dia berdiri dan mengangkat teko, menuangkannya langsung ke dalam mulutnya.
Gluk, gluk, gluk...
Dengan sangat cepat, tiga teko besar dikosongkan.
"Aah..." Fang Xinxin kembali duduk di sofa dan akhirnya merasa lebih baik.
Teko air itu cukup untuk memberi minum satu orang selama beberapa hari. Fang Xinxin menghabiskannya begitu cepat? Dia pasti jago minum!
"Apa yang kau lihat!" Fang Xinxin menyipitkan matanya. "Apa kau belum pernah melihat orang gemuk minum?"
Fang Xinxin menepuk dadanya. "Biar kuberitahu kalian. Aku tidak hanya pandai minum air. Aku juga mampu dalam hal makan. Ngomong-ngomong, aku belum makan sejak tadi malam. Aku sangat lapar."
"Nona Fang, jangan khawatir. Tuan Muda menginstruksikan kami sebelumnya untuk menyiapkan banyak makanan untukmu. Aku akan menyajikannya sekarang." Pelayan itu bertepuk tangan dan sekelompok pelayan lain muncul dengan nampan berisi makanan harum di tangan mereka.
Buddha's Temptation (sirip hiu)
⬇
__ADS_1
Teripang dengan jamur bai ling
⬇
Mandarin Fish
⬇
(Dikatakan ada lebih dari dua puluh hidangan, tapi di cerita hanya disebutkan tiga saja, gambarnya diatas.)
Lebih dari dua puluh hidangan harum dibawa keluar. Melihat semua makanan itu saja sudah cukup untuk membuat seseorang ngiler.
Aroma lezat memenuhi seluruh ruang tamu.
Mata Fang Xinxin membelalak. Tubuhnya mulai gemetar karena gelisah. "Jadi... begitu banyak makanan enak!"
Bai Qinghao melihat tampilan wanita itu yang serakah. Sedikit kelembutan muncul di matanya. "Aku tahu nafsu makanmu selalu baik. Aku khawatir kau akan lapar. Dalam perjalanan ke Vila, aku memberi tahu mereka untuk menyiapkan ini. Makanan sebanyak ini akan lebih dari cukup untuk memberi makan sepuluh orang."
Fang Xinxin tergerak. Dia berpaling pada pria itu. "Bai Qinghao, kau benar-benar terlalu baik padaku!"
Hidangan ini terkenal dan mahal. Ini tidak seperti di Keluarga Fang. Makanan yang mereka berikan padanya selalu murah.
Bai Qinghao sekali lagi tercengang.
Di masa lalu, bukan karena dia tidak pernah menyiapkan makanan untuk Fang Xinxin. Namun, setiap kali dia melakukannya, wanita itu membalikkan piring dan berkata, "Jangan berpikir kau bisa membelikanku makanan!"
Dia berharap wanita itu tulus sekarang. Jika tidak... Fang Xinxin tidak akan mampu menanggung konsekuensinya!
__ADS_1
Tepat ketika semua orang berasumsi bahwa Fang Xinxin akan mulai mengisi dirinya dengan makanan, wanita itu mendekati meja dengan sepasang sumpit dan menggigit kecil dari setiap hidangan. Kemudian dia meletakkan sumpitnya. "Aku kenyang sekarang!"