
Rossia Himera, meski dirinya memasang wajah penuh percaya diri, sama sekali tidak bodoh. Dari jarak jauh ia memang tidak bisa menebak sekuat apa Xavier von Hernandez. Namun, berada di hadapannya dan melihat bagaimana dia membuat tubuhnya seolah astral memberinya pengetahuan yang jelas. Jika spellnya tak bisa menyentuh lawan, semua spell dan serangannya akan sia-sia.
Karena itu, sebelum menemukan kelemahan dari kemampuan membuat diri astral, Rossia akan mengetes spell favoritnya ‒ ini adalah versi lain dari Dream Sanctuary miliknya. “O dewa yang agung,” lingkaran sihir putih seketika muncul di atas lingkaran yang ada pada tongkatnya, “sinarilah Xavier von Hernandez yang tersesat kepada jalan pencerahan, Isolated Sanctuary!”
Lingkaran sihir putih di atas tongkat platinumnya menghilang tak berjejak, dan sejurus seketika tubuh Xavier diselimuti cahaya putih. Cahaya itu hanya bertahan beberapa detik, sebelum kemudian menghilang tak berjejak.
Rossia memandang sang comamander hati-hati,mengobservasi apakah spellnya bekerja atau tidak.
Seringaian bersemi di bibir Rossia saat kedua pedang api hitam Xavier terlepas dari tangannya dan menghilang dalam leburan mana. Meskipun ia bingung mengapa tubuh Xavier tak jatuh, tetapi itu ia abaikan. Ada orang-orang tertentu yang bisa tertidur sambil berjalan. Ia tak harus merasa heran tubuh musuhnya masih dalam keadaan berdiri meski sudah terjatuh dalam ilusinya.
“Kalian semua, tunggu apa lagi? Serang dia!” perintah Rossia pada para prajurit di belakangnya. “Balaskan kematian rekan-rekan kalian!”
“Uooo!” Semangat para prajurit sangat membara. Banyak seringaian yang besemi di wajah mereka. Mereka yang sebelumnya menjadi bulan-bulanan sang commander tanpa harapan membalas, sekarang monster berkulit manusia itu sudah tak berkutik. Para prajurit menyongsong maju dengan kecepatan tertinggi mereka. Tak ada satu pun yang tak turut berpartisipasi.
“Heh, tak kukira aku sempat khawatir untuk hal yang tak beralasan,” gumam Rossia pada dirinya sendiri, berbalik arah dan melangkah pergi. “First Commander, gravitasinya sangat merepotkan. Bagaimana aku bi—”
“Grand Lightning Eruption.”
—Kedua kelopak mata Rossia melebar tak tertahan. Spontan ia berbalik arah, dan seketika pandangannya mendapati semua prajurit hangus terpanggang, dan mereka menghilang dari pandangan Rossia saat api biru tiba melahap tubuh mereka dengan sadis.
“Spell itu cukup menarik, itu unik, sayangnya terlalu lemah.” Xavier melangkah pelan membelah ladang api biru yang ia ciptakan dengan prajurit Knight Templar sebagai bahan bakarnya. “Aku tentu saja bisa mengatasi spell itu sebelum spell itu bekerja, tetapi aku ingin tahu apa yang akan terjadi jika spell itu mengenaiku. Dan aku sama sekali tak terkesan, walaupun itu cukup menarik.”
__ADS_1
Rossia tak bisa menahan diri dari menggemeretakkan gigi-giginya. Orang itu… kelancangan orang itu benar-benar telah menembus melewati batas toleransinya. Tak bisa dibiarkan. Tak bisa dimaafkan.
“Selamat,” kata Rossia dengan suara yang terkontrol, “kau sudah berhasil membuatku marah.”
Tepat saat kata marah sempurna meninggalkan ujung bibirnya, Rossia sudah menghilang dari tempatnya berada. Tubuhnya yang diselimuti aura keemasan sudah berada di hadapan Xavier dengan tongkat sihir mengayun tajam.
Tongkat sihir spesialnya sudah diubah dan diperkuat. Jika dulu tongkatnya akan memparalisiskan orang yang dipukulnya, kali ini tongkat kesayangannya akan meninggalkan lingkaran sihir peledak kecil. Lingkaran sihir itu akan otomatis memicu ledakan saat jaraknya dan tongkat Rossia terpaut sepuluh meter.
Sayangnya, cepat Rossia memang, Xavier telah terlebih dahulu mengintersep usaha Rossia dengan menghentakkan tangannya yang memegang tongkat. Pada saat yang bersamaan, tendangan kaki kanan Xavier sudah menemukan diri di bahu kiri murid sang nephilim itu. Rossia tidak mengekspektasikan itu; tubuhnya terhempas kuat. Dan itu diikuti oleh rentetan bola petir yang melesat dalam kecepatan supersonik.
Rossia menggeram, mengerahkan sekuat tenaga untuk memindahkan tubuhnya dari target ledakan. Usahanya berhasil, tetapi ia sedikit terdorong akibat efek kejut yang rentetan ledakan itu sebabkan. Kecepatan reaksinya, kecepatan tubuhnya, tenaga fisiknya…. Rossia menggeram marah sembari menggerak-gerakkan bahunya menghilang rasa sakit; harus ia akui Xavier berada di atasnya di segala aspek.
Rossia menancapkan tongkat sihirnya di tanah, kedua telapak tangannya menyatu. “Heavenly Magic: Rain the Swords!”
Tiba-tiba langit malam yang gelap menjadi keemasan akibat lingkaran sihir super masif yang telah terbentuk secara instan. Dan, dalam sekejap, ribuan pedang keemasan melesat cepat dari lingkaran sihir itu menuju Xavier. Jika pedang-pedang itu bisa bicara, tentu “mati” adalah apa yang akan mereka teriakkan.
Rossia memfokuskan dirinya, pedang-pedang itu ia buat agar memborbardir Xavier dengan brutal dan tanpa jeda.
Namun, Xavier hanya mengangkat tangan kiri dengan telapak yang terbuka ke atas, dan semua pedang keemasan itu tertahan satu meter di atas Xavier dan hancur berkeping-keping menjadi partikel emas.
Menggemeretakkan gigi-giginya, Rossia mengubah fluktuasi [mana], membuat beberapa bagian dari lingkaran sihir masif itu berubah. Dengan seketika, semua pedang-pedang itu saling menyatu satu sama lain membentuk sebuah tombak besar nan mengintimidasi. “Heavenly Magic: Spear of Swords!”
__ADS_1
Tombak itu meluncur dengan kecepatan supersonik—dan semakin bertambah cepat setiap milidetiknya. Karena ukurannya yang masif, tenaga yang akan ujung tombak gabungan pedang itu akan sangat besar. Rossia berharap spell itu dapat menembus barier apa pun yang digunakan.
Namun, menjengkelkan Rossia, harapannya tak lebih dari sekadar harapan. Tombak pedangnya mampu bertahan dua detik di batas barier tak kasatmata, tetapi setelah itu tombaknya beretakan dan hancur menjadi partikel keemasan.
“Itu spell yang menarik, daya hancurnya pun tidak kecil. Namun, hanya sebatas itu saja. Apa ada spell lain? Lilithia sepertinya akan lama. Jadi, aku akan bermain-main denganmu sampai semua spell andalanmu habis kau gunakan. Keluarkanlah, tidak perlu sungkan.”
…Segala kontrol yang dimiliki Rossia untuk menekan emosinya kini menghilang total. Kata-kata itu…. Kata-kata itu sudah melenyapkan segala pembatas yang membuat Rossia menahan diri dari menggunakan [Heavenly Magic]-nya lebih jauh. Dan, seolah menyadari emosi yang menyelimuti Rossia, lingkaran di atas tongkat sihir platinum di sampingnya mulai bersinar, lalu menghilang dari tempatnya tanpa jejak.
“Kau yang memintanya….”
Seketika, sebuah simbol lingkaran keemasan tercipta di kening Rossia. Udara di sekitarnya mulai bergemetaran. Sepasang sayap malaikat mencuat dari punggungnya, memberikan aura dan impresi berbeda darinya. Bagi yang sudah pernah melihat Fie Axellibra, tentu mereka akan menyadari kalau sayap itu tidak asli, melainkan tiruan dari yang sebenarnya. Itu adalah efek dari [Heavenly Magic].
“Akan kutunjukkan padamu kekuatan penuh [Heavenly Magic],” gumam Rossia dengan tongkat yang ia acungkan ke atas. Dan berbeda dengan saat menghadapi Nizivia Clasta dulu, kali ini kontrol Rossia atas [Heavenly Magic] sudah sempurna. “Bersihkanlah dunia ini, True Heavenly Magic:—”
Sekali lagi, langit malam terusir oleh cahaya keemasan yang formasi lingkaran sihir super masif—lingkaran sihir yang dibentuk dari puluhan lingkaran sihir—hasilkan. Kali ini, curah cahaya jauh lebih tinggi. Sekeliling area tempat mereka bertarung juga ikut terterangi.
“—Armageddon!”
...#####...
Well, karena syarat tak terpenuhi sampai jam 20 wib, jadi sesuai tulisan di chapter sebelumnya, hanya update tiga part saja. Thank you, and have a nice day.
__ADS_1