Against The World II: Transgression

Against The World II: Transgression
Chapter 17: Transcendental Being, part 4


__ADS_3

“Kuharap kau sudah memutuskan memilih jawaban yang kuekspektasikan, Putri Artemys.” Berkata Shiva segera setelah ia memasuki ruangan luas di mana Artemys dan Jenny berada. “Aku dilahirkan seorang wanita, dan karenanya aku tidak ingin membuatmu kesusahan. Secara personal aku tidak menyukai kau membuat dirimu hamil sebelum menikah, terlebih kau seorang bangsawan dan keluarga kekaisaran, tetapi aku tidak punya hak untuk mendiktekan bagaimana seseorang harus hidup.”


Artemys tidak mengomentari kalimat kedua dan ketiga Shiva; ia sama sekali tidak memedulikan itu.


Sebagai putri kaisar, ia tentu sangat mengerti kalau apa yang dilakukannya itu sangat melenceng dari apa yang diajarkan. Berbeda dengan wanita biasa, seorang putri memiliki tanggung jawab untuk menjadi publik figur yang ideal bagi para gadis di kekaisaran. Hamil diluar nikah adalah noda dalam citra seorang putri. Pernikahan bagi keluarga bangsawan/kerajaan/kekaisaran adalah sesuatu yang sakral, setidaknya bagi pihak wanita. Gereja memerintahkan mereka untuk mensucikan diri, untuk menjaga kehormatan diri.


Namun begitu, Artemys tidak memedulikan. Berbeda dengan Kanna dan mayoritas penduduk kekaisaran yang tetap memuja Edenia meski kekaisaran menganggap Holy Kingdom sebagai musuh, Artemys tidak memuja siapa pun. Dewa…ia tidak menyukai kata itu. Mengapa ia harus memuja makhluk yang mempermainkan takdir setiap makhluk berjiwa? Mengapa ia harus memuja makhluk yang membiarkan dunia diisi oleh pertumpahan darah para makhluk hidup?


Dewa adalah musuh makhluk hidup, begitu percaya Artemys, dan begitu pula seharusnya setiap makhluk hidup harus berpikir. Artemys tidak mengerti bagaimana seseorang bisa memuja dewa bahkan setelah tahu kalau dewa telah menetapkan takdir setiap makhluk hidup. Dewa menginginkan ciptaannya hidup baik, sedang dia menulis takdir buruk bagi mereka. Tidakkah para makhluk fana menginginkan kebebasan?


…Karena itu pula Artemys tidak memiliki ekspresi yang berlebihan saat Shiva mengatakan ingin menjadi dewa.


“Aku tidak punya pilihan lain,” respons Artemys setelah beberapa saat mendiamkan sang emperor, pada saat yang bersamaan mengusir pikirannya. “Kau akan mendapatkan apa yang kau mau.”


“Bagus sekali. Itu adalah apa yang ingin kudengar.” Shiva memberikan senyum tipisnya. “Kalau begitu besok akan kukirim seseorang ke sini. Dia akan membawamu ke tempat di mana tubuh yang sudah dipersiapkan berada.”


...—Pesisir Veria, Perbatasan Jiangzhou Empire ‒ Karna Great Empire—...


Seorang gadis berambut perak panjang sepinggang berbaring dengan kedua tangan terentang di atas pasir putih yang memisahkan daratan dan perairan. Dia hanya mengenakan gaun biru tebal yang panjangnya semata kaki, dan gaun itu telah basah hingga sepinggang sang gadis. Tetapi itu tak mengherankan lantaran ombak yang secara periodik membasuh kakinya dengan kasar.

__ADS_1


Gadis dengan penampilan seperti anak berusia dua belas tahunan itu memandang langit yang kebiruannya mulai sirna dengan kedua manik hitam bak obsidiannya. Tidak ada sebulir emosi pun yang mata hitam pekat itu pancarkan, selaras dengan wajah bak bonekanya. Jika ada ahli pembaca ekspresi wajah yang melihat sang gadis, tentu dia akan kebingungan menebak apa yang gadis itu pikirkan.


Jiang Yue Yin. Itu namanya, pemilik Supreme Magic [Ruler of Heaven] dan Crest of Hope [Tree of Magic]. Yue Yin sudah menguasai Jiangzhou Empire selama enam belas abad. Ia belum menikah. Ia tidak pernah punya kekasih. Serigala betina penyendiri, itu julukan yang diberikan orang-orang untuknya.


Tentu saja Yue Yin masih single bukan karena tidak ada yang tertarik padanya, tetapi sebaliknya. Lebih dari itu, tubuhnya abadi. Ia tidak perlu melahirkan penerus tahta. Ia bisa menjadi penguasa hingga Edenia memutuskan mengakhiri dunia. Namun, kekhawatiran kalau tiba-tiba ia mati ada—itu pula alasan mengapa ada turnamen para kesatria setiap tahunnya di ibukota. Para menterinya sepakat untuk setiap tahunnya mengajukan calon pria untuknya. Namun, hingga detik ini, tidak ada yang menarik perhatian Yue Yin.


Ada Shiva Rashta, keturunan Gadra yang sangat bertalenta. Jika ada yang cocok untuknya, semua sepakat kalau Shiva orangnya. Namun, sesempurna apa pun Shiva, bocah itu tidak memiliki apa yang Yue Yin inginkan. Terlebih lagi, meskipun dia punya, Shiva tidak mengerti apa itu cinta. Bocah itu tidak mengerti apa itu perasaan. Dia adalah pemanifestasion kesempurnaan, tetapi hatinya telah lama mati. Senyumnya yang ramah, berbagai ekspresi yang mewarnai wajahnya, semua itu tidak pernah mencapai hati Shiva.


Tetapi itu tidak mengherankan.


Masa lalunya dan Shiva tak terlalu berbeda, bisa dibilang Shiva lebih parah. Yue Yin kehilangan orangtuanya di medan perang, tetapi Shiva kehilangan seluruh keluarganya. Yue Yin baru menjadi empress di usia lima belas tahun, tetapi Shiva sebelas. Anak itu…. Jika ada yang membenci Edenia melebihi semesta, kebencian orang itu masih belum lebih besar dari kebencian Shiva. Karenanya pula, ketika anak itu datang di hadapannya untuk meminta kerja sama, Yue Yin tidak menolak.


“Nona Yue Yin.”


—Jalan pikiran Yue Yin terputus saat suara itu sukses diterjemahkan otaknya.


Ia mengenal pemilik suara itu. Saraya, pengantar pesan kepercayaan Shiva. Di Veria yang luas ini, tidak ada orang penting yang tidak mengenal Saraya. Pengaruh Shiva sampai di seluruh isi benua, dan Saraya adalah mulut yang menyampaikan titah Shiva dan telinga yang mendengarkan suara orang-orang untuk sampai ke Shiva. Selain dirinya, Sakra, dan Saraya sendiri, tidak pernah ada yang benar-benar bertemu Shiva.


“Katakan,” ucap Yue Yin tanpa memandang sang wanita, matanya masih setia memandang langit yang warnanya semakin gelap.

__ADS_1


“Xavier von Hernandez akan menginjakkan kaki di Veria. His Majesty memberi pesan agar Nona tidak melakukan perbuatan apa pun yang akan menghalanginya sampai ke Nareya.”


Xavier von Hernandez…. Yue Yin mengingatnya sebagai individu yang telah mengalahkan tubuh boneka Sakhra. Bersama dengan Fie Axellibra, Vermyna Hellvarossa, Kanna el Vermillion, dan Nueva, dia adalah ancaman berarti bagi Veria. Membunuhnya saat dia berada di sini adalah solusi yang bagus, itu akan mengurangi kekuatan tempur Islan. Namun, jika Shiva tidak ingin dia mati, itu artinya dia punya tujuan tertentu. Tepatnya, Shiva sengaja membuat Xavier datang.


“Ah, apa ini berhubungan dengan rencananya menjadi makhluk transendental seperti Fie?”


“…Master Shiva tidak memberi alasan, tetapi kemungkinan besar memang begitu.”


“Baiklah. Aku takkan menghentikannya.”


“Kalau begitu saya permisi, Nona.”


Yue Yin tidak mengatakan apa pun, dan Saraya tidak menanti respons apa pun; wanita itu menghilang begitu saja dari tempatnya berdiri.


Sedetik setelah itu, Yue Yin memejamkan mata. Kesadarannya menyesuri lembar daun Tree of Magic yang memuat sihir yang berguna baginya untuk menemukan keberadaan individu yang bersangkutan. [Hyper Sensory], sihir sensorik tertinggi dalam daftar sihir sensorik yang tertera dalam Tree of Magic. Tentu saja itu tidak bisa disandingkan dengan Supreme Magic [Complete Sensory], tetapi [Hyper Sensory] juga tak bisa dipandang sebelah mata.


Menemukan sihir yang tepat, Yue Yin menggunakan [Clarvoyance Magic] bersamaan dengan sihir tersebut.


“…Xavier von Hernandez…dia bersama seorang iblis. Mereka akan mendarat 241 km ke tenggara tempat ini. Mereka akan tiba dalam tiga jam.”

__ADS_1


__ADS_2