
Cinta tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan. Terlalu klise rasanya bila mengatakan aku mencintaimu, tetaplah disini, jangan pernah tinggalkan aku. Itu sama sekali bukan aku. Aku tidak dominan dilahirkan untuk hal-hal yang berbau mempertahankan. Aku tidak bisa menahan sesuatu yang ingin pergi dari kehidupanku. Tapi ketahuilah, ketika aku memilihmu bahkan dalam keadaan tidak sadar sekali pun kamu tetap sesuatu yang berbeda dalam pandanganku. Itu tidak akan merubah kapasitasmu dalam pikiranku.
Aku bukan edelweis, melainkan hanya kemboja bunga kematian. Ini bukan diksi melainkan tangis yang tak mampu kusuarakan. Aku tak punya lautan untuk dermagamu, jika kau ingin berlayar mengibarkan sayapmu menuju Samudra Hindia. Aku tak punya bandara untuk besi bersayapmu, jika hasratmu untuk terbang ke Benua Antartika tertanam di ingatanmu. Maka dari itu jika kau ingin pergi akan kubukakan pintu selebar-lebarnya agar kenangan ikut hanyut bersama derasnya air mata yang menyusul setelah kau hengkang dari megahnya istanaku.
Darahku benar-benar menggelegak, bagai lahar yang menyembur dari palung terdalam gunung berapi. Kubanting benda yang ada di sekitarku, hingga membuat vas kaca pecah menyisakan kepingan di atas lantai. Guci besar yang ada disudut ruangan sudah tergeletak dilantai dalam bentuk kepingan. Meja kaca yang di depanku, aku pukul dengan guci yang masih tersisa hingga ia retak dengan sendirinya. Mama mengernyitkan dahinya, air mata tak henti-hentinya membanjiri pipinya, namun aku masih meledak-ledak. Beberapa pelayan di rumah ini tak berani mendekati singa yang sedang mengamuk ini.
Mama memutuskan untuk mengambil alih diriku yang dipenuhi amarah dengan cara memelukku. Aku menolak, aku ingin hengkang secepatnya dari pelukannya, namun kelembutannya membuat gejolak emosiku kalah.
"Kemarahan tidak akan merubah apapun. Kamu hanya perlu menerimanya," lirih mama sembari mengelus lembut kepalaku.
"Dia meninggalkan kita, dia sama saja Ma." Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat hingga beberapa detik setelahnya mama menyentuh tanganku dan membuatku menatapnya secara paksa.
"Kamu masih saja meledak-ledak, Tidak ada yang berubah dari putraku." Mama mencium dahiku lalu memelukku erat.
"Kamu harus kuat sayang," lirih mama.
"Ma aku kuat, tidak ada yang bisa menghancurkan aku, tapi aku tidak terima dipermainkan!" teriakku.
Mama memelukku lebih erat, mencintainya? Memang benar Naima telah berani masuk ke dalam hatiku, ia berhasil mencuri detak jantungku dengan senyumannya. Ia mengembalikan aku pada Tuhan. Akan tetapi kenyataan berkata lain, entah mengapa wanita sepertinya serasa memiliki sejuta keajaiban.
Aku paham aku menyakitinya, aku membuatnya terluka, tapi bukankah itu luka lama yang tak perlu diungkit-ungkit. Aku sudah bermetamorfosis dengan baik, tapi dia menghancurkan usahaku.
Mulai hari ini aku akan membencinya dan tak akan lagi mengingat kebaikannya. Wajahnya benar-benar telah hancur dihatiku, seperti lelehan lilin yang memilih padam pada terakhir sumbunya mampu bersinar. Aku membiarkannya untuk pergi jauh dan aku tak akan mencarinya sebagai seorang lelaki sejati atau yang lainnya. Tak perlu bertanya-tanya betapa aku mencintainya, bahkan sejak hari pertama aku melihatnya aku telah berani mendefinisikan bahwa ia adalah kepunyaanku. Menyakitinya adalah bentuk cintaku yang tak mampu aku katakan, salah memang, tapi begitulah aku dan ia tak paham itu.
***
Aroma pagi ini masih begitu apik, rumput-rumput di taman terlihat dijatuhi embun pagi. Aku berjalan mengelilingi rumah ini, beberapa pelayan telah sibuk dengan aktivitasnya seperti menyiram bunga, memotongnya atau bahkan menyingkirkan dari dunia ini. Aku menghirup udara segar pagi ini melepaskan segala hawa panas akibat tragedi kepergian Naima kemarin sore. Kulepaskan tanganku dan kumasukkan lagi ke dalam saku celana Longgarku. Kali ini aku hanya memakai baju kaos yang sedikit memamerkan otot-ototku.
"Ezard, sarapan dulu!" teriak mama dari pintu utama sembari mengibaskan tangannya. Aku tersenyum padanya dan langsung berbalik arah menuju rumah.
Perlu diketahui hubunganku dengan mama sudah membaik, perlahan waktu membuat aku memaafkan kesalahannya, itu pun juga berkat bantuan Naima, wanita yang sebelumnya berperan besar dalam kehidupanku.
__ADS_1
"Ayo makan," lirih mama menggenggam tanganku menuju meja makan.
"Aku tidak lapar mama saja yang makan." Aku tak bernafsu makan hari ini. Rasanya masih ingin nasi goreng sederhana buatan Naima, tapi rasa itu harus segera kusingkirkan.
"Ezard, sedikit saja sayang." Mama tampak memohon dan menggosok punggung tanganku.
"Aku makan ketika aku lapar." Aku beranjak pergi dengan menyuapi mama sesendok nasi terlebih dahulu. Aku meninggalkannya dengan senyuman sembari menuju lantai atas.
Ketika sampai dikamar kulihat sekelilingku, aroma parfum Naima yang masih tersisa kuhirup dan kuresapi dalam-dalam, belum sampai satu hari ia hengkang dari rumah ini tapi aku sudah sangat merindukannya. Tiba-tiba saja aku muak dengan diriku dan segera kubanting pintu kamarku keras-keras. Aku rasa jika seseorang di lantai bawah tidak tuli, maka ia akan mendengarnya.
Aku berteriak kencang, rasanya batas kesabaranku sudah habis. Kuacak rambutku sesekali menariknya keras. Ranjang sudah tidak berbentuk lagi, kutarik bantal keras-keras hingga sobek dan berserakan di atas lantai. Beberapa alat make-up Naima yang kuberikan tak ia bawa, sehingga masih tergeletak di lemari hiasnya. Kubanting benda itu kemana-mana hingga pecah, aku tak peduli dengan harganya yang melangit, aku tak peduli berapa uang yang kukeluarkan cuma-cuma untuk alat-alat kecantikan itu. Aku segera menuju sarang bajunya dan menggunting habis hingga menjadi tak berbentuk lagi.
Amarahku masih bergejolak hebat, mataku sudah memerah, mama dari luar sudah menggedor-gedor pintu namun aku tak memedulikannya, akal sehatku sudah teralihkan oleh emosiku. Aku merasa hampa, kesepian, kalah, dan dikhianati. AKU BENCI NAIMA! Apa yang kurang dari rumah ini? Harta? Tahta? Atau bahkan cinta sudah kuberikan seperti yang ia inginkan, ada apa dengannya? Aku muak dengan semua pertanyaan yang tak mendapat jawaban ini.
"Ezard buka sayang.”
Kudengar suara mama menangis dari balik pintu. Aku sama sekali tak mendengarkan. Kuganti setelanku pagi ini, kupakai jas berwarna hitam dan baju masih putih polos yang tembus pandang sehingga memperlihatkan otot-ototku. Kupakai kacamata hitam untuk menyembunyikannya bahwa aku seusai menangis. Tak ada yang boleh tahu bahwa air mata juga berani menyapa pipiku. Dengan tenang kubuka pintu dan menemui mama yang sedang tertunduk bersimpuh di lantai.
Dengan sigap ia menyentuh kedua pipiku lembut dan mencium dahiku sekilas.
"Aku sudah kehilangan banyak hal, kakakku, cinta pertamaku, teman hidupku, dan aku tidak ingin kehilangan putraku lagi. Aku mohon padamu jangan lakukan sesuatu yang akan membuatku hancur."
Disudut matanya air suci bening mengalir di pipinya, aku menyekanya dan memeluknya erat-erat.
"Mama tidak akan kehilangan apapun, aku janji itu." Kuelus pipinya yang begitu lembut dan memapah mama ke kamarnya.
***
Mobil melaju dengan kecepatan maksimal, klaksonku tak hentinya berteriak kala pengendara di depanku memotong begitu saja sehingga membuatku muak sekaligus murka.
Aku telah berhenti di salah satu club' mewah dan terkenal di pusat kota. Ketika melewati pintu utama saja beberapa gadis sudah melirikku menawarkan dirinya.
__ADS_1
Apa yang kurang dariku? Aku sama sekali tak mempunyai kekurangan tapi, Naima begitu sombong dan angkuh. Bagaimana wanita sepertinya mampu membuatku tergila-gila, bahkan melihat wanita di club ini rasanya aku sudah tidak berselera.
Aku berjalan menuju pojok ruangan, malam belum terlalu larut, namun manusia-manusia laknat sudah menampakkan diri di club ini. Aku melirik cincin pernikahan yang masih tertengger manis di jariku, aku membukanya dan membanting benda itu ke sembarang tempat.
Selang beberapa detik seorang wanita dengan rambut ikal sepunggung menghampiriku, tampaknya ia masih baru di club' ini, aku tak pernah melihatnya disini. Celana jeans ketat panjang dan baju kaos lengan pendek menutupi tubuhnya yang benar-benar seksi, tapi dilihat dari wajahnya usianya masih kisaran belasan tahun. Ia duduk disampingku dan tersenyum, aku seperti pernah melihatnya tapi, siapa? Saraf kepalaku menegang karena terlalu berusaha keras mengingat gadis disampingku kini.
"Kalau menghilangkan cincinnya begitu mudah tapi, belum tentu dengan kenangan. Tak ingatkah dengan kisah nabi Adam yang tergelincir dari surga karena termakan bujuk rayuan hawa?" lirih wanita itu dan memberikan cincin pernikahan yang sempat kulempar kemana-mana.
Bohong besar jika aku mengatakan kemarin bahwa cincin ini sangat hina. Seperti seorang jagoan aku melemparnya di hadapan Naima seperti tidak membutuhkan cincin pernikahan itu. Tetapi ketika ia sudah hilang dari rumah aku memungut cincin itu layaknya seorang pemulung yang seperti mendapatkan dunia dan seisinya ketika melirik tempat sampah yang masih menyisahkan makanan bekas. Begitu menyedihkannya aku.
"Cih, di tempat kotor ini tidak pantas rasanya kau menyebut Adam ataupun Hawa." Aku memalingkan pandanganku, tak ingin rasanya merespon wanita kurang waras yang duduk disampingku kini.
“Siapa kau?”
“Cih.”
Terlihat ia memalingkan wajahnya.
“Tiga bulan yang lalu kita bertemu di sini, Tuan Ezard!” hardiknya.
"Ini cincinmu." Wanita itu hengkang begitu saja dari hadapanku.
Aku tertawa kecil, wanita belasan tahun itu mendongeng di depan seorang Ezard Wattson yang kehebatannya tiada tara. Tidak tahu malu. Malam ini aku benar-benar pusing, kutuangkan bir ke dalam gelasku namun lagi-lagi wanita berambut hitam sebahu itu kembali lagi dan menghempas gelasku begitu saja.
"Pikirkan Naima! Kau pasti paham betapa hancurnya ia nanti," teriaknya di depan telingaku.
"Apa kau dilahirkan untuk mengganggu ketenangan orang lain? Cih bedebah!" Aku menghardiknya.
"Aku heran mengapa Naima bisa jatuh cinta kepada manusia laknat sepertimu? Dan mengapa aku masih menginginkanmu?" Ia tertunduk dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
"Terserah apa yang kau katakan!" hardikku sembari meninggalkan club' ini. Siapa wanita itu sehingga dengan beraninya menghinaku? Dia terlihat tidak tahu malu. Semua wanita sama- sama murahan! Tapi Naima, dia begitu berbeda. Setelah jauh dari club’ aku baru mengingat siapa wanita itu. Wanita yang menggoda itu pernah bersamaku tiga bulan yang lalu. Dia pernah bermalam larut denganku. Kenapa aku menjadi pelupa seperti ini? Tapi darimana dia tahu tentang Naima? Aku tidak pernah bercerita apapun kepada remaja belasan tahun itu.
__ADS_1