
Bugh
Bugh
“Apa-apaan kamu Marvin?” sentak Agung mendapat bogem mentah dari rekannya.
“Hey, katakan sekarang juga, bagaimana Rea bisa tahu semua anak buahmu melakukan kecurangan?” Marvin tidak habis pikir bahwa riwayatnya untuk mengeruk harta mantan mertua harus berakhir.
“Kamu dengar dulu Marvin. Beberapa minggu lalu kami mendadak diaudit atas perintah Pak Nugraha. Mana saya tahu kalau itu semua ulah anaknya.” Agung merapikan semua benda yang sebelumnya dilempar keluar oleh petugas kebersihan.
“Kerjamu tidak becus. Makan gaji buta. Perihal seperti ini bisa kecolongan. Artinya sekarang kita semakin susah mendapatkan uang dari sini.” Geram Marvin.
Dirinya terbiasa hidup bergelimang harta tanpa kekurangan sepeser pun, sudah cukup masa kecil memberi pelajaran. Terpaksa menahan lapar karena tak memiliki uang. Hingga akhirnya berubah menjadi aktor terkenal dan berhasil menikahi putri pengusaha.
“Loh, kamu juga tidak becus. Katamu putrinya Pak Nugraha akan tunduk, mana buktinya? Sekarang semua orangku terbuang.” Agung keluar dari ruangan, menambak bahu Marvin cukup keras.
“Mau ke mana kamu?” tanya Marvin menghadang Agung. Sayangnya tak ada respon apapun, pria setengah baya itu. Memilih menyingkir tak mau lagi turut campur tangan dalam masalah Marvin.
“Sial, bagus … pergi saja kalian semua! Tidak tahu diri, setelah ku bagi-bagi upah, menghilang.” Marvin menendang meja dan kursi.
Amarahnya tidak tertahan. Sekarang harus menyelesaikan masalah seorang diri. Mencuci semua jejak kotoran yang ditimbulkannya.
Aksesnya memasuki perusahaan terkunci dan tertutup rapat. Edrea menyapu bersih kaki tangan Marvin, tak ada yang tersisa seorang pun.
Drt .. drt
Satu panggilan masuk, Marvin mengerutkan kening karena tidak biasanya detektif melaporkan semua peristiwa siang hari.
“Ya ada apa? Cepat katakan jangan lama-lama, waktuku terbatas ada berharga.” Sembur Marvin.
“Hah apa? Kabur? Bagaimana bisa? Pasti dia masih di sekitar villa.” Hari Marvin kian memburuk karena kehilangan jejak Tsania.
Wanita itu pergi dari villa dan menghilang. Detektif yang di sewa mengatakan, jika Tsania pergi keluar negeri. Mengambil sisa tabungan dan benda-benda berharga milik Marvin.
__ADS_1
Marvin tidak masalah, hanya saja khawatir suatu saat nanti mantan kekasihnya muncul dan merusak hubungannya dengan Rea.
“Sekarang apa lagi? Semua masalah datang beruntun, hebat sekali kau Marvin.” Memuji sekaligus memaki diri sendiri.
**
Satu minggu ini Rea selalu sibuk bermain laptop, di sela istirahat syuting berteman dengan benda layar berukuran 12 inchi
Lebih mencengangkan lagi, Rea tidak pernah menolak kehadiran Eberardo. Keduanya terlihat akrab, sangat dekat.
“Argh … kenapa gagal lagi?” geram Rea berulang kali mencoba meretas sistem yang dibuat Eberardo sebagai latihan.
“Sudah ku bilang, satu tahun kalau kamu bodoh dan malas.” Kata-kata ini selalu terulang ketika Rea gagal.
“Tapi aku tidak malas. Lebih rajin dibanding muridmu yang lain.” Melirik kepada Frederick yang turut menemani Edrea melatih diri.
“Ya, tapi kamu selalu mengulang tetap Frederick berhasil. Dia sudah membobol dua sistem yang aku buat. Kamu? Sama sekali berjalan di tempat.” Eberardo tersenyum sekaligus mencemooh Rea.
Sebenarnya Frederick pun sama, belum berhasil. Semua hanya akal-akalan Eberardo, memancing semangat Rea. Pria itu tahu persis jika keinginan calon masa depannya sangat kuat.
Namun, Rea menolak, mengangkat satu tangannya. “Iya bisa, tapi lebih membanggakan lagi berhasil merebutnya dengan kedua tanganku sendiri, mengerti kan?”
“Aku akan memperkuat sistem pengamanan di perusahaan, selama ini terlalu lemah. Akibatnya orang lain mudah merusak dan memanipulasi.” Tukas Rea, mengingat sejumlah kecurangan Marvin.
Eberardo hanya diam saja memerhatikan Rea, sebagai tutor dirinya bertanggung jawab agar Rea cepat berhasil menguasai ilmu hacker.
“Kalau kamu sulit membuka sistem, aku buat dengan cara yang mudah. Ini coba buka password di ponselku. Pasti jauh lebih mudah.” Menyodorkan benda pipih ke depan wajah Edrea.
“Sombong sekali kamu Ar, kalau aku sampai berhasil apa imbalannya?” Rea menyeringai seraya mengambil ponsel.
“Apapun yang kamu minta, tapi jang berlebihan ya Rea. Aku ini masih model pendatang baru belum banyak memiliki uang.”
“Ok”
__ADS_1
Rea tampak serius mengulik ponsel milik teman barunya, cukup lama memakan waktu lebih dari 20 menit. Akhirnya Rea berhasil mengetahui sandi milik Eberardo, betapa terkejutnya ia melihat fotonya terpasang di pada layar.
“Ini kan fotoku. Dari mana kamu dapat? Mencuri ya?” Rea berencana menghapus fotonya, namun malah semakin banyak menemukan gambar dengan ekspresi berbeda.
“Kamu penguntit.” Pekik Rea menunjuk batang hidung mancung Eberardo.
“Bukan Rea, itu sebagai kejutan karena kamu berhasil membuka smartphone ku. Jangan berpikir macam-macam, lanjutkan lagi pelajarannya sebelum syuting mulai.” Eberardo merebut ponsel, ia lupa kalau foto calon masa depannya masih terpasang.
Tak disangka Rea berhasil memecahkan sistem buatan Eberardo, bersorak senang karena usahanya belajar sangat berat tidak sia-sia.
“Aku berhasil, kamu bena ternyata dimulai dari hal mudah dulu, sekarang bisa membuka sistem kamu.” Teriak Rea menunjukkan kegembiraannya.
Hal terduga terjadi, sosok pria di sampingnya memberi satu kecupan pada pipi. Bukannya senang malah membuat Rea meradang, karena disentuh tanpa izin.
Sontak saja mendorong kursi yang di duduki Eberardo, hingga pria itu terjungkir ke samping, berteriak namanya. “Rea apa yang kamu lakukan? Itu hanya ungkapan selamat, tidak lebih.”
“Bisa dengan cara lain Ar, tanpa menyentuh lebih baik, kata-kata penyemangat pun tidak apa.” Jujur saja Rea merasa bersalah karena temannya terluka, kentara sekali Ar kesakitan pada bagian punggung dan pinggang,s
Sementara dari kejauhan seorang pria mengamati Rea dari kejauhan. Selain tidak mendapat pemasukan, Marvin sukses menjadi pengangguran. Tawaran syuting iklan dan serial menghilang. Ia hidup mengandalkan sisa tabungannya.
“Apa? Dia mencium Rea.beran sekali anak baru itu. Di tidak tahu apa kalau Rea milikku. Sampai kapanpun aku tidak akan berhenti Rea.” Marvin melempar kaleng bekas minuman ke luar jalan.
Marvin jengah karena Eberardo selalu mendekati mantan istrinya, padahal dia sudah mengeluarkan sejumlah dana demi merebut hati Rea. Mengirimkan banyak hadiah-hadiah kecil mengikuti jejak penggemar.
Tas, sepatu, satu set pakaian bahkan perhiasan tidak luput sebagai hadiah. Marvin tahu dahulu dia tidak memberi kemewahan untuk istrinya. Maka dari itu beranggapan bahwa Rea akan luluh dengan sejumlah barang-barang merah yang diberikan.
Perasaan Marvin mencelos, kedua matanya menangkap salah satu hadiah yang diberikan kepasa sang mantan istri, digunakan oleh Anyelir.
“Rea? Pakaian itu sengaja aku berikan untuk kamu, digunakan ketika kita kencan nanti, kenapa sekarang melekat di tubuh Anyelir, wanita murahan itu?”
Tapi usahanya belum berhasil hingga saat ini. “Kurang ajar, karena dia Re jadi cuek.”
TBC
__ADS_1