1000 MUSIM BERSAMAMU

1000 MUSIM BERSAMAMU
22. NAIMA ROSDIANA


__ADS_3

Pernahkah dadamu sesak serasa ingin meledak? Pernahkah hatimu merasa hancur berantakan tak sisakan satu kepingan pun? Pernahkah kepalamu sangat panas hingga rasanya akan terbakar sembari hangus? Aku pernah merasakannya.


Aku sudah melupakan segalanya, tentang Ezard yang menyiksaku habis-habisan. Tentang adik kandungku Andre yang meninggal ditangan adik angkatku. Tentang kematian ayah yang memilih menggantung diri.


Kehilangan ibu, hingga kasus korupsi yang menjerat ayah membuat aku dan adik-adikku dipandang seperti benalu dalam kehidupan orang banyak. Akan tetapi itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Sekarang aku sudah bahagia dengan anak kandungku. Ya aku memiliki seorang putri cantik berusia tiga setengah tahun. Ia kubesarkan dengan cinta dan kasih sayang. Putri semata wayangku yang bernama Azura Rosdiana. Aku sangat menyanyinya, ia adalah kekuatan sekaligus kelemahanku sendiri. Lalu mengapa dua sosok dimasa lalu kini malah datang menemuiku?


Sepasang insan tengah menatapku datar dari balik besi tua setinggi satu meter. Aku menatap mereka seolah tidak percaya, kuatur deru napasku baik-baik dan mencoba memberanikan diri menatap mereka lebih dekat dan berjalan ke gerbang depan rumahku, tempat mereka berdiri kaku. Seorang wanita yang terlihat anggun dengan balutan jilbabnya menatapku bimbang, tampaknya ia sudah bermetamorfosis menjadi lebih baik dari sebelumnya, kehidupan membentuknya menjadi wanita yang lebih cantik.


Sementara lelaki yang tak berhenti memandangku barang satu detik pun menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan. Ada sendu disana, ada bahagia meski tak terlihat dominan, ada luka sekaligus rasa takut. Semua terlihat berbaur di wajahnya yang tak pernah menua. Setelannya masih tidak berubah, warna hitam, putih, silver lebih dominan di tubuhnya setiap saat. Kali ini ia memakai baju kaos silver yang membuat ia lima tahun lebih muda dari usianya yang sebenarnya.


Jantungku berdetak lebih kencang kala aku mendekati mereka, aku semakin tak tahan hingga rasanya ingin berteriak kencang. Kuatur nada suaraku dan mempersilahkan keduanya masuk. Mereka pun berjalan masuk dengan langkah yang terlihat ragu. Aku menyiapkan teh manis untuk wanita anggun yang kini sibuk dengan sepuluh jarinya dan coffe latte untuk lelaki yang kini sibuk menggeledah isi rumahku dengan matanya yang liar.


"Apa kau mencari sesuatu?" selidikku sembari menatapnya hingga membuat ia menatapku balik.


"Dimana anakmu? Kenapa aku tak melihatnya?" tanya Ezard spontan. Tak ada yang berubah darinya setelah empat tahun berlalu. Ia masih sama.


"Tahu darimana aku punya anak?"


Aku menatap dua bola matanya.


"Kak, jadi kita itu kemarin sempat kesini tapi, nggak jadi gara-gara di teras ada suami kakak," cetus Alana ragu.


"Aku sudah sangat baik mempersilahkan kalian masuk, jadi setelah ini boleh pergi," ketusku.


"Kak aku minta maaf atas kejadian beberapa tahun yang lalu," lirih Alana memegang kedua tanganku.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, setelah kau membunuh Andre kita bukan saudara lagi!" Aku benar-benar berteriak tak peduli dengan apa pun. Rasa sakit yang aku kubur selama bertahun-tahun meluap kembali. Aku sudah lama menumpuknya disudut hati tapi, kenapa seseorang mencoba membangkitkannya?


Aku sangat terkejut dengan kedatangan mereka, namun yang lebih membuatku syok mereka mengira aku sudah punya suami. Jadi Ezard menyangka bahwa Azura adalah anaknya Mas Azar. Bagaimana mungkin aku bisa memiliki anak dari lelaki yang tidak pernah menjadi suamiku. Mas Azar bukan ayahnya Azura. Meskipun Mas Azar sangat menyayangi Azura.


"Kak aku minta maaf," lirih Alana air mata sudah menetes dipipihnya.


"Alana sudahlah! Kamu sudah menghancurkan segalanya, Andre, cintaku, kehidupanku, aku hancur Alana dan sekarang aku tidak ingin kalian menggangguku lagi, aku sudah bahagia hidup dengan Azura anakku, apa pun yang terjadi padaku saat ini tidak perlu menolongku!"


Air mata menetes menggenangi pipiku.


"Tapi kak aku....”


"Pintu keluar sebelah kanan, kalau kalian tidak buta kalian pasti tahu caranya keluar dari rumah ini," ketusku tak melihat Ezard maupun Alana yang berdiri tepat di depanku. Air matanya tak hentinya menetes.


"Alan sudahlah, ayo kita pergi!" Ezard menyentak tangan Alana yang sudah dalam genggamannya tapi, kenapa hal itu membuat dadaku semakin sesak. Rasanya ingin menghentikan semua itu. AKU MEMBENCI ADEGAN ITU! Andai masih bisa mengatakan bahwa Azura adalah anakmu Ezard tapi, untuk apa, untuk menyakiti diri sendiri dan mengurung diri kembali di dalam sangkar emasnya.

__ADS_1


"Berhenti!" perintah Azura dengan menghadapkan tongkat mainannya pada Alana dan juga Ezard, hal tersebut membuat langkah keduanya terhenti, aku dengan sigap menyeka air mataku.


"Setelah membuat ratuku menangis maka tidak ada yang bisa keluar dari rumah ini dengan selamat!" teriak Azura sembari berjalan mendekati kami.


"Sini sayang," ujar Alana sembari tersenyum, hal itu membuat Ezard melepaskan tangan Alana yang sempat ia genggam. Dari dulu Ezard memang tak suka anak kecil. Tapi apa jadinya jika ia membenci anaknya sendiri. Entah kenapa dengan Azura ia tak menghiraukan Alana, Azura memilih memeluk Ezard, spontan Ezard terperanjat dan berusaha menyingkirkan Azura jauh-jauh darinya namun, Azura juga sama keras kepalanya seperti Ezard yang tidak ingin mengalah.


"Om itu bukan Om," lirih Azura hingga membuat Ezard meliriknya.


"Om penasaran ya," Azura terkekeh hingga membuat Ezard memalingkan pandangannya kesal. Dengan segenap kekuatan yang ia miliki Azura berhasil membuat Ezard duduk.


"Azura sini sayang ... jangan main-main sama Om Ezard," ucap Alana menawarkan tangannya.


"Enggak mau!" Azura malah berteriak hingga membuat Ezard mengernyitkan dahinya sebab suara Azura melengking hingga ke telinganya.


"Ada apa dengan kau?" tanya Ezard ketus.


"Ezard, jangan berteriak kepadanya. Kau ini!" Alana duduk di samping Ezard dan mencubit pinggangnya hingga membuat Ezard meringis kesakitan, aku dengan cepat mengalihkan perhatianku dari pemandangan yang berhasil membuat hatiku terasa panas.


"Tante udah! Jangan ganggu Ayah!" teriak Azura hingga membuat aku, Ezard dan juga Alana menatapnya tak percaya.


"Sejak kapan aku menjadi ayahmu? Kau ada-ada saja," Ezard terkekeh tidak percaya.


"Ayah sungguh tidak percaya padaku?" tanya Azura.


Ezard memalingkan wajah malas.


"Jadi kau bukan ayahku?" tanya Azura dengan tatapan kecewa, namun Ezard tak sedikit pun memperlihatkan empatinya.


Tak tahan dengan perdebatan antara seorang ayah yang tak mengetahui putrinya dan seorang putri yang ingin sekali memiliki ayah tapi, tak pernah kesampaian. Aku selalu menjelaskan padanya bahwa mas Azar bukanlah ayahnya, ia selalu bertanya setiap saat dimana ayahnya, dan sekarang ia berada dalam pangkuan ayahnya, apa aku akan tetap membohonginya sepanjang tahun mengatakan bahwa ayahnya tidak akan kembali. Aku tidak bisa melakukannya Azura adalah putriku, hartaku.


"Azura dia ayahmu sayang ... Om Ezard adalah ayahmu yang selalu kau tanyakan ke Bunda setiap saat." Aku menatap Ezard kosong, sementara Ezard menatapku seolah tidak percaya, terlihat sekali ada seribu pertanyaan yang menggumpal di kepalanya.


"Benarkah Bunda? Tapi mengapa dia tidak mengakui Azura?" Azura memanyunkan bibirnya dan menampar wajah Ezard, Ezard masih tak bergeming. Alana memilih keluar dari ruangan ini. Terlihat rada kecewa di wajah Alana.


"Dia mungkin tidak akan mengakuimu," ucapku.


"Apa yang kau bicarakan Naima, aku tidak mengerti!" teriak Ezard hingga membuat Azura terkejut, namun Azura mempererat pelukannya.


"Empat tahu yang lalu sebelum aku meninggalkan rumah ternyata aku mengandung anakmu. Setiba Yogyakarta aku baru mengetahui bahwa kandunganku sudah berusia lima bulan. Dia anakmu Ezard," lirihku sembari menghapus air mataku.


"Apa yang Bunda bicarakan?" tanya Naima dengan tatapan lugunya.

__ADS_1


"Jadi Azura anakku. Apa ini? Aku sungguh tidak mempercayai bahwa aku mempunyai seorang putri." Ezard memeluk Azura erat-erat memburunya dengan sejuta kecupan. Tanpa disadari air matanya mengalir. Beberapa menit aku membiarkan Ezard berpadu dengan emosinya, Azura kelihatan tenang dalam pelukan Ezard, hanya senyuman yang ia lemparkan kepadaku aku pun balik tersenyum pada putri kecilku itu.


Ezard menatapku berbinar-binar tapi, sekejap pula pandangannya berubah menjadi sendu kembali.


"Aku akan membawanya bersamaku ke Jakarta!" ketusnya. Ezard masih tidak berubah, keangkuhan dan keegoisan adalah miliknya.


"Bagaimana kau bisa seegois itu? Aku akan kesepian tanpanya," lirihku dengan air mata yang membanjiri pipiku.


"Kau terlihat sudah melanjutkan hidup, jadi Azura akan ikut denganku. Lagi pula kau bisa mempunyai seribu anak lagi dengan suamimu. Tetapi aku ... aku tidak bisa Naima, meskipun sudah seribu kali kucoba tapi, tetap saja aku melihat bayangmu di antara mereka dan itu menyiksaku."


Ezard mengepalkan tangannya, menahan rasa sesak di dadanya.


"Tidakkah Alana bisa menjadi penggantimu untuk menemani malam-malammu," ketusku.


"Cih ... wanita sepertinya tidak bisa kujadikan properti." Ezard menyeringai.


"Kau masih saja angkuh, sekarang pergilah dari rumahku Ezard, aku tidak akan melarangmu menjenguk putrimu dan satu hal lagi orang yang kau sangka suamiku bukanlah suamiku."


"Bunda ... Azura ingin ikut Ayah ... Azura ingin bermain dengan Ayah Bunda." Azura memohon padaku, dengan berat hati aku membiarkannya ikut dengan Ezard, rasanya tak mungkin aku memisahkan seorang anak dari ayahnya.


Dengan dada berkecamuk kubiarkan Azura ikut dengan Ezard selama satu minggu, aku ingin ia tetap menjalin hubungan baik dengan ayahnya. Selama ini Azura sangat ingin mempunyai seorang ayah, tidur di sampingnya, membelai kepalanya dengan lembut dan merepotkannya sepanjang hari. Alana menatapku ragu, sementara Azura hanya melambaikan tangan dan berjanji akan kembali dan Ezard tak melirikku sama sekali. Baru saja mobil itu menghilang tapi rinduku sudah menggebu hebat.


"Assalamualaikum," lirih mas Azar menatap sendu mataku.


"Sejak kapan Mas ada disini?" Aku tak menjawab salamnya.


"Assalamualaikum," ujarnya sekali lagi.


"Waalaikumsalam Mas,” lirihku.


"Tampaknya langit mendung. Apa ada masalah?" tanyanya.


"Enggak kok Mas, itu Azura ikut ayahnya satu minggu, aku jadi sedikit sedih."


Aku menyeka air mataku yang masih terus jatuh.


"Jadi Azura ikut ayahnya, kok kamu nggak bilang-bilang ke aku dulu, aku baru aja membelikan martabak kesukaannya." Mas Azar cemberut.


"Maaf Mas, maaf juga nggak ngajak Mas masuk." Aku merasa bersalah pada mas Azar seorang lelaki yang sudah menganggap Azura seperti anak kandungnya sendiri.


Beberapa menit kami mengobrol dan mas Azar memutuskan untuk pulang. Rasa sesak kembali melandaku, entah kenapa ketika dekat dengan mas Azar rasanya kembali baik-baik saja. Tetapi ketika jauh darinya hatiku kembali hancur. Dia seperti penenang dalam kehidupanku dan Azura. Mas Azar-lah yang telah memberikan aku pekerjaan di restoran tempat ia bekerja, gaji yang diberikan pun sudah bisa menghidupi aku dan Azura selama satu bulan.

__ADS_1


Haruskah aku mengkhianati mas Azar dan kembali pada Ezard, rasanya tidak pantas aku meninggalkan mas Azar begitu saja. Selama ini aku menolaknya dengan alasan belum siap menikah lagi, namun ketika melihat Ezard aku sangat ingin bersama Ezard, ada perasaan yang tak bisaku tahan. Aku harus bagaimana? Aku sangat tidak mengerti.


__ADS_2