
Sepasang langkah kaki tergesa-gesa memasuki perusahaan yang terdiri dari 5 lantai. Pria itu segera berangkat, usai mendapat laporan jika mantan istrinya mengambil alih kendali perusahaan keluarga.
Marvin meradang sekaligus kebingungan, pasalnya dahulu Edrea sama sekali tidak tertarik akan dunia bisnis. Wanita itu pun dianggap tidak becus menjaga hubungan baik dengan para rekanan setelah mencoba beberapa kali.
Tapi sekarang, di siang bolong ini Marvin seolah tersambar petir. Dia takut sejumlah kejahatannya terbongkar, karena Rea lebih sulit ditaklukan berbeda saat masih menjadi istrinya.
Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, apalagi menunggu dan mengindahkan peringatan dari sekretaris cantik nan seksi yang biasanya selalu digoda. Marvin menerobos masuk, membuka kasar pintu yang terbuat dari kayu disertai ukiran khas kerajaan tertentu, menambah kesan gagah.
“Gung, kenapa kamu diam saja Rea mengambil posisimu?” bukan salam atau izin masuk, melainkan meluncurkan pertanyaan.
“Agung! Bagaimana semua ini terjadi?” teriak Marvin, seraya menggebrak meja. Untung saja kaca pelapisnya tidak retak atau pecah.
Seketika kursi kebesaran yang semula membelakangi pintu masuk. Kini berputar menampakkan wanita cantik yang tengah duduk lalu mengembangkan senyum, menyapa tamu tak diundang, “Hi Marvin apa kabar?”
Suhu ruangan mendadak berubah dingin, mencekam, kerongkongan Marvin kering, otaknya mendadak tidak bisa berpikir. “Rea?” ucapnya tertahan di bibir.
“Kenapa kamu diam saja, halo Marvin?” Rea berdiri, merapikan pakaian yang tampak berwibawa, anggun dan elegan. Sangat berbeda dari kesehariannya.
Tangan kanan Rea terulur, mempersilakan Marvin untuk duduk di sofa khusus tamu. Namun pria itu masih syok berat, reseptor mendadak tidak berfungsi.
Lantas Rea mencibir dalam hati, “Baru segini kamu sudah terkejut Marvin. Di mana nyali kamu itu?”
“Kamu tidak pegal Marvin? Sengaja ke sini karena aku, benar kan?” suara Rea sedikit melunak namun tetap sedingin dataran es.
Tidak menghiraukan mantan suaminya yang masih mematung, Rea memilih duduk di sofa. Membuka majalah bisnis, disertai kening mengerut, tatapan sayu dan menghela napas.
“Aku rindu, kapan ya nama Selera Kita bisa masuk ke majalah bisnis lagi? Semenjak ayah sakit, perusahaan ini kehilangan taringnya.” Tukas Rea, kemudian melirik Marvin.
“Umm … Rea, kamu sudah makan? Kita makan siang bareng. Di tempat kesukaan kamu, depan kantor.” Ide Marvin, lebih baik mendekati wanitanya, sengaja melupakan segala amarah yang membara. Tidak mungkin menumpahkannya di depan Edrea.
“Depan kantor? Dengan penampilanku yang rapi begini Marvin, kamu tidak salah?” kata Rea sedikit tertawa.
__ADS_1
Kalau dulu ia duduk beralaskan lantai sembari makan lahap bersama Marvin atas nama cinta. Tapi sekarang, Rea tidak bisa dibujuk apalagi mengingatkan kenangan buruk.
“Kamu mau di mana Rea? Ok kita cari restoran dekat kantor.” Marvin hendak menyambar pergelangan tangan mantan istrinya.
“Aku bisa jalan sendiri, kaki ku masih berfungsi dengan baik, aku tidak cacat lagi Marvin.” Seru Rea.
Sebelum keduanya keluar ruangan, pintu kembali terbuka, dua orang petugas terlihat masuk sembari membawa beberapa bingkisan serta buket bunga besar.
“Permisi Bos, ada kiriman hadiah. Saya simpan di sini ya Bos.” Ucap dua petugas kemudian pergi setelah menyelesaikan tugasnya.
Rea sengaja membuka satu persatu bingkisan, isinya beragam mulai dari tas merek terkenal, sepatu cantik, dress serta kalung berlian. “Wah cantiknya, siapa yang mengirim ini? Pas banget aku membutuhkan semua barangnya.”
Wanita bermata sipit itu sengaja bersikap berlebihan di depan Marvin, bahkan Rea langsung menggunakan kalung. Melangkah menuju cermin besar, sembari tersenyum menghirup buket bunga.
“Terima kasih Ar.” Ucap Rea seolah menyukai sosok pria yang sengaja mengirimnya hadiah.
“Heh, kurang ajar itu Ar, model pendatang baru saja berani bersaing denganku. Lagipula dari mana dia mendapat uang sebanyak ini?” geram Marvin dalam hati. Merasa kalah dan rendah di mata Rea, karena dia datang tanpa membawa setangkai bunga pun.
Mengabaikan suara merayu Marvin, Rea keluar ruangan. Tersenyum lebar dan bersenandung, “Kamu lihat kan Marvin, setelah kita bercerai hidupku semakin bahagia.” Ucap Rea.
Pintu lift terbuka, seorang pria tampan dan gagah menyambut Rea, mempersilakannya masuk dan ikut turun bersamanya.
“Terima kasih Frederick. Kamu datang tepat waktu.” Rea menepuk bahu lelaki yang menundukkan kepala itu.
“Sama-sama Nona, saya hanya menjalankan misi. Kalau gagal, bisa habis gajinya.” Miris Frederick mengingat sejumlah ancaman dari Eberardo Torres.
Rea sengaja memelankan langkah, mengulur waktu demi membuat seseorang di belakang sana mengetahui posisinya. “Sebentar Frederick.”
Setelah berhasil melihat pantulan raga Marvin pada kaca, wanita cantik berambut panjang ini segera mempercepat diri menemui pria yang sudah menunggunya di lobi.
“Ar?” panggil Rea, suara menggema di lantai 1.
__ADS_1
“Oh Rea, selamat ya. Aku yakin kamu bisa memimpin perusahaan ini.” Keduanya berjabat tangan.
Rea dan Eberardo berjalan bersisian menuju luar gedung, meninggalkan Marvin yang berlari kecil mengejar seraya memanggil nama mantan istri.
Niat hati ingin mengulang kenangan bersama mantan istri, tetapi Rea pergi begitu saja bersama pria lain yang datang terlambat.
“Argh siapa sebenarnya Ar? Dia bisa membeli barang mahal dan memiliki mobil sebagus itu. Dari mana uangnya? Aku tidak boleh kalah, Rea itu wanita sederhana tidak menyukai kemewahan, aku pasti menang.” Marvin lepas kendali dan meninju dinding beton di sampingnya.
Dia kembali mencari Agung, meminta informasi lebih lanjut terkait pengangkatan Edrea menjadi pimpinan utama Selera Kita.
Sementara di dalam mobil, Rea dan Ar tertawa sebab rencananya berhasil. Keduanya tidak henti membicarakan perubahan ekspresi Marvin yang menampakan rasa kecewa.
“Melihat ku dengan pria lain saja kamu marah. Padahal status kita sudah cerai, apalagi aku Marvin sakit sekali menyaksikan secara langsung suamiku tidur dengan wanita lain.” Mencibir dalam hati.
“Ini belum sebanding dengan penderitaan yang kamu beri, aku pasti membalasnya satu per satu, tunggulah Marvin.” Tukas Rea.
“Oh iya Re, laptop yang kamu minta ada di belakang, sudah aku modifikasi sesuai keinginan kamu.” Eberardo menunjuk jok belakang mobil.
“Ok terima kasih, aku tidak tahu harus membayarnya dengan apa.” Rea meraih tas laptop, membukanya, dan takjub karena isinya berbeda dari sebelumnya.
“Undangan makan siang seperti ini aku anggap sebagai ucapan terima kasih.” Balas Eberardo tanpa menoleh, menyembunyikan perasaan sebenarnya dalam dada.
“Butuh berapa lama mempelajarinya sampai aku benar-benar mahir? Satu minggu bisa?” tanya Rea tidak sabar mendalami ilmu baru.
“Dua minggu kalau kamu rajin dan pandai, satu tahun kalau kamu malas dan bodoh.” Jawab Eberardo tampak serius, sembari melirik laptop di atas paha Rea.
“Dua minggu, aku buktikan menguasainya dalam waktu singkat.” Rea sangat percaya diri menerima tantangan baru.
TBC
__ADS_1